WhatsApp Icon
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Di bulan inilah umat Islam diberikan kesempatan besar untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai amalan yang dicintai Allah SWT. Tidak hanya menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, Dzulhijjah juga menghadirkan sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun.

Keistimewaan tersebut menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap muslim yang memahami keutamaan bulan ini tentu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh.

Keutamaan Dzulhijjah, Bulan yang Dimuliakan Allah

Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram."
(QS. At-Taubah: 36)

Keagungan Dzulhijjah semakin sempurna dengan hadirnya sepuluh hari pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Oleh karena itu, Dzulhijjah menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat keimanan.

Memperbanyak Dzikir, Menghidupkan Hati yang Lalai

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih menjadi lantunan yang dianjurkan untuk terus mengiringi aktivitas sehari-hari.

Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sarana untuk menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketika hati senantiasa mengingat-Nya, ketenangan akan hadir dan keimanan akan semakin kuat.

Kalimat-kalimat dzikir yang dapat dibiasakan antara lain:
1. Subhanallah
2. Alhamdulillah
3. Laa ilaaha illallah
4. Allahu Akbar

Amalan sederhana ini sering kali terlihat ringan, namun memiliki dampak besar dalam menjaga hati tetap hidup dan dekat dengan Allah SWT.

Menjaga Shalat sebagai Pondasi Keimanan

Tidak ada amalan yang lebih utama setelah syahadat selain menjaga shalat. Shalat merupakan tiang agama sekaligus ukuran kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kedisiplinan dalam menunaikan shalat lima waktu, meningkatkan kekhusyukan, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat dhuha, rawatib, dan tahajud.

Seseorang yang menjaga shalat dengan baik akan lebih mudah menjaga dirinya dari berbagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, kelalaian terhadap shalat sering menjadi awal dari melemahnya kualitas iman.

Puasa Dzulhijjah dan Arafah, Jalan Menuju Pengampunan

Di antara amalan istimewa yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
(HR. Muslim)

Keutamaan yang luar biasa ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Selain menjadi sarana meraih ampunan, puasa juga melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sahabat Harian

Salah satu tanda meningkatnya keimanan adalah semakin dekatnya seseorang dengan Al-Qur'an. Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam.

Membaca Al-Qur'an setiap hari, menghafal ayat-ayat pilihan, mempelajari tafsir, atau mengikuti majelis ilmu merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan perubahan besar bagi kehidupan spiritual seseorang.

Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keteguhan hati, serta memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sedekah dan Kepedulian Sosial yang Menguatkan Iman

Keimanan yang kuat selalu melahirkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Dzulhijjah juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan.

Sedekah tidak selalu harus berupa nominal besar. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, atau berkontribusi dalam program sosial dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam.

Melalui sedekah, seorang muslim belajar melepaskan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain di dalamnya.

Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS

Tidak dapat dipisahkan dari Dzulhijjah adalah kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan teladan tentang kepatuhan dan kesabaran yang luar biasa.

Nilai-nilai pengorbanan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Mengalahkan rasa malas untuk beribadah, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama, menahan amarah, dan mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadi merupakan bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan setiap muslim saat ini.

Menjaga Akhlak sebagai Cerminan Iman

Keimanan bukan hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, Dzulhijjah harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan.

Menghindari ghibah, fitnah, perkataan kasar, serta perdebatan yang tidak bermanfaat merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman. Sebaliknya, membiasakan berkata baik, bersikap santun, dan menghormati sesama akan memperindah kualitas ibadah yang dilakukan.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Konsistensi, Kunci Keberhasilan Meningkatkan Keimanan

Semangat beribadah pada bulan Dzulhijjah tentu sangat baik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap terjaga setelah bulan mulia ini berlalu.

Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang realistis dan mampu dijaga secara berkelanjutan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga shalat tepat waktu, berdzikir setelah shalat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.

Konsistensi dalam kebaikan akan membentuk karakter seorang muslim yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Jangan Biarkan Dzulhijjah Berlalu Tanpa Perubahan

Dzulhijjah bukan sekadar bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum terbaik untuk memperbarui keimanan, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Setiap amal saleh yang dilakukan pada hari-hari mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu tanpa makna. Mulailah dari langkah-langkah sederhana: memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, dan memperbaiki akhlak.

Semoga Dzulhijjah menjadi titik awal lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, peningkatan keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi saja. Keimanan yang kuat juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang masih hidup dalam keterbatasan.

Oleh karena itu, mari manfaatkan momentum Dzulhijjah untuk memperluas manfaat dan menebarkan kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap harta yang ditunaikan bukan hanya menjadi sarana membersihkan dan menyucikan harta, tetapi juga menjadi jembatan kebaikan yang membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Mari jadikan Dzulhijjah sebagai bulan untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat kepedulian kepada sesama.

Tunaikan kebaikan Anda secara mudah melalui layanan pembayaran online:

Klik disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

Semoga setiap amal yang ditunaikan menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas.

03/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri.

Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan

Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal.

Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain.

Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain

Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."
(QS. Thaha: 131).

Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri.

Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari.

Syukur Adalah Kunci Ketenangan

Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.

Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh.

Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan

Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.

Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain.

Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi

Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.

Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung.

No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung

atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

03/06/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini

Makna dan Hakikat kurban 

Ibadah kurban merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha, yaitu pada hari tasyrik 10-13 Dzulhijjah. Kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.

Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin.

Keterangan tersebut dijelaaskan dalan Q.S. al-Hajj 22:28 : “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”. 

Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah (tiga hari). Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245).

Hukum Kurban

Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).

Keutamaan Kurban

Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan.

Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.

Mari jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap kurban yang kita tunaikan menjadi amal penuh keikhlasan dan keberkahan.

Yuk, tunaikan kurban terbaikmu bersama BAZNAS Tulungagung dengan transfer ke rekening:

BSI 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/kurban

27/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian

Cuti bersama Idul Adha sering kali dipandang hanya sebagai waktu untuk beristirahat dari aktivitas pekerjaan. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan nilai-nilai ibadah yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha.

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang penuh makna. Hari raya ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, cuti bersama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah, bukan hanya sekadar menikmati waktu luang.

Memperbanyak Ibadah di Hari-Hari Mulia

Hari-hari menjelang dan saat Idul Adha termasuk waktu yang istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah SWT. Maka, cuti bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak: Salat sunnah, Membaca Al-Qur’an, Dzikir dan takbir, Puasa sunnah Dzulhijjah dan Arafah dan Sedekah kepada yang membutuhkan

Dengan waktu yang lebih longgar, umat Muslim dapat lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah yang mungkin selama ini terhambat oleh kesibukan pekerjaan.

Menumbuhkan Semangat Berkurban

Idul Adha identik dengan ibadah kurban, sebuah syariat yang mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan dan pengorbanan. Cuti bersama menjadi momen yang tepat untuk ikut terlibat langsung dalam proses ibadah kurban, mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging kepada masyarakat.

Keterlibatan ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba. Dari sinilah nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa.

Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Momentum cuti bersama dapat dimanfaatkan untuk: Berkumpul bersama keluarga, Mengunjungi orang tua dan kerabat, Mempererat hubungan tetangga dan Berbagi makanan dan kebahagiaan

Kehangatan kebersamaan di Hari Raya menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah dan kepedulian sosial.

Menjadikan Cuti Bersama Lebih Bermakna

Tidak ada salahnya beristirahat di masa cuti bersama, namun akan jauh lebih baik jika waktu tersebut juga diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari kesenangan dunia, tetapi juga dari hati yang dekat dengan Allah dan mampu berbagi kepada sesama.

Karena itu, mari jadikan cuti bersama Idul Adha bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan.

 

Cuti bersama Idul Adha adalah momen istimewa yang dapat membawa banyak keberkahan jika dimanfaatkan dengan baik. Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, Allah memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk kembali mendekat, memperbaiki diri, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik awal untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

25/05/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah

Definisi dan Hukum Kurban

Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dalam pelaksanaannya, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa amalan kurban termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha.

Dalam hukum Islam, ibadah kurban berstatus sunnah bagi muslim yang mampu. Menurut mazhab Syafi’i, kurban menjadi sunnah ‘ain bagi seseorang yang hidup sendiri, sedangkan bagi keluarga hukumnya sunnah kifayah. Artinya, apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakan kurban, maka anggota keluarga lainnya sudah mendapatkan keutamaan syariat tersebut. Namun, hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya.

Syarat Hewan Kurban

Hewan yang sah digunakan untuk kurban harus berasal dari jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Dalam ibadah kurban, hewan jantan lebih dianjurkan karena umumnya memiliki kualitas daging yang lebih baik, meskipun hewan betina tetap diperbolehkan.

Usia hewan juga menjadi syarat penting dalam kurban. Domba diperbolehkan untuk kurban apabila sudah berusia minimal enam bulan dan telah poel, atau mencapai satu tahun. Kambing dan sapi harus berumur minimal dua tahun, sedangkan unta untuk kurban wajib mencapai usia lima tahun.

Dalam pelaksanaan kurban, satu ekor kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang. Sementara itu, satu ekor sapi, kerbau, atau unta dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban secara bersama-sama. Ketentuan ini menjadi bagian penting dalam pembagian ibadah kurban.

Selain itu, hewan kurban wajib dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang jelas. Hewan yang terlalu kurus, pincang, buta, sakit parah, atau terpotong sebagian telinga dan ekornya tidak sah dijadikan kurban. Namun, telinga yang hanya sobek atau berlubang masih diperbolehkan dalam syariat kurban.

Niat dan Doa Kurban

Dalam ibadah kurban, penyembelih harus seorang muslim dan memiliki niat yang benar. Niat kurban dapat dilakukan ketika menyembelih hewan atau saat menentukan hewan yang akan dijadikan kurban. Jika penyembelihan dilakukan oleh wakil, maka wakil tersebut tetap harus menghadirkan niat kurban atas nama orang yang berkurban.

Contoh niat kurban untuk diri sendiri adalah:

“Nawaitu ad?’a sunnatil udh-hiyyati ‘an nafs? lill?hi ta‘?l?.”

Artinya: “Saya niat melaksanakan sunnah kurban untuk diri sendiri karena Allah SWT.”

Sedangkan niat kurban untuk orang lain atau melalui wakil dapat disesuaikan dengan nama orang yang berkurban. Dalam proses penyembelihan kurban, sangat dianjurkan membaca basmalah, takbir, dan doa agar ibadah tersebut diterima Allah SWT.

Doa yang biasa dibaca ketika menyembelih kurban ialah:

“Bismill?hi, All?hu Akbar. All?humma h?dz? minka wa laka. All?humma taqabbal minn?.”

Doa kurban tersebut memiliki makna bahwa hewan yang disembelih berasal dari Allah dan dipersembahkan kembali untuk mencari ridha-Nya.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu pelaksanaan kurban dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam syariat Islam, rentang waktu tersebut dikenal sebagai hari-hari tasyrik yang menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban.

Apabila penyembelihan kurban dilakukan sebelum salat Id atau setelah berakhirnya hari tasyrik, maka ibadah tersebut tidak dihitung sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Namun khusus untuk kurban nadzar, penyembelihan yang dilakukan setelah tanggal 13 Dzulhijjah tetap dianggap sah sebagai qadha kurban.

Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, memahami syarat dan ketentuan kurban sangat penting agar ibadah yang dilaksanakan benar-benar sah dan bernilai pahala di sisi Allah.

 

22/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung

Artikel Terbaru

Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Di bulan inilah umat Islam diberikan kesempatan besar untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai amalan yang dicintai Allah SWT. Tidak hanya menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, Dzulhijjah juga menghadirkan sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Keistimewaan tersebut menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap muslim yang memahami keutamaan bulan ini tentu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh. Keutamaan Dzulhijjah, Bulan yang Dimuliakan Allah Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36) Keagungan Dzulhijjah semakin sempurna dengan hadirnya sepuluh hari pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah." (HR. Bukhari) Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Oleh karena itu, Dzulhijjah menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat keimanan. Memperbanyak Dzikir, Menghidupkan Hati yang Lalai Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih menjadi lantunan yang dianjurkan untuk terus mengiringi aktivitas sehari-hari. Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sarana untuk menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketika hati senantiasa mengingat-Nya, ketenangan akan hadir dan keimanan akan semakin kuat. Kalimat-kalimat dzikir yang dapat dibiasakan antara lain:1. Subhanallah2. Alhamdulillah3. Laa ilaaha illallah4. Allahu Akbar Amalan sederhana ini sering kali terlihat ringan, namun memiliki dampak besar dalam menjaga hati tetap hidup dan dekat dengan Allah SWT. Menjaga Shalat sebagai Pondasi Keimanan Tidak ada amalan yang lebih utama setelah syahadat selain menjaga shalat. Shalat merupakan tiang agama sekaligus ukuran kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kedisiplinan dalam menunaikan shalat lima waktu, meningkatkan kekhusyukan, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat dhuha, rawatib, dan tahajud. Seseorang yang menjaga shalat dengan baik akan lebih mudah menjaga dirinya dari berbagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, kelalaian terhadap shalat sering menjadi awal dari melemahnya kualitas iman. Puasa Dzulhijjah dan Arafah, Jalan Menuju Pengampunan Di antara amalan istimewa yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda:"Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim) Keutamaan yang luar biasa ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Selain menjadi sarana meraih ampunan, puasa juga melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan. Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sahabat Harian Salah satu tanda meningkatnya keimanan adalah semakin dekatnya seseorang dengan Al-Qur'an. Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Membaca Al-Qur'an setiap hari, menghafal ayat-ayat pilihan, mempelajari tafsir, atau mengikuti majelis ilmu merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan perubahan besar bagi kehidupan spiritual seseorang. Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keteguhan hati, serta memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sedekah dan Kepedulian Sosial yang Menguatkan Iman Keimanan yang kuat selalu melahirkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Dzulhijjah juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Sedekah tidak selalu harus berupa nominal besar. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, atau berkontribusi dalam program sosial dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam. Melalui sedekah, seorang muslim belajar melepaskan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain di dalamnya. Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS Tidak dapat dipisahkan dari Dzulhijjah adalah kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan teladan tentang kepatuhan dan kesabaran yang luar biasa. Nilai-nilai pengorbanan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Mengalahkan rasa malas untuk beribadah, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama, menahan amarah, dan mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadi merupakan bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan setiap muslim saat ini. Menjaga Akhlak sebagai Cerminan Iman Keimanan bukan hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, Dzulhijjah harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan. Menghindari ghibah, fitnah, perkataan kasar, serta perdebatan yang tidak bermanfaat merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman. Sebaliknya, membiasakan berkata baik, bersikap santun, dan menghormati sesama akan memperindah kualitas ibadah yang dilakukan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Konsistensi, Kunci Keberhasilan Meningkatkan Keimanan Semangat beribadah pada bulan Dzulhijjah tentu sangat baik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap terjaga setelah bulan mulia ini berlalu. Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang realistis dan mampu dijaga secara berkelanjutan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga shalat tepat waktu, berdzikir setelah shalat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah. Konsistensi dalam kebaikan akan membentuk karakter seorang muslim yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan. Jangan Biarkan Dzulhijjah Berlalu Tanpa Perubahan Dzulhijjah bukan sekadar bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum terbaik untuk memperbarui keimanan, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap amal saleh yang dilakukan pada hari-hari mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu tanpa makna. Mulailah dari langkah-langkah sederhana: memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, dan memperbaiki akhlak. Semoga Dzulhijjah menjadi titik awal lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, peningkatan keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi saja. Keimanan yang kuat juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang masih hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, mari manfaatkan momentum Dzulhijjah untuk memperluas manfaat dan menebarkan kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap harta yang ditunaikan bukan hanya menjadi sarana membersihkan dan menyucikan harta, tetapi juga menjadi jembatan kebaikan yang membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mari jadikan Dzulhijjah sebagai bulan untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat kepedulian kepada sesama. Tunaikan kebaikan Anda secara mudah melalui layanan pembayaran online: Klik disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah Semoga setiap amal yang ditunaikan menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas.
ARTIKEL03/06/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri. Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain. Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal. Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain. Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain Allah SWT berfirman:"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."(QS. Thaha: 131). Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri. Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari. Syukur Adalah Kunci Ketenangan Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki. Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh. Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama. Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung. No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”” (QS. Ibrahim: 7)
ARTIKEL03/06/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini
Makna dan Hakikat kurban Ibadah kurban merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha, yaitu pada hari tasyrik 10-13 Dzulhijjah. Kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin. Keterangan tersebut dijelaaskan dalan Q.S. al-Hajj 22:28 : “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”. Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah (tiga hari). Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245). Hukum Kurban Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314). Keutamaan Kurban Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan. Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117) Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya. Mari jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap kurban yang kita tunaikan menjadi amal penuh keikhlasan dan keberkahan. Yuk, tunaikan kurban terbaikmu bersama BAZNAS Tulungagung dengan transfer ke rekening: BSI 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung Atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/kurban
ARTIKEL27/05/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian
Cuti bersama Idul Adha sering kali dipandang hanya sebagai waktu untuk beristirahat dari aktivitas pekerjaan. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan nilai-nilai ibadah yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha. Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang penuh makna. Hari raya ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, cuti bersama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah, bukan hanya sekadar menikmati waktu luang. Memperbanyak Ibadah di Hari-Hari Mulia Hari-hari menjelang dan saat Idul Adha termasuk waktu yang istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah SWT. Maka, cuti bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak: Salat sunnah, Membaca Al-Qur’an, Dzikir dan takbir, Puasa sunnah Dzulhijjah dan Arafah dan Sedekah kepada yang membutuhkan Dengan waktu yang lebih longgar, umat Muslim dapat lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah yang mungkin selama ini terhambat oleh kesibukan pekerjaan. Menumbuhkan Semangat Berkurban Idul Adha identik dengan ibadah kurban, sebuah syariat yang mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan dan pengorbanan. Cuti bersama menjadi momen yang tepat untuk ikut terlibat langsung dalam proses ibadah kurban, mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging kepada masyarakat. Keterlibatan ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba. Dari sinilah nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa. Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Momentum cuti bersama dapat dimanfaatkan untuk: Berkumpul bersama keluarga, Mengunjungi orang tua dan kerabat, Mempererat hubungan tetangga dan Berbagi makanan dan kebahagiaan Kehangatan kebersamaan di Hari Raya menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah dan kepedulian sosial. Menjadikan Cuti Bersama Lebih Bermakna Tidak ada salahnya beristirahat di masa cuti bersama, namun akan jauh lebih baik jika waktu tersebut juga diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari kesenangan dunia, tetapi juga dari hati yang dekat dengan Allah dan mampu berbagi kepada sesama. Karena itu, mari jadikan cuti bersama Idul Adha bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Cuti bersama Idul Adha adalah momen istimewa yang dapat membawa banyak keberkahan jika dimanfaatkan dengan baik. Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, Allah memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk kembali mendekat, memperbaiki diri, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik awal untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL25/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah
Definisi dan Hukum Kurban Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dalam pelaksanaannya, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa amalan kurban termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha. Dalam hukum Islam, ibadah kurban berstatus sunnah bagi muslim yang mampu. Menurut mazhab Syafi’i, kurban menjadi sunnah ‘ain bagi seseorang yang hidup sendiri, sedangkan bagi keluarga hukumnya sunnah kifayah. Artinya, apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakan kurban, maka anggota keluarga lainnya sudah mendapatkan keutamaan syariat tersebut. Namun, hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya. Syarat Hewan Kurban Hewan yang sah digunakan untuk kurban harus berasal dari jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Dalam ibadah kurban, hewan jantan lebih dianjurkan karena umumnya memiliki kualitas daging yang lebih baik, meskipun hewan betina tetap diperbolehkan. Usia hewan juga menjadi syarat penting dalam kurban. Domba diperbolehkan untuk kurban apabila sudah berusia minimal enam bulan dan telah poel, atau mencapai satu tahun. Kambing dan sapi harus berumur minimal dua tahun, sedangkan unta untuk kurban wajib mencapai usia lima tahun. Dalam pelaksanaan kurban, satu ekor kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang. Sementara itu, satu ekor sapi, kerbau, atau unta dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban secara bersama-sama. Ketentuan ini menjadi bagian penting dalam pembagian ibadah kurban. Selain itu, hewan kurban wajib dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang jelas. Hewan yang terlalu kurus, pincang, buta, sakit parah, atau terpotong sebagian telinga dan ekornya tidak sah dijadikan kurban. Namun, telinga yang hanya sobek atau berlubang masih diperbolehkan dalam syariat kurban. Niat dan Doa Kurban Dalam ibadah kurban, penyembelih harus seorang muslim dan memiliki niat yang benar. Niat kurban dapat dilakukan ketika menyembelih hewan atau saat menentukan hewan yang akan dijadikan kurban. Jika penyembelihan dilakukan oleh wakil, maka wakil tersebut tetap harus menghadirkan niat kurban atas nama orang yang berkurban. Contoh niat kurban untuk diri sendiri adalah: “Nawaitu ad?’a sunnatil udh-hiyyati ‘an nafs? lill?hi ta‘?l?.” Artinya: “Saya niat melaksanakan sunnah kurban untuk diri sendiri karena Allah SWT.” Sedangkan niat kurban untuk orang lain atau melalui wakil dapat disesuaikan dengan nama orang yang berkurban. Dalam proses penyembelihan kurban, sangat dianjurkan membaca basmalah, takbir, dan doa agar ibadah tersebut diterima Allah SWT. Doa yang biasa dibaca ketika menyembelih kurban ialah: “Bismill?hi, All?hu Akbar. All?humma h?dz? minka wa laka. All?humma taqabbal minn?.” Doa kurban tersebut memiliki makna bahwa hewan yang disembelih berasal dari Allah dan dipersembahkan kembali untuk mencari ridha-Nya. Waktu Pelaksanaan Kurban Waktu pelaksanaan kurban dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam syariat Islam, rentang waktu tersebut dikenal sebagai hari-hari tasyrik yang menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban. Apabila penyembelihan kurban dilakukan sebelum salat Id atau setelah berakhirnya hari tasyrik, maka ibadah tersebut tidak dihitung sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Namun khusus untuk kurban nadzar, penyembelihan yang dilakukan setelah tanggal 13 Dzulhijjah tetap dianggap sah sebagai qadha kurban. Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, memahami syarat dan ketentuan kurban sangat penting agar ibadah yang dilaksanakan benar-benar sah dan bernilai pahala di sisi Allah.
ARTIKEL22/05/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Tata Cara Pelaksanaan Salat Idul Adha
Tata Cara Pelaksanaan Salat Idul Adha
Sholat Idul Adha merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Kurban. Ibadah ini dikerjakan secara berjamaah pada pagi hari dan memiliki keutamaan besar karena menjadi syiar Islam yang dilakukan secara bersama-sama oleh kaum muslimin. Meski hanya dilaksanakan setahun sekali, umat Islam dianjurkan memahami tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Shalat Idul Adha dianjurkan dilaksanakan pada awal waktu setelah matahari terbit. Hal ini dimaksudkan agar memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendak berkurban setelah shalat Idul Adha. Sementara batas akhir shalat Idul Adha adalah sebelum waktu Zuhur tiba pada hari yang sama, 10 Dzulhijjah. Jumlah rakaat yang dilakukan pada sholat Id adalah dua rakaat. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sholat Jumat dua rakaat, sholat Idul Fitri dan Idul Adha dua rakaat, sholat safar dua rakaat secara sempurna, tidak ada qashar (meringkas), berdasarkan sabda Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Dengan memahami tata cara sholat Idul Adha, diharapkan umat Islam dapat melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk dan sesuai sunnah, sehingga momentum Hari Raya Kurban tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga sarana meningkatkan ketakwaan dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Tata Cara Shalat Idul Adha 1. Membaca Niat Shalat Idul Adha Shalat Idul Adha diawali dengan niat di dalam hati. Jika ingin dilafalkan, berikut bacaannya: Ushall? sunnatan ‘?dil adlh? rak‘ataini (ma’m?man/im?man) lill?hi ta‘?l?. Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala.” Jika shalat dilakukan sendiri, cukup tanpa tambahan ma’m?man atau im?man. 2. Takbir pada Rakaat Pertama Setelah membaca doa iftitah, dianjurkan bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Di antara takbir tersebut, dapat membaca dzikir berikut: All?hu akbaru kab?r?, walhamdu lill?hi kats?r?, wa subh?nall?hi bukratan wa ash?l?. Artinya: “Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.” Atau bisa juga membaca: Subh?nall?hi walhamdu lill?hi wa l? il?ha illall?hu wall?hu akbar. Artinya: “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha besar.” 3. Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek Setelah takbir selesai, imam membaca Surat Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan surat pendek. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-A’la atau Qaf. Setelah itu, shalat dilanjutkan seperti biasa dengan ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa. 4. Melanjutkan Rakaat Kedua Pada rakaat kedua, setelah berdiri kembali, dianjurkan bertakbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan dan membaca “All?hu Akbar”. Di sela-sela takbir, jamaah dapat membaca dzikir sebagaimana pada rakaat pertama. Setelah membaca Surat Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surat Al-Ghasyiyah atau Al-Qamar. Kemudian shalat dilanjutkan dengan ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam. 5. Mendengarkan Khutbah Idul Adha Setelah shalat selesai, jamaah dianjurkan tetap berada di tempat untuk menyimak khutbah Idul Adha hingga selesai. Khutbah menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah Hari Raya Idul Adha sebagai sarana memperkuat ketakwaan, persaudaraan, serta memahami makna pengorbanan dan keikhlasan. Namun, ketentuan mendengarkan khutbah ini tidak berlaku apabila shalat Id dilaksanakan secara sendiri di rumah.
ARTIKEL19/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Kurban Digital: Tren Baru Ibadah di Era Modern
Kurban Digital: Tren Baru Ibadah di Era Modern
Di zaman yang serba modern dan pemanfaatan teknologi yang semakin pesat, semua serba mudah terutama bagi umat Islam dalam menjalankan berbagai ibadah, termasuk kurban. Kehadiran kurban digital indonesia menjadi salah satu inovasi modern yang membantu masyarakat menunaikan ibadah kurban secara praktis, aman, dan tetap sesuai syariat Islam. Melalui platform digital, proses pemilihan hewan kurban, pembayaran, hingga distribusi daging dapat dilakukan hanya melalui smartphone atau komputer. Fenomena kurban digital indonesia berkembang pesat sejak masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan digital dalam kehidupan sehari-hari. Selain memudahkan proses transaksi, sistem ini juga membantu distribusi hewan kurban menjadi lebih merata hingga ke pelosok negeri, daerah bencana, bahkan wilayah konflik seperti Palestina. Dalam pandangan Islam, kemajuan teknologi sejatinya dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ibadah. Selama prosesnya tetap memenuhi syariat, penggunaan teknologi dalam ibadah kurban justru menjadi langkah bijak dalam mempermudah umat untuk berbuat kebaikan. Karena itu, tren digitalisasi kurban perlu dipahami sebagai bagian dari kemajuan peradaban umat Islam di era modern. Apa Itu Kurban Digital? Kurban Digital merupakan sistem pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan secara online melalui platform digital. Melalui layanan ini, masyarakat dapat memilih hewan kurban, melakukan pembayaran, hingga memperoleh laporan pendistribusian daging tanpa perlu datang langsung ke tempat penjualan hewan kurban. Konsep kurban digital hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang memiliki aktivitas padat dan mobilitas tinggi. Banyak umat Islam, khususnya di wilayah perkotaan, merasa kesulitan menemukan hewan kurban yang sehat, sesuai syariat, dan terpercaya. Dengan adanya layanan digital, proses berkurban menjadi lebih mudah, cepat, dan praktis. Tidak hanya memberikan kemudahan dalam transaksi, layanan kurban digital juga menawarkan transparansi yang lebih baik. Pekurban dapat memperoleh dokumentasi proses penyembelihan serta penyaluran daging kepada penerima manfaat. Hal ini membuat masyarakat merasa lebih aman dan yakin dalam menjalankan ibadah kurban. Di Indonesia, sejumlah lembaga Islam seperti Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS telah menghadirkan program kurban digital melalui website, marketplace, aplikasi mobile, hingga layanan perbankan digital. Sistem pembayaran pun kini semakin beragam dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Kehadiran kurban digital di Indonesia menunjukkan bahwa ajaran Islam mampu mengikuti perkembangan teknologi dan zaman tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip syariat yang berlaku. Mengapa Kurban Digital Semakin Diminati? Ada berbagai alasan yang membuat kurban digital di Indonesia semakin diminati oleh masyarakat Muslim. Salah satu faktor utamanya adalah kemudahan akses. Dengan layanan berbasis online, umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban kapan saja dan dari mana saja tanpa perlu mendatangi tempat penjualan hewan secara langsung. Alasan lainnya adalah tingkat transparansi yang lebih baik. Banyak platform kurban digital menyediakan laporan lengkap berupa foto, video, hingga informasi penyaluran daging kurban. Hal tersebut memberikan rasa tenang kepada pekurban karena ibadah yang dilakukan dapat dipastikan berjalan sesuai amanah. Selain mempermudah proses transaksi, sistem digital juga membantu pemerataan distribusi daging kurban. Selama ini, penyaluran kurban sering terpusat di daerah perkotaan. Melalui platform digital, distribusi dapat diarahkan ke wilayah terpencil, desa kurang mampu, maupun daerah yang sedang terdampak bencana. Sebagai contoh, BAZNAS Kabupaten Tulungagung menghadirkan program “Kurban Berkah BAZNAS” yang memungkinkan masyarakat menunaikan kurban melalui layanan digital maupun kasir ritel. Program tersebut bertujuan memperluas manfaat kurban hingga ke pelosok sekaligus mendukung pemberdayaan peternak kecil di pedesaan. Di samping itu, generasi muda Muslim saat ini sudah sangat terbiasa menggunakan layanan transaksi digital. Oleh karena itu, kurban digital menjadi pilihan yang sesuai dengan gaya hidup modern tanpa menghilangkan makna dan nilai utama dari ibadah kurban. Keunggulan Kurban Digital bagi Umat Islam Salah satu manfaat utama dari kurban digital adalah penghematan waktu dan tenaga. Masyarakat tidak perlu lagi pergi ke pasar hewan atau tempat penjualan kurban yang biasanya padat dan membutuhkan waktu cukup lama. Selain itu, sistem pembayaran yang ditawarkan juga semakin praktis. Berbagai platform kini menyediakan banyak pilihan pembayaran, mulai dari transfer bank, e-wallet, QRIS, layanan fintech, hingga marketplace. Kemudahan ini membuat ibadah kurban dapat diakses oleh lebih banyak kalangan masyarakat. Kurban digital juga berperan dalam pemerataan distribusi daging kurban. Banyak lembaga sosial menyalurkan daging ke daerah-daerah yang jarang menerima kurban, termasuk wilayah dengan jumlah Muslim yang sedikit serta daerah yang sedang mengalami bencana. Di sisi lain, kurban digital turut mendukung penguatan ekonomi masyarakat. Hewan kurban yang disediakan umumnya berasal dari peternak lokal. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari ibadah kurban dapat dirasakan langsung oleh para peternak dan masyarakat kecil. Hukum Kurban Digital dalam Islam Sebagian umat Islam masih mempertanyakan bagaimana hukum kurban secara digital menurut syariat Islam. Pada dasarnya, Islam memperbolehkan adanya sistem perwakilan atau wakalah dalam pelaksanaan ibadah kurban. Melalui konsep wakalah, seseorang dapat menyerahkan proses pembelian hewan, penyembelihan, hingga pendistribusian daging kurban kepada lembaga yang terpercaya, asalkan seluruh pelaksanaannya tetap sesuai dengan aturan syariat Islam. Dalam hal ini, platform digital hanya berfungsi sebagai sarana transaksi dan penghubung antara pekurban dan pihak penyelenggara kurban. Hal yang paling penting ialah memastikan hewan kurban memenuhi syarat yang ditetapkan dalam Islam, proses penyembelihan dilakukan sesuai ketentuan syariat, serta penyaluran daging diberikan kepada pihak yang berhak menerima. Karena itu, masyarakat dianjurkan memilih lembaga yang memiliki reputasi baik dan dapat dipercaya. BAZNAS Kabupaten Tulungagung juga menegaskan bahwa pengelolaan kurban dilaksanakan berdasarkan prinsip 3A, yaitu Aman Syari, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Prinsip tersebut diterapkan agar pelaksanaan kurban tetap sesuai hukum Islam sekaligus dikelola secara profesional dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kurban digital dapat menjadi alternatif modern yang tetap sah secara syariat dan memiliki nilai ibadah selama seluruh prosesnya memenuhi ketentuan Islam. Peran Teknologi dalam Pengembangan Kurban Digital Teknologi memegang peranan penting dalam perkembangan kurban digital di Indonesia. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, pelaksanaan ibadah kurban kini menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Melalui platform digital, umat Islam dapat memilih hewan kurban sesuai kebutuhan dan kemampuan ekonomi mereka. Informasi mengenai harga, bobot hewan, hingga wilayah pendistribusian pun tersedia secara terbuka sehingga prosesnya lebih transparan. Selain mempermudah transaksi, teknologi juga mendukung sistem dokumentasi dan pelaporan yang lebih modern. Pekurban dapat menerima laporan penyembelihan secara langsung melalui email maupun WhatsApp, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyelenggara semakin meningkat. Tips Memilih Layanan Kurban Digital yang Terpercaya Dalam menentukan layanan kurban digital di Indonesia, umat Islam sebaiknya memperhatikan kredibilitas lembaga penyelenggara. Pastikan lembaga tersebut memiliki izin resmi serta rekam jejak yang baik dalam pengelolaan dan penyaluran hewan kurban. Pilihlah platform yang memberikan informasi lengkap mengenai jenis hewan kurban, harga, proses penyembelihan, hingga wilayah distribusi daging. Keterbukaan informasi menjadi salah satu tanda bahwa lembaga tersebut dapat dipercaya. Selain transparansi informasi, penting juga untuk memastikan adanya laporan dokumentasi setelah pelaksanaan kurban selesai. Dokumentasi tersebut menjadi bentuk tanggung jawab lembaga kepada para pekurban. Masyarakat juga disarankan memilih lembaga yang memiliki program pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, ibadah kurban tidak hanya bernilai ibadah secara spiritual, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam berbagai pembahasan di kalangan Muslim Indonesia, lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat sering dinilai lebih terpercaya karena menyediakan laporan distribusi serta dokumentasi kurban kepada para donatur. Masa Depan Kurban Digital di Indonesia Seiring perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, kurban digital di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami perkembangan pesat. Digitalisasi dalam ibadah bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam masa kini. Di masa mendatang, layanan kurban digital kemungkinan akan semakin terhubung dengan teknologi seperti kecerdasan buatan, blockchain, dan sistem pelacakan distribusi secara real-time. Inovasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat transparansi dalam proses pelaksanaan kurban. Selain itu, program pemberdayaan peternak lokal diperkirakan akan semakin diperluas. Konsep kurban berbasis pengembangan desa dapat menjadi solusi ekonomi yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Bagi umat Islam, hadirnya kurban digital Indonesia menjadi kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan lebih praktis sekaligus memperluas dampak sosial bagi sesama. Teknologi bukanlah hambatan dalam beribadah, melainkan sarana untuk mempererat solidaritas dan kepedulian antarumat. Pada akhirnya, makna utama ibadah kurban tetap terletak pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Dengan memanfaatkan teknologi secara tepat, umat Islam dapat menjadikan ibadah kurban lebih bermanfaat dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia. Melalui BAZNAS Tulungagung, kurban Anda akan dikelola secara amanah dan disalurkan hingga ke masyarakat di daerah terpencil. Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Salurkan kurban Anda melalui BAZNAS Tulungagung. Klik Disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL12/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban
Idhul adha bukan sekedar perayaan ritual penyembelihan hewan, melainkan momen agung untuk menguji ketundukan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ibadah kurban merupakan salah satu syiar islam yang memiliki kedudukan istimewa, terpatri dalam sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS, dan putranya, Nabi Ismail AS, yang rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Secara bahasa kurban berarti dekat atau mendekatkan diri, yang secara istilah dimaknai sebagai penyembelih hewan ternak tertentu pada waktu yang ditentukan dengan niat ibadah semata demi meraih ridho Nya. Ibadah ini bukan hanya tentang tindakan fisik menyembelih hewan, tetapi lebih dalam tentang meneladani sikap ikhlas dan tawadhu. Nabi Ibrahim AS tidak menunjukkan keraguan sedikitpun meskipun perintah yang datang menyangkut sesuatu yang paling berharga baginya. Begitu pula bagi kita, kurban adalah bentuk pengorbanan harta dan rasa cinta duniawi demi kebaikan yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira pada orang-orang yang muhsin. Dibalik pelaksanaannya, terdapat hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik secara spiritual maupun sosial. Secara agama, kurban menjadi sarana pahala yang besar dan membuka pintu pengampunan dosa dimana Rasulullah SAW bersabda bahwa Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari itu selain menumpahkan darah hewan kurban, yang kelak akan datang membawa pahala bagi pemiliknya di hari kiamat. Lebih dari itu daging kurban menjadi jembatan yang mempererat ukhuwah dna silaturrhami antar warga, menghapus sekat-sekat sosial, serta menciptakan rasa persaudaraan yang erat. Pembagian daging yang dilakukan dengan bijak, baik untuk keluarga sendiri, kerabat, maupun mereka yang membutuhkan, menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang menjadi ruh dari tugas pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat. BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai mitra terpercaya umat dalam menyalurkan ibadah kurban dengan penuh tanggung jawab. Dengan menitipkan hewan kurban melalui BAZNAS, anda memastikan penyaluran yang tepat sasaran kepada yang berhak menerima, dikelola secara profesional, transparan, dan sesuai syariat. Setiap daging yang disalurkan akan diampaikan ketangan kaum mustahik, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan. Mari menjadikan momen idhul adha tahun ini sebagai kesempatan emas untuk melipat gandakan amal shaleh, dimana satu hewan kurban yang anda tunaikan menjadi sumber kebahagiaan bagi banya keluraga dan menjadi bekal amal jariyah yang pahalanya tak akan pernah terputus. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu dermawan serta bertakwa.
ARTIKEL06/05/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Asal Bagi! Ini Aturan Pembagian Daging Kurban dalam Islam
Jangan Asal Bagi! Ini Aturan Pembagian Daging Kurban dalam Islam
Ibadah kurban sering dipahami sebatas menyembelih hewan pada Hari Raya Iduladha. Padahal, esensi kurban tidak berhenti di proses penyembelihan saja, tetapi juga pada bagaimana daging tersebut didistribusikan sesuai syariat. Dalam Islam, pembagian daging kurban adalah bagian penting dari ibadah itu sendiri. Artinya, kurban bukan sekadar ritual, tetapi juga harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Ayat ini menjadi dasar bahwa daging kurban tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada yang membutuhkan. Kurban Bukan Hanya Menyembelih Setelah hewan disembelih, tanggung jawab berikutnya adalah memastikan daging sampai kepada yang berhak. Inilah yang sering luput dari perhatian. Islam mengajarkan bahwa daging kurban dianjurkan untuk dibagi menjadi tiga bagian: 1. Untuk diri sendiri dan keluarga Orang yang berkurban boleh menikmati sebagian daging sebagai bentuk syukur. Namun, bagian ini tidak boleh diperjualbelikan dalam bentuk apa pun, termasuk bagian seperti kulit atau jeroan. 2. Untuk kerabat atau tetangga Daging juga dianjurkan untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat sebagai wujud mempererat hubungan sosial. Penerimanya tidak harus dari kalangan tidak mampu, selama tujuannya adalah berbagi kebahagiaan. 3. Untuk fakir miskin Inilah bagian yang paling utama. Daging kurban harus disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa imbalan apa pun, agar benar-benar memberi manfaat dan menghadirkan kebahagiaan di hari raya. Pembagian ini tidak bersifat wajib secara kaku, namun para ulama sepakat bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas utama. Aturan Penting dalam Pembagian Daging Kurban Agar ibadah kurban sesuai dengan syariat, berikut beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan: Daging kurban tidak boleh diperjualbelikan Tidak boleh dijadikan sebagai upah bagi panitia penyembelih Sebaiknya dibagikan dalam kondisi mentah Pembagian harus adil dan tidak pilih kasih Mematuhi aturan ini penting agar kurban tidak hanya sah, tetapi juga bernilai ibadah secara sempurna. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana dagingnya didistribusikan dengan benar. Jangan sampai ibadah yang sudah baik justru berkurang nilainya karena pembagian yang tidak sesuai. Pastikan daging kurban disalurkan dengan tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh yang berhak. Wujudkan Kurban yang Tepat Sasaran dan Penuh Manfaat Menunaikan ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga memastikan distribusinya sampai kepada yang benar-benar membutuhkan. Melalui BAZNAS Tulungagung, kurban Anda akan dikelola secara amanah dan disalurkan hingga ke masyarakat di daerah terpencil. Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Salurkan kurban Anda melalui BAZNAS Tulungagung. Klik Disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/bayarzakat
ARTIKEL27/04/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan sederhana: membantu atau mengabaikan. Padahal, dari pilihan kecil itulah lahir dampak besar, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Ketika kita memilih untuk memudahkan urusan orang lain, sejatinya kita sedang membuka jalan kemudahan untuk hidup kita sendiri. Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Dalam ajaran Islam, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai di sisi Allah SWT. Bahkan, kebaikan tersebut bisa menjadi sebab datangnya pertolongan dan kemudahan yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist: "Barang siapa memudahkan kesulitan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu orang lain bukan hanya tentang kepedulian sosial, tetapi juga merupakan investasi amal yang berdampak besar bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Memudahkan urusan orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membantu secara tenaga, memberikan dukungan moral, hingga berbagi rezeki melalui sedekah. Tak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berbuat kebaikan. Justru, langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas sering kali menjadi awal dari perubahan besar. Senyuman, bantuan sederhana, atau uluran tangan di saat yang tepat bisa menjadi penyelamat bagi seseorang. Salah satu cara nyata untuk menebarkan kebaikan adalah melalui sedekah. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban sesama, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam hidup. Mari mulai dari hari ini, dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ringankan langkah, bantu sesama, dan tebarkan kebaikan tanpa menunda. Salurkan sedekah terbaik kita melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung sebagai wadah amanah untuk membantu mereka yang membutuhkan: Link: https://kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah BSI 7137892051BRI 011001030166530 Karena sejatinya, saat kita memudahkan orang lain, Allah SWT sedang menyiapkan kemudahan untuk kita.
ARTIKEL31/03/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Bulan Ramadhan adalah suatu moment yang penuh keberkahan yang mengajarkan umat islam untuk terus meningkatkan kepedulian sosial serta semangat berbagi. Salah satu amalan yang mudah tapi memiliki keutamaan besar ialah memberi makan kepada orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda "bahwa siapa saja yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang menjalankannya". Oleh karena itu, memberi makan kepada orang yang berpuasa bukan sekedar bentuk kebaikan sosial, melainkan juga ladang pahala yang luar biasa di sisi Allah SWT. 5 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa Ada beberapa keutamaan memberi makan buka puasa. Ini juga termasuk bagi yang membantu atau menjadi panitia buka puasa karena termasuk dalam orang yang menolong dalam kebaikan. 1. Memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Artinya: "Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no.807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5:192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) 2. Menggabungkan Shalat, puasa dan sedekah dapat mengantarkan pada ridha Allah. Ibnu Rajab Al-Hamdali rahimahullah karenanya menyatakan, "Puasa, shalat dan sedekah mengantarkan orang yang mengamalkannya pada Allah. Sebagian salaf sampai berkata, 'Shalat mengantarkan seseorang pada separuh jalan. Puasa mengantarkannya pada pintu raja. Sedekah nantinya akan mengambilnya dan mengantarnya pada raja." (Lathaif Al-Ma'arif, hlm.298) 3. Sedekah akan menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Artinya: "Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia." (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini Shahih) 4. Sedekah akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Artinya: "Sedekah itu dapat meredam murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek." (HR. Trimidzi, no. 664. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini Dha'if) 5. Sedekah akan menghapus dosa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Artinya: "Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api." (HR. Trimidzi, no. 2616; Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir menatakan bahwa sanad hadits ini Hasan) Klik Disini -> Bayar Sedekah Makan Untuk Orang Berpuasa
ARTIKEL19/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit
Saat kebanyakan orang masih terlelap dalam sisa kantuk malam, ada segelintir hamba yang telah terjaga, menunduk dalam doa, dan menyelipkan kebaikan di antara dinginnya udara subuh. Mereka bukan sekadar mengejar pahala, tetapi mengetuk pintu langit dengan sedekah di waktu yang paling mulia. Fenomena “sedekah subuh” belakangan semakin menggema di tengah masyarakat. Bukan karena tren, melainkan karena keyakinan akan keutamaannya yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Di balik kesederhanaannya, sedekah di waktu fajar menyimpan janji keberkahan yang luar biasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261) Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keluasan karunia Allah. Sedekah tidak mengurangi harta, justru menjadi “investasi akhirat” yang berkembang berkali-kali lipat. Jika dilakukan dengan ikhlas, Allah akan menumbuhkannya menjadi keberkahan dunia dan pahala akhirat. Doa Para Malaikat di Waktu Subuh Keutamaan sedekah subuh semakin kuat dengan hadis Nabi ? "Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.’ Dan yang lain berdoa: ‘Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir."(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah di pagi hari terlebih di waktu subuh memiliki posisi istimewa. Bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga “mengaktifkan” doa para malaikat yang mustajab di sisi Allah. Mengapa subuh? Subuh adalah waktu peralihan antara gelap dan terang, antara sunyi dan kehidupan. Di saat itulah hati paling jernih, niat paling tulus, dan doa paling khusyuk. Sedekah di waktu ini bukan sekadar memberi, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah — meyakini bahwa rezeki datang dari-Nya, bukan dari dompet kita. Para ulama menyebut waktu subuh sebagai waqtul barakah (waktu keberkahan). Pada jam-jam ini, hiruk-pikuk dunia belum mengambil alih kesadaran manusia. Tidak ada kebisingan pasar, tidak ada riuhnya pekerjaan, tidak ada gangguan layar ponsel. Yang ada hanya keheningan, zikir, dan bisikan iman. Karena itulah, sedekah yang dilakukan di waktu subuh cenderung lebih murni lahir bukan dari pamer atau dorongan sosial, tetapi dari keikhlasan hati. Sedekah subuh tidak menuntut nominal besar. Bisa berupa uang, makanan untuk tetangga, memberi makan kucing jalanan, atau bahkan membantu orang yang membutuhkan. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan konsistensi. Maka, mari kita jadikan fajar bukan hanya waktu untuk bangun, tetapi waktu untuk memberi. Sisipkan kebaikan sebelum aktivitas dunia menyibukkan hati kita. Mulailah hari dengan sedekah, agar Allah memulai hari kita dengan keberkahan. Bayangkan: ketika matahari belum terbit, namamu sudah disebut oleh malaikat dalam doa kebaikan. Ketika orang lain masih tertidur, catatan amalmu sudah bertambah. Dan ketika rezeki menghampirimu, itu bukan kebetulan itu janji Allah yang terwujud. Mari hidupkan sedekah subuh. Bukan karena kita punya banyak, tetapi karena kita percaya kepada Yang Maha Memberi. Sebab, tangan yang memberi di subuh hari, kelak akan dipeluk rahmat-Nya di hari kemudian.
ARTIKEL05/02/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Tau gak? Amalan sedekah itu kayak Memancing Datangnya Rezeki loh..
Tau gak? Amalan sedekah itu kayak Memancing Datangnya Rezeki loh..
Dalam sedekah, umpannya adalah ikhlas dan kailnya adalah keyakinan. Saat kita mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah, sejatinya kita sedang menanam kebaikan. Kita tidak sedang “kehilangan”, melainkan menitipkan rezeki kepada Pemilik segala rezeki. Soal hasil dan balasannya, biarlah Allah yang mengatur dengan cara dan waktu terbaik menurut-Nya. Tidak semua sedekah langsung terasa balasannya. Kadang “strike”-nya memang tidak instan. Namun ketika rezeki itu datang, sering kali hasilnya justru berlipat. Balasan sedekah tidak selalu berupa uang atau materi, tetapi bisa hadir dalam bentuk keberkahan hidup, ketenangan hati, kesehatan, kemudahan urusan, bahkan rezeki dari arah yang sama sekali tidak kita duga. Dengan bersedekah, kita belajar berbagi sekaligus menumbuhkan harapan akan kebaikan dari Allah SWT. Harta yang dikeluarkan tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan dalam kehidupan. Saat kita memberi dengan ikhlas, sejatinya kita sedang menanam kebaikan. Balasannya mungkin tidak langsung kita rasakan, tetapi Allah SWT selalu mengembalikannya dengan cara terbaik datang perlahan, namun kembali berlipat dalam keberkahan dan rezeki yang tak disangka-sangka. Selain itu, sedekah juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Melalui lembaga resmi seperti BAZNAS, sedekah disalurkan secara tertib dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Mari salurkan sedekah terbaik kita melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung: kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah BSI 7137892051 BRI 011001030166530 Ayo bersedekah hari ini, dan biarkan keberkahan datang menyusul.
ARTIKEL05/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Tips Khatam Al-Qur’an ala Ramadhan Produktif
Tips Khatam Al-Qur’an ala Ramadhan Produktif
Bulan suci Ramadhan merupakan momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat kedekatan dengan Allah SWT. Salah satu amalan utama pada bulan penuh keberkahan ini adalah memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Ramadhan yang produktif tidak hanya diukur dari kesibukan aktivitas, tetapi dari kemampuan memanfaatkan waktu untuk menjalankan ibadah yang bernilai. Menghatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan dapat dilakukan dengan perencanaan yang baik dan niat yang tulus. Penetapan target khatam sejak awal membantu mengatur waktu membaca Al-Qur’an secara terarah dan sesuai kemampuan, sehingga tilawah dapat dilakukan secara konsisten tanpa terasa memberatkan. Produktivitas Ramadhan juga dapat dibangun dengan memanfaatkan waktu di sekitar pelaksanaan salat wajib. Target khatam Al-Qur’an dapat dicapai dengan membagi bacaan di setiap waktu salat. Untuk 1x khatam, cukup membaca 4 halaman setiap selesai salat. Untuk 2x khatam, membaca 8 halaman, dan untuk 3x khatam membaca 12 halaman di setiap waktu salat. Pola ini membantu menjaga kesinambungan tilawah harian sekaligus membiasakan diri berinteraksi dengan Al-Qur’an. Konsistensi dalam membaca, meskipun dalam jumlah terbatas, lebih utama dibandingkan membaca banyak namun tidak berkelanjutan. Ramadhan produktif adalah Ramadhan yang diisi dengan amalan yang mendatangkan pahala dan keberkahan. BAZNAS mengajak masyarakat menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperkuat kedekatan dengan Al-Qur’an agar nilai-nilai kebaikan terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL04/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Jelang Ramadhan 1447 H, Bagaimana Aturan Pembayaran Fidyah bagi Ibu Hamil Menurut Ulama?
Jelang Ramadhan 1447 H, Bagaimana Aturan Pembayaran Fidyah bagi Ibu Hamil Menurut Ulama?
Sebentar lagi datangnya bulan suci Ramadhan 1477 H, umat Muslim mulai mempersiapkan diri, tidak hanya meningkatkan ibadah tetapi juga menyelesaikan kewajiban yang tertunda, termasuk utang puasa. Islam memberikan keringanan bagi lansia, orang sakit menahun, serta ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Bagi yang tidak mampu menggantinya di lain waktu, fidyah menjadi solusi yang disyariatkan. Bagi ibu hamil, keringanan ini berlaku ketika puasa dikhawatirkan membahayakan diri sendiri atau janin. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan tidak memberatkan hamba-Nya. Pendapat Ulama tentang Fidyah bagi Ibu Hamil Para ulama memiliki perbedaan pandangan terkait kewajiban qadha dan fidyah bagi ibu hamil yang tidak menjalankan puasa Ramadan. Perbedaan ini didasarkan pada alasan ibu hamil tersebut meninggalkan puasa. - Mazhab Hanafi: Ibu hamil wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan tanpa perlu membayar fidyah. - Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali: Jika ibu hamil khawatir terhadap janinnya, ia wajib membayar fidyah dan mengqadha puasa. - Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: Jika ibu hamil tidak berpuasa karena khawatir pada janinnya, cukup membayar fidyah tanpa perlu mengqadha. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, umat Islam dianjurkan untuk mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan kondisi pribadi serta arahan ulama setempat. Selain itu, konsultasi dengan tenaga medis juga dianjurkan guna memastikan kondisi kesehatan ibu dan janin sebelum memutuskan untuk berpuasa atau meninggalkannya. Cara Menunaikan Fidyah bagi Ibu Hamil Fidyah dibayarkan dengan memberi makan fakir miskin sebagai pengganti puasa yang tidak dapat dijalankan. Setiap satu hari puasa yang ditinggalkan diganti dengan makanan pokok, seperti beras, sesuai ketentuan syariat. Fidyah bisa diberikan dalam bentuk beras, makanan siap makan, atau uang senilai makanan tersebut, selama manfaatnya sama dan tepat sasaran. Jika seorang ibu hamil meninggalkan puasa selama satu bulan penuh, maka fidyahnya setara dengan memberi makan 30 orang miskin. Penyalurannya bisa dilakukan langsung atau melalui lembaga zakat. Pembayaran Fidyah Lewat BAZNAS Kabupaten Tulungagung Kini, menunaikan fidyah tidak lagi ribet. Melalui layanan digital, BAZNAS Kabupaten Tulungagung memudahkan masyarakat untuk membayar fidyah secara resmi, aman, dan sesuai ketentuan syariat. Pembayaran fidyah bisa dilakukan secara online tanpa harus datang langsung. Prosesnya sederhana dan bisa diakses kapan saja, sehingga memudahkan siapa pun yang ingin menunaikan kewajiban ibadah dengan tenang. Cara membayar fidyah secara online: 1. Akses website resmi kabtulungagung.baznas.go.id/bayarzakat. 2. Ubah pilihan jenis dana menjadi fidyah, lalu ikuti langkah pembayaran yang tersedia. Fidyah yang terkumpul akan disalurkan oleh BAZNAS Kabupaten Tulungagung kepada penerima yang berhak secara tepat sasaran dan amanah.
ARTIKEL03/02/2026 | Humas BASNAZ Tulungagung
Menuju Ramadan: Saatnya Bersih-Bersih Hati dan Perbaiki Diri
Menuju Ramadan: Saatnya Bersih-Bersih Hati dan Perbaiki Diri
Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang dinanti - nanti seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Bulan Suci Ramadhan diibarat musim hujan yang dinanti setelah kemarau panjang datangnya membawa berkah, menenangkan hati, dan memberi harapan baru. Tapi ada satu hal penting: Ramadhan bukan sekadar datang. ia harus disambut. Sebab bulan suci ini bukan hanya soal menahan lapar, melainkan soal menata ulang hidup. Maka, sebelum Ramadhan benar-benar mengetuk pintu, kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Bukan hanya membeli kurma, sirup, bahkan baju baru untuk lebaran tetapi juga membenahi hati, memperbaiki kebiasaan, dan menyusun target ibadah. Karena Ramadan hanya sebulan, namun dampaknya bisa seumur hidup. Apa saja Yang Harus Dipersiapkan Untuk Menyambut Bulan Suci Ramadhan? 1. Bayar Hutang Puasa Salah satu bentuk persiapan penting menjelang Ramadan yang sering terlupakan adalah membayar hutang puasa (qadha) dari Ramadhan sebelumnya. Hutang puasa biasanya terjadi karena adanya udzur syar’i, seperti sakit, haid atau nifas, hamil atau menyusui, serta kondisi perjalanan jauh yang membuat seseorang tidak mampu berpuasa. Karena puasa yang ditinggalkan merupakan kewajiban, maka menggantinya juga menjadi tanggung jawab yang tidak boleh dianggap sepele. Menyelesaikan qadha puasa sebelum Ramadhan datang akan membuat hati lebih tenang, karena kita menyambut bulan suci tanpa membawa “beban ibadah” yang tertunda. Namun apabila seseorang tidak sanggup membayar hutang puasa dengan berpuasa, Allah SWT memberikan keringanan kita dapat melunasinya dengan membayar fidyah untuk memberi makan orang miskin. seperti dijelaskan dalam ayat berikut; “Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. al-Baqarah: 184)" 2. Meningkatkan Kualitas Ibadah Meningkatkan kualitas ibadah adalah persiapan terbaik sebelum menuju bulan Ramadan, agar hati dan diri kita lebih siap dalam menjalankan berbagai amalan di bulan suci. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta menambah kedekatan melalui ibadah yang lebih teratur dan bermakna. Karena itu, persiapan sejak sekarang sangat penting agar ketika Ramadan tiba, kita tidak merasa “kaget” dengan ritme ibadah yang meningkat, melainkan sudah terbiasa dan mampu menjalankannya dengan lebih ringan dan istiqamah. Salah satu cara terbaik adalah membiasakan ibadah sunnah, seperti shalat dhuha, qiyamul lail, dan tilawah Al-Qur’an secara rutin. Shalat dhuha melatih disiplin dan menambah rasa syukur di awal hari. Qiyamul lail membentuk keikhlasan serta memperkuat hubungan kita dengan Allah, terutama saat berdoa di waktu yang tenang. Sementara tilawah rutin membuat kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, sehingga lebih siap meraih target ibadah di bulan Ramadan. Jika amalan-amalan ini dilatih sejak sekarang, maka Ramadhan akan terasa lebih mudah dijalani dan lebih bermakna. Kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus akan membantu kita meraih Ramadhan yang penuh keberkahan dan meningkatkan kualitas keimanan. 3. Memperbanyak Saling Memaafkan Kepada Sesama Memaafkan satu sama lain juga menjadi langkah penting dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Dengan saling memaafkan, hati terasa lebih ringan karena kita tidak lagi menyimpan beban emosi, dendam, atau kesalahpahaman yang mungkin selama ini mengganggu ketenangan batin. Ramadan adalah bulan yang penuh ampunan dan keberkahan, sehingga akan lebih indah jika kita memasukinya dengan hati yang bersih dan lapang. Saling memaafkan juga mempererat hubungan antar sesama, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan sekitar. Ketika kita berani meminta maaf dan memaafkan, hubungan yang sempat renggang bisa kembali hangat dan harmonis. Suasana menjadi lebih nyaman, penuh kasih sayang, dan membuat kita lebih mudah fokus menjalankan ibadah, tanpa perasaan tidak enak atau beban dalam hati. Selain itu, memaafkan adalah bentuk latihan keikhlasan dan kedewasaan dalam diri. Kita belajar menerima bahwa setiap manusia bisa berbuat salah, dan memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi menunjukkan kebesaran hati untuk melepaskan hal yang menyakitkan. Dengan begitu, kita dapat menjalani Ramadhan dengan lebih tenang, damai, dan khusyuk, karena ibadah yang dilakukan pun berasal dari hati yang lebih bersih dan tulus. 4. Menjaga Kesehatan Kesehatan fisik dan mental menjadi bagian penting dalam menyambut Ramadhan, karena tubuh yang sehat akan membuat ibadah lebih lancar. Menjaga pola makan yang seimbang sejak sebelum Ramadhan membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan jadwal makan saat puasa. Mulailah mengurangi makanan berminyak dan berlebihan, perbanyak sayur, buah, serta minum air putih yang cukup agar tubuh tetap kuat. Selain pola makan, kebiasaan hidup sehat seperti olahraga ringan dan istirahat yang cukup juga perlu diperhatikan. Olahraga tidak harus berat, cukup dengan jalan kaki, stretching, atau aktivitas sederhana yang membuat tubuh tetap aktif. Dengan tubuh yang bugar, kita akan lebih mudah menjalankan ibadah seperti tarawih, tadarus, dan kegiatan positif lainnya tanpa cepat lelah. Tidur yang cukup juga membantu menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan fokus, sehingga aktivitas harian tetap lancar meskipun sedang berpuasa. Jika persiapan fisik ini dilakukan sejak awal, Ramadan akan terasa lebih ringan dan produktif Dari sisi mental, latih kesabaran dan kendalikan emosi sejak sekarang. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari amarah, menjaga lisan, dan menghindari perilaku negatif. Dengan mental yang tenang, Ramadan bisa dijalani dengan lebih nyaman, khusyuk, dan penuh keberkahan. 5. Susunan Target dan Strategi Menjelang Ramadan, menyusun target ibadah dan strategi untuk meraih pahala sangat dianjurkan. Dengan adanya tujuan yang jelas, kita bisa lebih terarah dalam memaksimalkan setiap kesempatan kebaikan di bulan suci ini, mulai dari menjaga salat, memperbanyak tilawah, hingga meningkatkan sedekah dan amal sosial. Selain itu, perencanaan yang matang juga membantu kita lebih disiplin, konsisten, dan tidak mudah lalai, sehingga Ramadan dapat dijalani dengan lebih fokus, produktif, serta penuh keberkahan dan keutamaan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya.” (H.R. al-Baihaqi). Rasulullah SAW juga senantiasa memotivasi para sahabatnya agar saling berlomba dalam melakukan kebaikan dan memperbanyak amal saleh demi meraih pahala yang berlimpah. Tidak hanya itu, beliau juga menekankan pentingnya memperbanyak doa, memohon pertolongan, dan meminta kemudahan kepada Allah SWT agar diberi kekuatan serta keistiqamahan dalam menjalankan berbagai ibadah, terutama ketika memasuki bulan suci. Segala bentuk persiapan tersebut dianjurkan karena Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat, keberkahan, serta peluang besar bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ramadan menjadi momen terbaik untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kualitas ibadah, baik secara pribadi maupun sosial. Oleh sebab itu, mari kita memanfaatkan waktu sebelum datangnya bulan suci ini dengan sebaik mungkin, memperbaiki niat, menata kembali kebiasaan ibadah, serta mempersiapkan hati dan diri agar Ramadhan dapat dijalani dengan lebih maksimal dan penuh keberkahan. Mari Bersedekah Ramadan bukan hanya menahan lapar, tapi juga momen terbaik untuk berbagi dan menjemput pahala berlipat ganda. Yuk, hidupkan Ramadan dengan zakat, infak, dan sedekah, karena kebaikan kecil yang kita keluarkan bisa jadi jawaban doa orang lain dan penyelamat kita kelak. Mulai dari yang sederhana: infak harian, sedekah berbuka, atau tunaikan zakat melalui lembaga terpercaya. Ramadhan cuma sebulan, tapi pahala dan berkahnya bisa seumur hidup. Ayo berbagi sekarang!
ARTIKEL22/01/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim
Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim
Isra’ Mi'raj merupakan peristiwa yang istimewa dalam agama Islam, yaitu dimana Allah SWT memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW yaitu berupa perjalanan yang mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta. Kisah Singkat Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada periode Mekkah, ketika Rasulullah SAW sedang berada dalam masa sulit yang disebut Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib. Di tengah duka tersebut, Allah SWT menghibur beliau dengan sebuah perjalanan agung. Dalam Suatu malam nabi sedang tidur di dalam kamarnya, malaikat Jibril mengeluarkan hati Nabi dan mensucikannya, kemudian mengisi hati nabi dengan emas yang dipenuhi dengan iman dan setelah itu mengembalikannya seperti semula. Kemudian Malaikat Jibril membawa Rasulullah dengan menggunakan Buraq (makhluk surgawi yang langkah kakinya sejauh mata memandang). Nabi berangkat dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina). Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah sebagai imam bagi para Nabi dan Rasul terdahulu. Ini menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para nabi. Setelah dari Masjidil Aqsa, Nabi memulai perjalanan naik ke langit melewati tujuh lapis langit. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya, mulai dari Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Yahya AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS, hingga Nabi Ibrahim AS. Setelah itu nabi melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha Beliau terus naik hingga mencapai tempat tertinggi yang tidak bisa dilewati bahkan oleh Malaikat Jibril sekalipun. Di sinilah Nabi Muhammad SAW berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat 50 waktu dari Allah SWT. Saat turun, beliau bertemu Nabi Musa AS yang mengingatkan bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup melakukannya. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah berkali-kali kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan. Jumlahnya terus dikurangi hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu sehari semalam. Meski Nabi Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan lagi, Nabi Muhammad SAW menjawab: "Aku malu kepada Tuhanku, aku ridha dan pasrah". Keseluruhan perjalanan luar biasa ini terjadi hanya dalam waktu satu malam. Keesokan harinya, ketika Nabi menceritakan hal ini kepada kaum kafir Quraisy, banyak yang mengejek dan menganggapnya tidak masuk akal. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi orang pertama yang membenarkannya tanpa ragu sedikit pun, sehingga ia mendapat gelar Al-Shiddiq (yang membenarkan). Hikmah Spiritual Isra' Mi'raj Isra' Mi'raj merupakan sebuah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu Menuju sidratul Muntaha dalam satu malam peristiwa ini adalah bentuk penghiburan dari Allah kepada Nabi Muhammad setelah mengalami tahun kesedihan (Aam al - Huzn). 1. Memahami tanda - tanda kebesaran Allah Salah satu hikmah Isra Miraj adalah menyaksikan tanda kebesaran Allah SWT. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan wujud asli Malaikat Jibril yang memiliki 600 sayap hingga menutupi langit. Selain itu, Nabi juga diperlihatkan gambaran surga dan neraka serta berbagai keajaiban lainnya sebagai penguat keimanan akan hal-hal gaib. 2. Pentingnya kedudukan sholat Berbeda dengan ibadah lain (seperti zakat atau puasa) yang perintahnya turun melalui wahyu Malaikat Jibril di bumi, salat lima waktu diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi di Sidratul Muntaha. Ini menunjukkan bahwa salat adalah ibadah yang paling utama dan merupakan "jalur komunikasi" langsung antara hamba dengan Sang Pencipta. 3. Keseimbangan dunia dan akhirat Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (bumi) lalu ke Sidratul Muntaha (langit) mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan yaitu ?Hablum Minannas (Menjaga hubungan baik antar manusia di bumi) dan Hablum Minallah (Menjaga hubungan spiritual dengan Allah melalui salat). Jika Isra' Mi'raj merupakan tentang perjalanan spiritual, maka sedekah merupakan manifestasi keimanan ke bumi. Sebagaimana salat yang diterima saat Isra' Mi'raj berfungsi sebagai pembersih jiwa sedangkan sedekah untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan. Mari kita sebagai umat Muslim merenungi peristiwa istimewa Isra' Mi'raj untuk menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk sesama. Mari kita sempurnakan hubungan kita kepada Allah (Hablun Minallah) dengan melaksanakan salat dan memperbaiki Hablum minannas melalui zakat, sedekah, dan infaq.
ARTIKEL15/01/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta
Sebagian dari kita banyak yang masih ragu untuk memberikan sebagian harta kita kepada orang lain karena takut hartanya berkurang. Padahal jika kita memberi baik dalam bentuk harta atau waktu Allah justru memberikan lebih banyak kebaikan kepada kita baik dalam bentuk pahala, penghapusan dosa, atau rejeki yang berlimpah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist; “Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba sebab pengampunannya (bagi orang lain) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah angkat derajatnya,’” (HR Muslim). Hadist ini menjelaskan bahwa ketika kita bersedekah atau berzakat harta kita tidak akan berkurang, Allah justru akan memberikan keberkahan dan melipatgandakan harta yang kita miliki. Bersedekah juga merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan karena dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak, mendapatkan pahala dan penghapusan dosa, serta membuka pintu rejeki bagi orang – orang yang melakukan bersedekah. Secara logika matematika jika 10 dikurangi 1 maka akan menjadi 9. Namun berbeda dalam pandangan ilmu berbagi ketika 1 dikurangi 1 bisa menjadi 10, memberi bukan bentuk pengurangan harta melainkan bentuk investasi, ketika kita bersedekah sebenarnya kita sedang menanam benih kebaikan yang suatu hari nanti akan bertumbuh menjadi baik dalam bentuk ketenangan hati, kesehatan, atau bahkan terbukanya pintu rejeki yang tidak disangka sangka. Dari sini kita belajar bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Kita tidak perlu menunggu kaya untuk saling berbagi karena ketika kita bersedekan Allah akan mencukupkan kita dari arah yang tidak disangka – sangka dan ingatlah jika harta yang kita simpan mungkin akan hilang tetapi jika harta kita sedekahkan ini akan menjadi milik kita untuk selamanya dalam bentuk pahala dan kebaikan. Rahasia merasa cukup adalah bukan dengan kita menggenggam rapat rapat harta yang kita miliki tetapi dengan belajar untuk membagikan sebagian harta kita kepada orang lain karena sebagian harta kita juga merupakan hak orang lain. Mari kita menjadi bagian dari orang – orang yang mengukir kebahagiaan dengan memberi sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan. “YUK, BERSEDEKAH MULAI HARI INI ! KECIL BAGI KITA NAMUN BERARTI BAGI MEREKA”.
ARTIKEL13/01/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat
Hari Jum’at merupakan hari yang paling istimewa dibandingkan dengan hari-hari lain dalam sepekan. Dalam Islam, hari ini disebut sebagai Sayyidul Ayyam, yang artinya rajanya hari. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Jumat memiliki keutamaan yang begitu besar dan keberkahan yang melimpah bagi siapa pun yang menghidupkannya dengan ibadah dan kebaikan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.” Hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hari Jumat di sisi Allah. Ia bukan sekadar hari biasa, tetapi hari penuh sejarah, hari penuh peristiwa besar yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Karena kemuliaannya, hari Jumat bukan hanya tentang shalat berjamaah, tetapi juga tentang menghidupkan sunnah dan memperbanyak amalan. Setiap detiknya mengandung kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjemput keberkahan. 1. Mandi dan Berhias Sebelum Sholat Jum'at Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum melaksanakan shalat Jumat ialah mandi terlebih dahulu. Nabi Muhammad SAW yang menegaskan pentingnya mandi pada hari Jumat sebagai bentuk penyucian diri sebelum beribadah "Barangsiapa yang mendatangi shalat Jumat baik laki-laki maupun wanita maka hendaklah mandi." (HR Ibnu Hibban). "Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah hari raya yang Allah peruntukkan bagi umat Islam. Maka, barangsiapa yang hendak menuju sholat Jumat hendaklah ia mandi, memakai wewangian jika ada, dan gunakanlah siwak." (HR Ibnu Majah dan At-Thabrani. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami'). Anjuran untuk memakai pakaian yang indah (terbaik) juga disebutkan dalam QS. Al-Araf ayat 31. Allah SWT berfirman sebagai berikut yang artinya: "Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." 2. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW Membaca shalawat di hari Jumat merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Hari yang penuh berkah ini menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak pujian kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk cinta dan pengingat agar kita senantiasa meneladani akhlaknya. Sebagaimana tertuang dalam sabda, Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: "Perbanyaklah sholawat kepadaku pada malam Jumat dan hari Jumat, barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi) 3. Membaca Surat Al-Kahfi Di antara sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada hari Jumat adalah membaca Surah Al-Kahfi. Dalam suatu hadits disampaikan: "Dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulul­lah SAW pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka timbullah cahaya baginya dari telapak kakinya hingga ke langit yang memberikan sinar baginya kelak di hari kiamat, dan diampunilah baginya semua dosa di antara dua hari Jumat." (HR An-Nasa'i dan Baihaqi). Amalan ini bertujuan untuk mendapatkan petunjuk dan cahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat. 4. Berdoa pada Waktu Mustajab Pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, yaitu saat di mana setiap permohonan seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Pada hari Jum'at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah 'Ashar." (HR Abu Daud). Para ulama berbeda pendapat tentang waktu mustajab ini, namun banyak yang meyakini bahwa waktu tersebut adalah antara Ashar hingga Maghrib. 5. Shalat Jumat Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap laki-laki Muslim yang telah baligh, berakal, dan tidak sedang dalam perjalanan. Ibadah ini memiliki keutamaan besar karena disebut langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli." (QS Al-Jumuah: 9) 6. Bersiwak Salah satu sunnah yang dianjurkan menjelang shalat Jumat adalah bersiwak. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan gigi, terutama pada hari yang mulia seperti Jumat. Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi dan At-Thabrani, Rasulullah SAW selalu bersiwak, memotong kuku, dan mencukur kumis setiap hari Jumat, tepatnya sebelum beliau berangkat ke masjid. Artinya: "Adalah Rasulullah SAW memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jumat sebelum beliau pergi salat jumat." (HR Baihaqi dan At-Thabrani) 7. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian Selain bersiwak, mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian juga termasuk sunnah yang dianjurkan pada hari Jumat. Hari yang penuh keberkahan ini sebaiknya disambut dengan tampilan yang rapi dan harum, sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu istimewa yang dimuliakan Allah SWT. Hari Jumat adalah anugerah yang Allah SWT berikan kepada umat Islam sebagai hari penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak pahala. Setiap detiknya menyimpan nilai kebaikan bagi siapa pun yang mengisinya dengan keikhlasan dan ibadah. Maka, jangan biarkan Jumat berlalu begitu saja. Jadikan ia hari penuh amal, penuh syukur, dan penuh cinta kepada Allah. Karena setiap Jumat adalah undangan dari-Nya untuk menjadi hamba yang lebih baik.
ARTIKEL05/12/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh
Sedekah dan Zakat pada Masa Rasulullah SAW merupakan Pondasi Keadilan Sosial dalam Islam Pada masa Rasulullah SAW, sedekah dan zakat bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga merupakan sistem sosial yang membentuk keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan umat. Melalui dua amalan inilah pada zaman Rosul masyarakat Madinah tumbuh menjadi komunitas yang kuat, saling menolong, dan jauh dari kesenjangan sosial. karena zakat dan sedekah ini membawa pengaruh yang baik bagi masyarakat, sehingga zakat dan wakaf ini menjadi hal yang bisa di lakukan secara terus menerus. Zakat Merupakan Sistem Sosial yang Teratur Zakat pada masa Rasulullah SAW merupakan instrumen ekonomi yang terkelola dengan sangat baik. Rasulullah menugaskan para amil zakat untuk mendata, mengumpulkan, dan menyalurkan zakat kepada delapan golongan penerima (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: "sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, para Amil zakat, Mualaf, untuk memerdekakan hamba sahaya (Riqab), untuk membebaskan orang-orang yang berhutang (Gharim), untuk fisabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang membutuhkan pertolongan) sebagai kewajiban dari Allah (Ibnu Sabil). sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah:60) Ayat ini menjelaskan secara tegas bahwa zakat memiliki delapan golongan penerima (asnaf). Pembagian ini tidak boleh keluar dari ketentuan tersebut karena merupakan ketetapan langsung dari Allah. Dengan kata lain, zakat bukan sedekah biasa yang bisa diberikan kepada siapa saja, melainkan ibadah sosial yang diatur secara rinci demi keadilan dan kesejahteraan umat. QS. At-Taubah ayat 60 menunjukkan betapa zakat adalah sistem sosial yang lengkap dan adil. Dengan menyalurkan zakat sesuai syariat, umat Islam bukan hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga membangun masyarakat yang peduli, kuat, dan sejahtera. Zakat dikelola secara sistematis oleh negara, bukan sekadar pemberian pribadi. Hasilnya, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang melanjutkan sistem Rasulullah SAW hampir tidak ditemukan lagi orang miskin yang mau menerima zakat karena semua kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Bahkan dalam satu waktu, petugas zakat atau amil zakat cukup kesulitan mencari orang miskin yang membutuhkan. Mereka rata-rata dalam kondisi yang cukup bahkan mampu untuk membayar zakat. Sedekah merupakan Cermin Keikhlasan dan Kepedulian Selain zakat, Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya sedekah. Sedekah tidak memiliki batasan jumlah maupun bentuk. Setiap muslim, baik kaya maupun miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk bersedekah. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan terbaik dalam bersedekah. Beliau dikenal sangat dermawan, terutama di bulan Ramadan, bahkan para sahabat pun mengikuti jejak beliau. Ada yang menyedekahkan harta, ada yang memberi makanan, bahkan ada yang menolong dengan tenaga dan doa. Dampak Sosial Sedekah dan Zakat di Zaman Nabi Pada masa Rasulullah SAW, zakat dan sedekah membawa perubahan besar dalam kehidupan umat: 1. Menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin2. Menumbuhkan Solidaritas antar warga3. Membangun kepercayaan dan stabilitas ekonomi4. Menciptakan masyarakat yang memiliki akhlak tinggi Karena setiap individu terbiasa memberi. Berkat sistem ini, Madinah menjadi masyarakat yang makmur dan beradab, sebuah model peradaban Islam yang berkeadilan. Meneladani Semangat Kebaikan Rasulullah SAW kini, semangat zakat dan sedekah yang diajarkan Rasulullah SAW perlu terus dihidupkan. Di era modern, ada banyak lembaga yang hadir untuk mengelola zakat dan sedekah secara amanah, transparan, dan tepat sasaran sebagaimana yang telah dicontohkan di masa Rasulullah SAW. Dengan meneladani sistem zakat dan sedekah pada masa Rasulullah SAW, kita diajak untuk terus menumbuhkan kepedulian dan memperkuat keadilan sosial di tengah masyarakat. Kini, semangat kebaikan itu dapat kita wujudkan melalui lembaga yang amanah dan terpercaya. BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai sarana untuk mengelola zakat dan sedekah Anda secara profesional, tepat sasaran, dan sesuai syariat. Mari bersama melanjutkan warisan kebaikan Rasulullah SAW. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, agar setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi keberkahan bagi sesama dan menjadi cahaya yang menguatkan umat. Semoga Allah membalas setiap amal kita dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.
ARTIKEL19/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →