WhatsApp Icon
Kasih Sayang Dimulai dari Kepedulian

Di tengah kehidupan yang penuh dengan tantangan, perbedaan, dan berbagai persoalan sosial, sikap saling peduli dan menyayangi sesama menjadi sesuatu yang semakin berharga. Kesibukan, persaingan, dan kepentingan pribadi sering kali membuat seseorang lupa bahwa kehidupan akan terasa lebih indah ketika diwarnai dengan kasih sayang. Padahal, dalam ajaran Islam, kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan akhlak mulia yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kasih sayang merupakan salah satu sifat mulia yang menjadi ciri ajaran Islam. Melalui kasih sayang, hubungan antarmanusia menjadi lebih erat, beban hidup terasa lebih ringan, dan berbagai persoalan dapat dihadapi bersama. Tidak heran jika Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang lembut dan peduli terhadap siapa pun, karena di balik setiap kebaikan yang diberikan terdapat rahmat Allah SWT yang begitu luas.

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang saling membutuhkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menjalani kehidupan tanpa bantuan orang lain. Karena itulah, Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa memiliki hati yang lembut, penuh empati, dan ringan tangan dalam membantu siapa pun yang membutuhkan. Kasih sayang yang kita berikan kepada sesama menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kasih sayang Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam bahwa rahmat Allah SWT akan senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang memiliki kepedulian terhadap sesama makhluk. Kasih sayang tidak hanya ditunjukkan kepada keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi juga kepada tetangga, fakir miskin, anak yatim, orang yang sedang tertimpa musibah, bahkan kepada hewan dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan.

Menyayangi sesama dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang sederhana namun bermakna. Memberikan bantuan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, menghibur orang yang sedang bersedih, memaafkan kesalahan orang lain, menjaga lisan agar tidak menyakiti hati, hingga berbagi sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari kasih sayang yang diajarkan Islam. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi amal yang dicintai Allah SWT.

Kasih sayang juga menjadi pondasi kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis. Ketika setiap individu memiliki kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya, maka akan tumbuh rasa persaudaraan, saling membantu, dan saling menguatkan. Di tengah masih banyaknya saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, masalah kesehatan, maupun berbagai persoalan kemanusiaan lainnya, kepedulian kita dapat menjadi sumber harapan yang menghadirkan semangat baru bagi mereka.

Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk kasih sayang yang diberikan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Ketika kita meringankan beban orang lain, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan pertolongan dan kemudahan dalam kehidupan kita. Kasih sayang yang kita tebarkan akan kembali kepada diri kita dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan rahmat dari Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan kasih sayang sebagai bagian dari karakter dan gaya hidup sehari-hari. Jangan pernah ragu untuk berbuat baik, membantu, dan peduli kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang mereka. Sebab, bisa jadi satu bentuk kepedulian yang kita berikan hari ini menjadi penyebab hadirnya senyum, harapan, bahkan perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Di era digital seperti sekarang, menebarkan kasih sayang dan kepedulian menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan mudah, aman, dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI:

Zakat
• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat Tulungagung
Infak
• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> Berbagi bersama BAZNAS

Karena setiap kasih sayang yang kita tebarkan kepada makhluk di bumi akan menjadi jalan datangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud nyata kepedulian, agar semakin banyak saudara yang terbantu dan semakin luas rahmat Allah mengalir bagi kehidupan kita semua.

21/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jadilah Bermanfaat untuk Orang Lain

Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, banyak orang berlomba-lomba mengejar kesuksesan. Harta, jabatan, dan pencapaian sering kali dijadikan tolak ukur keberhasilan seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang diberikan kelebihan dalam harta, ilmu, tenaga, waktu, maupun pengalaman. Semua itu sejatinya bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan sebagai amanah yang dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Sebab, hidup yang paling bermakna adalah hidup yang mampu menjadi alasan hadirnya senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi sesama.

Rasulullah SAW telah mengajarkan prinsip hidup yang begitu sederhana namun memiliki makna yang luar biasa. Beliau bersabda:

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Menolong tetangga yang sedang kesulitan, membantu biaya pendidikan seorang anak yang kesulitan untuk sekolah, menguatkan mereka yang sedang menghadapi cobaan, hingga berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan merupakan wujud nyata dari manfaat yang dapat kita berikan.

Menjadi pribadi yang bermanfaat juga berarti menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat. Sebab, masih banyak saudara-saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menggapai pendidikan yang layak, memperoleh layanan kesehatan, hingga membangun usaha demi menyambung kehidupan. Kepedulian dari banyak orang, meskipun tampak sederhana, dapat menjadi cahaya harapan bagi mereka untuk bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Islam mengajarkan bahwa berbagi tidak akan pernah mengurangi harta. Sebaliknya, setiap kebaikan yang diberikan akan dibalas dengan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Ketika kita menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain, sesungguhnya kita sedang membuka pintu kemudahan bagi kehidupan kita sendiri. Inilah indahnya berbagi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga membawa ketenangan hati dan keberkahan bagi pemberinya.

Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apa pun bentuknya. Karena bisa jadi, satu bantuan kecil yang kita berikan hari ini menjadi sebab berubahnya kehidupan seseorang di masa depan.

Di era digital seperti sekarang, menebar manfaat menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) denga mudah, aman dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI:

Zakat
• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat Tulungagung
Infak
• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> Berbagi kebaikan bersama BAZNAS

Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang kita tinggalkan bukanlah sebanyak apa yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita hadirkan bagi kehidupan orang lain.

16/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Bulan Safar: Memahami NIlainya dalam Kalender Hijriah

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di tengah masyarakat, bulan ini sering dikaitkan dengan berbagai anggapan, seperti bulan yang membawa kesialan, waktu yang tidak baik untuk menikah, memulai usaha, atau bepergian. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial ataupun memiliki kesialan tertentu.

Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa semua waktu yang Allah SWT ciptakan adalah baik. Musibah maupun nikmat yang diterima seseorang merupakan bagian dari takdir Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah agar tidak terpengaruh oleh mitos yang berkembang di masyarakat.

Safar dalam Kalender Hijriah

Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Nama Safar telah dikenal sejak masa Arab sebelum Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata ?ifr yang berarti kosong, karena pada bulan ini banyak rumah ditinggalkan penduduknya untuk berdagang atau melakukan perjalanan.

Dalam Islam, Bulan Safar memiliki kedudukan yang sama seperti bulan-bulan Hijriah lainnya. Tidak terdapat ibadah khusus ataupun amalan tertentu yang hanya dikhususkan pada bulan ini sebagaimana Ramadan atau sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Namun, Bulan Safar tetap menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri.

Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar

Salah satu kesalahpahaman yang masih berkembang hingga saat ini adalah anggapan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Keyakinan tersebut berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hammah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

(HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220).

Hadis ini menjadi dasar bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini adanya bulan yang membawa kesialan. Segala sesuatu yang terjadi di dunia berlangsung atas kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Hikmah Bulan Safar

Walaupun tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana beberapa bulan lainnya, Bulan Safar tetap memiliki banyak pelajaran bagi kehidupan seorang Muslim.

1. Menguatkan akidah dan tawakal

Bulan Safar mengingatkan umat Islam agar hanya bergantung kepada Allah SWT. Seorang Muslim tidak boleh mempercayai ramalan, hari sial, atau bulan sial karena semua urusan berada dalam kekuasaan Allah.

2. Menumbuhkan sikap optimis

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT (husnuzan). Oleh karena itu, tidak ada alasan menunda pernikahan, membuka usaha, pindah rumah, ataupun melakukan perjalanan hanya karena memasuki Bulan Safar.

3. Menjauhi tahayul dan khurafat

Salah satu hikmah terbesar Bulan Safar adalah menjadi pengingat agar umat Islam meninggalkan berbagai kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Seorang Muslim hendaknya mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pertimbangan yang baik, bukan karena mitos.

4. Menjadikan setiap bulan sebagai kesempatan memperbaiki diri

Datangnya Bulan Safar menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Setiap bulan merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Safar

Memang tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara khusus pada Bulan Safar. Namun, terdapat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan sebagaimana pada bulan-bulan lainnya.

1. Memperbanyak salat sunnah

Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam dianjurkan melaksanakan salat sunnah seperti salat Duha, salat Tahajud, salat Rawatib, dan salat Witir sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

2. Membaca Al-Qur'an setiap hari

Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan kapan pun, termasuk pada Bulan Safar. Membaca Al-Qur'an akan menambah ketenangan hati dan memperkuat keimanan.

 3. Memperbanyak zikir dan doa

Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istigfar, serta memperbanyak doa menjadi amalan yang dapat dilakukan setiap hari. Rasulullah ? juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT.

4. Memperbanyak istigfar dan bertaubat

Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri atas kesalahan yang telah dilakukan. Dengan memperbanyak istigfar dan taubat yang sungguh-sungguh, seorang Muslim berharap memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT.

 5. Bersedekah dan membantu sesama

Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Bantuan yang diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, maupun masyarakat yang membutuhkan akan membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi ladang pahala bagi pemberinya.

Penutup

Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Islam mengajarkan bahwa semua bulan merupakan ciptaan Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.

Oleh karena itu, umat Islam hendaknya mengisi Bulan Safar dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat akidah, menjauhi tahayul, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan pemahaman yang benar, Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik.

08/07/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Allah tidak Pernah Terlambat Memberi

Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah berada pada titik ketika doa terasa belum dijawab, harapan belum terwujud, atau impian masih jauh dari kenyataan. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum mengabulkan apa yang saya inginkan?"

Padahal, dalam kasih sayang-Nya, Allah tidak pernah terlambat. Apa yang menurut kita terlambat, sejatinya memang belum waktunya untuk diberikan. Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, kapan kita siap menerimanya, dan apa yang terbaik bagi kehidupan kita.

Allah Selalu Memberikan yang Terbaik

Sebagai manusia, kita sering menilai segala sesuatu berdasarkan waktu yang kita inginkan. Kita berharap doa segera dikabulkan, rezeki segera datang, atau masalah segera selesai. Namun, Allah memiliki rencana yang jauh lebih sempurna.

Bisa jadi sesuatu yang belum kita peroleh hari ini justru sedang dipersiapkan agar hadir pada waktu yang paling tepat. Atau mungkin Allah sedang menguatkan hati kita, memperbaiki diri kita, dan mengajarkan arti kesabaran sebelum menghadiahkan nikmat yang lebih besar.

Maka, jangan pernah menganggap keterlambatan sebagai penolakan. Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita menerima sesuatu dalam keadaan yang benar-benar siap.

Mengisi Masa Penantian dengan Kebaikan

Menunggu bukan berarti berhenti melangkah. Justru dalam masa penantian itulah Allah mengajarkan kita untuk terus berikhtiar, memperbanyak doa, bersyukur atas nikmat yang telah ada, dan tetap menebarkan manfaat kepada sesama.

Kebaikan tidak harus menunggu semua keinginan kita terkabul. Kita tetap bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain, meskipun kita sendiri masih menyimpan harapan kepada Allah. Setiap senyum yang kita hadirkan, setiap bantuan yang kita berikan, dan setiap kepedulian yang kita tunjukkan merupakan amal yang bernilai di sisi-Nya.

Zakat, Infak, dan Sedekah: Wujud Syukur dan Kepedulian

Salah satu bentuk nyata menebarkan kebaikan adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Harta yang Allah titipkan kepada kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga mengandung hak orang lain yang membutuhkan.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan, tetapi juga membersihkan harta, menumbuhkan rasa syukur, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-hamba yang gemar berbagi.

Apa pun yang sedang kita nantikan hari ini, percayalah bahwa Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk memberikannya. Sementara itu, jangan pernah berhenti menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Jadikan setiap langkah kebaikan sebagai bentuk ikhtiar dan bukti syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Mari terus berbagi kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Tulungagung. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan serta menghadirkan manfaat yang terus mengalir.

Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui:

Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS

"Apa yang menurut kita terlambat, memang belum waktunya untuk diberi. Karena Allah tidak pernah terlambat, Dia selalu tepat pada waktu-Nya."

02/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Muharram, Awal Tahun Hijriah yang Mengajarkan Makna Hijrah dan Ketakwaan

Bulan Muhharam adalah salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijiriah, Muharram bukan sekedar penanda pergantian tahun, melaikan awalan perjalanan waktu sekaligus momen emas bagi umat islam untuk memperbaiki diri dan mengingatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Keutamaan bulan ini telah dijelaskan baik dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi Muhammad SAW, sehingga umat islam sangat diajurkan untuk memperbnayak amal sholeh di dalamnya. Bagi seorang muslim, datangnya Muharram adalah kesempatan berharga untuk melakukan introspeksi (muhasabah), meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru dengan semangat yang lebih baik.

Apa Sebenarnya Arti "Muharram"?

Secara bahasa, kata Muharram berarti sesuatu yang dihormati atau diharamkan. Sejak zaman dahulu, masyarakat arab sudah menyepakati bahwa bulan ini adalah bulan yang suci. Segala bentuk konflik atau peperangan dilarang keras pada bulan ini demi menghormati kesuciannya.

Selain itu, kalender hijriah sendiri dimulai berdasarkan peristiwa Hijriahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Karena itulah, esensi utama dari bulan Muharram adalah bulan hijriah yaitu semangat untuk berpindah dari hal-hal yang negatif menuju kehidupan yang lebih positif dan sesuai dengan ajaran agama islam.

Masuk dalam 4 bukan yang dimuliakan

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menetapkan ada empat bulan yang disebut sebagai Bulan Haram (bulan yang disucikan), yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharram.

Di bulan-bulan ini, setiap amal kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Namun sebaliknya, kita juga harus lebih berhati-hati karena perbuatan dosa di bulan ini juga memiliki timbangan yang lebih berat.

Amalan Ringan yang Bisa Kita Lakukan

Tidak perlu bingung harus mulai dari mana. Berikut adalah beberapa amalan sederhana namun berpahala besar yang bisa kita lakukan di bulan Muharram:

•  Puasa Sunnah (Tasu'a dan Asyura): Ini adalah amalan yang paling dianjurkan. Puasa dilakukan pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) dan 10 Muharram (Asyura). Keutamaannya luar biasa, salah satunya bisa menghapus dosa-dosa kecil kita di tahun yang lalu.
•  Memperbanyak Istighfar: Manfaatkan bulan ini untuk rajin beristighfar, memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan setahun ke belakang.
•  Bersedekah dan Berbagi: Memberi bantuan kepada sesama, terutama menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sangat dianjurkan di bulan ini sebagai bentuk kepedulian sosial.
•  Memperbaiki Ibadah Harian: Mulai dari hal kecil, seperti mencoba salat tepat waktu, rutin membaca Al-Qur'an walau beberapa ayat, atau menjaga lisan dari membicarakan orang lain.

5 Himah Utama Bulan Muharram

Bulan Muharram bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sekolah kehidupan yang memberikan lima pelajaran penting bagi seorang Muslim:

1.  Pengingat Waktu: Menyadari bahwa waktu terus berjalan, sehingga kita harus bergegas mengisinya dengan amal saleh.
2.  Pentingnya Perubahan: Mengajarkan kita untuk selalu berbenah dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
3.  Puncak Rasa Syukur: Menjadi momen untuk merenungkan dan menyukuri segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.
4.  Bekal Masa Depan: Meningkatkan semangat ibadah sebagai modal terbaik menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
5. Mempererat Persaudaraan: Mengajarkan kepedulian sesama melalui sedekah dan berbagi, sehingga hubungan antar-manusia (ukhuwah) semakin kuat.

Jadikan Muharram sebagai Awal Hijrah yang Lebih Baik

Muharram adalah momentum terbaik untuk memulai perubahan menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Mari manfaatkan bulan yang mulia ini dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui berbagai amal kebaikan.

Salah satu wujud nyata ketakwaan adalah berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, mari jadikan Muharram sebagai semangat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung

Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS

Semoga setiap amal yang kita lakukan menjadi pemberat timbangan kebaikan dan membawa keberkahan bagi kita semua. Aamiin.

29/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung

Artikel Terbaru

Kasih Sayang Dimulai dari Kepedulian
Kasih Sayang Dimulai dari Kepedulian
Di tengah kehidupan yang penuh dengan tantangan, perbedaan, dan berbagai persoalan sosial, sikap saling peduli dan menyayangi sesama menjadi sesuatu yang semakin berharga. Kesibukan, persaingan, dan kepentingan pribadi sering kali membuat seseorang lupa bahwa kehidupan akan terasa lebih indah ketika diwarnai dengan kasih sayang. Padahal, dalam ajaran Islam, kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan akhlak mulia yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kasih sayang merupakan salah satu sifat mulia yang menjadi ciri ajaran Islam. Melalui kasih sayang, hubungan antarmanusia menjadi lebih erat, beban hidup terasa lebih ringan, dan berbagai persoalan dapat dihadapi bersama. Tidak heran jika Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang lembut dan peduli terhadap siapa pun, karena di balik setiap kebaikan yang diberikan terdapat rahmat Allah SWT yang begitu luas. Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang saling membutuhkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menjalani kehidupan tanpa bantuan orang lain. Karena itulah, Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa memiliki hati yang lembut, penuh empati, dan ringan tangan dalam membantu siapa pun yang membutuhkan. Kasih sayang yang kita berikan kepada sesama menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi) Hadis tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam bahwa rahmat Allah SWT akan senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang memiliki kepedulian terhadap sesama makhluk. Kasih sayang tidak hanya ditunjukkan kepada keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi juga kepada tetangga, fakir miskin, anak yatim, orang yang sedang tertimpa musibah, bahkan kepada hewan dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan. Menyayangi sesama dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang sederhana namun bermakna. Memberikan bantuan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, menghibur orang yang sedang bersedih, memaafkan kesalahan orang lain, menjaga lisan agar tidak menyakiti hati, hingga berbagi sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari kasih sayang yang diajarkan Islam. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi amal yang dicintai Allah SWT. Kasih sayang juga menjadi pondasi kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis. Ketika setiap individu memiliki kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya, maka akan tumbuh rasa persaudaraan, saling membantu, dan saling menguatkan. Di tengah masih banyaknya saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, masalah kesehatan, maupun berbagai persoalan kemanusiaan lainnya, kepedulian kita dapat menjadi sumber harapan yang menghadirkan semangat baru bagi mereka. Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk kasih sayang yang diberikan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Ketika kita meringankan beban orang lain, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan pertolongan dan kemudahan dalam kehidupan kita. Kasih sayang yang kita tebarkan akan kembali kepada diri kita dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan rahmat dari Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan kasih sayang sebagai bagian dari karakter dan gaya hidup sehari-hari. Jangan pernah ragu untuk berbuat baik, membantu, dan peduli kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang mereka. Sebab, bisa jadi satu bentuk kepedulian yang kita berikan hari ini menjadi penyebab hadirnya senyum, harapan, bahkan perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Di era digital seperti sekarang, menebarkan kasih sayang dan kepedulian menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan mudah, aman, dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan. Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI: Zakat• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat TulungagungInfak• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung Atau klik -> Berbagi bersama BAZNAS Karena setiap kasih sayang yang kita tebarkan kepada makhluk di bumi akan menjadi jalan datangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud nyata kepedulian, agar semakin banyak saudara yang terbantu dan semakin luas rahmat Allah mengalir bagi kehidupan kita semua.
ARTIKEL21/07/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Jadilah Bermanfaat untuk Orang Lain
Jadilah Bermanfaat untuk Orang Lain
Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, banyak orang berlomba-lomba mengejar kesuksesan. Harta, jabatan, dan pencapaian sering kali dijadikan tolak ukur keberhasilan seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang diberikan kelebihan dalam harta, ilmu, tenaga, waktu, maupun pengalaman. Semua itu sejatinya bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan sebagai amanah yang dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Sebab, hidup yang paling bermakna adalah hidup yang mampu menjadi alasan hadirnya senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi sesama. Rasulullah SAW telah mengajarkan prinsip hidup yang begitu sederhana namun memiliki makna yang luar biasa. Beliau bersabda: "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad) Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Menolong tetangga yang sedang kesulitan, membantu biaya pendidikan seorang anak yang kesulitan untuk sekolah, menguatkan mereka yang sedang menghadapi cobaan, hingga berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan merupakan wujud nyata dari manfaat yang dapat kita berikan. Menjadi pribadi yang bermanfaat juga berarti menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat. Sebab, masih banyak saudara-saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menggapai pendidikan yang layak, memperoleh layanan kesehatan, hingga membangun usaha demi menyambung kehidupan. Kepedulian dari banyak orang, meskipun tampak sederhana, dapat menjadi cahaya harapan bagi mereka untuk bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik. Islam mengajarkan bahwa berbagi tidak akan pernah mengurangi harta. Sebaliknya, setiap kebaikan yang diberikan akan dibalas dengan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Ketika kita menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain, sesungguhnya kita sedang membuka pintu kemudahan bagi kehidupan kita sendiri. Inilah indahnya berbagi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga membawa ketenangan hati dan keberkahan bagi pemberinya. Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apa pun bentuknya. Karena bisa jadi, satu bantuan kecil yang kita berikan hari ini menjadi sebab berubahnya kehidupan seseorang di masa depan. Di era digital seperti sekarang, menebar manfaat menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) denga mudah, aman dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan. Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI: Zakat• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat TulungagungInfak• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung Atau klik -> Berbagi kebaikan bersama BAZNAS Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang kita tinggalkan bukanlah sebanyak apa yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita hadirkan bagi kehidupan orang lain.
ARTIKEL16/07/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Bulan Safar: Memahami NIlainya dalam Kalender Hijriah
Keistimewaan Bulan Safar: Memahami NIlainya dalam Kalender Hijriah
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di tengah masyarakat, bulan ini sering dikaitkan dengan berbagai anggapan, seperti bulan yang membawa kesialan, waktu yang tidak baik untuk menikah, memulai usaha, atau bepergian. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial ataupun memiliki kesialan tertentu. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa semua waktu yang Allah SWT ciptakan adalah baik. Musibah maupun nikmat yang diterima seseorang merupakan bagian dari takdir Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah agar tidak terpengaruh oleh mitos yang berkembang di masyarakat. Safar dalam Kalender Hijriah Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Nama Safar telah dikenal sejak masa Arab sebelum Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata ?ifr yang berarti kosong, karena pada bulan ini banyak rumah ditinggalkan penduduknya untuk berdagang atau melakukan perjalanan. Dalam Islam, Bulan Safar memiliki kedudukan yang sama seperti bulan-bulan Hijriah lainnya. Tidak terdapat ibadah khusus ataupun amalan tertentu yang hanya dikhususkan pada bulan ini sebagaimana Ramadan atau sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Namun, Bulan Safar tetap menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar Salah satu kesalahpahaman yang masih berkembang hingga saat ini adalah anggapan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Keyakinan tersebut berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hammah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220). Hadis ini menjadi dasar bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini adanya bulan yang membawa kesialan. Segala sesuatu yang terjadi di dunia berlangsung atas kehendak dan ketetapan Allah SWT. Hikmah Bulan Safar Walaupun tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana beberapa bulan lainnya, Bulan Safar tetap memiliki banyak pelajaran bagi kehidupan seorang Muslim. 1. Menguatkan akidah dan tawakal Bulan Safar mengingatkan umat Islam agar hanya bergantung kepada Allah SWT. Seorang Muslim tidak boleh mempercayai ramalan, hari sial, atau bulan sial karena semua urusan berada dalam kekuasaan Allah. 2. Menumbuhkan sikap optimis Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT (husnuzan). Oleh karena itu, tidak ada alasan menunda pernikahan, membuka usaha, pindah rumah, ataupun melakukan perjalanan hanya karena memasuki Bulan Safar. 3. Menjauhi tahayul dan khurafat Salah satu hikmah terbesar Bulan Safar adalah menjadi pengingat agar umat Islam meninggalkan berbagai kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Seorang Muslim hendaknya mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pertimbangan yang baik, bukan karena mitos. 4. Menjadikan setiap bulan sebagai kesempatan memperbaiki diri Datangnya Bulan Safar menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Setiap bulan merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Safar Memang tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara khusus pada Bulan Safar. Namun, terdapat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan sebagaimana pada bulan-bulan lainnya. 1. Memperbanyak salat sunnah Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam dianjurkan melaksanakan salat sunnah seperti salat Duha, salat Tahajud, salat Rawatib, dan salat Witir sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. 2. Membaca Al-Qur'an setiap hari Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan kapan pun, termasuk pada Bulan Safar. Membaca Al-Qur'an akan menambah ketenangan hati dan memperkuat keimanan. 3. Memperbanyak zikir dan doa Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istigfar, serta memperbanyak doa menjadi amalan yang dapat dilakukan setiap hari. Rasulullah ? juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT. 4. Memperbanyak istigfar dan bertaubat Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri atas kesalahan yang telah dilakukan. Dengan memperbanyak istigfar dan taubat yang sungguh-sungguh, seorang Muslim berharap memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT. 5. Bersedekah dan membantu sesama Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Bantuan yang diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, maupun masyarakat yang membutuhkan akan membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi ladang pahala bagi pemberinya. Penutup Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Islam mengajarkan bahwa semua bulan merupakan ciptaan Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya mengisi Bulan Safar dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat akidah, menjauhi tahayul, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan pemahaman yang benar, Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik.
ARTIKEL08/07/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Allah tidak Pernah Terlambat Memberi
Allah tidak Pernah Terlambat Memberi
Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah berada pada titik ketika doa terasa belum dijawab, harapan belum terwujud, atau impian masih jauh dari kenyataan. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum mengabulkan apa yang saya inginkan?" Padahal, dalam kasih sayang-Nya, Allah tidak pernah terlambat. Apa yang menurut kita terlambat, sejatinya memang belum waktunya untuk diberikan. Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, kapan kita siap menerimanya, dan apa yang terbaik bagi kehidupan kita. Allah Selalu Memberikan yang Terbaik Sebagai manusia, kita sering menilai segala sesuatu berdasarkan waktu yang kita inginkan. Kita berharap doa segera dikabulkan, rezeki segera datang, atau masalah segera selesai. Namun, Allah memiliki rencana yang jauh lebih sempurna. Bisa jadi sesuatu yang belum kita peroleh hari ini justru sedang dipersiapkan agar hadir pada waktu yang paling tepat. Atau mungkin Allah sedang menguatkan hati kita, memperbaiki diri kita, dan mengajarkan arti kesabaran sebelum menghadiahkan nikmat yang lebih besar. Maka, jangan pernah menganggap keterlambatan sebagai penolakan. Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita menerima sesuatu dalam keadaan yang benar-benar siap. Mengisi Masa Penantian dengan Kebaikan Menunggu bukan berarti berhenti melangkah. Justru dalam masa penantian itulah Allah mengajarkan kita untuk terus berikhtiar, memperbanyak doa, bersyukur atas nikmat yang telah ada, dan tetap menebarkan manfaat kepada sesama. Kebaikan tidak harus menunggu semua keinginan kita terkabul. Kita tetap bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain, meskipun kita sendiri masih menyimpan harapan kepada Allah. Setiap senyum yang kita hadirkan, setiap bantuan yang kita berikan, dan setiap kepedulian yang kita tunjukkan merupakan amal yang bernilai di sisi-Nya. Zakat, Infak, dan Sedekah: Wujud Syukur dan Kepedulian Salah satu bentuk nyata menebarkan kebaikan adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Harta yang Allah titipkan kepada kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga mengandung hak orang lain yang membutuhkan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan, tetapi juga membersihkan harta, menumbuhkan rasa syukur, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-hamba yang gemar berbagi. Apa pun yang sedang kita nantikan hari ini, percayalah bahwa Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk memberikannya. Sementara itu, jangan pernah berhenti menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Jadikan setiap langkah kebaikan sebagai bentuk ikhtiar dan bukti syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Mari terus berbagi kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Tulungagung. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan serta menghadirkan manfaat yang terus mengalir. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui: Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS "Apa yang menurut kita terlambat, memang belum waktunya untuk diberi. Karena Allah tidak pernah terlambat, Dia selalu tepat pada waktu-Nya."
ARTIKEL02/07/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Muharram, Awal Tahun Hijriah yang Mengajarkan Makna Hijrah dan Ketakwaan
Muharram, Awal Tahun Hijriah yang Mengajarkan Makna Hijrah dan Ketakwaan
Bulan Muhharam adalah salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijiriah, Muharram bukan sekedar penanda pergantian tahun, melaikan awalan perjalanan waktu sekaligus momen emas bagi umat islam untuk memperbaiki diri dan mengingatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Keutamaan bulan ini telah dijelaskan baik dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi Muhammad SAW, sehingga umat islam sangat diajurkan untuk memperbnayak amal sholeh di dalamnya. Bagi seorang muslim, datangnya Muharram adalah kesempatan berharga untuk melakukan introspeksi (muhasabah), meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru dengan semangat yang lebih baik. Apa Sebenarnya Arti "Muharram"? Secara bahasa, kata Muharram berarti sesuatu yang dihormati atau diharamkan. Sejak zaman dahulu, masyarakat arab sudah menyepakati bahwa bulan ini adalah bulan yang suci. Segala bentuk konflik atau peperangan dilarang keras pada bulan ini demi menghormati kesuciannya. Selain itu, kalender hijriah sendiri dimulai berdasarkan peristiwa Hijriahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Karena itulah, esensi utama dari bulan Muharram adalah bulan hijriah yaitu semangat untuk berpindah dari hal-hal yang negatif menuju kehidupan yang lebih positif dan sesuai dengan ajaran agama islam. Masuk dalam 4 bukan yang dimuliakan Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menetapkan ada empat bulan yang disebut sebagai Bulan Haram (bulan yang disucikan), yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharram. Di bulan-bulan ini, setiap amal kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Namun sebaliknya, kita juga harus lebih berhati-hati karena perbuatan dosa di bulan ini juga memiliki timbangan yang lebih berat. Amalan Ringan yang Bisa Kita Lakukan Tidak perlu bingung harus mulai dari mana. Berikut adalah beberapa amalan sederhana namun berpahala besar yang bisa kita lakukan di bulan Muharram: • Puasa Sunnah (Tasu'a dan Asyura): Ini adalah amalan yang paling dianjurkan. Puasa dilakukan pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) dan 10 Muharram (Asyura). Keutamaannya luar biasa, salah satunya bisa menghapus dosa-dosa kecil kita di tahun yang lalu.• Memperbanyak Istighfar: Manfaatkan bulan ini untuk rajin beristighfar, memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan setahun ke belakang.• Bersedekah dan Berbagi: Memberi bantuan kepada sesama, terutama menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sangat dianjurkan di bulan ini sebagai bentuk kepedulian sosial.• Memperbaiki Ibadah Harian: Mulai dari hal kecil, seperti mencoba salat tepat waktu, rutin membaca Al-Qur'an walau beberapa ayat, atau menjaga lisan dari membicarakan orang lain. 5 Himah Utama Bulan Muharram Bulan Muharram bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sekolah kehidupan yang memberikan lima pelajaran penting bagi seorang Muslim: 1. Pengingat Waktu: Menyadari bahwa waktu terus berjalan, sehingga kita harus bergegas mengisinya dengan amal saleh.2. Pentingnya Perubahan: Mengajarkan kita untuk selalu berbenah dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.3. Puncak Rasa Syukur: Menjadi momen untuk merenungkan dan menyukuri segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.4. Bekal Masa Depan: Meningkatkan semangat ibadah sebagai modal terbaik menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.5. Mempererat Persaudaraan: Mengajarkan kepedulian sesama melalui sedekah dan berbagi, sehingga hubungan antar-manusia (ukhuwah) semakin kuat. Jadikan Muharram sebagai Awal Hijrah yang Lebih Baik Muharram adalah momentum terbaik untuk memulai perubahan menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Mari manfaatkan bulan yang mulia ini dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui berbagai amal kebaikan. Salah satu wujud nyata ketakwaan adalah berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, mari jadikan Muharram sebagai semangat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS Semoga setiap amal yang kita lakukan menjadi pemberat timbangan kebaikan dan membawa keberkahan bagi kita semua. Aamiin.
ARTIKEL29/06/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Sering Keliru, Berikut Golongan yang Berhak menerima Zakat Mal Sesuai Syariat
Sering Keliru, Berikut Golongan yang Berhak menerima Zakat Mal Sesuai Syariat
Zakat mal merupakan salah satu kewajiban penting dalam Islam yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Namun, selain memahami cara menghitung dan menunaikannya, seorang muzakki juga perlu mengetahui kepada siapa zakat tersebut harus disalurkan. Pertanyaan mengenai “zakat mal diberikan kepada siapa?” menjadi hal yang sangat penting agar harta yang dikeluarkan benar-benar tersalurkan sesuai dengan ketentuan syariat. Pada hakikatnya, zakat mal bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan tanggung jawab seorang muslim atas hartanya. Lebih dari itu, zakat merupakan instrumen sosial yang bertujuan menciptakan pemerataan kesejahteraan, mengurangi kesenjangan ekonomi, serta memperkuat solidaritas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Islam telah mengatur secara jelas siapa saja yang berhak menerima zakat. Delapan Golongan Penerima Zakat Allah SWT telah menetapkan golongan penerima zakat dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 60: "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan atau yang dikenal dengan istilah asnaf. 1. Fakir Fakir merupakan golongan yang paling membutuhkan bantuan. Mereka adalah orang-orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya. Kondisi mereka sangat memprihatinkan karena apa yang dimiliki jauh dari cukup untuk mempertahankan kehidupan yang layak. 2. Miskin Golongan miskin adalah mereka yang memiliki penghasilan atau pekerjaan, tetapi hasil yang diperoleh belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari secara layak. Jika fakir hampir tidak memiliki apa-apa, maka miskin masih memiliki sumber penghasilan, namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan dirinya maupun keluarganya. 3. Amil Zakat Amil adalah orang atau lembaga yang secara resmi ditunjuk untuk mengelola zakat, mulai dari penghimpunan, pendataan, pengelolaan, hingga pendistribusiannya kepada para mustahik. Karena menjalankan tugas yang berkaitan dengan pengelolaan zakat umat, amil berhak memperoleh bagian dari dana zakat sesuai ketentuan syariat. 4. Mualaf Mualaf adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang hatinya perlu dikuatkan dan didekatkan kepada Islam. Dalam konteks kekinian, bantuan kepada mualaf dapat diberikan untuk mendukung kebutuhan dasar, pembinaan keagamaan, maupun penguatan ekonomi agar mereka dapat menjalani kehidupan sebagai muslim dengan lebih baik. 5. Riqab Riqab adalah budak yang ingin memerdekakan dirinya namun tidak memiliki kemampuan untuk menebus kebebasannya. Meskipun sistem perbudakan sudah tidak banyak ditemukan pada masa sekarang, sebagian ulama memandang bahwa semangat riqab dapat diterapkan pada upaya pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan keterbelengguan yang menghilangkan kebebasannya. 6. Gharimin Gharimin adalah orang-orang yang memiliki utang dan tidak mampu melunasinya. Namun, tidak semua orang berutang berhak menerima zakat. Utang yang dimaksud adalah utang yang digunakan untuk kebutuhan yang dibenarkan syariat, kebutuhan mendesak, atau untuk kemaslahatan umum, bukan untuk kemaksiatan maupun gaya hidup berlebihan. 7. Fi Sabilillah Secara harfiah, fi sabilillah berarti “di jalan Allah”. Pada masa Rasulullah SAW, istilah ini banyak dikaitkan dengan perjuangan mempertahankan dan membela Islam. Namun, para ulama kontemporer memperluas maknanya menjadi berbagai aktivitas yang bertujuan menegakkan syiar Islam dan memberikan manfaat bagi umat. Di antaranya adalah kegiatan dakwah, pendidikan Islam, pembangunan sarana ibadah, pengembangan lembaga pendidikan keagamaan, hingga berbagai program sosial yang mendukung kemaslahatan umat. Karena itu, dana zakat dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan yang termasuk dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam dan kebaikan di masyarakat. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah musafir atau orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan mengalami kesulitan sehingga kehabisan bekal di tengah perjalanan. Meskipun di daerah asalnya ia tergolong mampu, dalam kondisi perjalanan tersebut ia berhak menerima bantuan zakat untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan hingga dapat melanjutkan atau menyelesaikan perjalanannya. Siapa yang Tidak Berhak Menerima Zakat? Selain menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat, Islam juga memberikan batasan mengenai siapa yang tidak berhak menerimanya. Zakat tidak boleh diberikan kepada orang kaya yang masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Demikian pula orang yang sehat dan mampu bekerja untuk mencukupi kebutuhannya tidak termasuk dalam kategori penerima zakat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW: "Tidak ada bagian dalam zakat tersebut bagi orang yang kaya dan orang yang mampu untuk bekerja." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa'i). Oleh sebab itu, seseorang yang tidak termasuk dalam delapan golongan asnaf tidak berhak menerima dana zakat, baik dalam bentuk bantuan langsung maupun manfaat program yang bersumber dari dana zakat. Zakat sebagai Pilar Keadilan Sosial Islam menempatkan zakat sejajar dengan ibadah shalat sebagai salah satu pilar utama kehidupan seorang muslim. Tidak sedikit ayat Al-Qur'an yang memerintahkan shalat dan zakat secara bersamaan. Allah SWT berfirman: "Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu akan kamu dapatkan (pahalanya) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 110). Sejak pertama kali diwajibkan, zakat berfungsi sebagai instrumen pemerataan ekonomi dan perlindungan sosial. Melalui zakat, kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang-orang mampu, tetapi juga mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, memahami golongan penerima zakat bukan hanya persoalan teknis penyaluran dana, tetapi juga bagian dari upaya menjaga amanah syariat. Dengan menyalurkan zakat kepada delapan asnaf yang telah ditetapkan Allah SWT, seorang muslim tidak hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan penuh kepedulian. Mari tunaikan zakat mal agar harta yang kita keluarkan tersalurkan tepat sasaran kepada para mustahik sesuai ketentuan syariat. Selain menyucikan harta, zakat juga menjadi sarana membantu sesama dan mewujudkan kesejahteraan umat. Tunaikan zakat Anda dengan mudah melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung Klik disini-> Bayar Zakat di BAZNAS Semoga setiap zakat yang ditunaikan menjadi keberkahan bagi muzakki dan penerima manfaat.
ARTIKEL25/06/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram: Makna 10 Muharram, Lebaran Anak Yatim, dan Dalilnya
Keutamaan Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram: Makna 10 Muharram, Lebaran Anak Yatim, dan Dalilnya
Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam sekaligus menjadi awal tahun dalam kalender Hijriah. Selain dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan, Muharram juga identik dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial, khususnya kepada anak yatim. Di Indonesia, tanggal 10 Muharram bahkan dikenal luas sebagai Lebaran Anak Yatim atau Idhul Yatama, yaitu momentum untuk berbagi kebahagiaan melalui santunan kepada anak-anak yatim. Tradisi tersebut berakar dari ajaran Islam yang memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Al-Qur'an dan hadis berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menyayangi, melindungi, serta memenuhi kebutuhan mereka. Rasulullah SAW sendiri tumbuh sebagai seorang yatim sehingga menjadi teladan nyata dalam memperlakukan anak yatim dengan kasih sayang dan penghormatan. Bahkan dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memelihara atau mengasuh anak yatim akan memperoleh kedudukan yang sangat dekat dengan beliau di surga. Meskipun tidak terdapat dalil sahih yang secara khusus menetapkan tanggal 10 Muharram sebagai Hari Raya Anak Yatim, tradisi menyantuni anak yatim pada hari tersebut dipandang sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang, kepedulian sosial, dan semangat berbagi. Oleh karena itu, kegiatan santunan anak yatim yang banyak dilaksanakan pada bulan Muharram merupakan amalan yang baik selama diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT. Sejumlah ulama juga menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah, berbagi kebahagiaan, serta membantu anak yatim dan kaum dhuafa pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Terdapat pula riwayat dari Imam At-Thabarani mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura. Walaupun hadis tersebut dinilai dha'if oleh para ahli hadis, banyak ulama membolehkan pengamalannya dalam ranah fadh?'ilul a'm?l (keutamaan amal), karena kandungannya mendorong umat Islam untuk meningkatkan rasa kasih sayang, kepedulian, dan perhatian kepada anak-anak yatim. Dengan demikian, bulan Muharram menjadi momen yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah melalui kepedulian terhadap anak yatim. Menyantuni mereka bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga bentuk ibadah yang mencerminkan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW. Semoga semangat berbagi di bulan Muharram dapat terus menginspirasi umat Islam untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL22/06/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Di bulan inilah umat Islam diberikan kesempatan besar untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai amalan yang dicintai Allah SWT. Tidak hanya menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, Dzulhijjah juga menghadirkan sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Keistimewaan tersebut menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap muslim yang memahami keutamaan bulan ini tentu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh. Keutamaan Dzulhijjah, Bulan yang Dimuliakan Allah Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36) Keagungan Dzulhijjah semakin sempurna dengan hadirnya sepuluh hari pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah." (HR. Bukhari) Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Oleh karena itu, Dzulhijjah menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat keimanan. Memperbanyak Dzikir, Menghidupkan Hati yang Lalai Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih menjadi lantunan yang dianjurkan untuk terus mengiringi aktivitas sehari-hari. Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sarana untuk menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketika hati senantiasa mengingat-Nya, ketenangan akan hadir dan keimanan akan semakin kuat. Kalimat-kalimat dzikir yang dapat dibiasakan antara lain:1. Subhanallah2. Alhamdulillah3. Laa ilaaha illallah4. Allahu Akbar Amalan sederhana ini sering kali terlihat ringan, namun memiliki dampak besar dalam menjaga hati tetap hidup dan dekat dengan Allah SWT. Menjaga Shalat sebagai Pondasi Keimanan Tidak ada amalan yang lebih utama setelah syahadat selain menjaga shalat. Shalat merupakan tiang agama sekaligus ukuran kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kedisiplinan dalam menunaikan shalat lima waktu, meningkatkan kekhusyukan, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat dhuha, rawatib, dan tahajud. Seseorang yang menjaga shalat dengan baik akan lebih mudah menjaga dirinya dari berbagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, kelalaian terhadap shalat sering menjadi awal dari melemahnya kualitas iman. Puasa Dzulhijjah dan Arafah, Jalan Menuju Pengampunan Di antara amalan istimewa yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda:"Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim) Keutamaan yang luar biasa ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Selain menjadi sarana meraih ampunan, puasa juga melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan. Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sahabat Harian Salah satu tanda meningkatnya keimanan adalah semakin dekatnya seseorang dengan Al-Qur'an. Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Membaca Al-Qur'an setiap hari, menghafal ayat-ayat pilihan, mempelajari tafsir, atau mengikuti majelis ilmu merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan perubahan besar bagi kehidupan spiritual seseorang. Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keteguhan hati, serta memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sedekah dan Kepedulian Sosial yang Menguatkan Iman Keimanan yang kuat selalu melahirkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Dzulhijjah juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Sedekah tidak selalu harus berupa nominal besar. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, atau berkontribusi dalam program sosial dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam. Melalui sedekah, seorang muslim belajar melepaskan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain di dalamnya. Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS Tidak dapat dipisahkan dari Dzulhijjah adalah kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan teladan tentang kepatuhan dan kesabaran yang luar biasa. Nilai-nilai pengorbanan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Mengalahkan rasa malas untuk beribadah, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama, menahan amarah, dan mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadi merupakan bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan setiap muslim saat ini. Menjaga Akhlak sebagai Cerminan Iman Keimanan bukan hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, Dzulhijjah harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan. Menghindari ghibah, fitnah, perkataan kasar, serta perdebatan yang tidak bermanfaat merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman. Sebaliknya, membiasakan berkata baik, bersikap santun, dan menghormati sesama akan memperindah kualitas ibadah yang dilakukan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Konsistensi, Kunci Keberhasilan Meningkatkan Keimanan Semangat beribadah pada bulan Dzulhijjah tentu sangat baik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap terjaga setelah bulan mulia ini berlalu. Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang realistis dan mampu dijaga secara berkelanjutan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga shalat tepat waktu, berdzikir setelah shalat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah. Konsistensi dalam kebaikan akan membentuk karakter seorang muslim yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan. Jangan Biarkan Dzulhijjah Berlalu Tanpa Perubahan Dzulhijjah bukan sekadar bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum terbaik untuk memperbarui keimanan, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap amal saleh yang dilakukan pada hari-hari mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu tanpa makna. Mulailah dari langkah-langkah sederhana: memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, dan memperbaiki akhlak. Semoga Dzulhijjah menjadi titik awal lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, peningkatan keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi saja. Keimanan yang kuat juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang masih hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, mari manfaatkan momentum Dzulhijjah untuk memperluas manfaat dan menebarkan kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap harta yang ditunaikan bukan hanya menjadi sarana membersihkan dan menyucikan harta, tetapi juga menjadi jembatan kebaikan yang membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mari jadikan Dzulhijjah sebagai bulan untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat kepedulian kepada sesama. Tunaikan kebaikan Anda secara mudah melalui layanan pembayaran online: Klik disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah Semoga setiap amal yang ditunaikan menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas.
ARTIKEL03/06/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri. Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain. Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal. Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain. Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain Allah SWT berfirman:"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."(QS. Thaha: 131). Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri. Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari. Syukur Adalah Kunci Ketenangan Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki. Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh. Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama. Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung. No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”” (QS. Ibrahim: 7)
ARTIKEL03/06/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini
Makna dan Hakikat kurban Ibadah kurban merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha, yaitu pada hari tasyrik 10-13 Dzulhijjah. Kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin. Keterangan tersebut dijelaaskan dalan Q.S. al-Hajj 22:28 : “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”. Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah (tiga hari). Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245). Hukum Kurban Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314). Keutamaan Kurban Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan. Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117) Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya. Mari jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap kurban yang kita tunaikan menjadi amal penuh keikhlasan dan keberkahan. Yuk, tunaikan kurban terbaikmu bersama BAZNAS Tulungagung dengan transfer ke rekening: BSI 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung Atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/kurban
ARTIKEL27/05/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian
Cuti bersama Idul Adha sering kali dipandang hanya sebagai waktu untuk beristirahat dari aktivitas pekerjaan. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan nilai-nilai ibadah yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha. Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang penuh makna. Hari raya ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, cuti bersama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah, bukan hanya sekadar menikmati waktu luang. Memperbanyak Ibadah di Hari-Hari Mulia Hari-hari menjelang dan saat Idul Adha termasuk waktu yang istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah SWT. Maka, cuti bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak: Salat sunnah, Membaca Al-Qur’an, Dzikir dan takbir, Puasa sunnah Dzulhijjah dan Arafah dan Sedekah kepada yang membutuhkan Dengan waktu yang lebih longgar, umat Muslim dapat lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah yang mungkin selama ini terhambat oleh kesibukan pekerjaan. Menumbuhkan Semangat Berkurban Idul Adha identik dengan ibadah kurban, sebuah syariat yang mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan dan pengorbanan. Cuti bersama menjadi momen yang tepat untuk ikut terlibat langsung dalam proses ibadah kurban, mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging kepada masyarakat. Keterlibatan ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba. Dari sinilah nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa. Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Momentum cuti bersama dapat dimanfaatkan untuk: Berkumpul bersama keluarga, Mengunjungi orang tua dan kerabat, Mempererat hubungan tetangga dan Berbagi makanan dan kebahagiaan Kehangatan kebersamaan di Hari Raya menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah dan kepedulian sosial. Menjadikan Cuti Bersama Lebih Bermakna Tidak ada salahnya beristirahat di masa cuti bersama, namun akan jauh lebih baik jika waktu tersebut juga diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari kesenangan dunia, tetapi juga dari hati yang dekat dengan Allah dan mampu berbagi kepada sesama. Karena itu, mari jadikan cuti bersama Idul Adha bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Cuti bersama Idul Adha adalah momen istimewa yang dapat membawa banyak keberkahan jika dimanfaatkan dengan baik. Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, Allah memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk kembali mendekat, memperbaiki diri, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik awal untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL25/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah
Definisi dan Hukum Kurban Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dalam pelaksanaannya, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa amalan kurban termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha. Dalam hukum Islam, ibadah kurban berstatus sunnah bagi muslim yang mampu. Menurut mazhab Syafi’i, kurban menjadi sunnah ‘ain bagi seseorang yang hidup sendiri, sedangkan bagi keluarga hukumnya sunnah kifayah. Artinya, apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakan kurban, maka anggota keluarga lainnya sudah mendapatkan keutamaan syariat tersebut. Namun, hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya. Syarat Hewan Kurban Hewan yang sah digunakan untuk kurban harus berasal dari jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Dalam ibadah kurban, hewan jantan lebih dianjurkan karena umumnya memiliki kualitas daging yang lebih baik, meskipun hewan betina tetap diperbolehkan. Usia hewan juga menjadi syarat penting dalam kurban. Domba diperbolehkan untuk kurban apabila sudah berusia minimal enam bulan dan telah poel, atau mencapai satu tahun. Kambing dan sapi harus berumur minimal dua tahun, sedangkan unta untuk kurban wajib mencapai usia lima tahun. Dalam pelaksanaan kurban, satu ekor kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang. Sementara itu, satu ekor sapi, kerbau, atau unta dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban secara bersama-sama. Ketentuan ini menjadi bagian penting dalam pembagian ibadah kurban. Selain itu, hewan kurban wajib dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang jelas. Hewan yang terlalu kurus, pincang, buta, sakit parah, atau terpotong sebagian telinga dan ekornya tidak sah dijadikan kurban. Namun, telinga yang hanya sobek atau berlubang masih diperbolehkan dalam syariat kurban. Niat dan Doa Kurban Dalam ibadah kurban, penyembelih harus seorang muslim dan memiliki niat yang benar. Niat kurban dapat dilakukan ketika menyembelih hewan atau saat menentukan hewan yang akan dijadikan kurban. Jika penyembelihan dilakukan oleh wakil, maka wakil tersebut tetap harus menghadirkan niat kurban atas nama orang yang berkurban. Contoh niat kurban untuk diri sendiri adalah: “Nawaitu ad?’a sunnatil udh-hiyyati ‘an nafs? lill?hi ta‘?l?.” Artinya: “Saya niat melaksanakan sunnah kurban untuk diri sendiri karena Allah SWT.” Sedangkan niat kurban untuk orang lain atau melalui wakil dapat disesuaikan dengan nama orang yang berkurban. Dalam proses penyembelihan kurban, sangat dianjurkan membaca basmalah, takbir, dan doa agar ibadah tersebut diterima Allah SWT. Doa yang biasa dibaca ketika menyembelih kurban ialah: “Bismill?hi, All?hu Akbar. All?humma h?dz? minka wa laka. All?humma taqabbal minn?.” Doa kurban tersebut memiliki makna bahwa hewan yang disembelih berasal dari Allah dan dipersembahkan kembali untuk mencari ridha-Nya. Waktu Pelaksanaan Kurban Waktu pelaksanaan kurban dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam syariat Islam, rentang waktu tersebut dikenal sebagai hari-hari tasyrik yang menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban. Apabila penyembelihan kurban dilakukan sebelum salat Id atau setelah berakhirnya hari tasyrik, maka ibadah tersebut tidak dihitung sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Namun khusus untuk kurban nadzar, penyembelihan yang dilakukan setelah tanggal 13 Dzulhijjah tetap dianggap sah sebagai qadha kurban. Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, memahami syarat dan ketentuan kurban sangat penting agar ibadah yang dilaksanakan benar-benar sah dan bernilai pahala di sisi Allah.
ARTIKEL22/05/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Tata Cara Pelaksanaan Salat Idul Adha
Tata Cara Pelaksanaan Salat Idul Adha
Sholat Idul Adha merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Kurban. Ibadah ini dikerjakan secara berjamaah pada pagi hari dan memiliki keutamaan besar karena menjadi syiar Islam yang dilakukan secara bersama-sama oleh kaum muslimin. Meski hanya dilaksanakan setahun sekali, umat Islam dianjurkan memahami tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Shalat Idul Adha dianjurkan dilaksanakan pada awal waktu setelah matahari terbit. Hal ini dimaksudkan agar memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendak berkurban setelah shalat Idul Adha. Sementara batas akhir shalat Idul Adha adalah sebelum waktu Zuhur tiba pada hari yang sama, 10 Dzulhijjah. Jumlah rakaat yang dilakukan pada sholat Id adalah dua rakaat. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sholat Jumat dua rakaat, sholat Idul Fitri dan Idul Adha dua rakaat, sholat safar dua rakaat secara sempurna, tidak ada qashar (meringkas), berdasarkan sabda Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Dengan memahami tata cara sholat Idul Adha, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk dan sesuai sunnah, sehingga momentum Hari Raya Kurban tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga sarana meningkatkan ketakwaan dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Tata Cara Shalat Idul Adha 1. Membaca Niat Shalat Idul Adha Shalat Idul Adha diawali dengan niat di dalam hati. Jika ingin dilafalkan, berikut bacaannya: Ushall? sunnatan ‘?dil adlh? rak‘ataini (ma’m?man/im?man) lill?hi ta‘?l?. Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.” Jika shalat dilakukan sendiri, cukup tanpa tambahan ma’m?man atau im?man. 2. Takbir pada Rakaat Pertama Setelah membaca doa iftitah, dianjurkan bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Di antara takbir tersebut, dapat membaca dzikir berikut: All?hu akbaru kab?r?, walhamdu lill?hi kats?r?, wa subh?nall?hi bukratan wa ash?l?. Artinya: “Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.” Atau bisa juga membaca: Subh?nall?hi walhamdu lill?hi wa l? il?ha illall?hu wall?hu akbar. Artinya: “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha besar.” 3. Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek Setelah takbir selesai, imam membaca Surat Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan surat pendek. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-A’la atau Qaf. Setelah itu, shalat dilanjutkan seperti biasa dengan ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa. 4. Melanjutkan Rakaat Kedua Pada rakaat kedua, setelah berdiri kembali, dianjurkan bertakbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan dan membaca “All?hu Akbar”. Di sela-sela takbir, jamaah dapat membaca dzikir sebagaimana pada rakaat pertama. Setelah membaca Surat Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al-Ghasyiyah atau Al-Qamar. Kemudian shalat dilanjutkan dengan ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam. 5. Mendengarkan Khutbah Idul Adha Setelah shalat selesai, jamaah dianjurkan tetap berada di tempat untuk menyimak khutbah Idul Adha hingga selesai. Khutbah menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah Hari Raya Idul Adha sebagai sarana memperkuat ketakwaan, persaudaraan, serta memahami makna pengorbanan dan keikhlasan. Namun, ketentuan mendengarkan khutbah ini tidak berlaku apabila shalat Id dilaksanakan secara sendiri di rumah.
ARTIKEL19/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Kurban Digital: Tren Baru Ibadah di Era Modern
Kurban Digital: Tren Baru Ibadah di Era Modern
Di zaman yang serba modern dan pemanfaatan teknologi yang semakin pesat, semua serba mudah terutama bagi umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah, termasuk kurban. Kehadiran kurban digital indonesia menjadi salah satu inovasi modern yang membantu masyarakat menunaikan ibadah kurban secara praktis, aman, dan tetap sesuai syariat Islam. Melalui platform digital, proses pemilihan hewan kurban, pembayaran, hingga distribusi daging dapat dilakukan hanya melalui smartphone atau komputer. Fenomena kurban digital indonesia berkembang pesat sejak masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan digital dalam kehidupan sehari-hari. Selain memudahkan proses transaksi, sistem ini juga membantu distribusi hewan kurban menjadi lebih merata hingga ke pelosok negeri, daerah bencana, bahkan wilayah konflik seperti Palestina. Dalam pandangan Islam, kemajuan teknologi sejatinya dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ibadah. Selama prosesnya tetap memenuhi syariat, penggunaan teknologi dalam ibadah kurban justru menjadi langkah bijak dalam mempermudah umat untuk berbuat kebaikan. Karena itu, tren digitalisasi kurban perlu dipahami sebagai bagian dari kemajuan peradaban umat Islam di era modern. Apa Itu Kurban Digital? Kurban Digital merupakan sistem pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara online melalui platform digital. Melalui layanan ini, masyarakat dapat memilih hewan kurban, melakukan pembayaran, hingga memperoleh laporan pendistribusian daging tanpa perlu datang langsung ke tempat penjualan hewan kurban. Konsep kurban digital hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang memiliki aktivitas padat dan mobilitas tinggi. Banyak umat Islam, khususnya di wilayah perkotaan, merasa kesulitan menemukan hewan kurban yang sehat, sesuai syariat, dan terpercaya. Dengan adanya layanan digital, proses berkurban menjadi lebih mudah, cepat, dan praktis. Tidak hanya memberikan kemudahan dalam transaksi, layanan kurban digital juga menawarkan transparansi yang lebih baik. Pekurban dapat memperoleh dokumentasi proses penyembelihan serta penyaluran daging kepada penerima manfaat. Hal ini membuat masyarakat merasa lebih aman dan yakin dalam menjalankan ibadah kurban. Di Indonesia, sejumlah lembaga Islam seperti Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS telah menghadirkan program kurban digital melalui website, marketplace, aplikasi mobile, hingga layanan perbankan digital. Sistem pembayaran pun kini semakin beragam dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Kehadiran kurban digital di Indonesia menunjukkan bahwa ajaran Islam mampu mengikuti perkembangan teknologi dan zaman tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip syariat yang berlaku. Mengapa Kurban Digital Semakin Diminati? Ada berbagai alasan yang membuat kurban digital di Indonesia semakin diminati oleh masyarakat Muslim. Salah satu faktor utamanya adalah kemudahan akses. Dengan layanan berbasis online, umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban kapan saja dan dari mana saja tanpa perlu mendatangi tempat penjualan hewan secara langsung. Alasan lainnya adalah tingkat transparansi yang lebih baik. Banyak platform kurban digital menyediakan laporan lengkap berupa foto, video, hingga informasi penyaluran daging kurban. Hal tersebut memberikan rasa tenang kepada pekurban karena ibadah yang dilakukan dapat dipastikan berjalan sesuai amanah. Selain mempermudah proses transaksi, sistem digital juga membantu pemerataan distribusi daging kurban. Selama ini, penyaluran kurban sering terpusat di daerah perkotaan. Melalui platform digital, distribusi dapat diarahkan ke wilayah terpencil, desa kurang mampu, maupun daerah yang sedang terdampak bencana. Sebagai contoh, BAZNAS Kabupaten Tulungagung menghadirkan program “Kurban Berkah BAZNAS” yang memungkinkan masyarakat menunaikan kurban melalui layanan digital maupun kasir ritel. Program tersebut bertujuan memperluas manfaat kurban hingga ke pelosok sekaligus mendukung pemberdayaan peternak kecil di pedesaan. Di samping itu, generasi muda Muslim saat ini sudah sangat terbiasa menggunakan layanan transaksi digital. Oleh karena itu, kurban digital menjadi pilihan yang sesuai dengan gaya hidup modern tanpa menghilangkan makna dan nilai utama dari ibadah kurban. Keunggulan Kurban Digital bagi Umat Islam Salah satu manfaat utama dari kurban digital adalah penghematan waktu dan tenaga. Masyarakat tidak perlu lagi pergi ke pasar hewan atau tempat penjualan kurban yang biasanya padat dan membutuhkan waktu cukup lama. Selain itu, sistem pembayaran yang ditawarkan juga semakin praktis. Berbagai platform kini menyediakan banyak pilihan pembayaran, mulai dari transfer bank, e-wallet, QRIS, layanan fintech, hingga marketplace. Kemudahan ini membuat ibadah kurban dapat diakses oleh lebih banyak kalangan masyarakat. Kurban digital juga berperan dalam pemerataan distribusi daging kurban. Banyak lembaga sosial menyalurkan daging ke daerah-daerah yang jarang menerima kurban, termasuk wilayah dengan jumlah Muslim yang sedikit serta daerah yang sedang mengalami bencana. Di sisi lain, kurban digital turut mendukung penguatan ekonomi masyarakat. Hewan kurban yang disediakan umumnya berasal dari peternak lokal. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari ibadah kurban dapat dirasakan langsung oleh para peternak dan masyarakat kecil. Hukum Kurban Digital dalam Islam Sebagian umat Islam masih mempertanyakan bagaimana hukum kurban secara digital menurut syariat Islam. Pada dasarnya, Islam memperbolehkan adanya sistem perwakilan atau wakalah dalam pelaksanaan ibadah kurban. Melalui konsep wakalah, seseorang dapat menyerahkan proses pembelian hewan, penyembelihan, hingga pendistribusian daging kurban kepada lembaga yang terpercaya, asalkan seluruh pelaksanaannya tetap sesuai dengan aturan syariat Islam. Dalam hal ini, platform digital hanya berfungsi sebagai sarana transaksi dan penghubung antara pekurban dan pihak penyelenggara kurban. Hal yang paling penting ialah memastikan hewan kurban memenuhi syarat yang ditetapkan dalam Islam, proses penyembelihan dilakukan sesuai ketentuan syariat, serta penyaluran daging diberikan kepada pihak yang berhak menerima. Karena itu, masyarakat dianjurkan memilih lembaga yang memiliki reputasi baik dan dapat dipercaya. BAZNAS Kabupaten Tulungagung juga menegaskan bahwa pengelolaan kurban dilaksanakan berdasarkan prinsip 3A, yaitu Aman Syari, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Prinsip tersebut diterapkan agar pelaksanaan kurban tetap sesuai hukum Islam sekaligus dikelola secara profesional dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kurban digital dapat menjadi alternatif modern yang tetap sah secara syariat dan memiliki nilai ibadah selama seluruh prosesnya memenuhi ketentuan Islam. Peran Teknologi dalam Pengembangan Kurban Digital Teknologi memegang peranan penting dalam perkembangan kurban digital di Indonesia. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, pelaksanaan ibadah kurban kini menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Melalui platform digital, umat Islam dapat memilih hewan kurban sesuai kebutuhan dan kemampuan ekonomi mereka. Informasi mengenai harga, bobot hewan, hingga wilayah pendistribusian pun tersedia secara terbuka sehingga prosesnya lebih transparan. Selain mempermudah transaksi, teknologi juga mendukung sistem dokumentasi dan pelaporan yang lebih modern. Pekurban dapat menerima laporan penyembelihan secara langsung melalui email maupun WhatsApp, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyelenggara semakin meningkat. Tips Memilih Layanan Kurban Digital yang Terpercaya Dalam menentukan layanan kurban digital di Indonesia, umat Islam sebaiknya memperhatikan kredibilitas lembaga penyelenggara. Pastikan lembaga tersebut memiliki izin resmi serta rekam jejak yang baik dalam pengelolaan dan penyaluran hewan kurban. Pilihlah platform yang memberikan informasi lengkap mengenai jenis hewan kurban, harga, proses penyembelihan, hingga wilayah distribusi daging. Keterbukaan informasi menjadi salah satu tanda bahwa lembaga tersebut dapat dipercaya. Selain transparansi informasi, penting juga untuk memastikan adanya laporan dokumentasi setelah pelaksanaan kurban selesai. Dokumentasi tersebut menjadi bentuk tanggung jawab lembaga kepada para pekurban. Masyarakat juga disarankan memilih lembaga yang memiliki program pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, ibadah kurban tidak hanya bernilai ibadah secara spiritual, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam berbagai pembahasan di kalangan Muslim Indonesia, lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat sering dinilai lebih terpercaya karena menyediakan laporan distribusi serta dokumentasi kurban kepada para donatur. Masa Depan Kurban Digital di Indonesia Seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, kurban digital di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami perkembangan pesat. Digitalisasi dalam ibadah bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam masa kini. Di masa mendatang, layanan kurban digital kemungkinan akan semakin terhubung dengan teknologi seperti kecerdasan buatan, blockchain, dan sistem pelacakan distribusi secara real-time. Inovasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat transparansi dalam proses pelaksanaan kurban. Selain itu, program pemberdayaan peternak lokal diperkirakan akan semakin diperluas. Konsep kurban berbasis pengembangan desa dapat menjadi solusi ekonomi yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Bagi umat Islam, hadirnya kurban digital Indonesia menjadi kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan lebih praktis sekaligus memperluas dampak sosial bagi sesama. Teknologi bukanlah hambatan dalam beribadah, melainkan sarana untuk mempererat solidaritas dan kepedulian antarumat. Pada akhirnya, makna utama ibadah kurban tetap terletak pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Dengan memanfaatkan teknologi secara tepat, umat Islam dapat menjadikan ibadah kurban lebih bermanfaat dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia. Melalui BAZNAS Tulungagung, kurban Anda akan dikelola secara amanah dan disalurkan hingga ke masyarakat di daerah terpencil. Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Salurkan kurban Anda melalui BAZNAS Tulungagung. Klik Disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL12/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban
Idhul adha bukan sekedar perayaan ritual penyembelihan hewan, melainkan momen agung untuk menguji ketundukan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ibadah kurban merupakan salah satu syiar islam yang memiliki kedudukan istimewa, terpatri dalam sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS, dan putranya, Nabi Ismail AS, yang rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Secara bahasa kurban berarti dekat atau mendekatkan diri, yang secara istilah dimaknai sebagai penyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang ditentukan dengan niat ibadah semata demi meraih ridho Nya. Ibadah ini bukan hanya tentang tindakan fisik menyembelih hewan, tetapi lebih dalam tentang meneladani sikap ikhlas dan tawadhu. Nabi Ibrahim AS tidak menunjukkan keraguan sedikitpun meskipun perintah yang datang menyangkut sesuatu yang paling berharga baginya. Begitu pula bagi kita, kurban adalah bentuk pengorbanan harta dan rasa cinta duniawi demi kebaikan yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira pada orang-orang yang muhsin. Dibalik pelaksanaannya, terdapat hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik secara spiritual maupun sosial. Secara agama, kurban menjadi sarana pahala yang besar dan membuka pintu pengampunan dosa dimana Rasulullah SAW bersabda bahwa Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari itu selain menumpahkan darah hewan kurban, yang kelak akan datang membawa pahala bagi pemiliknya di hari kiamat. Lebih dari itu daging kurban menjadi jembatan yang mempererat ukhuwah dna silaturrhami antar warga, menghapus sekat-sekat sosial, serta menciptakan rasa persaudaraan yang erat. Pembagian daging yang dilakukan dengan bijak, baik untuk keluarga sendiri, kerabat, maupun mereka yang membutuhkan, menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang menjadi ruh dari tugas pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat. BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai mitra terpercaya umat dalam menyalurkan ibadah kurban dengan penuh tanggung jawab. Dengan menitipkan hewan kurban melalui BAZNAS, anda memastikan penyaluran yang tepat sasaran kepada yang berhak menerima, dikelola secara profesional, transparan, dan sesuai syariat. Setiap daging yang disalurkan akan diampaikan ketangan kaum mustahik, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan. Mari menjadikan momen idhul adha tahun ini sebagai kesempatan emas untuk melipat gandakan amal shaleh, dimana satu hewan kurban yang anda tunaikan menjadi sumber kebahagiaan bagi banya keluraga dan menjadi bekal amal jariyah yang pahalanya tak akan pernah terputus. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu dermawan serta bertakwa.
ARTIKEL06/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Asal Bagi! Ini Aturan Pembagian Daging Kurban dalam Islam
Jangan Asal Bagi! Ini Aturan Pembagian Daging Kurban dalam Islam
Ibadah kurban sering dipahami sebatas menyembelih hewan pada Hari Raya Iduladha. Padahal, esensi kurban tidak berhenti di proses penyembelihan saja, tetapi juga pada bagaimana daging tersebut didistribusikan sesuai syariat. Dalam Islam, pembagian daging kurban adalah bagian penting dari ibadah itu sendiri. Artinya, kurban bukan sekadar ritual, tetapi juga harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Ayat ini menjadi dasar bahwa daging kurban tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada yang membutuhkan. Kurban Bukan Hanya Menyembelih Setelah hewan disembelih, tanggung jawab berikutnya adalah memastikan daging sampai kepada yang berhak. Inilah yang sering luput dari perhatian. Islam mengajarkan bahwa daging kurban dianjurkan untuk dibagi menjadi tiga bagian: 1. Untuk diri sendiri dan keluarga Orang yang berkurban boleh menikmati sebagian daging sebagai bentuk syukur. Namun, bagian ini tidak boleh diperjualbelikan dalam bentuk apa pun, termasuk bagian seperti kulit atau jeroan. 2. Untuk kerabat atau tetangga Daging juga dianjurkan untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat sebagai wujud mempererat hubungan sosial. Penerimanya tidak harus dari kalangan tidak mampu, selama tujuannya adalah berbagi kebahagiaan. 3. Untuk fakir miskin Inilah bagian yang paling utama. Daging kurban harus disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa imbalan apa pun, agar benar-benar memberi manfaat dan menghadirkan kebahagiaan di hari raya. Pembagian ini tidak bersifat wajib secara kaku, namun para ulama sepakat bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas utama. Aturan Penting dalam Pembagian Daging Kurban Agar ibadah kurban sesuai dengan syariat, berikut beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan: Daging kurban tidak boleh diperjualbelikan Tidak boleh dijadikan sebagai upah bagi panitia penyembelih Sebaiknya dibagikan dalam kondisi mentah Pembagian harus adil dan tidak pilih kasih Mematuhi aturan ini penting agar kurban tidak hanya sah, tetapi juga bernilai ibadah secara sempurna. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana dagingnya didistribusikan dengan benar. Jangan sampai ibadah yang sudah baik justru berkurang nilainya karena pembagian yang tidak sesuai. Pastikan daging kurban disalurkan dengan tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh yang berhak. Wujudkan Kurban yang Tepat Sasaran dan Penuh Manfaat Menunaikan ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga memastikan distribusinya sampai kepada yang benar-benar membutuhkan. Melalui BAZNAS Tulungagung, kurban Anda akan dikelola secara amanah dan disalurkan hingga ke masyarakat di daerah terpencil. Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Salurkan kurban Anda melalui BAZNAS Tulungagung. Klik Disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL27/04/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan sederhana: membantu atau mengabaikan. Padahal, dari pilihan kecil itulah lahir dampak besar, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Ketika kita memilih untuk memudahkan urusan orang lain, sejatinya kita sedang membuka jalan kemudahan untuk hidup kita sendiri. Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Dalam ajaran Islam, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah SWT. Bahkan, kebaikan tersebut bisa menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemudahan yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist: "Barang siapa memudahkan kesulitan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu orang lain bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi juga merupakan investasi amal yang berdampak besar bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Memudahkan urusan orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membantu secara tenaga, memberikan dukungan moral, hingga berbagi rezeki melalui sedekah. Tak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berbuat kebaikan. Justru, langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas sering kali menjadi awal dari perubahan besar. Senyuman, bantuan sederhana, atau uluran tangan di saat yang tepat bisa menjadi penyelamat bagi seseorang. Salah satu cara nyata untuk menebarkan kebaikan adalah melalui sedekah. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam hidup. Mari mulai dari hari ini, dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ringankan langkah, bantu sesama, dan tebarkan kebaikan tanpa menunda. Salurkan sedekah terbaik kita melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung sebagai wadah amanah untuk membantu mereka yang membutuhkan: Link: https://kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah BSI 7137892051BRI 011001030166530 Karena sejatinya, saat kita memudahkan orang lain, Allah SWT sedang menyiapkan kemudahan untuk kita.
ARTIKEL31/03/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Bulan Ramadhan adalah suatu moment yang penuh keberkahan yang mengajarkan umat islam untuk terus meningkatkan kepedulian sosial serta semangat berbagi. Salah satu amalan yang mudah tapi memiliki keutamaan besar ialah memberi makan kepada orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda "bahwa siapa saja yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang menjalankannya". Oleh karena itu, memberi makan kepada orang yang berpuasa bukan sekedar bentuk kebaikan sosial, melainkan juga ladang pahala yang luar biasa di sisi Allah SWT. 5 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Ada beberapa keutamaan memberi makan buka puasa. Ini juga termasuk bagi yang membantu atau menjadi panitia buka puasa karena termasuk dalam orang yang menolong dalam kebaikan. 1. Memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Artinya: "Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no.807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5:192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) 2. Menggabungkan Shalat, puasa dan sedekah dapat mengantarkan pada ridha Allah. Ibnu Rajab Al-Hamdali rahimahullah karenanya menyatakan, "Puasa, shalat dan sedekah mengantarkan orang yang mengamalkannya pada Allah. Sebagian salaf sampai berkata, 'Shalat mengantarkan seseorang pada separuh jalan. Puasa mengantarkannya pada pintu raja. Sedekah nantinya akan mengambilnya dan mengantarnya pada raja." (Lathaif Al-Ma'arif, hlm.298) 3. Sedekah akan menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Artinya: "Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia." (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini Shahih) 4. Sedekah akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Artinya: "Sedekah itu dapat meredam murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek." (HR. Trimidzi, no. 664. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini Dha'if) 5. Sedekah akan menghapus dosa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Artinya: "Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api." (HR. Trimidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir menatakan bahwa sanad hadits ini Hasan) Klik Disini -> Bayar Sedekah Makan Untuk Orang Berpuasa
ARTIKEL19/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit
Saat kebanyakan orang masih terlelap dalam sisa kantuk malam, ada segelintir hamba yang telah terjaga, menunduk dalam doa, dan menyelipkan kebaikan di antara dinginnya udara subuh. Mereka bukan sekadar mengejar pahala, tetapi mengetuk pintu langit dengan sedekah di waktu yang paling mulia. Fenomena “sedekah subuh” belakangan semakin menggema di tengah masyarakat. Bukan karena tren, melainkan karena keyakinan akan keutamaannya yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Di balik kesederhanaannya, sedekah di waktu fajar menyimpan janji keberkahan yang luar biasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261) Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan karunia Allah. Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi “investasi akhirat” yang berkembang berkali-kali lipat. Jika dilakukan dengan ikhlas, Allah akan menumbuhkannya menjadi keberkahan dunia dan pahala akhirat. Doa Para Malaikat di Waktu Subuh Keutamaan sedekah subuh semakin kuat dengan hadis Nabi ? "Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.’ Dan yang lain berdoa: ‘Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir."(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah di pagi hari terlebih di waktu subuh memiliki posisi istimewa. Bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga “mengaktifkan” doa para malaikat yang mustajab di sisi Allah. Mengapa subuh? Subuh adalah waktu peralihan antara gelap dan terang, antara sunyi dan kehidupan. Di saat itulah hati paling jernih, niat paling tulus, dan doa paling khusyuk. Sedekah di waktu ini bukan sekadar memberi, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah — meyakini bahwa rezeki datang dari-Nya, bukan dari dompet kita. Para ulama menyebut waktu subuh sebagai waqtul barakah (waktu keberkahan). Pada jam-jam ini, hiruk-pikuk dunia belum mengambil alih kesadaran manusia. Tidak ada kebisingan pasar, tidak ada riuhnya pekerjaan, tidak ada gangguan layar ponsel. Yang ada hanya keheningan, zikir, dan bisikan iman. Karena itulah, sedekah yang dilakukan di waktu subuh cenderung lebih murni lahir bukan dari pamer atau dorongan sosial, tetapi dari keikhlasan hati. Sedekah subuh tidak menuntut nominal besar. Bisa berupa uang, makanan untuk tetangga, memberi makan kucing jalanan, atau bahkan membantu orang yang membutuhkan. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan konsistensi. Maka, mari kita jadikan fajar bukan hanya waktu untuk bangun, tetapi waktu untuk memberi. Sisipkan kebaikan sebelum aktivitas dunia menyibukkan hati kita. Mulailah hari dengan sedekah, agar Allah memulai hari kita dengan keberkahan. Bayangkan: ketika matahari belum terbit, namamu sudah disebut oleh malaikat dalam doa kebaikan. Ketika orang lain masih tertidur, catatan amalmu sudah bertambah. Dan ketika rezeki menghampirimu, itu bukan kebetulan itu janji Allah yang terwujud. Mari hidupkan sedekah subuh. Bukan karena kita punya banyak, tetapi karena kita percaya kepada Yang Maha Memberi. Sebab, tangan yang memberi di subuh hari, kelak akan dipeluk rahmat-Nya di hari kemudian.
ARTIKEL05/02/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Tau gak? Amalan sedekah itu kayak Memancing Datangnya Rezeki loh..
Tau gak? Amalan sedekah itu kayak Memancing Datangnya Rezeki loh..
Dalam sedekah, umpannya adalah ikhlas dan kailnya adalah keyakinan. Saat kita mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah, sejatinya kita sedang menanam kebaikan. Kita tidak sedang “kehilangan”, melainkan menitipkan rezeki kepada Pemilik segala rezeki. Soal hasil dan balasannya, biarlah Allah yang mengatur dengan cara dan waktu terbaik menurut-Nya. Tidak semua sedekah langsung terasa balasannya. Kadang “strike”-nya memang tidak instan. Namun ketika rezeki itu datang, sering kali hasilnya justru berlipat. Balasan sedekah tidak selalu berupa uang atau materi, tetapi bisa hadir dalam bentuk keberkahan hidup, ketenangan hati, kesehatan, kemudahan urusan, bahkan rezeki dari arah yang sama sekali tidak kita duga. Dengan bersedekah, kita belajar berbagi sekaligus menumbuhkan harapan akan kebaikan dari Allah SWT. Harta yang dikeluarkan tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan dalam kehidupan. Saat kita memberi dengan ikhlas, sejatinya kita sedang menanam kebaikan. Balasannya mungkin tidak langsung kita rasakan, tetapi Allah SWT selalu mengembalikannya dengan cara terbaik datang perlahan, namun kembali berlipat dalam keberkahan dan rezeki yang tak disangka-sangka. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Melalui lembaga resmi seperti BAZNAS, sedekah disalurkan secara tertib dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Mari salurkan sedekah terbaik kita melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung: kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah BSI 7137892051 BRI 011001030166530 Ayo bersedekah hari ini, dan biarkan keberkahan datang menyusul.
ARTIKEL05/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →