WhatsApp Icon
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Di bulan inilah umat Islam diberikan kesempatan besar untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai amalan yang dicintai Allah SWT. Tidak hanya menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, Dzulhijjah juga menghadirkan sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun.

Keistimewaan tersebut menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap muslim yang memahami keutamaan bulan ini tentu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh.

Keutamaan Dzulhijjah, Bulan yang Dimuliakan Allah

Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram."
(QS. At-Taubah: 36)

Keagungan Dzulhijjah semakin sempurna dengan hadirnya sepuluh hari pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Oleh karena itu, Dzulhijjah menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat keimanan.

Memperbanyak Dzikir, Menghidupkan Hati yang Lalai

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih menjadi lantunan yang dianjurkan untuk terus mengiringi aktivitas sehari-hari.

Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sarana untuk menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketika hati senantiasa mengingat-Nya, ketenangan akan hadir dan keimanan akan semakin kuat.

Kalimat-kalimat dzikir yang dapat dibiasakan antara lain:
1. Subhanallah
2. Alhamdulillah
3. Laa ilaaha illallah
4. Allahu Akbar

Amalan sederhana ini sering kali terlihat ringan, namun memiliki dampak besar dalam menjaga hati tetap hidup dan dekat dengan Allah SWT.

Menjaga Shalat sebagai Pondasi Keimanan

Tidak ada amalan yang lebih utama setelah syahadat selain menjaga shalat. Shalat merupakan tiang agama sekaligus ukuran kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kedisiplinan dalam menunaikan shalat lima waktu, meningkatkan kekhusyukan, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat dhuha, rawatib, dan tahajud.

Seseorang yang menjaga shalat dengan baik akan lebih mudah menjaga dirinya dari berbagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, kelalaian terhadap shalat sering menjadi awal dari melemahnya kualitas iman.

Puasa Dzulhijjah dan Arafah, Jalan Menuju Pengampunan

Di antara amalan istimewa yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
(HR. Muslim)

Keutamaan yang luar biasa ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Selain menjadi sarana meraih ampunan, puasa juga melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sahabat Harian

Salah satu tanda meningkatnya keimanan adalah semakin dekatnya seseorang dengan Al-Qur'an. Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam.

Membaca Al-Qur'an setiap hari, menghafal ayat-ayat pilihan, mempelajari tafsir, atau mengikuti majelis ilmu merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan perubahan besar bagi kehidupan spiritual seseorang.

Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keteguhan hati, serta memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sedekah dan Kepedulian Sosial yang Menguatkan Iman

Keimanan yang kuat selalu melahirkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Dzulhijjah juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan.

Sedekah tidak selalu harus berupa nominal besar. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, atau berkontribusi dalam program sosial dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam.

Melalui sedekah, seorang muslim belajar melepaskan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain di dalamnya.

Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS

Tidak dapat dipisahkan dari Dzulhijjah adalah kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan teladan tentang kepatuhan dan kesabaran yang luar biasa.

Nilai-nilai pengorbanan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Mengalahkan rasa malas untuk beribadah, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama, menahan amarah, dan mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadi merupakan bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan setiap muslim saat ini.

Menjaga Akhlak sebagai Cerminan Iman

Keimanan bukan hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, Dzulhijjah harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan.

Menghindari ghibah, fitnah, perkataan kasar, serta perdebatan yang tidak bermanfaat merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman. Sebaliknya, membiasakan berkata baik, bersikap santun, dan menghormati sesama akan memperindah kualitas ibadah yang dilakukan.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Konsistensi, Kunci Keberhasilan Meningkatkan Keimanan

Semangat beribadah pada bulan Dzulhijjah tentu sangat baik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap terjaga setelah bulan mulia ini berlalu.

Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang realistis dan mampu dijaga secara berkelanjutan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga shalat tepat waktu, berdzikir setelah shalat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.

Konsistensi dalam kebaikan akan membentuk karakter seorang muslim yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Jangan Biarkan Dzulhijjah Berlalu Tanpa Perubahan

Dzulhijjah bukan sekadar bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum terbaik untuk memperbarui keimanan, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Setiap amal saleh yang dilakukan pada hari-hari mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu tanpa makna. Mulailah dari langkah-langkah sederhana: memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, dan memperbaiki akhlak.

Semoga Dzulhijjah menjadi titik awal lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, peningkatan keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi saja. Keimanan yang kuat juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang masih hidup dalam keterbatasan.

Oleh karena itu, mari manfaatkan momentum Dzulhijjah untuk memperluas manfaat dan menebarkan kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap harta yang ditunaikan bukan hanya menjadi sarana membersihkan dan menyucikan harta, tetapi juga menjadi jembatan kebaikan yang membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Mari jadikan Dzulhijjah sebagai bulan untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat kepedulian kepada sesama.

Tunaikan kebaikan Anda secara mudah melalui layanan pembayaran online:

Klik disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

Semoga setiap amal yang ditunaikan menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas.

03/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri.

Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan

Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal.

Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain.

Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain

Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."
(QS. Thaha: 131).

Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri.

Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari.

Syukur Adalah Kunci Ketenangan

Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.

Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh.

Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan

Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.

Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain.

Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi

Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.

Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung.

No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung

atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

03/06/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini

Makna dan Hakikat kurban 

Ibadah kurban merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha, yaitu pada hari tasyrik 10-13 Dzulhijjah. Kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.

Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin.

Keterangan tersebut dijelaaskan dalan Q.S. al-Hajj 22:28 : “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”. 

Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah (tiga hari). Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245).

Hukum Kurban

Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).

Keutamaan Kurban

Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan.

Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.

Mari jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap kurban yang kita tunaikan menjadi amal penuh keikhlasan dan keberkahan.

Yuk, tunaikan kurban terbaikmu bersama BAZNAS Tulungagung dengan transfer ke rekening:

BSI 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/kurban

27/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian

Cuti bersama Idul Adha sering kali dipandang hanya sebagai waktu untuk beristirahat dari aktivitas pekerjaan. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan nilai-nilai ibadah yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha.

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang penuh makna. Hari raya ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, cuti bersama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah, bukan hanya sekadar menikmati waktu luang.

Memperbanyak Ibadah di Hari-Hari Mulia

Hari-hari menjelang dan saat Idul Adha termasuk waktu yang istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah SWT. Maka, cuti bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak: Salat sunnah, Membaca Al-Qur’an, Dzikir dan takbir, Puasa sunnah Dzulhijjah dan Arafah dan Sedekah kepada yang membutuhkan

Dengan waktu yang lebih longgar, umat Muslim dapat lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah yang mungkin selama ini terhambat oleh kesibukan pekerjaan.

Menumbuhkan Semangat Berkurban

Idul Adha identik dengan ibadah kurban, sebuah syariat yang mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan dan pengorbanan. Cuti bersama menjadi momen yang tepat untuk ikut terlibat langsung dalam proses ibadah kurban, mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging kepada masyarakat.

Keterlibatan ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba. Dari sinilah nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa.

Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Momentum cuti bersama dapat dimanfaatkan untuk: Berkumpul bersama keluarga, Mengunjungi orang tua dan kerabat, Mempererat hubungan tetangga dan Berbagi makanan dan kebahagiaan

Kehangatan kebersamaan di Hari Raya menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah dan kepedulian sosial.

Menjadikan Cuti Bersama Lebih Bermakna

Tidak ada salahnya beristirahat di masa cuti bersama, namun akan jauh lebih baik jika waktu tersebut juga diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari kesenangan dunia, tetapi juga dari hati yang dekat dengan Allah dan mampu berbagi kepada sesama.

Karena itu, mari jadikan cuti bersama Idul Adha bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan.

 

Cuti bersama Idul Adha adalah momen istimewa yang dapat membawa banyak keberkahan jika dimanfaatkan dengan baik. Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, Allah memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk kembali mendekat, memperbaiki diri, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik awal untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

25/05/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah

Definisi dan Hukum Kurban

Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dalam pelaksanaannya, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa amalan kurban termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha.

Dalam hukum Islam, ibadah kurban berstatus sunnah bagi muslim yang mampu. Menurut mazhab Syafi’i, kurban menjadi sunnah ‘ain bagi seseorang yang hidup sendiri, sedangkan bagi keluarga hukumnya sunnah kifayah. Artinya, apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakan kurban, maka anggota keluarga lainnya sudah mendapatkan keutamaan syariat tersebut. Namun, hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya.

Syarat Hewan Kurban

Hewan yang sah digunakan untuk kurban harus berasal dari jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Dalam ibadah kurban, hewan jantan lebih dianjurkan karena umumnya memiliki kualitas daging yang lebih baik, meskipun hewan betina tetap diperbolehkan.

Usia hewan juga menjadi syarat penting dalam kurban. Domba diperbolehkan untuk kurban apabila sudah berusia minimal enam bulan dan telah poel, atau mencapai satu tahun. Kambing dan sapi harus berumur minimal dua tahun, sedangkan unta untuk kurban wajib mencapai usia lima tahun.

Dalam pelaksanaan kurban, satu ekor kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang. Sementara itu, satu ekor sapi, kerbau, atau unta dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban secara bersama-sama. Ketentuan ini menjadi bagian penting dalam pembagian ibadah kurban.

Selain itu, hewan kurban wajib dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang jelas. Hewan yang terlalu kurus, pincang, buta, sakit parah, atau terpotong sebagian telinga dan ekornya tidak sah dijadikan kurban. Namun, telinga yang hanya sobek atau berlubang masih diperbolehkan dalam syariat kurban.

Niat dan Doa Kurban

Dalam ibadah kurban, penyembelih harus seorang muslim dan memiliki niat yang benar. Niat kurban dapat dilakukan ketika menyembelih hewan atau saat menentukan hewan yang akan dijadikan kurban. Jika penyembelihan dilakukan oleh wakil, maka wakil tersebut tetap harus menghadirkan niat kurban atas nama orang yang berkurban.

Contoh niat kurban untuk diri sendiri adalah:

“Nawaitu ad?’a sunnatil udh-hiyyati ‘an nafs? lill?hi ta‘?l?.”

Artinya: “Saya niat melaksanakan sunnah kurban untuk diri sendiri karena Allah SWT.”

Sedangkan niat kurban untuk orang lain atau melalui wakil dapat disesuaikan dengan nama orang yang berkurban. Dalam proses penyembelihan kurban, sangat dianjurkan membaca basmalah, takbir, dan doa agar ibadah tersebut diterima Allah SWT.

Doa yang biasa dibaca ketika menyembelih kurban ialah:

“Bismill?hi, All?hu Akbar. All?humma h?dz? minka wa laka. All?humma taqabbal minn?.”

Doa kurban tersebut memiliki makna bahwa hewan yang disembelih berasal dari Allah dan dipersembahkan kembali untuk mencari ridha-Nya.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu pelaksanaan kurban dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam syariat Islam, rentang waktu tersebut dikenal sebagai hari-hari tasyrik yang menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban.

Apabila penyembelihan kurban dilakukan sebelum salat Id atau setelah berakhirnya hari tasyrik, maka ibadah tersebut tidak dihitung sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Namun khusus untuk kurban nadzar, penyembelihan yang dilakukan setelah tanggal 13 Dzulhijjah tetap dianggap sah sebagai qadha kurban.

Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, memahami syarat dan ketentuan kurban sangat penting agar ibadah yang dilaksanakan benar-benar sah dan bernilai pahala di sisi Allah.

 

22/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung

Artikel Terbaru

Saatnya Berjuang Tanpa Senjata: Jadilah Pahlawan Lewat Kedermawanan
Saatnya Berjuang Tanpa Senjata: Jadilah Pahlawan Lewat Kedermawanan
Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang para pahlawan yang telah menorehkan sejarah dengan darah dan air mata. Mereka berjuang bukan untuk pujian, jabatan, atau penghargaan, tetapi karena cinta yang mendalam terhadap tanah air. Dengan tekad dan keberanian, mereka rela kehilangan segalanya demi satu kata yang sakral: MERDEKA. Namun, makna perjuangan tidak berhenti di masa lalu. Semangat kepahlawanan bukan sekadar kenangan, melainkan api yang harus terus menyala dalam diri setiap anak bangsa. Di era yang serba modern ini, kita tidak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, tetapi menghadapi tantangan baru, kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakpedulian sosial. Di sinilah setiap kita dipanggil untuk menjadi pahlawan masa kini, melalui senjata yang berbeda yaitu dengan kepedulian dan kedermawanan. Salah satu wujud nyata dari semangat itu adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketiganya bukan hanya ibadah finansial, tetapi juga bentuk perjuangan sosial yang mulia. Dengan berzakat, kita membantu mereka yang kekurangan agar bangkit dan berdaya. Dengan berinfak, kita memperkuat solidaritas umat. Dan dengan bersedekah, kita menebar kasih sayang dan harapan di tengah kehidupan yang kerap terasa keras. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9]:103: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." Ayat ini menegaskan bahwa zakat bukan hanya tentang berbagi harta, tapi juga tentang membersihkan jiwa dan melatih hati untuk peduli. Kebaikan yang tumbuh dari zakat, infak, dan sedekah sejatinya adalah bentuk perjuangan melawan egoisme, keserakahan, dan keengganan untuk berbagi. Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Sederhana, namun dalam maknanya. Memberi lebih mulia daripada meminta. Dan di situlah nilai kepahlawanan tumbuh. Ketika seseorang berani memberi, bahkan dalam keterbatasannya, demi kebaikan yang lebih besar. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kepahlawanan sejati mungkin tidak lagi terdengar dengan dentuman senjata, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang penuh keikhlasan: seorang donatur yang membantu usaha kecil agar bangkit, seorang muzakki yang menyalurkan zakatnya dengan niat tulus, atau seorang relawan yang turun langsung mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. Merekalah pahlawan zaman ini yang tak berperang di medan laga, tapi berjuang di medan kemanusiaan. Momen Hari Pahlawan menjadi saat yang tepat untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita meneruskan semangat mereka? Sudahkah kita berbuat sesuatu untuk sesama? Sebab bangsa ini tidak hanya memerlukan pahlawan yang berani mengangkat bambu runcing, tapi juga pahlawan yang berani mengulurkan tangan. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai sarana untuk menyalakan kembali semangat perjuangan. Melalui kebaikan yang kita tanam, insyaAllah akan tumbuh kesejahteraan, keadilan, dan keberkahan bagi banyak orang. Selamat Hari Pahlawan Mari terus berjuang dengan cara kita masing-masing, berjuang untuk menebar manfaat, menguatkan sesama, dan menyalakan cahaya kebaikan di setiap sudut kehidupan. Karena Indonesia yang kuat bukan hanya dibangun oleh pahlawan yang gugur di masa lalu, tapi juga oleh mereka yang hari ini masih memilih untuk berbagi, peduli, dan berkorban dengan ikhlas.
ARTIKEL10/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Arti Ikhlas dalam Kehidupan: Bukan Pasrah Buta, Tapi Tanda Kekuatan Hati
Arti Ikhlas dalam Kehidupan: Bukan Pasrah Buta, Tapi Tanda Kekuatan Hati
Dalam perjalanan hidup, setiap Muslim tentu akrab dengan kata ikhlas. Namun, tidak sedikit yang memahaminya secara sempit seolah ikhlas berarti diam, pasrah, atau berhenti berusaha. Padahal, makna ikhlas jauh lebih dalam dari sekadar menerima takdir. Ia adalah kekuatan hati yang menjadikan setiap amal bernilai di sisi Allah SWT. Ikhlas, Pondasi Niat dan Amal Ikhlas berarti melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah SWT bukan demi pujian, penghargaan, atau imbalan dari manusia. Itulah kemurnian niat yang menjadi fondasi utama dalam setiap amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa amal tanpa niat yang tulus tidak akan bernilai di sisi Allah, betapapun besar dan indahnya di mata manusia. Ikhlas Bukan Pasrah Buta, Tapi Kesadaran yang Tulus Ikhlas bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru, orang yang ikhlas adalah mereka yang berusaha sebaik mungkin lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati tenang. Ia bekerja keras, berdoa sungguh-sungguh, namun tidak kecewa ketika hasilnya tak sesuai harapan. Ia yakin, setiap ketentuan Allah selalu mengandung hikmah terbaik. Sikap ini membentuk keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Orang yang ikhlas tidak mudah putus asa ketika gagal dan tidak sombong saat berhasil. Ia tahu, tugasnya adalah berbuat sebaik-baiknya, sementara hasilnya adalah urusan Allah SWT. Ikhlas, Sumber Kekuatan Ibadah dan Kedamaian Dalam Islam, nilai ibadah tidak hanya ditentukan dari bentuk lahiriahnya, tapi juga dari kemurnian niat di dalam hati. Itulah sebabnya, seseorang yang beribadah dengan ikhlas akan merasakan ketenangan batin yang mendalam. Ia salat bukan karena kewajiban semata, tapi karena cinta kepada Allah. Begitu juga dalam sedekah, menolong sesama, atau beramal sosial. Amal kecil seperti memberi senyum tulus atau membantu tetangga akan bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim) Tanda-Tanda Hati yang Ikhlas Meski ikhlas tak tampak secara kasat mata, ada beberapa tanda yang bisa kita rasakan: 1. Berbuat baik tanpa pamrih. Ia tetap menolong meski tak ada yang tahu atau memuji. 2. Tidak kecewa ketika kebaikan tak dihargai. Ia sadar, amalnya untuk Allah, bukan untuk manusia. 3. Tidak iri pada keberhasilan orang lain. Ia yakin setiap rezeki telah diatur dengan adil. 4. Mampu memaafkan dengan lapang dada. Ia memilih damai daripada dendam. 5. Selalu bersyukur dalam segala keadaan. Dalam senang maupun susah, ia melihat hikma'ah Allah di balik setiap peristiwa. Langkah-Langkah Menumbuhkan Keikhlasan Menumbuhkan keikhlasan memang tidak mudah. Namun, setiap hati bisa dilatih agar semakin tulus melalui beberapa cara: 1. Luruskan niat sebelum berbuat. Tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa aku melakukan ini?” 2. Kurangi ketergantungan pada pujian manusia. Nilai sejati amal hanya Allah yang menilai. 3. Biasakan bersyukur, baik atas keberhasilan maupun kegagalan. 4. Perbanyak doa. Mohon agar Allah meneguhkan hati agar tetap tulus dalam setiap langkah. 5. Terus belajar dan memperdalam ilmu agama, agar hati semakin kuat memahami makna ikhlas yang sesungguhnya. Buah Manis dari Keikhlasan Keikhlasan membawa ketenangan batin dan keberkahan hidup. Orang yang ikhlas akan lebih sabar, rendah hati, dan mudah memaafkan. Ia tidak lagi bergantung pada pengakuan manusia, karena cukup baginya penilaian dari Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27) Ketika hati ikhlas, setiap ujian akan terasa ringan. Sebab ia tahu, semua yang terjadi adalah bagian dari kasih sayang Allah. Keikhlasan menjadikan hidup lebih damai dan penuh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat. Penutup Ikhlas bukan berarti berhenti berjuang, tapi berjuang dengan sepenuh hati sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hati yang ikhlas adalah hati yang bebas dari beban, tenang dalam ujian, dan diridhai oleh-Nya. Mari tumbuhkan keikhlasan dalam setiap amal kebaikan, termasuk dalam bersedekah. Sedekah yang dilakukan dengan hati tulus akan menjadi cahaya, menghapus dosa, dan mendatangkan keberkahan bagi sesama. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung: ~ BSI 7137892051 (An. Baznas Infaq Tulungagung) ~ BRI 011001030166530 (An. Baznas Tulungagung I) ~ Bank Jatim 0152210022 (An. Baznas Kab Tulungagung (Infak)) "Bersedekahlah dengan ikhlas, karena setiap rupiah yang keluar dengan niat tulus akan kembali menjadi kebaikan yang berlipat di sisi Allah SWT."
ARTIKEL05/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Keutamaan Hari Jumat: Saat Terbaik untuk Panen Pahala dan Menebar Kebaikan
Keutamaan Hari Jumat: Saat Terbaik untuk Panen Pahala dan Menebar Kebaikan
Hari Jumat bukan sekadar penghujung pekan. Dalam pandangan Islam, Jumat memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia disebut sebagai "sayyidul ayyam", penghulu segala hari yang penuh keberkahan, keutamaan, dan peluang besar untuk menanam amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu dia dimasukkan ke dalam Surga. Pada hari itu dia diusir dari Surga. Dan hari Kiamat juga tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat." (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan betapa mulianya hari Jumat. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW menyebut Jumat sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari) bahkan lebih agung daripada Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Pada hari itu pula terjadi peristiwa-peristiwa penting: penciptaan Nabi Adam AS, turunnya beliau ke bumi, diterimanya tobatnya, hingga kelak terjadinya kiamat. Waktu Mustajab untuk Berdoa Salah satu keistimewaan Jumat adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu ketika doa seorang hamba tidak akan tertolak, selama tidak meminta sesuatu yang haram. Banyak ulama berpendapat bahwa waktu tersebut berada antara salat Ashar hingga Maghrib. "Di dalamnya (hari Jumat) terdapat satu waktu, yang apabila seorang hamba Muslim berdoa kepada Allah bertepatan dengannya, maka Allah pasti akan memberinya apa yang dia minta." (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah sebabnya, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, dan amal saleh pada hari yang penuh rahmat ini. Jumat adalah saat terbaik untuk menata hati, memperbarui niat, dan memperbanyak kebaikan. Sedekah di Hari Jumat: Amalan yang Istimewa Di antara amal saleh yang sangat dianjurkan pada hari Jumat adalah bersedekah. Sedekah di hari Jumat memiliki nilai keutamaan yang besar di sisi Allah SWT. Ia bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sarana penyucian diri dari dosa dan cara untuk menjemput keberkahan hidup. Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Barang siapa yang memberi sedekah pada hari Jumat, dosanya akan dihapuskan sebagaimana air yang mengalir menghapus kotoran." (HR. An-Nasa’i) Manfaat Spiritual dan Sosial dari Sedekah Jumat Sedekah di hari Jumat membawa dua manfaat besar: 1. Spiritual, karena menjadi wujud ketaatan kepada Allah SWT dan pengamalan sunnah Rasulullah SAW. Sedekah menumbuhkan keikhlasan, empati, dan membersihkan hati dari sifat kikir. 2. Sosial, karena mampu mempererat ukhuwah, meringankan beban sesama, serta menumbuhkan rasa solidaritas dalam masyarakat. Menariknya, sedekah tidak selalu berupa uang atau harta. Senyum tulus, tenaga yang bermanfaat, ilmu yang dibagikan, atau sekadar doa kebaikan, semuanya termasuk sedekah. Sebagaimana sabda Nabi SAW: "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim) Jadikan Jumat Sebagai Hari Panen Pahala Jumat adalah hadiah mingguan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Hari raya rohani di mana pahala dilipatgandakan, doa diijabah, dan ampunan dibukakan seluas-luasnya. Maka, jangan biarkan hari Jumat berlalu tanpa kebaikan. Isi dengan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan shalawat, berdoa, serta menebar sedekah. Sebab, di balik setiap amal yang dilakukan dengan tulus, tersimpan keberkahan yang tak terhingga. Jumat bukan sekadar hari di penghujung pekan, melainkan ladang pahala bagi siapa pun yang ingin menanam kebaikan dan memanen keberkahan.
ARTIKEL31/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Bukan Cuma Scroll TikTok, Anak Muda Kini Bisa Bangun Ekonomi Umat Lewat Satu Klik!
Bukan Cuma Scroll TikTok, Anak Muda Kini Bisa Bangun Ekonomi Umat Lewat Satu Klik!
Di tengah derasnya arus digitalisasi, di mana anak-anak tumbuh bersama smartphone, gadget, dan media sosial, istilah sedekah mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang. Padahal, bagi Generasi Z dan Alpha yaitu generasi yang lahir antara tahun 1997-2012, sedekah justru bisa menjadi sesuatu yang keren, relevan, dan berdampak nyata. Sedekah bukan lagi sekadar memberi uang atau barang. Ia adalah bentuk kepedulian, empati, dan aksi nyata yang membawa manfaat spiritual, sosial, hingga emosional. Di tangan generasi yang serba terhubung ini, sedekah berubah menjadi bagian dari gaya hidup modern, ringan dilakukan, tapi besar manfaatnya. Dan di sinilah BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir: menjembatani semangat generasi muda untuk berbagi. Tidak sekadar memenuhi kewajiban, tapi menjadikan sedekah sebagai gerakan sosial yang inspiratif dan kekinian. Sedekah: Gaya Hidup Keren di Era Digital Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi) Sedekah tak terikat waktu, tempat, maupun jumlah. Siapa pun bisa melakukannya, kapan saja, bahkan dengan nominal kecil. Bagi Generasi Alpha, konsep sedekah bisa diterjemahkan dalam bahasa mereka sendiri sebagai “challenge kebaikan,” “top-up pahala,” atau “upgrade diri” untuk menjadi pribadi yang lebih peduli. Mereka ingin melihat hasil dari setiap aksi kecilnya, dan di sinilah BAZNAS hadir dengan sistem digital yang transparan dan terpercaya. Tiga Alasan Kenapa Sedekah Itu Keren Buat Generasi Alpha 1. Dampak Instan dan Terukur Generasi Alpha hidup di dunia yang serba cepat dan penuh feedback instan. Mereka ingin tahu, “Sedekahku buat apa?” Lewat program-program BAZNAS Tulungagung, mereka bisa melihat langsung bagaimana kontribusinya mengubah hidup seseorang dari senyum anak sekolah hingga menjadi sarjana, dari keluarga kecil yang dapat bantuan modal usaha, dan masih banyak lagi. Dampak yang nyata ini menumbuhkan rasa bangga dan semangat untuk terus berbagi. 2. Koneksi Digital yang Positif Sedekah kini tak harus menunggu kotak amal lewat di masjid. Cukup buka platform digital BAZNAS, kebaikan bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan jari. Lebih dari itu, mereka bisa ikut kampanye sosial, berbagi tautan donasi, atau bahkan mengajak teman-teman mereka ikut berpartisipasi. Sedekah pun berubah menjadi aktivitas sosial yang seru, kolaboratif, dan bermakna. 3. Bentuk Ekspresi Diri dan Identitas Generasi muda mencari cara untuk mengekspresikan diri di tengah lautan konten dan tren. Dengan ikut program kebaikan melalui BAZNAS, mereka menunjukkan bahwa peduli itu keren dan berbagi itu bagian dari personal branding positif. Mereka bukan sekadar followers tren, tetapi changemakers yang menebar pengaruh melalui aksi nyata. BAZNAS Tulungagung: Jembatan Kebaikan untuk Generasi Muda Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kabupaten Tulungagung memastikan setiap rupiah yang disalurkan masyarakat dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran. Beberapa langkah nyata yang dilakukan BAZNAS Tulungagung untuk melibatkan Generasi Alpha dalam ekosistem kebaikan antara lain: 1. Kemudahan Akses Digital Melalui kanal digital seperti website dan media sosial, sedekah kini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja (cepat, mudah, dan transparan). 2. Program Pemberdayaan Mustahik Dana sedekah diubah menjadi peluang lewat pelatihan kewirausahaan, para mustahik tak hanya mendapat bantuan sementara, tapi dibimbing, monitoring hingga evaluasi agar penerima manfaat bisa mandiri secara ekonomi dan dapat mengembangkan usaha mereka. 3. Edukasi dan Kampanye Sosial BAZNAS aktif menyebarkan konten inspiratif dan edukatif tentang zakat dan sedekah melalui berbagai media daring maupun kegiatan tatap muka, termasuk sosialisasi langsung ke masyarakat. 4. Transparansi dan Akuntabilitas Laporan penghimpunan maupun penyaluran dana disampaikan secara terbuka agar para donatur, termasuk generasi muda, bisa melihat hasil nyata dari kontribusinya. Digitalisasi Sedekah: Kebaikan Semakin Dekat Era digital membawa kemudahan luar biasa. Kini, hanya dengan satu klik, siapa pun bisa membantu anak yatim, mendukung pendidikan, membangun rumah layak huni, atau menopang ekonomi umat. Dengan transparansi dan dokumentasi yang jelas, Generasi Alpha bisa melihat dampak langsung dari sedekah yang mereka lakukan. Mereka bisa membagikan inspirasi di media sosial dan menggerakkan lingkaran kebaikan yang lebih luas. Menanam Nilai Kebaikan Sejak Dini Mengajarkan anak-anak bersedekah bukan sekadar soal memberi, tapi tentang menanamkan empati, tanggung jawab, dan cinta terhadap sesama. Jika sejak dini mereka terbiasa berbagi, maka di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang berjiwa sosial dan berempati tinggi. Sedekah bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi gema kebaikan yang mengalir tanpa batas, membawa berkah bagi pemberi, penerima, dan seluruh masyarakat. Sedekah Sebagai Gaya Hidup Keren Generasi Muda Bersedekah di era digital kini semakin mudah dan menyenangkan. Dengan semangat baru dan sarana modern, Generasi Z dan Alpha bisa menjadikan sedekah sebagai gaya hidup keren yang berdampak luas. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, setiap sedekah dikelola secara aman, transparan, dan tepat sasaran. Mari jadikan semangat berbagi bagian dari identitas generasi masa depan karena di tangan merekalah, kebaikan akan terus hidup dan berkembang. Sedekah bukan tentang seberapa besar yang kita beri, tapi seberapa tulus kita peduli.
ARTIKEL30/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda dengan Gerakan Zakat, Infaq dan Sedekah
Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda dengan Gerakan Zakat, Infaq dan Sedekah
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, tonggak sejarah yang menandai kebangkitan semangat persatuan dan perjuangan anak muda untuk kemerdekaan bangsa. Sumpah Pemuda tahun 1928 bukan sekadar peristiwa historis, melainkan manifesto moral yang mengikat seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam keberagaman demi kemajuan Indonesia. Kini, hampir satu abad kemudian, semangat itu tetap relevan. Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penjajahan fisik, maka kini tantangan kita adalah melawan penjajahan sosial modern: kemiskinan, ketimpangan, dan kurangnya kepedulian terhadap sesama. Di sinilah gerakan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi sarana aktualisasi semangat Sumpah Pemuda, membangun bangsa melalui solidaritas, keadilan sosial, dan kepedulian antarumat. Dari Persatuan Menuju Kepedulian Sosial Sumpah Pemuda mengajarkan arti bersatu dalam perbedaan, sementara zakat mengajarkan berbagi dalam keberlimpahan. Keduanya berakar pada nilai yang sama: memuliakan sesama dan memperkuat ikatan sosial. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, semangat persatuan itu diwujudkan dalam bentuk aksi nyata: menyalurkan zakat, infak, dan sedekah dengan prinsip amanah, profesional, dan berkeadilan. Dana yang dihimpun dari para muzaki telah menghidupkan berbagai program seperti Tulungagung Sehat, Cerdas, dan Makmur, yang membantu lansia dhuafa, pelajar kurang mampu, hingga pelaku usaha kecil untuk bangkit dari keterbatasan. Inilah bentuk gotong royong modern, semangat Sumpah Pemuda yang hidup dalam gerakan zakat. Pemuda Sebagai Penggerak Kebaikan Pemuda selalu menjadi pelopor perubahan. Dalam gerakan zakat, peran mereka sangat penting bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran sosial. Melalui kreativitas dan teknologi digital, generasi muda Tulungagung dapat menyebarkan nilai-nilai kebaikan, mengajak masyarakat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah secara modern dan transparan melalui kanal resmi BAZNAS. Ketika semangat kepemudaan berpadu dengan semangat zakat, lahirlah generasi yang tidak hanya nasionalis, tetapi juga dermawan dan berjiwa sosial tinggi. Zakat Sebagai Wujud Cinta Tanah Air Menunaikan zakat bukan hanya ibadah individual, tetapi juga tindakan cinta tanah air. Sebab di dalamnya terkandung nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan sosial serta cita-cita luhur yang menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, setiap rupiah zakat yang disalurkan menjadi energi kebangsaan: membantu warga miskin, menggerakkan ekonomi umat, dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk nasionalisme yang nyata. Cinta yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan membantu sesama. Pemuda Berzakat, Tulungagung Kuat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari tekad bersama. Hari ini, tekad itu dapat kita hidupkan kembali melalui gerakan kepedulian sosial berbasis zakat. Ketika pemuda, masyarakat, dan BAZNAS bersatu dalam semangat zakat, infak, dan sedekah, maka kita sedang menulis ulang makna Sumpah Pemuda dalam konteks zaman modern: bersatu dalam kebaikan, berjuang untuk kemanusiaan, dan membangun bangsa dengan keberkahan. Mari jadikan peringatan Sumpah Pemuda tahun ini sebagai momentum kebangkitan sosial. Bersama BAZNAS Kabupaten Tulungagung, kita kobarkan semangat: “Pemuda Berzakat, Tulungagung Kuat, Indonesia Hebat.”
ARTIKEL28/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Hari Santri: Dari Resolusi Jihad Menuju Revolusi Moral
Hari Santri: Dari Resolusi Jihad Menuju Revolusi Moral
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momen yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi sarat makna sejarah dan nilai perjuangan. Hari ini menjadi pengingat akan kontribusi besar para santri dan ulama dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari bilik-bilik pesantren yang sederhana, muncul gelombang semangat jihad yang menggetarkan penjuru negeri demi membela tanah air dan kehormatan bangsa. Resolusi Jihad: Akar Historis Hari Santri Hari Santri Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan ini merujuk pada sebuah peristiwa monumental yang terjadi pada 22 Oktober 1945, ketika pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, mengeluarkan seruan jihad melalui fatwa yang kini dikenal dengan nama "Resolusi Jihad". Fatwa tersebut menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim). Artinya, seluruh umat Islam tanpa memandang status sosial memiliki kewajiban untuk melawan penjajah yang berusaha kembali menancapkan kekuasaannya di bumi Indonesia. Resolusi ini memicu gelombang perlawanan dari berbagai elemen masyarakat, terutama dari kalangan pesantren. Hanya beberapa minggu kemudian, pecahlah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Tanpa semangat jihad yang dikobarkan oleh para ulama dan santri, perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan mungkin tak akan seheroik itu. Oleh karena itu, Hari Santri menjadi simbol penting sinergi antara agama dan nasionalisme, antara iman dan cinta tanah air. Santri bukan hanya penjaga masjid atau penghafal kitab, melainkan juga penjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa. Jihad di Era Modern: Dari Perang Fisik ke Revolusi Moral Dalam konteks kekinian, istilah "jihad" sering kali disalahartikan dan disempitkan maknanya menjadi sekadar perang bersenjata. Padahal, dalam khazanah Islam, jihad memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” (HR. Al-Baihaqi) Jihad besar yang dimaksud adalah perjuangan melawan hawa nafsu, kebodohan, kemalasan, dan ketidakadilan. Inilah makna jihad yang relevan di zaman modern, sebuah revolusi moral yang perlu terus digaungkan, terutama oleh kalangan santri. Hari ini, santri tidak lagi berperang dengan bambu runcing, melainkan dengan pena, ilmu, dan akhlak. Santri berjihad dengan cara menulis, berdakwah, membagikan ilmu, menegakkan nilai, dan menjaga ruang publik, termasuk ruang digital dari degradasi moral. Bentuk Jihad Santri Masa Kini Perjuangan santri di era modern meliputi berbagai medan baru: 1. Jihad Intelektual, yaitu menuntut ilmu setinggi-tingginya dan melawan kebodohan, baik di pesantren maupun di dunia akademik. 2. Jihad Moral, yaitu menjadi teladan akhlak, menjaga kejujuran, dan melawan arus pragmatisme serta korupsi moral yang menggerus nilai-nilai luhur bangsa. 3. Jihad Sosial, yaitu membela kaum lemah, memberantas kemiskinan, dan menegakkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. 4. Jihad Digital, yaitu menjadi garda depan dalam melawan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan menyebarkan konten positif di dunia maya. Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis identitas moral, santri hadir sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Mereka tidak hanya menjadi penghafal kitab, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang berakar kuat pada tradisi keilmuan dan keimanan. Nilai-Nilai Santri yang Tetap Abadi Sepanjang Zaman Pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sejak berabad-abad silam, pesantren telah melahirkan banyak ulama, pemimpin, serta pejuang bangsa yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki keteguhan moral dan kekuatan spiritual. Berikut beberapa nilai utama santri yang tetap relevan hingga masa kini: 1. Keikhlasan Segala aktivitas santri mulai dari belajar, beribadah, hingga bekerja selalu diniatkan untuk mencari ridha Allah. Dari keikhlasan inilah tumbuh keteguhan hati dan semangat pantang menyerah. 2. Tawadhu’ (Rendah Hati) Santri diajarkan bahwa kesombongan adalah penghalang ilmu. Karena itu, mereka senantiasa menghormati guru, menghargai pengetahuan, serta menjaga sikap rendah hati di hadapan siapa pun. 3. Disiplin dan Istiqamah Kehidupan di pesantren diatur secara tertib, mulai dari jadwal belajar, salat berjamaah, mengaji, hingga menjaga kebersihan. Kedisiplinan tersebut melahirkan karakter yang konsisten dan teguh dalam berbuat baik. 4. Cinta Ilmu dan Kemandirian Bagi santri, menuntut ilmu bukan hanya untuk mengejar pekerjaan, tetapi sebagai jalan menuju kemuliaan. Mereka dibentuk menjadi pribadi yang sederhana, mandiri, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. 5. Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan Minal Iman) Santri memandang kecintaan terhadap Indonesia sebagai bagian dari keimanan. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa menjaga tanah air sama mulianya dengan menjaga agama, karena keduanya saling melengkapi. Nilai-nilai tersebut menjadi jati diri moral para santri, menjadikannya tetap relevan dan dibutuhkan dalam setiap era, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga zaman modern yang serba digital saat ini. Santri dan Revolusi Moral Bangsa Revolusi moral berarti perubahan besar dalam cara berpikir dan bertindak yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan. Dalam konteks keindonesiaan, revolusi moral adalah upaya mengembalikan kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial di tengah krisis moral yang melanda. Santri memiliki posisi strategis dalam revolusi moral ini karena mereka dibentuk dengan prinsip akhlak sebagai fondasi kehidupan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad) Nilai akhlak inilah yang harus kembali menjadi pusat kehidupan masyarakat. Di tengah budaya instan, korupsi, dan hedonisme, santri dapat menjadi teladan kesederhanaan dan kejujuran. Revolusi moral juga berarti memperjuangkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin Islam yang menebarkan kasih sayang, bukan kebencian. Santri yang memahami hakikat Islam sejati akan berdiri di garis depan dalam menolak radikalisme dan intoleransi. Jihad Santri di Era Modern: Menjaga Nilai, Menguatkan Bangsa Momentum Hari Santri setiap tahun harus menjadi pengingat bahwa bangsa ini pernah dan akan terus ditopang oleh kekuatan moral para santri. Di tangan merekalah masa depan Indonesia dapat terus dijaga, bukan hanya dari ancaman fisik, tetapi juga dari kehancuran nilai. Dengan semangat jihad yang dimaknai secara kontekstual, para santri masa kini dan mendatang diharapkan terus menjadi pelopor revolusi moral, penegak kebenaran, dan pelindung nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Sumber: kotayogya.baznas.go.id
ARTIKEL22/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Apakah Dana Zakat Boleh Disalurkan untuk Penanggulangan Bencana?
Apakah Dana Zakat Boleh Disalurkan untuk Penanggulangan Bencana?
Pertanyaan ini sering muncul setiap kali terjadi musibah. Banyak umat Muslim yang ingin menyalurkan zakat untuk membantu para korban bencana. Lalu, bagaimana hukumnya? Dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 60 ditegaskan bahwa zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan (asnaf), yaitu: fakir, miskin, amil zakat, muallaf, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang berutang), fisabilillah, dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal). Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 66 Tahun 2022 tentang Pemanfaatan Dana Zakat untuk Penanggulangan Bencana dan Dampaknya memberikan panduan lebih rinci. Fatwa tersebut menegaskan bahwa dana zakat memang dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana, dengan ketentuan sebagai berikut: Disalurkan langsung kepada mustahik yang termasuk dalam delapan asnaf zakat. Misalnya, korban bencana yang kehilangan harta benda hingga jatuh dalam kategori fakir atau miskin. Untuk kepentingan kemaslahatan umum, dana zakat boleh digunakan dengan syarat penerima manfaatnya termasuk dalam asnaf fisabilillah. Kebutuhan lain yang tidak bisa dibiayai dari zakat seperti operasional relawan, edukasi kebencanaan, pendampingan, maupun program pencegahan dapat dipenuhi melalui infaq, sedekah, atau dana sosial keagamaan lainnya. Penting dipahami, meskipun zakat bisa digunakan untuk membantu korban bencana, tidak semua program kebencanaan harus dibiayai dari zakat. Dana infak dan sedekah, justru lebih fleksibel untuk membangun infrastruktur, penyediaan logistik umum, hingga program pemulihan jangka panjang. Dengan demikian, zakat boleh digunakan untuk penanggulangan bencana asalkan benar-benar disalurkan kepada mereka yang tergolong dalam delapan asnaf zakat. Sementara itu, kebutuhan kolektif yang lebih luas sebaiknya ditopang melalui dana sosial lainnya agar penanganan bencana bisa lebih menyeluruh dan berkelanjutan. Sumber: mui.or.id
ARTIKEL03/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Dalam Islam, terdapat bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Salah satunya adalah bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah, yang juga disebut sebagai “Syahrullah” (Bulan Allah). Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya. Puncak keberkahan bulan Muharram berada pada tanggal 10, yang dikenal dengan Hari Asyura. Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk berpuasa pada hari ini. Dalam hadis disebutkan: “Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim No. 1982) Keutamaan Puasa Asyura yaitu: 1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu “Dan Nabi SAW ditanya tentang puasa pada hari Asyura, maka beliau menjawab: ‘(Puasa itu) menghapus dosa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim No. 1162) Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas berpuasa. 2. Puasa yang dikerjakan oleh nabi Musa dan Bani Israil “Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 2004 dan Muslim No. 1130) Dari hadis ini kita tahu bahwa hari Asyura juga diperingati oleh Nabi Musa AS sebagai bentuk syukur kepada Allah, dan Nabi Muhammad SAW kemudian mencontohnya sebagai ibadah. 3. Mendapat pahala karena di bulan yang mulia "Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram."(HR. Muslim No.1982). Selain fadhilah-fadhilah diatas, untuk membedakan dengan kaum yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10 muharram, maka nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk puasa pada tanggal 9 muharram yaitu yang kita sebut dengan Tasu'a, karena jika 10 muharram dapat menghapus dosa-dosa kecil kita pada satu tahun yang lalu maka nabi mengatakan dengan adanya puasa tasu'a ini dapat menghapus dosa kita pada satu tahun kedepan. Maka dianjurkan kepada kita sebagai umat muslim untuk puasa selama 2 hari pada bulan muharram ini yaitu: 9 Muharram (Tasu'a) 10 Muharram (Asyura). Amalan yang Dianjurkan di Hari Asyura: 1. Puasa Sunnah Asyura Ini adalah amalan yang paling utama pada tanggal 10 Muharram. "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim) Disunnahkan juga untuk berpuasa sehari sebelumnya (9 Muharram / Tasu’a) agar berbeda dengan kaum Yahudi. 2. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah momen yang baik untuk memperbanyak zikir, istighfar, dan doa sebagai bentuk taubat serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. 3. Bersedekah dan Berbuat Baik Anjuran bersedekah di hari Asyura dinyatakan dalam beberapa riwayat ulama salaf, meskipun derajat hadisnya diperselisihkan, namun para ulama seperti Imam Ahmad membolehkan bersedekah sebagai bentuk amal saleh yang umum dianjurkan. “Barang siapa melapangkan keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR. al-Baihaqi – sanadnya diperselisihkan, tapi diamalkan oleh ulama) 4. Membahagiakan Keluarga Sebagian ulama juga menganjurkan untuk menyediakan makanan yang lebih dari biasanya untuk keluarga di hari Asyura sebagai bentuk syukur. 5. Merenungkan Kisah Hijrah dan Karbala Hari Asyura juga menjadi hari penting dalam sejarah Islam: Nabi Musa AS diselamatkan dari Fir’aun. Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir. Kesyahidan Husain bin Ali RA di Karbala. Momen ini dapat menjadi pelajaran untuk: Menguatkan keteguhan iman. Meneladani keberanian dan pengorbanan dalam kebenaran. Menjauhi permusuhan dan kebencian. 6. Muhasabah dan Hijrah Diri Karena Muharram adalah awal tahun Hijriyah. maka sangat tepat dijadikan momen untuk bermuhasabah atau evaluasi diri dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih taat dan bermakna. Bulan Muharram adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa tasu'a dan asyura, dzikir, sedekah, serta muhasabah diri, semoga kita termasuk orang-orang yang diberi ampunan, keberkahan, dan rezeki yang lapang oleh Allah SWT.
ARTIKEL01/07/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Hidup sering digambarkan sebagai sebuah perjalanan, penuh liku dan warna. Ada saat-saat cerah yang dipenuhi kebahagiaan, namun tak jarang kegelapan datang menyelimuti, membawa tantangan yang berat dan mengikis harapan. Di tengah situasi sulit itu, zakat hadir bagaikan cahaya yang menerangi jalan, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan uluran kasih dan kepedulian. Zakat bukan sekadar rukun Islam yang harus ditunaikan, melainkan wujud nyata dari rasa peduli dan kasih sayang terhadap sesama "cahaya yang bersinar terang" yang membawa segala keberkahan. Meskipun tampaknya sederhana, berbagi sebagian harta zakat memberikan dampak nyata yang menerangi kehidupan orang lain dan memperbaiki keseimbangan sosial. Dengan menyisihkan sebagian kecil harta untuk mereka yang membutuhkan. Tak hanya itu, zakat juga menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Ketika zakat yang kita tunaikan membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka keberkahan dari kebaikan itu akan terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Namun, manfaat zakat tidak hanya dirasakan oleh penerimanya (Mustahik) saja bagi yang menunaikannya (Muzaki) juga. Zakat menjadi cara membersihkan harta, menguatkan keimanan, dan mendatangkan keberkahan. Allah menjanjikan bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk kebaikan akan diganti dengan berlipat ganda. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103) Sebagai umat Muslim, mari jadikan zakat sebagai pelita yang tak pernah padam. Dengan zakat, kita tidak hanya menerangi kehidupan orang lain, tetapi juga menerangi jalan kita menuju ridha Allah. Jadikan zakat sebagai cahaya harapan di tengah kegelapan dunia. Mari tunaikan zakat dan sebarkan cahaya untuk kehidupan yang lebih baik.
ARTIKEL24/01/2025 | BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah merupakan salah satu bentuk kedermawanan yang diajarkan dalam Islam, namun nilai dan manfaatnya melampaui batas agama. Lebih dari sekadar amal, sedekah adalah ekspresi solidaritas dan kepedulian sosial yang memperkuat ikatan dalam masyarakat. Melalui sedekah, kita berbagi sebagian rezeki dengan mereka yang membutuhkan, membantu meringankan beban orang lain, dan menciptakan rasa kebersamaan. Dalam konteks sosial, sedekah bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional baik bagi pemberi maupun penerima. Dengan menyisihkan sebagian harta, kita menumbuhkan rasa empati dan kepedulian, yang pada akhirnya membangun komunitas yang lebih harmonis. Selain itu, sedekah juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, memberi kesempatan bagi mereka yang kurang mampu untuk hidup lebih layak. Bahkan, orang yang ahli sedekah akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu khusus. Sama dengan yang disebut dalam hadist "Barang siapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah" (HR. Bukhari). Pada akhirnya, sedekah adalah cara untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap kesejahteraan bersama. Dengan berbagi, kita tak hanya mengamalkan perintah agama, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan solid.
ARTIKEL14/11/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Sedekah yang utama adalah ketika masih hidup, sedang membutuhkan, sedang sehat, dan masih muda serasa ajal masih panjang. Dalam Alquran diterangkan bahwa sedekah merupakan perkara yang paling harus dilakukan orang yang meninggal seandainya dia dihidupkan lagi ke dunia. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al Munafiqun ayat 10) Orang yang telah sampai ajalnya akan minta tangguh agar ajalnya diundur, bahkan yang telah wafat pun minta dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh. Amal saleh dimaksud adalah sedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Mengapa justru memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Pertama, Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. “Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484). Kedua, Sedekah menjadi benteng dari azab neraka. “Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut mengabarkan keutamaan sedekah meski dengan jumlah yang sangat sedikit. Karena, sedekah itu lah justru bisa menyelematkan yang bersangkutan dari api neraka. Yang dimaksud dengan sebutir kurma merupakan kiasan tentang amal-amal ringan yang berpahala besar. Ketiga, Menolak su’ul khotimah. Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah dapat memudahkan yang bersangkutan melafalkan kalimat tauhid dan melepaskan ruh dengan khusnul khatimah. “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR. Tirmidzi) Keempat, Memadamkan murka Alloh Ta’ala di dunia terlebih di akhirat kelak. Seseorang yang bersedekah sejatinya sedang menyelamatkan diri dan keluarganya, sekalipun pada kenyataannya sedang membantu orang lain, namun hadis berikut mengabarkan bahwa sedekah yang dilakukannya dapat menyelamatkannya dari murka Alloh ta’ala. “Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah” (Shahih At-Targhib, 888) Kelima, Tolak bala yang mujarab adalah melalui sedekah. Imam Al Baihaqi dari riwayat Ali bin Abi Thalib RA, yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Segeralah bersedekah! Sungguhlah, musibah tidak dapat melangkahinya.” Maksudnya adalah bahwa sedekah itu merupakan bendungan atau tanggul yang kokoh kuat terhadap musibah (bala). Musibah tidak akan dapat menerjangnya. Keenam, Sedekah kepada sesama makhluk mendapatkan pahala setara dengan I’tikaf sebulan di masjid. “Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda kesusahan, atau meringankannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh.” (HR. Ath Thabrani) Jadi, mari kita perbanyak pahala sedekah ketika kita masih hidup didunia ini agar kita semua dapat terhindar dari panasnya api neraka. Sedekah mudah, sedekah cepat, sedekah aman hanya di BAZNAS Kabupaten Tulungagung.
ARTIKEL22/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak luar biasa. Dalam Islam, tersenyum kepada orang lain tidak hanya dianggap sebagai perilaku baik, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang berpahala. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa dengan tersenyum, kita tidak hanya mencerahkan hati seseorang, tetapi juga mendapatkan pahala seperti bersedekah. Senyum merupakan cara mudah untuk menyebarkan kebaikan dan menciptakan lingkungan yang positif di sekitar kita. Allah SWT juga menyukai orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195) Tersenyum adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang dapat kita lakukan setiap hari. Ini menunjukkan keramahan, empati, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mempraktikkan ibadah ini dengan mudah: 1. Tersenyum kepada keluarga saat bertemu di pagi hari 2. Menyapa tetangga dengan senyuman 3. Tersenyum kepada rekan kerja atau teman sekolah 4. Memberikan senyuman kepada orang asing yang kita temui di jalan Dengan menjadikan senyum sebagai kebiasaan, kita tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan sosial kita, tetapi juga meraih pahala dari Allah SWT. Mari kita jadikan senyum sebagai ibadah sederhana namun berharga dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL20/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1446 H. Yang merupakan awal bulan dalam kalender Hijriah. Pada bulan Muharram ini termasuk dalam bulan-bulan yang haram (asyhurul hurum). Bulan Muharram ini salah satu bulan mulia, dari bulan- bulan yang lain. Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa bersejarah, salah satunya adalah turunnya rahmat Allah untuk pertama kali yakni pada hari Asyura dan pada hari itu juga Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Allah swt. Allah swt memberikan banyak keutamaan pada bulan ini, di antaranya adalah kesunnahan puasa tanggal 9 (Tasu’a) yang digandeng dengan puasa tanggal 10 Muharram (Asyura), sebab bulan Muharram merupakan bulan mulia setelah Ramadhan untuk melakukan puasa. Rasulullah ? bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam.” (HR Muslim). Salah satu keutamaan puasa pada hari Asyura adalah dapat menghapus dosa pada tahun sebelumnya dan barang siapa yang berpuasa Asyura, maka seperti puasa setahun penuh. Sayyid Muhammad Syatho dalam kitab Ianah-nya menyebutkan tiga hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a menyertai puasa Asyura yakni, Untuk berhati-hati, sebab ada kemungkinan dalam menentukan awal bulan Muharram terjadi kesalahan. Agar tidak menyamai dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura saja. Untuk menghindari puasa hanya satu hari saja sebagaimana mengkhususkan puasa pada hari Jumat tanpa didahului hari sebelumnya dan tidak diikuti hari setelahnya. Dengan ini, jika seseorang melakukan puasa Asyura saja tanpa puasa Tasu’a maka disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal sebelas Muharram.
ARTIKEL16/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Alhamdulillah hari ini kita, khususnya umat Islam masih kembali dipertemukan dengan hari Jumat. Dan perlu diketahui bahwa setidaknya ada waktu tertentu yang hendaknya kita perhatikan sebagai waktu terkabulkannya doa atau mustajabah. Disebutkan bahwa Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya sepekan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat. Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah. Di antara hal-hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa. Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan sa’atul ijabah (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul. Disebutkan dalam hadits, Artinya :"Dari sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat: Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar." (HR Al-Bukhari) Namun, tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, dan para ulama juga berbeda-beda pendapat mengenai penentu waktu-waktu ijabah ini. Menurut mayoritas ulama madzhab Syafii, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya imam jamaah shalat Jumat. Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud. Artinya :"Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah SAW tentang waktu ijabah? Aku menjawab: Ya. Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat." (HR Muslim dan Abi Dawud)
ARTIKEL12/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Harta dalam bentuk mata uang atau tabungan, memungkinkan untuk diqiyas kan dengan emas atau perak, mengingat kedudukan nilai emas dan perak digunakan sebagai mata uang di masa silam, maka nominal uang kertas atau logam dapat di-qiyas-kan dengan emas atau perak. Namun perlu diperhatikan bahwa emas dan perak memiliki perhitungan zakat yang berbeda, dan tidak boleh digabungkan. Uang yang disimpan, entah di bawah tempat tidur atau di bank, alias tidak diputar untuk modal usaha tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nisab atau jumlah tertentu sehingga wajib zakat (senilai harga 85 gram emas murni). Zakat uang tabungan (simpanan) dikeluarkan setiap tahun, selama jumlah uang masih mencapai satu nisab, dipersamakan dengan emas dan perak yang setiap tahunnya bisa berubah nilainya. (Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M.) Hal ini didasarkan pada keterangan dalam kitab Bajuri-Fathul Qorib Juz I dan Bujairimi-Iqna’, bahwa pada benda-benda tambang yang berpotensi untuk tetap mempunyai nilai tambah seperti emas dan perak wajib dizakati selama barangnya masih ada dan mencapai satu nisab. Sementara pada biji-bijian zakatnya hanya setahun sekali saja walaupun biji-bijian tetap ada selama beberapa tahun. Tahun pertama pengeluaran zakat dihitung setelah seseorang menyimpan uangnya selama satu tahun. Tahun kedua dihitung setelah melewati satu tahun dari tahun pertama, begitu seterusnya. Besarnya zakat yang dikeluarkan tiap tahunnya adalah 2,5 persen, sama dengan zakat barang dagangan. Contoh : kita menyimpan uang pada tanggal 1 Juli 2024 sejumlah Rp50.000.000,- . Kemudian pada tahun berikutnya tanggal 1 Juli 2025 uang simpanan masih berjumlah Rp45.000.000,- (masih satu nishab) maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % X Rp45.000.000,- = Rp1.125.000,-. Jika pada tahun berikutnya uang simpanan masih mencapai satu nishab (berdasarkan perhitungan harga emas murni waktu itu) maka tetap wajib dikeluarkan zakatnya seperti pada perhitungan di atas dan Sebagai catatan juga, seorang muslim tidak diperkenankan untuk melakukan trik tertentu agar tidak mengeluarkan zakat.
ARTIKEL10/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah, memiliki makna dan keutamaan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bulan ini dipandang sebagai salah satu bulan mulia dan diberkahi oleh Allah swt. Disisi lain bulan ini banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat berarti adalah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Muharram adalah salah satu dari empat bulan terhormat (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang disebutkan Al-Qur’an. Pada bulan terhormat termasuk Muharram, masyarakat Arab dilarang berbuat dholim dan menumpahkan darah. Dilansir dari nu.or.id, Empat bulan terhormat tersebut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) disebutkan dalam Surat At-Taubah : Artinya: "Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah terdiri atas dua belas bulan, dalam ketentuan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketentuan) agama yang lurus. Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". Bulan Muharram juga disebut sebagai bulannya Allah, Mengapa demikian? Padahal Muharram memiliki keutamaan yang sama atau lebih sedikit dengan bulan lainnya dibandingkan bulan Ramadhan. Menurut Syekh Jalalauddin As-Suyuthi, kelebihan bulan Muharram terletak pada namanya yang islami dibandingkan nama bulan hijriah lainnya. Nama bulan hijriah selain Muharram merupakan nama bulan yang dipakai pada masa jahiliah. Adapun bulan Muharram pada era masyarakat jahiliah dinamai bulan Shafar Awwal. Sedangkan bulan setelah Muharram disebut bulan Shafar Tsani. Ketika Islam datang, Allah menyebut Shafar Awwal dengan bulan Muharram yang dinisbahkan dengan asma-Nya.
ARTIKEL08/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Harus kita kita ketahui bahwasanya kewajiban zak?t m?l adalah berlaku pada harta yang tersimpan (kanzun) yang terdiri atas emas dan perak, dalam salah satu ayat sudah dijelaskan: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak kemudian ia tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan zakatnya), maka berilah kabar gembira terhadap mereka akan azab yang teramat pedih.”(QS at-Taubah :34) Ada dua jenis emas dan perak yang saat ini beredar di masyarakat, yaitu pertama berupa emas murni yang biasanya berwujud emas batangan, dan kedua berupa emas yang dicetak. Untuk emas yang dicetak umumnya disebut sebagai huliyyin mub?h, yaitu perhiasan mubah. Ada kalanya emas yang ada dalam bentuk cetak ini berupa kalung, cincin, atau berupa mata uang seperti dinar dan dirham. Nishab dari huliyyin mubah ini adalah 20 mitsq?l, setara dengan 20 dinar, atau kurang lebih 425 gram. Sementara nishab emas murni adalah setara 85 gram. Masing-masing dari emas murni dan emas yang dicetak ini wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (rub’u al-‘ushr). Untuk nishab perak dalam bentuk huliyyin mubah, adalah sama dengan 200 dirham atau setara dengan kadar 2.975 gram. Adapun bila dalam bentuk perak murni (batangan), maka nishabnya setara dengan ukuran timbangan 595 gram. Zakat yang wajib dikeluarkan dari perak ini juga sama yaitu 2,5%-nya. Catatan yang perlu kita perhatikan dari keberadaan zakat emas dan perak tadi adalah bahwa keduanya telah disimpan (kanzun) selama kurang lebih 1 tahun, baik dalam bentuk batangan murni atau dalam bentuk cetak (KH. Afifuddin Muhadjir, Fathu al-Mudj?b al-Qar?b fi hilli Alf?dhi al-Taqr?b) Lantas kalian tau gak, hubungan keberadaan emas dan perak ini dengan uang? Hubungan kuduanya sangatlah erat, karena sejarah mata uang di dunia ini erat hubungannya dengan emas dan perak. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih klasik pun juga disebutkan adanya relasi antara mata uang dengan emas dan perak. Dilansir dari nu.or.id dalam Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M juga menyamakan kedudukan uang ini sama dengan emas dan perak. Namun menilik dari tahun dihasilkannya keputusan tersebut, keputusan itu tidak bisa disalahkan karena memang pada tahun itu kedudukan uang masih memiliki simpanan berupa cadangan emas yang terletak di Bank Indonesia. Pasca dihasilkannya keputusan Muktamar NU yang ke-8 itu berlakulah hukum bahwa setiap uang yang disimpan oleh masyarakat, adalah bernilai cadangan emas dan perak. Karena ia bernilai cadangan emas, maka bila uang tersebut disimpan selama satu tahun, baik disimpan sendiri atau disimpan di bank, dengan catatan yaitu asal tidak dipergunakan sama sekali, maka dari uang ini berlaku nishab zakat.
ARTIKEL05/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Dikisahkan dalam kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi. Menceritakan betapa hebatnya (dahsyatnya) sedekah yang bahkan mampu menyelamatkan seseorang dari ketentuan sebagai ahli neraka. Cerita tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, bahwa suatu saat telah membeli seorang jariyah, seorang budak perempuan. Sesaat kemudian, malaikat Jibril turun ke bumi dan berkata kepada Nabi Muhammad Saw : "Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu, karena sesungguhnya ia adalah ahli neraka." Nabi pun mengutarakan perintah malaikat Jibril ini kepada Aisyah. Lalu Aisyah dengan perasaan iba dan wajah kasihan saat melepas kepergian sang budak yang telah dimerdekaannya. Aisyah melepas kepergian sang budak dengan membekalinya beberapa kurma sebagai teman dalam perjalanan. Singkat cerita, saat dalam perjalanan tersebut sang budak pun merasa kelelahan dan memakan kurma pemberian dari Aisyah itu dengan lahap. Namun saat ia menikmati bekal kurma, datang kepadanya seorang fakir meminta-minta.Dari perawakan sang fakir sangat jelas bahwa kondisinya lebih memprihatinkan dibandingkannya dirinya. Karena itu, meskipun lapar dan sesungguhnya ia juga masih membutuhkan bekal kurma, sang budak memberikan tidak hanya sebagian, bahkan seluruh kurma yang tersisa kepada fakir tersebut. Dan benar, sang fakir tersebut sangat kelaparan dan memakan semua kurma yang diberikan oleh sang budak itu tanpa sisa satupun. Melihat hal itu, sang budak berbesar hati untuk merelakan kurma yang sebenarnya jatahnya kepada kalangan yang lebih membutuhkan, yakni fakir itu. Dan betapa dahsyat kekuatan sedekah. Tak lama kemudian setelah sang budak memberikan kurma kepada fakir tadi, malaikat Jibril kembali turun ke bumi. Kali ini mewahyukan kepada Nabi Muhammad bahwa diperintah untuk kembali membiarkan sang budak di rumahnya. Karena sungguh, lantaran sedekah sang budak, rahmat Allah turun dan ia pun batal masuk neraka.
ARTIKEL03/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Apa kalian tau apa sih yang dimaksud sayyidul ayyam itu? Hari Jum'at sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari, tentu mengingatkan bahwa hari jum'at bisa menyakinkan pandangan kita dan memastikan kaum muslimin untuk menghiasi hari jum'at dengan hal-hal yang terbaik. Hari Jumat adalah hari istimewa yang dengannya Allah mengagungkan dan menghiasi Islam. Allah memuliakan umat Muhammad SAW dengan hari Jumat, yang tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan hari Jumat. Bahkan ada beberapa ulama yang secara khusus menjadikannya dalam satu bentuk karya, seperti kitab al-Lum’ah fi Khashaish al-Jumat, karya Syekh Jalaluddin al-Suyuthi. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat." Nahh apakah kalian tau juga, mengapa langit, bumi, batu dan benda-benda mati lainnya mengalami kekhawatiran? Padahal benda-benda tersebut merupakan makhluk yang tidak bernyawa? Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam Manahij al-Imdad menjelaskan : "Maksudnya, Allah menciptakan kepada makhuk-makhluk tidak bernyawa ini pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi pada hari Jumat tersebut. Rahasia dari kekhawatiran mereka adalah bahwa hari kiamat sebagaimana telah dijelaskan terjadi pada hari Jumat di antara waktu Subuh dan terbitnya matahari. Maka tidaklah binatang-binatang kecuali khawatir akan datangnya hari kiamat pada pagi hari Jumat ini. Saat pagi hari tiba, mereka memuji kepada Allah dan memberi ucapan selamat satu sama lain, mereka mengatakan; ini hari baik. Kiamat tidak terjadi pada pagi hari ini”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz 1, halaman 286). Ada banyak keutamaan yang dapat dilakukan pada hari jum'at seperti seorang Muslim yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dinaungi cahaya di antara dua Jumat. Nabi juga menganjurkan agar memperbanyak membaca shalawat pada hari Jumat. Dalam hadist dijelaskan : "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untuku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali."
ARTIKEL28/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Bersedekah dengan harta yang kita cintai memanglah amat sangat berat. Karena sifat manusia yang sangat mencintai hartanya lalu enggan mengeluarkannya. Allah berfirman dalam QS. Al fajr:20: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya. " Anas berkata (saat turun ayat, QS. Al Imron:2) Artinya :“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. " Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998)
ARTIKEL26/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →