WhatsApp Icon
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban

Idhul adha bukan sekedar perayaan ritual penyembelihan hewan, melainkan momen agung untuk menguji ketundukan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ibadah kurban merupakan salah satu syiar islam yang memiliki kedudukan istimewa, terpatri dalam sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS, dan putranya, Nabi Ismail AS, yang rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Secara bahasa kurban berarti dekat atau mendekatkan diri, yang secara istilah dimaknai sebagai penyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang ditentukan dengan niat ibadah semata demi meraih ridho Nya.

Ibadah ini bukan hanya tentang tindakan fisik menyembelih hewan, tetapi lebih dalam tentang meneladani sikap ikhlas dan tawadhu. Nabi Ibrahim AS tidak menunjukkan keraguan sedikitpun meskipun perintah yang datang menyangkut sesuatu yang paling berharga baginya. Begitu pula bagi kita, kurban adalah bentuk pengorbanan harta dan rasa cinta duniawi demi kebaikan yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira pada orang-orang yang muhsin.

Dibalik pelaksanaannya, terdapat hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik secara spiritual maupun sosial. Secara agama, kurban menjadi sarana pahala yang besar dan membuka pintu pengampunan dosa dimana Rasulullah SAW bersabda bahwa Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari itu selain menumpahkan darah hewan kurban, yang kelak akan datang membawa pahala bagi pemiliknya di hari kiamat. Lebih dari itu daging kurban menjadi jembatan yang mempererat ukhuwah dna silaturrhami antar warga, menghapus sekat-sekat sosial, serta menciptakan rasa persaudaraan yang erat. Pembagian daging yang dilakukan dengan bijak, baik untuk keluarga sendiri, kerabat, maupun mereka yang membutuhkan, menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang menjadi ruh dari tugas pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat.

BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai mitra terpercaya umat dalam menyalurkan ibadah kurban dengan penuh tanggung jawab. Dengan menitipkan hewan kurban melalui BAZNAS, anda memastikan penyaluran yang tepat sasaran kepada yang berhak menerima, dikelola secara profesional, transparan, dan sesuai syariat. Setiap daging yang disalurkan akan diampaikan ketangan kaum mustahik, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan. Mari menjadikan momen idhul adha tahun ini sebagai kesempatan emas untuk melipat gandakan amal shaleh, dimana satu hewan kurban yang anda tunaikan menjadi sumber kebahagiaan bagi banya keluraga dan menjadi bekal amal jariyah yang pahalanya tak akan pernah terputus. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu dermawan serta bertakwa.

06/05/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Asal Bagi! Ini Aturan Pembagian Daging Kurban dalam Islam

Ibadah kurban sering dipahami sebatas menyembelih hewan pada Hari Raya Iduladha. Padahal, esensi kurban tidak berhenti di proses penyembelihan saja, tetapi juga pada bagaimana daging tersebut didistribusikan sesuai syariat.

Dalam Islam, pembagian daging kurban adalah bagian penting dari ibadah itu sendiri. Artinya, kurban bukan sekadar ritual, tetapi juga harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Ayat ini menjadi dasar bahwa daging kurban tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada yang membutuhkan.

Kurban Bukan Hanya Menyembelih

Setelah hewan disembelih, tanggung jawab berikutnya adalah memastikan daging sampai kepada yang berhak. Inilah yang sering luput dari perhatian.

Islam mengajarkan bahwa daging kurban dianjurkan untuk dibagi menjadi tiga bagian:

1. Untuk diri sendiri dan keluarga

Orang yang berkurban boleh menikmati sebagian daging sebagai bentuk syukur. Namun, bagian ini tidak boleh diperjualbelikan dalam bentuk apa pun, termasuk bagian seperti kulit atau jeroan.

2. Untuk kerabat atau tetangga

Daging juga dianjurkan untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat sebagai wujud mempererat hubungan sosial. Penerimanya tidak harus dari kalangan tidak mampu, selama tujuannya adalah berbagi kebahagiaan.

3. Untuk fakir miskin

Inilah bagian yang paling utama. Daging kurban harus disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa imbalan apa pun, agar benar-benar memberi manfaat dan menghadirkan kebahagiaan di hari raya. Pembagian ini tidak bersifat wajib secara kaku, namun para ulama sepakat bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas utama.

Aturan Penting dalam Pembagian Daging Kurban

Agar ibadah kurban sesuai dengan syariat, berikut beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan:

  • Daging kurban tidak boleh diperjualbelikan
  • Tidak boleh dijadikan sebagai upah bagi panitia penyembelih
  • Sebaiknya dibagikan dalam kondisi mentah
  • Pembagian harus adil dan tidak pilih kasih

Mematuhi aturan ini penting agar kurban tidak hanya sah, tetapi juga bernilai ibadah secara sempurna.

Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana dagingnya didistribusikan dengan benar. Jangan sampai ibadah yang sudah baik justru berkurang nilainya karena pembagian yang tidak sesuai. Pastikan daging kurban disalurkan dengan tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh yang berhak.

Wujudkan Kurban yang Tepat Sasaran dan Penuh Manfaat

Menunaikan ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga memastikan distribusinya sampai kepada yang benar-benar membutuhkan.

Melalui BAZNAS Tulungagung, kurban Anda akan dikelola secara amanah dan disalurkan hingga ke masyarakat di daerah terpencil.

Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Salurkan kurban Anda melalui BAZNAS Tulungagung.

Klik Disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/bayarzakat

27/04/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan sederhana: membantu atau mengabaikan. Padahal, dari pilihan kecil itulah lahir dampak besar, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Ketika kita memilih untuk memudahkan urusan orang lain, sejatinya kita sedang membuka jalan kemudahan untuk hidup kita sendiri.

Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Dalam ajaran Islam, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah SWT. Bahkan, kebaikan tersebut bisa menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemudahan yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di kemudian hari.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist:

"Barang siapa memudahkan kesulitan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu orang lain bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi juga merupakan investasi amal yang berdampak besar bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Memudahkan urusan orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membantu secara tenaga, memberikan dukungan moral, hingga berbagi rezeki melalui sedekah.

Tak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berbuat kebaikan. Justru, langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas sering kali menjadi awal dari perubahan besar. Senyuman, bantuan sederhana, atau uluran tangan di saat yang tepat bisa menjadi penyelamat bagi seseorang.

Salah satu cara nyata untuk menebarkan kebaikan adalah melalui sedekah. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam hidup.

Mari mulai dari hari ini, dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ringankan langkah, bantu sesama, dan tebarkan kebaikan tanpa menunda.

Salurkan sedekah terbaik kita melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung sebagai wadah amanah untuk membantu mereka yang membutuhkan:

Link: https://kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

BSI 7137892051
BRI 011001030166530

Karena sejatinya, saat kita memudahkan orang lain, Allah SWT sedang menyiapkan kemudahan untuk kita.

31/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Bulan Ramadhan adalah suatu moment yang penuh keberkahan yang mengajarkan umat islam untuk terus meningkatkan kepedulian sosial serta semangat berbagi. Salah satu amalan yang mudah tapi memiliki keutamaan besar ialah memberi makan kepada orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda "bahwa siapa saja yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang menjalankannya". Oleh karena itu, memberi makan kepada orang yang berpuasa bukan sekedar bentuk kebaikan sosial, melainkan juga ladang pahala yang luar biasa di sisi Allah SWT. 

5 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa

Ada beberapa keutamaan memberi makan buka puasa. Ini juga termasuk bagi yang membantu atau menjadi panitia buka puasa karena termasuk dalam orang yang menolong dalam kebaikan.

1. Memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa.

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

Artinya: "Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no.807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5:192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2. Menggabungkan Shalat, puasa dan sedekah dapat mengantarkan pada ridha Allah.

Ibnu Rajab Al-Hamdali rahimahullah  karenanya menyatakan, "Puasa, shalat dan sedekah mengantarkan orang yang mengamalkannya pada Allah. Sebagian salaf sampai berkata, 'Shalat mengantarkan seseorang pada separuh jalan. Puasa mengantarkannya pada pintu raja. Sedekah nantinya akan mengambilnya dan mengantarnya pada raja." (Lathaif Al-Ma'arif, hlm.298)

3. Sedekah akan menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat.

Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

Artinya: "Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia." (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini Shahih)

4. Sedekah akan meredam murka Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits, 

Artinya: "Sedekah itu dapat meredam murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek." (HR. Trimidzi, no. 664. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini Dha'if)

5. Sedekah akan menghapus dosa

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

Artinya: "Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api." (HR. Trimidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir menatakan bahwa sanad hadits ini Hasan)

 

Klik Disini -> Bayar Sedekah Makan Untuk Orang Berpuasa

19/02/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit

Saat kebanyakan orang masih terlelap dalam sisa kantuk malam, ada segelintir hamba yang telah terjaga, menunduk dalam doa, dan menyelipkan kebaikan di antara dinginnya udara subuh. Mereka bukan sekadar mengejar pahala, tetapi mengetuk pintu langit dengan sedekah di waktu yang paling mulia.

Fenomena “sedekah subuh” belakangan semakin menggema di tengah masyarakat. Bukan karena tren, melainkan karena keyakinan akan keutamaannya yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Di balik kesederhanaannya, sedekah di waktu fajar menyimpan janji keberkahan yang luar biasa.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan karunia Allah. Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi “investasi akhirat” yang berkembang berkali-kali lipat. Jika dilakukan dengan ikhlas, Allah akan menumbuhkannya menjadi keberkahan dunia dan pahala akhirat.

Doa Para Malaikat di Waktu Subuh

Keutamaan sedekah subuh semakin kuat dengan hadis Nabi ?

"Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.’ Dan yang lain berdoa: ‘Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir."(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah di pagi hari terlebih di waktu subuh memiliki posisi istimewa. Bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga “mengaktifkan” doa para malaikat yang mustajab di sisi Allah.

Mengapa subuh?

Subuh adalah waktu peralihan antara gelap dan terang, antara sunyi dan kehidupan. Di saat itulah hati paling jernih, niat paling tulus, dan doa paling khusyuk. Sedekah di waktu ini bukan sekadar memberi, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah — meyakini bahwa rezeki datang dari-Nya, bukan dari dompet kita.

Para ulama menyebut waktu subuh sebagai waqtul barakah (waktu keberkahan). Pada jam-jam ini, hiruk-pikuk dunia belum mengambil alih kesadaran manusia. Tidak ada kebisingan pasar, tidak ada riuhnya pekerjaan, tidak ada gangguan layar ponsel. Yang ada hanya keheningan, zikir, dan bisikan iman. Karena itulah, sedekah yang dilakukan di waktu subuh cenderung lebih murni lahir bukan dari pamer atau dorongan sosial, tetapi dari keikhlasan hati.

Sedekah subuh tidak menuntut nominal besar. Bisa berupa uang, makanan untuk tetangga, memberi makan kucing jalanan, atau bahkan membantu orang yang membutuhkan. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan konsistensi.

Maka, mari kita jadikan fajar bukan hanya waktu untuk bangun, tetapi waktu untuk memberi. Sisipkan kebaikan sebelum aktivitas dunia menyibukkan hati kita. Mulailah hari dengan sedekah, agar Allah memulai hari kita dengan keberkahan.

Bayangkan: ketika matahari belum terbit, namamu sudah disebut oleh malaikat dalam doa kebaikan. Ketika orang lain masih tertidur, catatan amalmu sudah bertambah. Dan ketika rezeki menghampirimu, itu bukan kebetulan itu janji Allah yang terwujud.

Mari hidupkan sedekah subuh. Bukan karena kita punya banyak, tetapi karena kita percaya kepada Yang Maha Memberi. Sebab, tangan yang memberi di subuh hari, kelak akan dipeluk rahmat-Nya di hari kemudian.

05/02/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung

Artikel Terbaru

Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Dalam Islam, terdapat bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Salah satunya adalah bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah, yang juga disebut sebagai “Syahrullah” (Bulan Allah). Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya. Puncak keberkahan bulan Muharram berada pada tanggal 10, yang dikenal dengan Hari Asyura. Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk berpuasa pada hari ini. Dalam hadis disebutkan: “Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim No. 1982) Keutamaan Puasa Asyura yaitu: 1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu “Dan Nabi SAW ditanya tentang puasa pada hari Asyura, maka beliau menjawab: ‘(Puasa itu) menghapus dosa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim No. 1162) Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas berpuasa. 2. Puasa yang dikerjakan oleh nabi Musa dan Bani Israil “Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 2004 dan Muslim No. 1130) Dari hadis ini kita tahu bahwa hari Asyura juga diperingati oleh Nabi Musa AS sebagai bentuk syukur kepada Allah, dan Nabi Muhammad SAW kemudian mencontohnya sebagai ibadah. 3. Mendapat pahala karena di bulan yang mulia "Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram."(HR. Muslim No.1982). Selain fadhilah-fadhilah diatas, untuk membedakan dengan kaum yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10 muharram, maka nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk puasa pada tanggal 9 muharram yaitu yang kita sebut dengan Tasu'a, karena jika 10 muharram dapat menghapus dosa-dosa kecil kita pada satu tahun yang lalu maka nabi mengatakan dengan adanya puasa tasu'a ini dapat menghapus dosa kita pada satu tahun kedepan. Maka dianjurkan kepada kita sebagai umat muslim untuk puasa selama 2 hari pada bulan muharram ini yaitu: 9 Muharram (Tasu'a) 10 Muharram (Asyura). Amalan yang Dianjurkan di Hari Asyura: 1. Puasa Sunnah Asyura Ini adalah amalan yang paling utama pada tanggal 10 Muharram. "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim) Disunnahkan juga untuk berpuasa sehari sebelumnya (9 Muharram / Tasu’a) agar berbeda dengan kaum Yahudi. 2. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah momen yang baik untuk memperbanyak zikir, istighfar, dan doa sebagai bentuk taubat serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. 3. Bersedekah dan Berbuat Baik Anjuran bersedekah di hari Asyura dinyatakan dalam beberapa riwayat ulama salaf, meskipun derajat hadisnya diperselisihkan, namun para ulama seperti Imam Ahmad membolehkan bersedekah sebagai bentuk amal saleh yang umum dianjurkan. “Barang siapa melapangkan keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR. al-Baihaqi – sanadnya diperselisihkan, tapi diamalkan oleh ulama) 4. Membahagiakan Keluarga Sebagian ulama juga menganjurkan untuk menyediakan makanan yang lebih dari biasanya untuk keluarga di hari Asyura sebagai bentuk syukur. 5. Merenungkan Kisah Hijrah dan Karbala Hari Asyura juga menjadi hari penting dalam sejarah Islam: Nabi Musa AS diselamatkan dari Fir’aun. Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir. Kesyahidan Husain bin Ali RA di Karbala. Momen ini dapat menjadi pelajaran untuk: Menguatkan keteguhan iman. Meneladani keberanian dan pengorbanan dalam kebenaran. Menjauhi permusuhan dan kebencian. 6. Muhasabah dan Hijrah Diri Karena Muharram adalah awal tahun Hijriyah. maka sangat tepat dijadikan momen untuk bermuhasabah atau evaluasi diri dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih taat dan bermakna. Bulan Muharram adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa tasu'a dan asyura, dzikir, sedekah, serta muhasabah diri, semoga kita termasuk orang-orang yang diberi ampunan, keberkahan, dan rezeki yang lapang oleh Allah SWT.
ARTIKEL01/07/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Hidup sering digambarkan sebagai sebuah perjalanan, penuh liku dan warna. Ada saat-saat cerah yang dipenuhi kebahagiaan, namun tak jarang kegelapan datang menyelimuti, membawa tantangan yang berat dan mengikis harapan. Di tengah situasi sulit itu, zakat hadir bagaikan cahaya yang menerangi jalan, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan uluran kasih dan kepedulian. Zakat bukan sekadar rukun Islam yang harus ditunaikan, melainkan wujud nyata dari rasa peduli dan kasih sayang terhadap sesama "cahaya yang bersinar terang" yang membawa segala keberkahan. Meskipun tampaknya sederhana, berbagi sebagian harta zakat memberikan dampak nyata yang menerangi kehidupan orang lain dan memperbaiki keseimbangan sosial. Dengan menyisihkan sebagian kecil harta untuk mereka yang membutuhkan. Tak hanya itu, zakat juga menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Ketika zakat yang kita tunaikan membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka keberkahan dari kebaikan itu akan terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Namun, manfaat zakat tidak hanya dirasakan oleh penerimanya (Mustahik) saja bagi yang menunaikannya (Muzaki) juga. Zakat menjadi cara membersihkan harta, menguatkan keimanan, dan mendatangkan keberkahan. Allah menjanjikan bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk kebaikan akan diganti dengan berlipat ganda. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103) Sebagai umat Muslim, mari jadikan zakat sebagai pelita yang tak pernah padam. Dengan zakat, kita tidak hanya menerangi kehidupan orang lain, tetapi juga menerangi jalan kita menuju ridha Allah. Jadikan zakat sebagai cahaya harapan di tengah kegelapan dunia. Mari tunaikan zakat dan sebarkan cahaya untuk kehidupan yang lebih baik.
ARTIKEL24/01/2025 | BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah merupakan salah satu bentuk kedermawanan yang diajarkan dalam Islam, namun nilai dan manfaatnya melampaui batas agama. Lebih dari sekadar amal, sedekah adalah ekspresi solidaritas dan kepedulian sosial yang memperkuat ikatan dalam masyarakat. Melalui sedekah, kita berbagi sebagian rezeki dengan mereka yang membutuhkan, membantu meringankan beban orang lain, dan menciptakan rasa kebersamaan. Dalam konteks sosial, sedekah bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional baik bagi pemberi maupun penerima. Dengan menyisihkan sebagian harta, kita menumbuhkan rasa empati dan kepedulian, yang pada akhirnya membangun komunitas yang lebih harmonis. Selain itu, sedekah juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, memberi kesempatan bagi mereka yang kurang mampu untuk hidup lebih layak. Bahkan, orang yang ahli sedekah akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu khusus. Sama dengan yang disebut dalam hadist "Barang siapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah" (HR. Bukhari). Pada akhirnya, sedekah adalah cara untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap kesejahteraan bersama. Dengan berbagi, kita tak hanya mengamalkan perintah agama, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan solid.
ARTIKEL14/11/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Sedekah yang utama adalah ketika masih hidup, sedang membutuhkan, sedang sehat, dan masih muda serasa ajal masih panjang. Dalam Alquran diterangkan bahwa sedekah merupakan perkara yang paling harus dilakukan orang yang meninggal seandainya dia dihidupkan lagi ke dunia. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al Munafiqun ayat 10) Orang yang telah sampai ajalnya akan minta tangguh agar ajalnya diundur, bahkan yang telah wafat pun minta dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh. Amal saleh dimaksud adalah sedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Mengapa justru memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Pertama, Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. “Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484). Kedua, Sedekah menjadi benteng dari azab neraka. “Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut mengabarkan keutamaan sedekah meski dengan jumlah yang sangat sedikit. Karena, sedekah itu lah justru bisa menyelematkan yang bersangkutan dari api neraka. Yang dimaksud dengan sebutir kurma merupakan kiasan tentang amal-amal ringan yang berpahala besar. Ketiga, Menolak su’ul khotimah. Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah dapat memudahkan yang bersangkutan melafalkan kalimat tauhid dan melepaskan ruh dengan khusnul khatimah. “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR. Tirmidzi) Keempat, Memadamkan murka Alloh Ta’ala di dunia terlebih di akhirat kelak. Seseorang yang bersedekah sejatinya sedang menyelamatkan diri dan keluarganya, sekalipun pada kenyataannya sedang membantu orang lain, namun hadis berikut mengabarkan bahwa sedekah yang dilakukannya dapat menyelamatkannya dari murka Alloh ta’ala. “Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah” (Shahih At-Targhib, 888) Kelima, Tolak bala yang mujarab adalah melalui sedekah. Imam Al Baihaqi dari riwayat Ali bin Abi Thalib RA, yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Segeralah bersedekah! Sungguhlah, musibah tidak dapat melangkahinya.” Maksudnya adalah bahwa sedekah itu merupakan bendungan atau tanggul yang kokoh kuat terhadap musibah (bala). Musibah tidak akan dapat menerjangnya. Keenam, Sedekah kepada sesama makhluk mendapatkan pahala setara dengan I’tikaf sebulan di masjid. “Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda kesusahan, atau meringankannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh.” (HR. Ath Thabrani) Jadi, mari kita perbanyak pahala sedekah ketika kita masih hidup didunia ini agar kita semua dapat terhindar dari panasnya api neraka. Sedekah mudah, sedekah cepat, sedekah aman hanya di BAZNAS Kabupaten Tulungagung.
ARTIKEL22/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak luar biasa. Dalam Islam, tersenyum kepada orang lain tidak hanya dianggap sebagai perilaku baik, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang berpahala. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa dengan tersenyum, kita tidak hanya mencerahkan hati seseorang, tetapi juga mendapatkan pahala seperti bersedekah. Senyum merupakan cara mudah untuk menyebarkan kebaikan dan menciptakan lingkungan yang positif di sekitar kita. Allah SWT juga menyukai orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195) Tersenyum adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang dapat kita lakukan setiap hari. Ini menunjukkan keramahan, empati, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mempraktikkan ibadah ini dengan mudah: 1. Tersenyum kepada keluarga saat bertemu di pagi hari 2. Menyapa tetangga dengan senyuman 3. Tersenyum kepada rekan kerja atau teman sekolah 4. Memberikan senyuman kepada orang asing yang kita temui di jalan Dengan menjadikan senyum sebagai kebiasaan, kita tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan sosial kita, tetapi juga meraih pahala dari Allah SWT. Mari kita jadikan senyum sebagai ibadah sederhana namun berharga dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL20/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1446 H. Yang merupakan awal bulan dalam kalender Hijriah. Pada bulan Muharram ini termasuk dalam bulan-bulan yang haram (asyhurul hurum). Bulan Muharram ini salah satu bulan mulia, dari bulan- bulan yang lain. Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa bersejarah, salah satunya adalah turunnya rahmat Allah untuk pertama kali yakni pada hari Asyura dan pada hari itu juga Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Allah swt. Allah swt memberikan banyak keutamaan pada bulan ini, di antaranya adalah kesunnahan puasa tanggal 9 (Tasu’a) yang digandeng dengan puasa tanggal 10 Muharram (Asyura), sebab bulan Muharram merupakan bulan mulia setelah Ramadhan untuk melakukan puasa. Rasulullah ? bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam.” (HR Muslim). Salah satu keutamaan puasa pada hari Asyura adalah dapat menghapus dosa pada tahun sebelumnya dan barang siapa yang berpuasa Asyura, maka seperti puasa setahun penuh. Sayyid Muhammad Syatho dalam kitab Ianah-nya menyebutkan tiga hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a menyertai puasa Asyura yakni, Untuk berhati-hati, sebab ada kemungkinan dalam menentukan awal bulan Muharram terjadi kesalahan. Agar tidak menyamai dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura saja. Untuk menghindari puasa hanya satu hari saja sebagaimana mengkhususkan puasa pada hari Jumat tanpa didahului hari sebelumnya dan tidak diikuti hari setelahnya. Dengan ini, jika seseorang melakukan puasa Asyura saja tanpa puasa Tasu’a maka disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal sebelas Muharram.
ARTIKEL16/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Alhamdulillah hari ini kita, khususnya umat Islam masih kembali dipertemukan dengan hari Jumat. Dan perlu diketahui bahwa setidaknya ada waktu tertentu yang hendaknya kita perhatikan sebagai waktu terkabulkannya doa atau mustajabah. Disebutkan bahwa Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya sepekan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat. Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah. Di antara hal-hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa. Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan sa’atul ijabah (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul. Disebutkan dalam hadits, Artinya :"Dari sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat: Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar." (HR Al-Bukhari) Namun, tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, dan para ulama juga berbeda-beda pendapat mengenai penentu waktu-waktu ijabah ini. Menurut mayoritas ulama madzhab Syafii, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya imam jamaah shalat Jumat. Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud. Artinya :"Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah SAW tentang waktu ijabah? Aku menjawab: Ya. Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat." (HR Muslim dan Abi Dawud)
ARTIKEL12/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Harta dalam bentuk mata uang atau tabungan, memungkinkan untuk diqiyas kan dengan emas atau perak, mengingat kedudukan nilai emas dan perak digunakan sebagai mata uang di masa silam, maka nominal uang kertas atau logam dapat di-qiyas-kan dengan emas atau perak. Namun perlu diperhatikan bahwa emas dan perak memiliki perhitungan zakat yang berbeda, dan tidak boleh digabungkan. Uang yang disimpan, entah di bawah tempat tidur atau di bank, alias tidak diputar untuk modal usaha tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nisab atau jumlah tertentu sehingga wajib zakat (senilai harga 85 gram emas murni). Zakat uang tabungan (simpanan) dikeluarkan setiap tahun, selama jumlah uang masih mencapai satu nisab, dipersamakan dengan emas dan perak yang setiap tahunnya bisa berubah nilainya. (Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M.) Hal ini didasarkan pada keterangan dalam kitab Bajuri-Fathul Qorib Juz I dan Bujairimi-Iqna’, bahwa pada benda-benda tambang yang berpotensi untuk tetap mempunyai nilai tambah seperti emas dan perak wajib dizakati selama barangnya masih ada dan mencapai satu nisab. Sementara pada biji-bijian zakatnya hanya setahun sekali saja walaupun biji-bijian tetap ada selama beberapa tahun. Tahun pertama pengeluaran zakat dihitung setelah seseorang menyimpan uangnya selama satu tahun. Tahun kedua dihitung setelah melewati satu tahun dari tahun pertama, begitu seterusnya. Besarnya zakat yang dikeluarkan tiap tahunnya adalah 2,5 persen, sama dengan zakat barang dagangan. Contoh : kita menyimpan uang pada tanggal 1 Juli 2024 sejumlah Rp50.000.000,- . Kemudian pada tahun berikutnya tanggal 1 Juli 2025 uang simpanan masih berjumlah Rp45.000.000,- (masih satu nishab) maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % X Rp45.000.000,- = Rp1.125.000,-. Jika pada tahun berikutnya uang simpanan masih mencapai satu nishab (berdasarkan perhitungan harga emas murni waktu itu) maka tetap wajib dikeluarkan zakatnya seperti pada perhitungan di atas dan Sebagai catatan juga, seorang muslim tidak diperkenankan untuk melakukan trik tertentu agar tidak mengeluarkan zakat.
ARTIKEL10/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah, memiliki makna dan keutamaan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bulan ini dipandang sebagai salah satu bulan mulia dan diberkahi oleh Allah swt. Disisi lain bulan ini banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat berarti adalah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Muharram adalah salah satu dari empat bulan terhormat (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang disebutkan Al-Qur’an. Pada bulan terhormat termasuk Muharram, masyarakat Arab dilarang berbuat dholim dan menumpahkan darah. Dilansir dari nu.or.id, Empat bulan terhormat tersebut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) disebutkan dalam Surat At-Taubah : Artinya: "Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah terdiri atas dua belas bulan, dalam ketentuan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketentuan) agama yang lurus. Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". Bulan Muharram juga disebut sebagai bulannya Allah, Mengapa demikian? Padahal Muharram memiliki keutamaan yang sama atau lebih sedikit dengan bulan lainnya dibandingkan bulan Ramadhan. Menurut Syekh Jalalauddin As-Suyuthi, kelebihan bulan Muharram terletak pada namanya yang islami dibandingkan nama bulan hijriah lainnya. Nama bulan hijriah selain Muharram merupakan nama bulan yang dipakai pada masa jahiliah. Adapun bulan Muharram pada era masyarakat jahiliah dinamai bulan Shafar Awwal. Sedangkan bulan setelah Muharram disebut bulan Shafar Tsani. Ketika Islam datang, Allah menyebut Shafar Awwal dengan bulan Muharram yang dinisbahkan dengan asma-Nya.
ARTIKEL08/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Harus kita kita ketahui bahwasanya kewajiban zak?t m?l adalah berlaku pada harta yang tersimpan (kanzun) yang terdiri atas emas dan perak, dalam salah satu ayat sudah dijelaskan: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak kemudian ia tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan zakatnya), maka berilah kabar gembira terhadap mereka akan azab yang teramat pedih.”(QS at-Taubah :34) Ada dua jenis emas dan perak yang saat ini beredar di masyarakat, yaitu pertama berupa emas murni yang biasanya berwujud emas batangan, dan kedua berupa emas yang dicetak. Untuk emas yang dicetak umumnya disebut sebagai huliyyin mub?h, yaitu perhiasan mubah. Ada kalanya emas yang ada dalam bentuk cetak ini berupa kalung, cincin, atau berupa mata uang seperti dinar dan dirham. Nishab dari huliyyin mubah ini adalah 20 mitsq?l, setara dengan 20 dinar, atau kurang lebih 425 gram. Sementara nishab emas murni adalah setara 85 gram. Masing-masing dari emas murni dan emas yang dicetak ini wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (rub’u al-‘ushr). Untuk nishab perak dalam bentuk huliyyin mubah, adalah sama dengan 200 dirham atau setara dengan kadar 2.975 gram. Adapun bila dalam bentuk perak murni (batangan), maka nishabnya setara dengan ukuran timbangan 595 gram. Zakat yang wajib dikeluarkan dari perak ini juga sama yaitu 2,5%-nya. Catatan yang perlu kita perhatikan dari keberadaan zakat emas dan perak tadi adalah bahwa keduanya telah disimpan (kanzun) selama kurang lebih 1 tahun, baik dalam bentuk batangan murni atau dalam bentuk cetak (KH. Afifuddin Muhadjir, Fathu al-Mudj?b al-Qar?b fi hilli Alf?dhi al-Taqr?b) Lantas kalian tau gak, hubungan keberadaan emas dan perak ini dengan uang? Hubungan kuduanya sangatlah erat, karena sejarah mata uang di dunia ini erat hubungannya dengan emas dan perak. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih klasik pun juga disebutkan adanya relasi antara mata uang dengan emas dan perak. Dilansir dari nu.or.id dalam Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M juga menyamakan kedudukan uang ini sama dengan emas dan perak. Namun menilik dari tahun dihasilkannya keputusan tersebut, keputusan itu tidak bisa disalahkan karena memang pada tahun itu kedudukan uang masih memiliki simpanan berupa cadangan emas yang terletak di Bank Indonesia. Pasca dihasilkannya keputusan Muktamar NU yang ke-8 itu berlakulah hukum bahwa setiap uang yang disimpan oleh masyarakat, adalah bernilai cadangan emas dan perak. Karena ia bernilai cadangan emas, maka bila uang tersebut disimpan selama satu tahun, baik disimpan sendiri atau disimpan di bank, dengan catatan yaitu asal tidak dipergunakan sama sekali, maka dari uang ini berlaku nishab zakat.
ARTIKEL05/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Dikisahkan dalam kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi. Menceritakan betapa hebatnya (dahsyatnya) sedekah yang bahkan mampu menyelamatkan seseorang dari ketentuan sebagai ahli neraka. Cerita tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, bahwa suatu saat telah membeli seorang jariyah, seorang budak perempuan. Sesaat kemudian, malaikat Jibril turun ke bumi dan berkata kepada Nabi Muhammad Saw : "Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu, karena sesungguhnya ia adalah ahli neraka." Nabi pun mengutarakan perintah malaikat Jibril ini kepada Aisyah. Lalu Aisyah dengan perasaan iba dan wajah kasihan saat melepas kepergian sang budak yang telah dimerdekaannya. Aisyah melepas kepergian sang budak dengan membekalinya beberapa kurma sebagai teman dalam perjalanan. Singkat cerita, saat dalam perjalanan tersebut sang budak pun merasa kelelahan dan memakan kurma pemberian dari Aisyah itu dengan lahap. Namun saat ia menikmati bekal kurma, datang kepadanya seorang fakir meminta-minta.Dari perawakan sang fakir sangat jelas bahwa kondisinya lebih memprihatinkan dibandingkannya dirinya. Karena itu, meskipun lapar dan sesungguhnya ia juga masih membutuhkan bekal kurma, sang budak memberikan tidak hanya sebagian, bahkan seluruh kurma yang tersisa kepada fakir tersebut. Dan benar, sang fakir tersebut sangat kelaparan dan memakan semua kurma yang diberikan oleh sang budak itu tanpa sisa satupun. Melihat hal itu, sang budak berbesar hati untuk merelakan kurma yang sebenarnya jatahnya kepada kalangan yang lebih membutuhkan, yakni fakir itu. Dan betapa dahsyat kekuatan sedekah. Tak lama kemudian setelah sang budak memberikan kurma kepada fakir tadi, malaikat Jibril kembali turun ke bumi. Kali ini mewahyukan kepada Nabi Muhammad bahwa diperintah untuk kembali membiarkan sang budak di rumahnya. Karena sungguh, lantaran sedekah sang budak, rahmat Allah turun dan ia pun batal masuk neraka.
ARTIKEL03/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Apa kalian tau apa sih yang dimaksud sayyidul ayyam itu? Hari Jum'at sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari, tentu mengingatkan bahwa hari jum'at bisa menyakinkan pandangan kita dan memastikan kaum muslimin untuk menghiasi hari jum'at dengan hal-hal yang terbaik. Hari Jumat adalah hari istimewa yang dengannya Allah mengagungkan dan menghiasi Islam. Allah memuliakan umat Muhammad SAW dengan hari Jumat, yang tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan hari Jumat. Bahkan ada beberapa ulama yang secara khusus menjadikannya dalam satu bentuk karya, seperti kitab al-Lum’ah fi Khashaish al-Jumat, karya Syekh Jalaluddin al-Suyuthi. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat." Nahh apakah kalian tau juga, mengapa langit, bumi, batu dan benda-benda mati lainnya mengalami kekhawatiran? Padahal benda-benda tersebut merupakan makhluk yang tidak bernyawa? Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam Manahij al-Imdad menjelaskan : "Maksudnya, Allah menciptakan kepada makhuk-makhluk tidak bernyawa ini pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi pada hari Jumat tersebut. Rahasia dari kekhawatiran mereka adalah bahwa hari kiamat sebagaimana telah dijelaskan terjadi pada hari Jumat di antara waktu Subuh dan terbitnya matahari. Maka tidaklah binatang-binatang kecuali khawatir akan datangnya hari kiamat pada pagi hari Jumat ini. Saat pagi hari tiba, mereka memuji kepada Allah dan memberi ucapan selamat satu sama lain, mereka mengatakan; ini hari baik. Kiamat tidak terjadi pada pagi hari ini”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz 1, halaman 286). Ada banyak keutamaan yang dapat dilakukan pada hari jum'at seperti seorang Muslim yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dinaungi cahaya di antara dua Jumat. Nabi juga menganjurkan agar memperbanyak membaca shalawat pada hari Jumat. Dalam hadist dijelaskan : "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untuku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali."
ARTIKEL28/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Bersedekah dengan harta yang kita cintai memanglah amat sangat berat. Karena sifat manusia yang sangat mencintai hartanya lalu enggan mengeluarkannya. Allah berfirman dalam QS. Al fajr:20: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya. " Anas berkata (saat turun ayat, QS. Al Imron:2) Artinya :“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. " Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998)
ARTIKEL26/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Di antara wujud syukur yang telah diajarkan oleh Rasulullah adalah dengan saling membantu dalam kebaikan sebagai nilai-nilai penting dalam Islam. Rasulullah memberikan banyak ajaran tentang solidaritas, tolong-menolong, dan kasih sayang antar sesama muslim. Dalam kebersamaan dan saling membantu, umat Islam dapat memperkuat tali persaudaraan dan menciptakan masyarakat yang lebih baik dan bahagia. Mari kita juga menguatkan prinsip hidup kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-Nya seperti saling berbagi rezeki dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah : 215, Yang artinya : "Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. ‎Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, ‎kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan ‎membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha ‎Mengetahuinya.’’‎ Begitu penting dan berharganya melakukan sedekah, Allah memberikan balasan ‎dengan berbagai balasan, di antaranya :‎‎ Diangkat derajat dan ditambah kemuliaan seseorang Didoakan malaikat Menjaga diri dari siksa api neraka Rasulullah bersabda: “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Berbagi akan mendatangkan keberkahan. Apa itu keberkahan? Keberkahan adalah ziyadatul khair yakni bertambahnya kebaikan. Keberkahan ini bisa terlihat dari tigal hal yakni: Pertama adalah sedikit namun manfaat dan dampaknya banyak. Contoh, makanan yang seharusnya cukup dimakan tiga orang, namun karena ada keberkahan maka manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Kedua, berkah itu memang sesuatu yang yang masih misterius dan kita baru mengetahui dan merasakan berkahnya setelah kita mengalami atau mendapatkan manfaat kebaikan darinya. Misalnya, berkah ilmu bisa dirasakan saat kita mengajarkannya kepada orang lain. Padahal dulu saat belajar ilmu tersebut, kita tidak memahaminya. Namun karena kita berbagi dengan mengajarkannya, maka Allah swt membukakan pemahaman kepada kita. Ketiga, mengalirnya kebaikan-kebaikan dalam kehidupan karena imbas kebaikan yang kita perbuat. Contoh, saat kita sedekah seribu rupiah dengan ikhlas, maka pada hakikatnya Allah sedang mengalirkan rezeki yang berlipat ganda dari sedekah tersebut. Perumpamaan sedekah yang kita lakukan adalah seperti saat kita menanam satu buah biji padi yang menumbuhkan tujuh tangkai. Di setiap tangkainya membuahkan 100 biji. Maka jika dihitung secara matematika, dengan sedekah seribu rupiah maka kita akan panen dan mendapatkan 700 ribu rupiah.
ARTIKEL24/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Sedekah merupakan salah satu amal ibadah yang besar pahalanya, keberadaannya bukan hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Sang Khaliq, namun juga merupakan sikap solidaritas kepada sesama manusia. Disebutkan dalam Al qur'an surat Al-Hajj ayat 34-35, Yang Artinya: "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami beri rezeki kepada mereka" (QS. Al-Hajj ayat 34-35). Sedekah bisa dilakukan kapan saja dan di mana pun berada serta kepada siapapun. Namun bersedekah memiliki pahala lebih besar bila dilakukan di waktu-waktu utama, di antaranya di hari Jumat. Disebutkan anjuran khusus untuk bersedekah di hari Jumat. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh al-Kassi dalam kitab al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid, yang Artinya: Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda saat beliau berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rezeki." Di dalam bab “Hal-hal yang Diperintahkan di Hari dan Malam Jumat” di kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i juga meriwayatkan sebuah hadits : Yang Artinya: "Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar’. Nabi bersabda, "Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipat gandakan" Di dalam literatur fiqih, anjuran bersedekah di hari Jumat sebagaimana waktu-waktu utama yang lain memiliki nilai keutamaan lebih besar dari pada waktu lainnya.Penekanan bersedekah di hari Jumat dan waktu-waktu utama yang lain bukan berarti anjuran untuk menunda sedekah di waktu-waktu tersebut. Namun yang dimaksud adalah bersedekah di waktu-waktu tersebut memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya.
ARTIKEL21/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Sebelum kita membahas amalan-amalan sunahnya, apakah kalian sudah tau apakah hari tasyrik itu? Hari tasyrik yaitu tiga hari setelah hari raya idul adha, tepatnya pada tanggal 11-13 Dzulhijjah. Tiga hari tersebut juga adalah batas waktu umat muslim untuk melaksanakan ibadah kurban setelah idul adha. Selain itu, hari Tasyrik juga merupakan waktu istimewa untuk melakukan ibadah lainnya, karena pada hari-hari ini merupakan waktu di mana kebanyakan orang lalai. Keutamaan hari tasyrik dijelaskan dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari. Imam Bukhari mengutip hadits keutamaan Hari Tasyrik sebagai waktu istimewa untuk ibadah yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra. yang Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari). Adapun ketentuan ibadah di Hari Tasyrik yakni dilarangnya umat Islam melaksanakan puasa dan dianjurkannya memperbanyak zikir. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits yang menerangkan hari tasyrik sebagai hari istimewa untuk makan, minum, dan untuk zikir. Artinya: “Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim). Berikut amalan- amalan sunnah dihari tasyrik : Mengumandangkan takbir Memperbanyak dzikir (Tahmid, Tahlil ) Beragam jenis amalan ibadah (lantaran Hari Tasyrik adalah waktu yang istimewa untuk ibadah. Oleh karena itu, beragam amal ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu istimewa, ganjarannya juga istimewa).
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H tepat pada hari Senin, 16 Juni 2024 M. Sebelum memasuki Hari Idul Qurban, Kita sebagai umat Islam disunnahkan untuk melakukan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah terlebih dahulu. Puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dilakukan oleh jama'ah haji yang melaksanakan ibadah di tanah suci. Puasa Tarwiyah, merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah (bertepatan Sabtu, 15 Juni 2024 M). Mengenai keistimewaan dari puasa tarwiyah, ada sebuah hadist yang diriwayatkan Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnu Najar, yang artinya “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun,” Namun, hadits tersebut juga dikatakan sebagai hadits yang dha'if (kurang kuat riwayatnya), tapi para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhaif dengan kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), selama hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum. Puasa Arafah, Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah (Minggu, 16 Juni 2024), puasa tersebut bertepatan dengan umat Islam yang menjalani wukuf di Padang Arafah. Puasa ini sangat dianjurkan kepada umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji. Keistimewaan berpuasa hari Arafah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi QotadahQotadah, yang artinya "Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat."
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Segala hal terkait dengan rezeki yang sudah didapatkan haruslah disyukuri. Dengan syukur, kita tidak akan lagi selalu menghitung-hitung jumlah harta yang kita miliki. Perlu kita sadari, rezeki, harta adalah washilah (lantaran) saja untuk kita bisa beribadah dengan istiqamah kepada Allah. Ingat, tugas utama kita hidup di dunia ini adalah beribadah menyembah Allah SWT. Sesuai firman Allah dalam surat Adz. Dzariyat :56, yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Di antara wujud kita syukur adalah dengan bersedekah dan berbagai rezeki kepada orang lain. Dalam bulan Dzulhijjah saat ini, wujud syukur dan pendekatan diri kita kepada Allah bisa kita wujudkan dalam ibadah kurban. Menyembelih hewan kurban merupakan salah satu amalan penting saat Idul Adha. Proses kurban ini memiliki makna religius yang mendalam dan merupakan bagian ajaran Islam yang telah dilakukan selama berabad-abad. Hewan kurban dalam Islam adalah hewan yang disembelih secara khusus untuk tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Hewan kurban yang disembelih meliputi domba, kambing, sapi, kerbau atau unta. Proses penyembelihan hewan kurban bisa kita lakukan pada hari raya Idul Adha (Hari Raya Kurban) yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari Tasryik. Saat menyembelih hewan kurban, penting untuk mengucapkan nama Allah SWT. Pengucapan nama Allah adalah tindakan yang membedakan antara penyembelihan yang sah secara agama dengan penyembelihan biasa (tidak sah dalam syariat islam) . Pengucapan nama Allah secara jelas dan tegas menunjukkan niat yang ikhlas dalam menjalankan ibadah kurban. Niat yang ikhlas berarti menyembelih hewan kurban semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah dan bukan untuk pamer atau mencari popularitas. Ibadah kurban harus dilakukan dengan tujuan yang murni dan tulus di dalam hati. Allah berfirman dalam Surat Al-Hajj [22] ayat 37 yang artinya : "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin."
ARTIKEL12/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
BAZNAS Tulungagung - Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriyah yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam dibanding bulan-bulan sebelumnya, hal ini karena pada bulan ini dilaksanakan ibadah haji, salah satu dari lima rukun Islam. Ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah karena pada saat itu para jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wuquf, yang merupakan puncak dari ibadah haji. Malam harinya, mereka menuju Muzdalifah untuk bermalam dan mengumpulkan batu kerikil. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Idul Adha, jamaah melaksanakan pelontaran jumrah Aqabah, penyembelihan hewan kurban, dan mencukur rambut (tahallul), serta thawaf ifadah di Ka'bah. Ibadah dilanjutkan dengan melontar jumrah selama hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) sebelum kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf wada’ sebagai thawaf perpisahan. Selama pelaksanaan haji, jamaah harus mematuhi sejumlah larangan dalam ihram, seperti tidak boleh memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, tidak boleh mencukur rambut atau memotong kuku, serta dilarang menggunakan parfum. Selain itu, perilaku seperti berhubungan suami istri, bertengkar, atau mengucapkan kata-kata kasar juga dilarang. Ibadah haji memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah pengampunan dosa-dosa sebelumnya bagi yang melaksanakan haji dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Ibadah haji mengandung banyak hikmah mendalam bagi umat Islam. Pertama, haji memberikan kesempatan untuk pengampunan dosa, sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan bahwa haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya, memberikan awal baru yang bersih bagi jamaah. Kedua, haji meningkatkan iman dan takwa, mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kepasrahan total kepada Allah SWT melalui rangkaian ritual yang penuh makna. Ketiga, haji memperkuat persatuan dan solidaritas umat Islam dari berbagai penjuru dunia, menegaskan konsep egalitarianisme di mana semua jamaah, tanpa memandang latar belakang sosial, berdiri sejajar dalam ibadah. Selain itu, haji juga menumbuhkan kedisiplinan dan ketertiban, serta mengingatkan umat Islam tentang pentingnya pengorbanan dan keikhlasan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Dengan demikian, haji tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperdalam makna hidup dan mendekatkan diri kepada Allah.
ARTIKEL06/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Menyembelih hewan kurban adalah salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam saat Idul Adha. Kegiatan penyembelihan utamanya dilakukan saat hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah). Adapun hewan kurban yang boleh disembelih adalah unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Hewan kurban tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti sehat, tidak cacat, tidak buta, tidak pincang, dan tidak kurus. Di samping itu, biasanya hewan kurban juga harus mencapai usia tertentu, yakni unta minimal 5 tahun, sapi dan kerbau minimal 2 tahun, serta kambing dan domba minimal 1 tahun. 1. Persiapan Awal Sebelum memulai pemotongan, pastikan bahwa kambing yang dipilih telah memenuhi syarat-syarat kurban, seperti usia yang memadai, tidak cacat serta sehat secara fisik. Niatkan ibadah kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan beribadah dengan ikhlas. 2. Menyebut Nama Allah Sebutlah nama Allah dengan mengucapkan "Bismillahi, Allahu Akbar" sebelum memulai pemotongan. Ini adalah bacaan yang harus diucapkan sebagai niat sekaligus doa untuk melaksanakan ibadah kurban sesuai ajaran Islam. 3. Memotong Urat Leher Gunakan pisau yang tajam untuk memotong urat leher kambing dengan cepat dan tepat. Potongan harus mengenai urat leher, arteri karotis dan vena jugularis untuk memastikan pengeluaran darah yang akurat. Pemotongan yang baik dan tepat bertujuan memastikan kambing meninggal secara cepat dan tidak menyakiti. 4. Pembersihan Setelah Pemotongan Pastikan semua darah telah keluar dari tubuh kambing sebelum melanjutkan proses berikutnya. Darah harus sepenuhnya dikeringkan dengan melakukan pembersihan sesuai praktik yang diterima dalam masyarakat. 5. Perlakuan yang Hormat pada Hewan Selama proses pemotongan, penting untuk memperlakukan hewan dengan belas kasihan dan rasa hormat. Seorang Muslim harus menghormati makhluk Allah dan menjaga agar tidak menyebabkan penderitaan yang berlebihan pada hewan. 6. Distribusi Daging Daging hasil pemotongan kambing kurban harus didistribusikan kepada mereka yang berhak menerimanya seperti fakir miskin, tetangga dan keluarga. Berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan merupakan bagian integral dari ibadah kurban.
ARTIKEL30/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →