WhatsApp Icon
Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim

Isra’ Mi'raj merupakan peristiwa yang istimewa dalam agama Islam, yaitu dimana Allah SWT memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW yaitu berupa perjalanan yang mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta.

Kisah Singkat Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi

Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada periode Mekkah, ketika Rasulullah SAW sedang berada dalam masa sulit yang disebut Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib. Di tengah duka tersebut, Allah SWT menghibur beliau dengan sebuah perjalanan agung.

Dalam Suatu malam nabi sedang tidur di dalam kamarnya, malaikat Jibril mengeluarkan hati Nabi dan mensucikannya, kemudian mengisi hati nabi dengan emas yang dipenuhi dengan iman dan setelah itu mengembalikannya seperti semula. Kemudian Malaikat Jibril membawa Rasulullah dengan menggunakan Buraq (makhluk surgawi yang langkah kakinya sejauh mata memandang). Nabi berangkat dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina).

Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah sebagai imam bagi para Nabi dan Rasul terdahulu. Ini menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para nabi. Setelah dari Masjidil Aqsa, Nabi memulai perjalanan naik ke langit melewati tujuh lapis langit. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya, mulai dari Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Yahya AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS, hingga Nabi Ibrahim AS.

Setelah itu nabi melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha Beliau terus naik hingga mencapai tempat tertinggi yang tidak bisa dilewati bahkan oleh Malaikat Jibril sekalipun. Di sinilah Nabi Muhammad SAW berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.

Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat 50 waktu dari Allah SWT. Saat turun, beliau bertemu Nabi Musa AS yang mengingatkan bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup melakukannya. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah berkali-kali kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan. Jumlahnya terus dikurangi hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu sehari semalam. Meski Nabi Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan lagi, Nabi Muhammad SAW menjawab: "Aku malu kepada Tuhanku, aku ridha dan pasrah".

Keseluruhan perjalanan luar biasa ini terjadi hanya dalam waktu satu malam. Keesokan harinya, ketika Nabi menceritakan hal ini kepada kaum kafir Quraisy, banyak yang mengejek dan menganggapnya tidak masuk akal. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi orang pertama yang membenarkannya tanpa ragu sedikit pun, sehingga ia mendapat gelar Al-Shiddiq (yang membenarkan).

Hikmah Spiritual Isra' Mi'raj

Isra' Mi'raj merupakan sebuah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu Menuju sidratul Muntaha dalam satu malam peristiwa ini adalah bentuk penghiburan dari Allah kepada Nabi Muhammad setelah mengalami tahun kesedihan (Aam al - Huzn). 

1. Memahami tanda - tanda kebesaran Allah

Salah satu hikmah Isra Miraj adalah menyaksikan tanda kebesaran Allah SWT. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan wujud asli Malaikat Jibril yang memiliki 600 sayap hingga menutupi langit. Selain itu, Nabi juga diperlihatkan gambaran surga dan neraka serta berbagai keajaiban lainnya sebagai penguat keimanan akan hal-hal gaib.

2. Pentingnya kedudukan sholat

Berbeda dengan ibadah lain (seperti zakat atau puasa) yang perintahnya turun melalui wahyu Malaikat Jibril di bumi, salat lima waktu diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi di Sidratul Muntaha. Ini menunjukkan bahwa salat adalah ibadah yang paling utama dan merupakan "jalur komunikasi" langsung antara hamba dengan Sang Pencipta.

3. Keseimbangan dunia dan akhirat

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (bumi) lalu ke Sidratul Muntaha (langit) mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan yaitu ?Hablum Minannas (Menjaga hubungan baik antar manusia di bumi) dan Hablum Minallah (Menjaga hubungan spiritual dengan Allah melalui salat).

Jika Isra' Mi'raj merupakan tentang perjalanan spiritual, maka sedekah merupakan manifestasi keimanan ke bumi. Sebagaimana salat yang diterima saat Isra' Mi'raj berfungsi sebagai pembersih jiwa sedangkan sedekah untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan.

Mari kita sebagai umat Muslim merenungi peristiwa istimewa Isra' Mi'raj untuk menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk sesama. Mari kita sempurnakan hubungan kita kepada Allah (Hablun Minallah) dengan melaksanakan salat dan memperbaiki Hablum minannas melalui zakat, sedekah, dan infaq.  

15/01/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta

Sebagian dari kita banyak yang masih ragu untuk memberikan sebagian harta kita kepada orang lain karena takut hartanya berkurang. Padahal jika kita memberi baik dalam bentuk harta atau waktu Allah justru memberikan lebih banyak kebaikan kepada kita baik dalam bentuk pahala, penghapusan dosa, atau rejeki yang berlimpah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist;

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba sebab pengampunannya (bagi orang lain) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah angkat derajatnya,’”  (HR Muslim).

Hadist ini menjelaskan bahwa ketika kita bersedekah atau berzakat harta kita tidak akan berkurang, Allah justru akan memberikan keberkahan dan melipatgandakan harta yang kita miliki. Bersedekah juga merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan  karena dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak, mendapatkan pahala dan penghapusan dosa, serta membuka pintu rejeki bagi orang – orang yang melakukan bersedekah.

Secara logika matematika jika 10 dikurangi 1 maka akan menjadi 9. Namun berbeda dalam pandangan ilmu berbagi ketika 1 dikurangi 1 bisa menjadi 10, memberi bukan bentuk pengurangan harta melainkan bentuk investasi, ketika kita bersedekah sebenarnya kita sedang menanam benih kebaikan  yang suatu hari nanti akan bertumbuh menjadi baik dalam bentuk ketenangan hati, kesehatan, atau bahkan terbukanya pintu rejeki yang tidak disangka sangka.

Dari sini kita belajar bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.  Kita tidak perlu menunggu kaya untuk saling berbagi karena ketika kita bersedekan Allah akan mencukupkan kita dari arah yang tidak disangka – sangka dan ingatlah jika harta yang kita simpan mungkin akan hilang tetapi jika harta kita sedekahkan ini akan menjadi milik kita untuk selamanya dalam bentuk pahala dan kebaikan.

Rahasia merasa cukup adalah bukan dengan kita menggenggam rapat rapat harta yang kita miliki tetapi dengan belajar untuk membagikan sebagian harta kita kepada orang lain karena sebagian harta kita juga merupakan hak orang lain. Mari kita menjadi bagian dari orang – orang yang mengukir kebahagiaan dengan memberi sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan.

“YUK, BERSEDEKAH MULAI HARI INI ! KECIL BAGI KITA NAMUN BERARTI BAGI MEREKA”.

13/01/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat

Hari Jum’at merupakan hari yang paling istimewa dibandingkan dengan hari-hari lain dalam sepekan. Dalam Islam, hari ini disebut sebagai Sayyidul Ayyam, yang artinya rajanya hari. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Jumat memiliki keutamaan yang begitu besar dan keberkahan yang melimpah bagi siapa pun yang menghidupkannya dengan ibadah dan kebaikan.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.”

Hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hari Jumat di sisi Allah. Ia bukan sekadar hari biasa, tetapi hari penuh sejarah, hari penuh peristiwa besar yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Karena kemuliaannya, hari Jumat bukan hanya tentang shalat berjamaah, tetapi juga tentang menghidupkan sunnah dan memperbanyak amalan. Setiap detiknya mengandung kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjemput keberkahan.

1. Mandi dan Berhias Sebelum Sholat Jum'at

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum melaksanakan shalat Jumat ialah mandi terlebih dahulu. Nabi Muhammad SAW yang menegaskan pentingnya mandi pada hari Jumat sebagai bentuk penyucian diri sebelum beribadah 

"Barangsiapa yang mendatangi shalat Jumat baik laki-laki maupun wanita maka hendaklah mandi." (HR Ibnu Hibban).

"Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah hari raya yang Allah peruntukkan bagi umat Islam. Maka, barangsiapa yang hendak menuju sholat Jumat hendaklah ia mandi, memakai wewangian jika ada, dan gunakanlah siwak." (HR Ibnu Majah dan At-Thabrani. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami').

Anjuran untuk memakai pakaian yang indah (terbaik) juga disebutkan dalam QS. Al-Araf ayat 31. Allah SWT berfirman sebagai berikut yang artinya:

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

2. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Membaca shalawat di hari Jumat merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Hari yang penuh berkah ini menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak pujian kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk cinta dan pengingat agar kita senantiasa meneladani akhlaknya. Sebagaimana tertuang dalam sabda, Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

"Perbanyaklah sholawat kepadaku pada malam Jumat dan hari Jumat, barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi)

3. Membaca Surat Al-Kahfi

Di antara sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada hari Jumat adalah membaca Surah Al-Kahfi. Dalam suatu hadits disampaikan:

"Dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulul­lah SAW pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka timbullah cahaya baginya dari telapak kakinya hingga ke langit yang memberikan sinar baginya kelak di hari kiamat, dan diampunilah baginya semua dosa di antara dua hari Jumat." (HR An-Nasa'i dan Baihaqi).

Amalan ini bertujuan untuk mendapatkan petunjuk dan cahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat.

4. Berdoa pada Waktu Mustajab

Pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, yaitu saat di mana setiap permohonan seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

"Pada hari Jum'at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah 'Ashar." (HR Abu Daud).

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu mustajab ini, namun banyak yang meyakini bahwa waktu tersebut adalah antara Ashar hingga Maghrib.

5. Shalat Jumat

Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap laki-laki Muslim yang telah baligh, berakal, dan tidak sedang dalam perjalanan. Ibadah ini memiliki keutamaan besar karena disebut langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli." (QS Al-Jumuah: 9)

6. Bersiwak

Salah satu sunnah yang dianjurkan menjelang shalat Jumat adalah bersiwak. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan gigi, terutama pada hari yang mulia seperti Jumat.

Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi dan At-Thabrani, Rasulullah SAW selalu bersiwak, memotong kuku, dan mencukur kumis setiap hari Jumat, tepatnya sebelum beliau berangkat ke masjid.

Artinya: "Adalah Rasulullah SAW memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jumat sebelum beliau pergi salat jumat." (HR Baihaqi dan At-Thabrani)

7. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian

Selain bersiwak, mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian juga termasuk sunnah yang dianjurkan pada hari Jumat. Hari yang penuh keberkahan ini sebaiknya disambut dengan tampilan yang rapi dan harum, sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu istimewa yang dimuliakan Allah SWT. 

Hari Jumat adalah anugerah yang Allah SWT berikan kepada umat Islam sebagai hari penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak pahala. Setiap detiknya menyimpan nilai kebaikan bagi siapa pun yang mengisinya dengan keikhlasan dan ibadah. 

Maka, jangan biarkan Jumat berlalu begitu saja. Jadikan ia hari penuh amal, penuh syukur, dan penuh cinta kepada Allah. Karena setiap Jumat adalah undangan dari-Nya untuk menjadi hamba yang lebih baik.

05/12/2025 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh

Sedekah dan Zakat pada Masa Rasulullah SAW merupakan Pondasi Keadilan Sosial dalam Islam

Pada masa Rasulullah SAW, sedekah dan zakat bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga merupakan sistem sosial yang membentuk keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan umat. Melalui dua amalan inilah pada zaman Rosul masyarakat Madinah tumbuh menjadi komunitas yang kuat, saling menolong, dan jauh dari kesenjangan sosial. karena zakat dan sedekah ini membawa pengaruh yang baik bagi masyarakat, sehingga zakat dan wakaf ini menjadi hal yang bisa di lakukan secara terus menerus.

Zakat Merupakan Sistem Sosial yang Teratur

Zakat pada masa Rasulullah SAW merupakan instrumen ekonomi yang terkelola dengan sangat baik. Rasulullah menugaskan para amil zakat untuk mendata, mengumpulkan, dan menyalurkan zakat kepada delapan golongan penerima (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

"sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, para Amil zakat, Mualaf, untuk memerdekakan hamba sahaya (Riqab), untuk membebaskan orang-orang yang berhutang (Gharim), untuk fisabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang membutuhkan pertolongan) sebagai kewajiban dari Allah (Ibnu Sabil). sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah:60)

Ayat ini menjelaskan secara tegas bahwa zakat memiliki delapan golongan penerima (asnaf). Pembagian ini tidak boleh keluar dari ketentuan tersebut karena merupakan ketetapan langsung dari Allah. Dengan kata lain, zakat bukan sedekah biasa yang bisa diberikan kepada siapa saja, melainkan ibadah sosial yang diatur secara rinci demi keadilan dan kesejahteraan umat. QS. At-Taubah ayat 60 menunjukkan betapa zakat adalah sistem sosial yang lengkap dan adil. Dengan menyalurkan zakat sesuai syariat, umat Islam bukan hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga membangun masyarakat yang peduli, kuat, dan sejahtera.

Zakat dikelola secara sistematis oleh negara, bukan sekadar pemberian pribadi. Hasilnya, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang melanjutkan sistem Rasulullah SAW hampir tidak ditemukan lagi orang miskin yang mau menerima zakat karena semua kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Bahkan dalam satu waktu, petugas zakat atau amil zakat cukup kesulitan mencari orang miskin yang membutuhkan. Mereka rata-rata dalam kondisi yang cukup bahkan mampu untuk membayar zakat.

Sedekah merupakan Cermin Keikhlasan dan Kepedulian

Selain zakat, Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya sedekah. Sedekah tidak memiliki batasan jumlah maupun bentuk. Setiap muslim, baik kaya maupun miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk bersedekah. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan terbaik dalam bersedekah. Beliau dikenal sangat dermawan, terutama di bulan Ramadan, bahkan para sahabat pun mengikuti jejak beliau. Ada yang menyedekahkan harta, ada yang memberi makanan, bahkan ada yang menolong dengan tenaga dan doa.

Dampak Sosial Sedekah dan Zakat di Zaman Nabi

Pada masa Rasulullah SAW, zakat dan sedekah membawa perubahan besar dalam kehidupan umat:

1.  Menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin
2.  Menumbuhkan Solidaritas antar warga
3.  Membangun kepercayaan dan stabilitas ekonomi
4.  Menciptakan masyarakat yang memiliki akhlak tinggi

Karena setiap individu terbiasa memberi. Berkat sistem ini, Madinah menjadi masyarakat yang makmur dan beradab, sebuah model peradaban Islam yang berkeadilan. Meneladani Semangat Kebaikan Rasulullah SAW kini, semangat zakat dan sedekah yang diajarkan Rasulullah SAW perlu terus dihidupkan. Di era modern, ada banyak lembaga yang  hadir untuk mengelola zakat dan sedekah secara amanah, transparan, dan tepat sasaran sebagaimana yang telah dicontohkan di masa Rasulullah SAW.


Dengan meneladani sistem zakat dan sedekah pada masa Rasulullah SAW, kita diajak untuk terus menumbuhkan kepedulian dan memperkuat keadilan sosial di tengah masyarakat. Kini, semangat kebaikan itu dapat kita wujudkan melalui lembaga yang amanah dan terpercaya. BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai sarana untuk mengelola zakat dan sedekah Anda secara profesional, tepat sasaran, dan sesuai syariat.

Mari bersama melanjutkan warisan kebaikan Rasulullah SAW. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, agar setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi keberkahan bagi sesama dan menjadi cahaya yang menguatkan umat. Semoga Allah membalas setiap amal kita dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.

19/11/2025 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Saatnya Berjuang Tanpa Senjata: Jadilah Pahlawan Lewat Kedermawanan

Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang para pahlawan yang telah menorehkan sejarah dengan darah dan air mata. Mereka berjuang bukan untuk pujian, jabatan, atau penghargaan, tetapi karena cinta yang mendalam terhadap tanah air. Dengan tekad dan keberanian, mereka rela kehilangan segalanya demi satu kata yang sakral: MERDEKA.

Namun, makna perjuangan tidak berhenti di masa lalu. Semangat kepahlawanan bukan sekadar kenangan, melainkan api yang harus terus menyala dalam diri setiap anak bangsa. Di era yang serba modern ini, kita tidak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, tetapi menghadapi tantangan baru, kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakpedulian sosial. Di sinilah setiap kita dipanggil untuk menjadi pahlawan masa kini, melalui senjata yang berbeda yaitu dengan kepedulian dan kedermawanan.

Salah satu wujud nyata dari semangat itu adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketiganya bukan hanya ibadah finansial, tetapi juga bentuk perjuangan sosial yang mulia. Dengan berzakat, kita membantu mereka yang kekurangan agar bangkit dan berdaya. Dengan berinfak, kita memperkuat solidaritas umat. Dan dengan bersedekah, kita menebar kasih sayang dan harapan di tengah kehidupan yang kerap terasa keras.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9]:103:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..."

Ayat ini menegaskan bahwa zakat bukan hanya tentang berbagi harta, tapi juga tentang membersihkan jiwa dan melatih hati untuk peduli. Kebaikan yang tumbuh dari zakat, infak, dan sedekah sejatinya adalah bentuk perjuangan melawan egoisme, keserakahan, dan keengganan untuk berbagi.

Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim:

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

Sederhana, namun dalam maknanya. Memberi lebih mulia daripada meminta. Dan di situlah nilai kepahlawanan tumbuh. Ketika seseorang berani memberi, bahkan dalam keterbatasannya, demi kebaikan yang lebih besar.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kepahlawanan sejati mungkin tidak lagi terdengar dengan dentuman senjata, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang penuh keikhlasan: seorang donatur yang membantu usaha kecil agar bangkit, seorang muzakki yang menyalurkan zakatnya dengan niat tulus, atau seorang relawan yang turun langsung mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. Merekalah pahlawan zaman ini yang tak berperang di medan laga, tapi berjuang di medan kemanusiaan.

Momen Hari Pahlawan menjadi saat yang tepat untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita meneruskan semangat mereka? Sudahkah kita berbuat sesuatu untuk sesama? Sebab bangsa ini tidak hanya memerlukan pahlawan yang berani mengangkat bambu runcing, tapi juga pahlawan yang berani mengulurkan tangan.

Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai sarana untuk menyalakan kembali semangat perjuangan. Melalui kebaikan yang kita tanam, insyaAllah akan tumbuh kesejahteraan, keadilan, dan keberkahan bagi banyak orang.

Selamat Hari Pahlawan

Mari terus berjuang dengan cara kita masing-masing, berjuang untuk menebar manfaat, menguatkan sesama, dan menyalakan cahaya kebaikan di setiap sudut kehidupan. Karena Indonesia yang kuat bukan hanya dibangun oleh pahlawan yang gugur di masa lalu, tapi juga oleh mereka yang hari ini masih memilih untuk berbagi, peduli, dan berkorban dengan ikhlas.

10/11/2025 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung

Artikel Terbaru

Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim
Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim
Isra’ Mi'raj merupakan peristiwa yang istimewa dalam agama Islam, yaitu dimana Allah SWT memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad SAW yaitu berupa perjalanan yang mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta. Kisah Singkat Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada periode Mekkah, ketika Rasulullah SAW sedang berada dalam masa sulit yang disebut Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib. Di tengah duka tersebut, Allah SWT menghibur beliau dengan sebuah perjalanan agung. Dalam Suatu malam nabi sedang tidur di dalam kamarnya, malaikat Jibril mengeluarkan hati Nabi dan mensucikannya, kemudian mengisi hati nabi dengan emas yang dipenuhi dengan iman dan setelah itu mengembalikannya seperti semula. Kemudian Malaikat Jibril membawa Rasulullah dengan menggunakan Buraq (makhluk surgawi yang langkah kakinya sejauh mata memandang). Nabi berangkat dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Palestina). Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah sebagai imam bagi para Nabi dan Rasul terdahulu. Ini menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para nabi. Setelah dari Masjidil Aqsa, Nabi memulai perjalanan naik ke langit melewati tujuh lapis langit. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya, mulai dari Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Yahya AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS, hingga Nabi Ibrahim AS. Setelah itu nabi melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha Beliau terus naik hingga mencapai tempat tertinggi yang tidak bisa dilewati bahkan oleh Malaikat Jibril sekalipun. Di sinilah Nabi Muhammad SAW berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat 50 waktu dari Allah SWT. Saat turun, beliau bertemu Nabi Musa AS yang mengingatkan bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup melakukannya. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah berkali-kali kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan. Jumlahnya terus dikurangi hingga akhirnya ditetapkan menjadi 5 waktu sehari semalam. Meski Nabi Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan lagi, Nabi Muhammad SAW menjawab: "Aku malu kepada Tuhanku, aku ridha dan pasrah". Keseluruhan perjalanan luar biasa ini terjadi hanya dalam waktu satu malam. Keesokan harinya, ketika Nabi menceritakan hal ini kepada kaum kafir Quraisy, banyak yang mengejek dan menganggapnya tidak masuk akal. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi orang pertama yang membenarkannya tanpa ragu sedikit pun, sehingga ia mendapat gelar Al-Shiddiq (yang membenarkan). Hikmah Spiritual Isra' Mi'raj Isra' Mi'raj merupakan sebuah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu Menuju sidratul Muntaha dalam satu malam peristiwa ini adalah bentuk penghiburan dari Allah kepada Nabi Muhammad setelah mengalami tahun kesedihan (Aam al - Huzn). 1. Memahami tanda - tanda kebesaran Allah Salah satu hikmah Isra Miraj adalah menyaksikan tanda kebesaran Allah SWT. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan wujud asli Malaikat Jibril yang memiliki 600 sayap hingga menutupi langit. Selain itu, Nabi juga diperlihatkan gambaran surga dan neraka serta berbagai keajaiban lainnya sebagai penguat keimanan akan hal-hal gaib. 2. Pentingnya kedudukan sholat Berbeda dengan ibadah lain (seperti zakat atau puasa) yang perintahnya turun melalui wahyu Malaikat Jibril di bumi, salat lima waktu diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi di Sidratul Muntaha. Ini menunjukkan bahwa salat adalah ibadah yang paling utama dan merupakan "jalur komunikasi" langsung antara hamba dengan Sang Pencipta. 3. Keseimbangan dunia dan akhirat Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (bumi) lalu ke Sidratul Muntaha (langit) mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan yaitu ?Hablum Minannas (Menjaga hubungan baik antar manusia di bumi) dan Hablum Minallah (Menjaga hubungan spiritual dengan Allah melalui salat). Jika Isra' Mi'raj merupakan tentang perjalanan spiritual, maka sedekah merupakan manifestasi keimanan ke bumi. Sebagaimana salat yang diterima saat Isra' Mi'raj berfungsi sebagai pembersih jiwa sedangkan sedekah untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan. Mari kita sebagai umat Muslim merenungi peristiwa istimewa Isra' Mi'raj untuk menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk sesama. Mari kita sempurnakan hubungan kita kepada Allah (Hablun Minallah) dengan melaksanakan salat dan memperbaiki Hablum minannas melalui zakat, sedekah, dan infaq.
ARTIKEL15/01/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta
Sebagian dari kita banyak yang masih ragu untuk memberikan sebagian harta kita kepada orang lain karena takut hartanya berkurang. Padahal jika kita memberi baik dalam bentuk harta atau waktu Allah justru memberikan lebih banyak kebaikan kepada kita baik dalam bentuk pahala, penghapusan dosa, atau rejeki yang berlimpah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist; “Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba sebab pengampunannya (bagi orang lain) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah angkat derajatnya,’” (HR Muslim). Hadist ini menjelaskan bahwa ketika kita bersedekah atau berzakat harta kita tidak akan berkurang, Allah justru akan memberikan keberkahan dan melipatgandakan harta yang kita miliki. Bersedekah juga merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan karena dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak, mendapatkan pahala dan penghapusan dosa, serta membuka pintu rejeki bagi orang – orang yang melakukan bersedekah. Secara logika matematika jika 10 dikurangi 1 maka akan menjadi 9. Namun berbeda dalam pandangan ilmu berbagi ketika 1 dikurangi 1 bisa menjadi 10, memberi bukan bentuk pengurangan harta melainkan bentuk investasi, ketika kita bersedekah sebenarnya kita sedang menanam benih kebaikan yang suatu hari nanti akan bertumbuh menjadi baik dalam bentuk ketenangan hati, kesehatan, atau bahkan terbukanya pintu rejeki yang tidak disangka sangka. Dari sini kita belajar bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Kita tidak perlu menunggu kaya untuk saling berbagi karena ketika kita bersedekan Allah akan mencukupkan kita dari arah yang tidak disangka – sangka dan ingatlah jika harta yang kita simpan mungkin akan hilang tetapi jika harta kita sedekahkan ini akan menjadi milik kita untuk selamanya dalam bentuk pahala dan kebaikan. Rahasia merasa cukup adalah bukan dengan kita menggenggam rapat rapat harta yang kita miliki tetapi dengan belajar untuk membagikan sebagian harta kita kepada orang lain karena sebagian harta kita juga merupakan hak orang lain. Mari kita menjadi bagian dari orang – orang yang mengukir kebahagiaan dengan memberi sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan. “YUK, BERSEDEKAH MULAI HARI INI ! KECIL BAGI KITA NAMUN BERARTI BAGI MEREKA”.
ARTIKEL13/01/2026 | Humas BAZNAS Tulungagung
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat
Hari Jum’at merupakan hari yang paling istimewa dibandingkan dengan hari-hari lain dalam sepekan. Dalam Islam, hari ini disebut sebagai Sayyidul Ayyam, yang artinya rajanya hari. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Jumat memiliki keutamaan yang begitu besar dan keberkahan yang melimpah bagi siapa pun yang menghidupkannya dengan ibadah dan kebaikan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at.” Hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hari Jumat di sisi Allah. Ia bukan sekadar hari biasa, tetapi hari penuh sejarah, hari penuh peristiwa besar yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Karena kemuliaannya, hari Jumat bukan hanya tentang shalat berjamaah, tetapi juga tentang menghidupkan sunnah dan memperbanyak amalan. Setiap detiknya mengandung kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjemput keberkahan. 1. Mandi dan Berhias Sebelum Sholat Jum'at Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum melaksanakan shalat Jumat ialah mandi terlebih dahulu. Nabi Muhammad SAW yang menegaskan pentingnya mandi pada hari Jumat sebagai bentuk penyucian diri sebelum beribadah "Barangsiapa yang mendatangi shalat Jumat baik laki-laki maupun wanita maka hendaklah mandi." (HR Ibnu Hibban). "Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah hari raya yang Allah peruntukkan bagi umat Islam. Maka, barangsiapa yang hendak menuju sholat Jumat hendaklah ia mandi, memakai wewangian jika ada, dan gunakanlah siwak." (HR Ibnu Majah dan At-Thabrani. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami'). Anjuran untuk memakai pakaian yang indah (terbaik) juga disebutkan dalam QS. Al-Araf ayat 31. Allah SWT berfirman sebagai berikut yang artinya: "Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." 2. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW Membaca shalawat di hari Jumat merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Hari yang penuh berkah ini menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak pujian kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk cinta dan pengingat agar kita senantiasa meneladani akhlaknya. Sebagaimana tertuang dalam sabda, Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: "Perbanyaklah sholawat kepadaku pada malam Jumat dan hari Jumat, barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi) 3. Membaca Surat Al-Kahfi Di antara sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada hari Jumat adalah membaca Surah Al-Kahfi. Dalam suatu hadits disampaikan: "Dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulul­lah SAW pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka timbullah cahaya baginya dari telapak kakinya hingga ke langit yang memberikan sinar baginya kelak di hari kiamat, dan diampunilah baginya semua dosa di antara dua hari Jumat." (HR An-Nasa'i dan Baihaqi). Amalan ini bertujuan untuk mendapatkan petunjuk dan cahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat. 4. Berdoa pada Waktu Mustajab Pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, yaitu saat di mana setiap permohonan seorang hamba akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Pada hari Jum'at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah 'Ashar." (HR Abu Daud). Para ulama berbeda pendapat tentang waktu mustajab ini, namun banyak yang meyakini bahwa waktu tersebut adalah antara Ashar hingga Maghrib. 5. Shalat Jumat Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap laki-laki Muslim yang telah baligh, berakal, dan tidak sedang dalam perjalanan. Ibadah ini memiliki keutamaan besar karena disebut langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli." (QS Al-Jumuah: 9) 6. Bersiwak Salah satu sunnah yang dianjurkan menjelang shalat Jumat adalah bersiwak. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan gigi, terutama pada hari yang mulia seperti Jumat. Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi dan At-Thabrani, Rasulullah SAW selalu bersiwak, memotong kuku, dan mencukur kumis setiap hari Jumat, tepatnya sebelum beliau berangkat ke masjid. Artinya: "Adalah Rasulullah SAW memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jumat sebelum beliau pergi salat jumat." (HR Baihaqi dan At-Thabrani) 7. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian Selain bersiwak, mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian juga termasuk sunnah yang dianjurkan pada hari Jumat. Hari yang penuh keberkahan ini sebaiknya disambut dengan tampilan yang rapi dan harum, sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu istimewa yang dimuliakan Allah SWT. Hari Jumat adalah anugerah yang Allah SWT berikan kepada umat Islam sebagai hari penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak pahala. Setiap detiknya menyimpan nilai kebaikan bagi siapa pun yang mengisinya dengan keikhlasan dan ibadah. Maka, jangan biarkan Jumat berlalu begitu saja. Jadikan ia hari penuh amal, penuh syukur, dan penuh cinta kepada Allah. Karena setiap Jumat adalah undangan dari-Nya untuk menjadi hamba yang lebih baik.
ARTIKEL05/12/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh
Sedekah dan Zakat pada Masa Rasulullah SAW merupakan Pondasi Keadilan Sosial dalam Islam Pada masa Rasulullah SAW, sedekah dan zakat bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga merupakan sistem sosial yang membentuk keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan umat. Melalui dua amalan inilah pada zaman Rosul masyarakat Madinah tumbuh menjadi komunitas yang kuat, saling menolong, dan jauh dari kesenjangan sosial. karena zakat dan sedekah ini membawa pengaruh yang baik bagi masyarakat, sehingga zakat dan wakaf ini menjadi hal yang bisa di lakukan secara terus menerus. Zakat Merupakan Sistem Sosial yang Teratur Zakat pada masa Rasulullah SAW merupakan instrumen ekonomi yang terkelola dengan sangat baik. Rasulullah menugaskan para amil zakat untuk mendata, mengumpulkan, dan menyalurkan zakat kepada delapan golongan penerima (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: "sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, para Amil zakat, Mualaf, untuk memerdekakan hamba sahaya (Riqab), untuk membebaskan orang-orang yang berhutang (Gharim), untuk fisabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang membutuhkan pertolongan) sebagai kewajiban dari Allah (Ibnu Sabil). sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah:60) Ayat ini menjelaskan secara tegas bahwa zakat memiliki delapan golongan penerima (asnaf). Pembagian ini tidak boleh keluar dari ketentuan tersebut karena merupakan ketetapan langsung dari Allah. Dengan kata lain, zakat bukan sedekah biasa yang bisa diberikan kepada siapa saja, melainkan ibadah sosial yang diatur secara rinci demi keadilan dan kesejahteraan umat. QS. At-Taubah ayat 60 menunjukkan betapa zakat adalah sistem sosial yang lengkap dan adil. Dengan menyalurkan zakat sesuai syariat, umat Islam bukan hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga membangun masyarakat yang peduli, kuat, dan sejahtera. Zakat dikelola secara sistematis oleh negara, bukan sekadar pemberian pribadi. Hasilnya, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang melanjutkan sistem Rasulullah SAW hampir tidak ditemukan lagi orang miskin yang mau menerima zakat karena semua kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Bahkan dalam satu waktu, petugas zakat atau amil zakat cukup kesulitan mencari orang miskin yang membutuhkan. Mereka rata-rata dalam kondisi yang cukup bahkan mampu untuk membayar zakat. Sedekah merupakan Cermin Keikhlasan dan Kepedulian Selain zakat, Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya sedekah. Sedekah tidak memiliki batasan jumlah maupun bentuk. Setiap muslim, baik kaya maupun miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk bersedekah. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan terbaik dalam bersedekah. Beliau dikenal sangat dermawan, terutama di bulan Ramadan, bahkan para sahabat pun mengikuti jejak beliau. Ada yang menyedekahkan harta, ada yang memberi makanan, bahkan ada yang menolong dengan tenaga dan doa. Dampak Sosial Sedekah dan Zakat di Zaman Nabi Pada masa Rasulullah SAW, zakat dan sedekah membawa perubahan besar dalam kehidupan umat: 1. Menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin2. Menumbuhkan Solidaritas antar warga3. Membangun kepercayaan dan stabilitas ekonomi4. Menciptakan masyarakat yang memiliki akhlak tinggi Karena setiap individu terbiasa memberi. Berkat sistem ini, Madinah menjadi masyarakat yang makmur dan beradab, sebuah model peradaban Islam yang berkeadilan. Meneladani Semangat Kebaikan Rasulullah SAW kini, semangat zakat dan sedekah yang diajarkan Rasulullah SAW perlu terus dihidupkan. Di era modern, ada banyak lembaga yang hadir untuk mengelola zakat dan sedekah secara amanah, transparan, dan tepat sasaran sebagaimana yang telah dicontohkan di masa Rasulullah SAW. Dengan meneladani sistem zakat dan sedekah pada masa Rasulullah SAW, kita diajak untuk terus menumbuhkan kepedulian dan memperkuat keadilan sosial di tengah masyarakat. Kini, semangat kebaikan itu dapat kita wujudkan melalui lembaga yang amanah dan terpercaya. BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir sebagai sarana untuk mengelola zakat dan sedekah Anda secara profesional, tepat sasaran, dan sesuai syariat. Mari bersama melanjutkan warisan kebaikan Rasulullah SAW. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, agar setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi keberkahan bagi sesama dan menjadi cahaya yang menguatkan umat. Semoga Allah membalas setiap amal kita dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.
ARTIKEL19/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Saatnya Berjuang Tanpa Senjata: Jadilah Pahlawan Lewat Kedermawanan
Saatnya Berjuang Tanpa Senjata: Jadilah Pahlawan Lewat Kedermawanan
Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang para pahlawan yang telah menorehkan sejarah dengan darah dan air mata. Mereka berjuang bukan untuk pujian, jabatan, atau penghargaan, tetapi karena cinta yang mendalam terhadap tanah air. Dengan tekad dan keberanian, mereka rela kehilangan segalanya demi satu kata yang sakral: MERDEKA. Namun, makna perjuangan tidak berhenti di masa lalu. Semangat kepahlawanan bukan sekadar kenangan, melainkan api yang harus terus menyala dalam diri setiap anak bangsa. Di era yang serba modern ini, kita tidak lagi berperang melawan penjajah bersenjata, tetapi menghadapi tantangan baru, kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakpedulian sosial. Di sinilah setiap kita dipanggil untuk menjadi pahlawan masa kini, melalui senjata yang berbeda yaitu dengan kepedulian dan kedermawanan. Salah satu wujud nyata dari semangat itu adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketiganya bukan hanya ibadah finansial, tetapi juga bentuk perjuangan sosial yang mulia. Dengan berzakat, kita membantu mereka yang kekurangan agar bangkit dan berdaya. Dengan berinfak, kita memperkuat solidaritas umat. Dan dengan bersedekah, kita menebar kasih sayang dan harapan di tengah kehidupan yang kerap terasa keras. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9]:103: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..." Ayat ini menegaskan bahwa zakat bukan hanya tentang berbagi harta, tapi juga tentang membersihkan jiwa dan melatih hati untuk peduli. Kebaikan yang tumbuh dari zakat, infak, dan sedekah sejatinya adalah bentuk perjuangan melawan egoisme, keserakahan, dan keengganan untuk berbagi. Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Sederhana, namun dalam maknanya. Memberi lebih mulia daripada meminta. Dan di situlah nilai kepahlawanan tumbuh. Ketika seseorang berani memberi, bahkan dalam keterbatasannya, demi kebaikan yang lebih besar. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kepahlawanan sejati mungkin tidak lagi terdengar dengan dentuman senjata, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang penuh keikhlasan: seorang donatur yang membantu usaha kecil agar bangkit, seorang muzakki yang menyalurkan zakatnya dengan niat tulus, atau seorang relawan yang turun langsung mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. Merekalah pahlawan zaman ini yang tak berperang di medan laga, tapi berjuang di medan kemanusiaan. Momen Hari Pahlawan menjadi saat yang tepat untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita meneruskan semangat mereka? Sudahkah kita berbuat sesuatu untuk sesama? Sebab bangsa ini tidak hanya memerlukan pahlawan yang berani mengangkat bambu runcing, tapi juga pahlawan yang berani mengulurkan tangan. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai sarana untuk menyalakan kembali semangat perjuangan. Melalui kebaikan yang kita tanam, insyaAllah akan tumbuh kesejahteraan, keadilan, dan keberkahan bagi banyak orang. Selamat Hari Pahlawan Mari terus berjuang dengan cara kita masing-masing, berjuang untuk menebar manfaat, menguatkan sesama, dan menyalakan cahaya kebaikan di setiap sudut kehidupan. Karena Indonesia yang kuat bukan hanya dibangun oleh pahlawan yang gugur di masa lalu, tapi juga oleh mereka yang hari ini masih memilih untuk berbagi, peduli, dan berkorban dengan ikhlas.
ARTIKEL10/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Arti Ikhlas dalam Kehidupan: Bukan Pasrah Buta, Tapi Tanda Kekuatan Hati
Arti Ikhlas dalam Kehidupan: Bukan Pasrah Buta, Tapi Tanda Kekuatan Hati
Dalam perjalanan hidup, setiap Muslim tentu akrab dengan kata ikhlas. Namun, tidak sedikit yang memahaminya secara sempit seolah ikhlas berarti diam, pasrah, atau berhenti berusaha. Padahal, makna ikhlas jauh lebih dalam dari sekadar menerima takdir. Ia adalah kekuatan hati yang menjadikan setiap amal bernilai di sisi Allah SWT. Ikhlas, Pondasi Niat dan Amal Ikhlas berarti melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah SWT bukan demi pujian, penghargaan, atau imbalan dari manusia. Itulah kemurnian niat yang menjadi fondasi utama dalam setiap amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa amal tanpa niat yang tulus tidak akan bernilai di sisi Allah, betapapun besar dan indahnya di mata manusia. Ikhlas Bukan Pasrah Buta, Tapi Kesadaran yang Tulus Ikhlas bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru, orang yang ikhlas adalah mereka yang berusaha sebaik mungkin lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati tenang. Ia bekerja keras, berdoa sungguh-sungguh, namun tidak kecewa ketika hasilnya tak sesuai harapan. Ia yakin, setiap ketentuan Allah selalu mengandung hikmah terbaik. Sikap ini membentuk keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Orang yang ikhlas tidak mudah putus asa ketika gagal dan tidak sombong saat berhasil. Ia tahu, tugasnya adalah berbuat sebaik-baiknya, sementara hasilnya adalah urusan Allah SWT. Ikhlas, Sumber Kekuatan Ibadah dan Kedamaian Dalam Islam, nilai ibadah tidak hanya ditentukan dari bentuk lahiriahnya, tapi juga dari kemurnian niat di dalam hati. Itulah sebabnya, seseorang yang beribadah dengan ikhlas akan merasakan ketenangan batin yang mendalam. Ia salat bukan karena kewajiban semata, tapi karena cinta kepada Allah. Begitu juga dalam sedekah, menolong sesama, atau beramal sosial. Amal kecil seperti memberi senyum tulus atau membantu tetangga akan bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim) Tanda-Tanda Hati yang Ikhlas Meski ikhlas tak tampak secara kasat mata, ada beberapa tanda yang bisa kita rasakan: 1. Berbuat baik tanpa pamrih. Ia tetap menolong meski tak ada yang tahu atau memuji. 2. Tidak kecewa ketika kebaikan tak dihargai. Ia sadar, amalnya untuk Allah, bukan untuk manusia. 3. Tidak iri pada keberhasilan orang lain. Ia yakin setiap rezeki telah diatur dengan adil. 4. Mampu memaafkan dengan lapang dada. Ia memilih damai daripada dendam. 5. Selalu bersyukur dalam segala keadaan. Dalam senang maupun susah, ia melihat hikma'ah Allah di balik setiap peristiwa. Langkah-Langkah Menumbuhkan Keikhlasan Menumbuhkan keikhlasan memang tidak mudah. Namun, setiap hati bisa dilatih agar semakin tulus melalui beberapa cara: 1. Luruskan niat sebelum berbuat. Tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa aku melakukan ini?” 2. Kurangi ketergantungan pada pujian manusia. Nilai sejati amal hanya Allah yang menilai. 3. Biasakan bersyukur, baik atas keberhasilan maupun kegagalan. 4. Perbanyak doa. Mohon agar Allah meneguhkan hati agar tetap tulus dalam setiap langkah. 5. Terus belajar dan memperdalam ilmu agama, agar hati semakin kuat memahami makna ikhlas yang sesungguhnya. Buah Manis dari Keikhlasan Keikhlasan membawa ketenangan batin dan keberkahan hidup. Orang yang ikhlas akan lebih sabar, rendah hati, dan mudah memaafkan. Ia tidak lagi bergantung pada pengakuan manusia, karena cukup baginya penilaian dari Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27) Ketika hati ikhlas, setiap ujian akan terasa ringan. Sebab ia tahu, semua yang terjadi adalah bagian dari kasih sayang Allah. Keikhlasan menjadikan hidup lebih damai dan penuh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat. Penutup Ikhlas bukan berarti berhenti berjuang, tapi berjuang dengan sepenuh hati sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hati yang ikhlas adalah hati yang bebas dari beban, tenang dalam ujian, dan diridhai oleh-Nya. Mari tumbuhkan keikhlasan dalam setiap amal kebaikan, termasuk dalam bersedekah. Sedekah yang dilakukan dengan hati tulus akan menjadi cahaya, menghapus dosa, dan mendatangkan keberkahan bagi sesama. Salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung: ~ BSI 7137892051 (An. Baznas Infaq Tulungagung) ~ BRI 011001030166530 (An. Baznas Tulungagung I) ~ Bank Jatim 0152210022 (An. Baznas Kab Tulungagung (Infak)) "Bersedekahlah dengan ikhlas, karena setiap rupiah yang keluar dengan niat tulus akan kembali menjadi kebaikan yang berlipat di sisi Allah SWT."
ARTIKEL05/11/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Keutamaan Hari Jumat: Saat Terbaik untuk Panen Pahala dan Menebar Kebaikan
Keutamaan Hari Jumat: Saat Terbaik untuk Panen Pahala dan Menebar Kebaikan
Hari Jumat bukan sekadar penghujung pekan. Dalam pandangan Islam, Jumat memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia disebut sebagai "sayyidul ayyam", penghulu segala hari yang penuh keberkahan, keutamaan, dan peluang besar untuk menanam amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu dia dimasukkan ke dalam Surga. Pada hari itu dia diusir dari Surga. Dan hari Kiamat juga tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat." (HR. Muslim) Hadis ini menegaskan betapa mulianya hari Jumat. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW menyebut Jumat sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari) bahkan lebih agung daripada Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Pada hari itu pula terjadi peristiwa-peristiwa penting: penciptaan Nabi Adam AS, turunnya beliau ke bumi, diterimanya tobatnya, hingga kelak terjadinya kiamat. Waktu Mustajab untuk Berdoa Salah satu keistimewaan Jumat adalah adanya waktu mustajab, yaitu waktu ketika doa seorang hamba tidak akan tertolak, selama tidak meminta sesuatu yang haram. Banyak ulama berpendapat bahwa waktu tersebut berada antara salat Ashar hingga Maghrib. "Di dalamnya (hari Jumat) terdapat satu waktu, yang apabila seorang hamba Muslim berdoa kepada Allah bertepatan dengannya, maka Allah pasti akan memberinya apa yang dia minta." (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah sebabnya, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, dan amal saleh pada hari yang penuh rahmat ini. Jumat adalah saat terbaik untuk menata hati, memperbarui niat, dan memperbanyak kebaikan. Sedekah di Hari Jumat: Amalan yang Istimewa Di antara amal saleh yang sangat dianjurkan pada hari Jumat adalah bersedekah. Sedekah di hari Jumat memiliki nilai keutamaan yang besar di sisi Allah SWT. Ia bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sarana penyucian diri dari dosa dan cara untuk menjemput keberkahan hidup. Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Barang siapa yang memberi sedekah pada hari Jumat, dosanya akan dihapuskan sebagaimana air yang mengalir menghapus kotoran." (HR. An-Nasa’i) Manfaat Spiritual dan Sosial dari Sedekah Jumat Sedekah di hari Jumat membawa dua manfaat besar: 1. Spiritual, karena menjadi wujud ketaatan kepada Allah SWT dan pengamalan sunnah Rasulullah SAW. Sedekah menumbuhkan keikhlasan, empati, dan membersihkan hati dari sifat kikir. 2. Sosial, karena mampu mempererat ukhuwah, meringankan beban sesama, serta menumbuhkan rasa solidaritas dalam masyarakat. Menariknya, sedekah tidak selalu berupa uang atau harta. Senyum tulus, tenaga yang bermanfaat, ilmu yang dibagikan, atau sekadar doa kebaikan, semuanya termasuk sedekah. Sebagaimana sabda Nabi SAW: "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim) Jadikan Jumat Sebagai Hari Panen Pahala Jumat adalah hadiah mingguan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Hari raya rohani di mana pahala dilipatgandakan, doa diijabah, dan ampunan dibukakan seluas-luasnya. Maka, jangan biarkan hari Jumat berlalu tanpa kebaikan. Isi dengan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan shalawat, berdoa, serta menebar sedekah. Sebab, di balik setiap amal yang dilakukan dengan tulus, tersimpan keberkahan yang tak terhingga. Jumat bukan sekadar hari di penghujung pekan, melainkan ladang pahala bagi siapa pun yang ingin menanam kebaikan dan memanen keberkahan.
ARTIKEL31/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Bukan Cuma Scroll TikTok, Anak Muda Kini Bisa Bangun Ekonomi Umat Lewat Satu Klik!
Bukan Cuma Scroll TikTok, Anak Muda Kini Bisa Bangun Ekonomi Umat Lewat Satu Klik!
Di tengah derasnya arus digitalisasi, di mana anak-anak tumbuh bersama smartphone, gadget, dan media sosial, istilah sedekah mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang. Padahal, bagi Generasi Z dan Alpha yaitu generasi yang lahir antara tahun 1997-2012, sedekah justru bisa menjadi sesuatu yang keren, relevan, dan berdampak nyata. Sedekah bukan lagi sekadar memberi uang atau barang. Ia adalah bentuk kepedulian, empati, dan aksi nyata yang membawa manfaat spiritual, sosial, hingga emosional. Di tangan generasi yang serba terhubung ini, sedekah berubah menjadi bagian dari gaya hidup modern, ringan dilakukan, tapi besar manfaatnya. Dan di sinilah BAZNAS Kabupaten Tulungagung hadir: menjembatani semangat generasi muda untuk berbagi. Tidak sekadar memenuhi kewajiban, tapi menjadikan sedekah sebagai gerakan sosial yang inspiratif dan kekinian. Sedekah: Gaya Hidup Keren di Era Digital Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi) Sedekah tak terikat waktu, tempat, maupun jumlah. Siapa pun bisa melakukannya, kapan saja, bahkan dengan nominal kecil. Bagi Generasi Alpha, konsep sedekah bisa diterjemahkan dalam bahasa mereka sendiri sebagai “challenge kebaikan,” “top-up pahala,” atau “upgrade diri” untuk menjadi pribadi yang lebih peduli. Mereka ingin melihat hasil dari setiap aksi kecilnya, dan di sinilah BAZNAS hadir dengan sistem digital yang transparan dan terpercaya. Tiga Alasan Kenapa Sedekah Itu Keren Buat Generasi Alpha 1. Dampak Instan dan Terukur Generasi Alpha hidup di dunia yang serba cepat dan penuh feedback instan. Mereka ingin tahu, “Sedekahku buat apa?” Lewat program-program BAZNAS Tulungagung, mereka bisa melihat langsung bagaimana kontribusinya mengubah hidup seseorang dari senyum anak sekolah hingga menjadi sarjana, dari keluarga kecil yang dapat bantuan modal usaha, dan masih banyak lagi. Dampak yang nyata ini menumbuhkan rasa bangga dan semangat untuk terus berbagi. 2. Koneksi Digital yang Positif Sedekah kini tak harus menunggu kotak amal lewat di masjid. Cukup buka platform digital BAZNAS, kebaikan bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan jari. Lebih dari itu, mereka bisa ikut kampanye sosial, berbagi tautan donasi, atau bahkan mengajak teman-teman mereka ikut berpartisipasi. Sedekah pun berubah menjadi aktivitas sosial yang seru, kolaboratif, dan bermakna. 3. Bentuk Ekspresi Diri dan Identitas Generasi muda mencari cara untuk mengekspresikan diri di tengah lautan konten dan tren. Dengan ikut program kebaikan melalui BAZNAS, mereka menunjukkan bahwa peduli itu keren dan berbagi itu bagian dari personal branding positif. Mereka bukan sekadar followers tren, tetapi changemakers yang menebar pengaruh melalui aksi nyata. BAZNAS Tulungagung: Jembatan Kebaikan untuk Generasi Muda Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kabupaten Tulungagung memastikan setiap rupiah yang disalurkan masyarakat dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran. Beberapa langkah nyata yang dilakukan BAZNAS Tulungagung untuk melibatkan Generasi Alpha dalam ekosistem kebaikan antara lain: 1. Kemudahan Akses Digital Melalui kanal digital seperti website dan media sosial, sedekah kini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja (cepat, mudah, dan transparan). 2. Program Pemberdayaan Mustahik Dana sedekah diubah menjadi peluang lewat pelatihan kewirausahaan, para mustahik tak hanya mendapat bantuan sementara, tapi dibimbing, monitoring hingga evaluasi agar penerima manfaat bisa mandiri secara ekonomi dan dapat mengembangkan usaha mereka. 3. Edukasi dan Kampanye Sosial BAZNAS aktif menyebarkan konten inspiratif dan edukatif tentang zakat dan sedekah melalui berbagai media daring maupun kegiatan tatap muka, termasuk sosialisasi langsung ke masyarakat. 4. Transparansi dan Akuntabilitas Laporan penghimpunan maupun penyaluran dana disampaikan secara terbuka agar para donatur, termasuk generasi muda, bisa melihat hasil nyata dari kontribusinya. Digitalisasi Sedekah: Kebaikan Semakin Dekat Era digital membawa kemudahan luar biasa. Kini, hanya dengan satu klik, siapa pun bisa membantu anak yatim, mendukung pendidikan, membangun rumah layak huni, atau menopang ekonomi umat. Dengan transparansi dan dokumentasi yang jelas, Generasi Alpha bisa melihat dampak langsung dari sedekah yang mereka lakukan. Mereka bisa membagikan inspirasi di media sosial dan menggerakkan lingkaran kebaikan yang lebih luas. Menanam Nilai Kebaikan Sejak Dini Mengajarkan anak-anak bersedekah bukan sekadar soal memberi, tapi tentang menanamkan empati, tanggung jawab, dan cinta terhadap sesama. Jika sejak dini mereka terbiasa berbagi, maka di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang berjiwa sosial dan berempati tinggi. Sedekah bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi gema kebaikan yang mengalir tanpa batas, membawa berkah bagi pemberi, penerima, dan seluruh masyarakat. Sedekah Sebagai Gaya Hidup Keren Generasi Muda Bersedekah di era digital kini semakin mudah dan menyenangkan. Dengan semangat baru dan sarana modern, Generasi Z dan Alpha bisa menjadikan sedekah sebagai gaya hidup keren yang berdampak luas. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, setiap sedekah dikelola secara aman, transparan, dan tepat sasaran. Mari jadikan semangat berbagi bagian dari identitas generasi masa depan karena di tangan merekalah, kebaikan akan terus hidup dan berkembang. Sedekah bukan tentang seberapa besar yang kita beri, tapi seberapa tulus kita peduli.
ARTIKEL30/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda dengan Gerakan Zakat, Infaq dan Sedekah
Menyalakan Kembali Semangat Sumpah Pemuda dengan Gerakan Zakat, Infaq dan Sedekah
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, tonggak sejarah yang menandai kebangkitan semangat persatuan dan perjuangan anak muda untuk kemerdekaan bangsa. Sumpah Pemuda tahun 1928 bukan sekadar peristiwa historis, melainkan manifesto moral yang mengikat seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam keberagaman demi kemajuan Indonesia. Kini, hampir satu abad kemudian, semangat itu tetap relevan. Jika dahulu para pemuda berjuang melawan penjajahan fisik, maka kini tantangan kita adalah melawan penjajahan sosial modern: kemiskinan, ketimpangan, dan kurangnya kepedulian terhadap sesama. Di sinilah gerakan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi sarana aktualisasi semangat Sumpah Pemuda, membangun bangsa melalui solidaritas, keadilan sosial, dan kepedulian antarumat. Dari Persatuan Menuju Kepedulian Sosial Sumpah Pemuda mengajarkan arti bersatu dalam perbedaan, sementara zakat mengajarkan berbagi dalam keberlimpahan. Keduanya berakar pada nilai yang sama: memuliakan sesama dan memperkuat ikatan sosial. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, semangat persatuan itu diwujudkan dalam bentuk aksi nyata: menyalurkan zakat, infak, dan sedekah dengan prinsip amanah, profesional, dan berkeadilan. Dana yang dihimpun dari para muzaki telah menghidupkan berbagai program seperti Tulungagung Sehat, Cerdas, dan Makmur, yang membantu lansia dhuafa, pelajar kurang mampu, hingga pelaku usaha kecil untuk bangkit dari keterbatasan. Inilah bentuk gotong royong modern, semangat Sumpah Pemuda yang hidup dalam gerakan zakat. Pemuda Sebagai Penggerak Kebaikan Pemuda selalu menjadi pelopor perubahan. Dalam gerakan zakat, peran mereka sangat penting bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran sosial. Melalui kreativitas dan teknologi digital, generasi muda Tulungagung dapat menyebarkan nilai-nilai kebaikan, mengajak masyarakat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah secara modern dan transparan melalui kanal resmi BAZNAS. Ketika semangat kepemudaan berpadu dengan semangat zakat, lahirlah generasi yang tidak hanya nasionalis, tetapi juga dermawan dan berjiwa sosial tinggi. Zakat Sebagai Wujud Cinta Tanah Air Menunaikan zakat bukan hanya ibadah individual, tetapi juga tindakan cinta tanah air. Sebab di dalamnya terkandung nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan sosial serta cita-cita luhur yang menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, setiap rupiah zakat yang disalurkan menjadi energi kebangsaan: membantu warga miskin, menggerakkan ekonomi umat, dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk nasionalisme yang nyata. Cinta yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan membantu sesama. Pemuda Berzakat, Tulungagung Kuat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari tekad bersama. Hari ini, tekad itu dapat kita hidupkan kembali melalui gerakan kepedulian sosial berbasis zakat. Ketika pemuda, masyarakat, dan BAZNAS bersatu dalam semangat zakat, infak, dan sedekah, maka kita sedang menulis ulang makna Sumpah Pemuda dalam konteks zaman modern: bersatu dalam kebaikan, berjuang untuk kemanusiaan, dan membangun bangsa dengan keberkahan. Mari jadikan peringatan Sumpah Pemuda tahun ini sebagai momentum kebangkitan sosial. Bersama BAZNAS Kabupaten Tulungagung, kita kobarkan semangat: “Pemuda Berzakat, Tulungagung Kuat, Indonesia Hebat.”
ARTIKEL28/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Hari Santri: Dari Resolusi Jihad Menuju Revolusi Moral
Hari Santri: Dari Resolusi Jihad Menuju Revolusi Moral
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, sebuah momen yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi sarat makna sejarah dan nilai perjuangan. Hari ini menjadi pengingat akan kontribusi besar para santri dan ulama dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari bilik-bilik pesantren yang sederhana, muncul gelombang semangat jihad yang menggetarkan penjuru negeri demi membela tanah air dan kehormatan bangsa. Resolusi Jihad: Akar Historis Hari Santri Hari Santri Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan ini merujuk pada sebuah peristiwa monumental yang terjadi pada 22 Oktober 1945, ketika pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, mengeluarkan seruan jihad melalui fatwa yang kini dikenal dengan nama "Resolusi Jihad". Fatwa tersebut menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim). Artinya, seluruh umat Islam tanpa memandang status sosial memiliki kewajiban untuk melawan penjajah yang berusaha kembali menancapkan kekuasaannya di bumi Indonesia. Resolusi ini memicu gelombang perlawanan dari berbagai elemen masyarakat, terutama dari kalangan pesantren. Hanya beberapa minggu kemudian, pecahlah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Tanpa semangat jihad yang dikobarkan oleh para ulama dan santri, perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan mungkin tak akan seheroik itu. Oleh karena itu, Hari Santri menjadi simbol penting sinergi antara agama dan nasionalisme, antara iman dan cinta tanah air. Santri bukan hanya penjaga masjid atau penghafal kitab, melainkan juga penjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa. Jihad di Era Modern: Dari Perang Fisik ke Revolusi Moral Dalam konteks kekinian, istilah "jihad" sering kali disalahartikan dan disempitkan maknanya menjadi sekadar perang bersenjata. Padahal, dalam khazanah Islam, jihad memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” (HR. Al-Baihaqi) Jihad besar yang dimaksud adalah perjuangan melawan hawa nafsu, kebodohan, kemalasan, dan ketidakadilan. Inilah makna jihad yang relevan di zaman modern, sebuah revolusi moral yang perlu terus digaungkan, terutama oleh kalangan santri. Hari ini, santri tidak lagi berperang dengan bambu runcing, melainkan dengan pena, ilmu, dan akhlak. Santri berjihad dengan cara menulis, berdakwah, membagikan ilmu, menegakkan nilai, dan menjaga ruang publik, termasuk ruang digital dari degradasi moral. Bentuk Jihad Santri Masa Kini Perjuangan santri di era modern meliputi berbagai medan baru: 1. Jihad Intelektual, yaitu menuntut ilmu setinggi-tingginya dan melawan kebodohan, baik di pesantren maupun di dunia akademik. 2. Jihad Moral, yaitu menjadi teladan akhlak, menjaga kejujuran, dan melawan arus pragmatisme serta korupsi moral yang menggerus nilai-nilai luhur bangsa. 3. Jihad Sosial, yaitu membela kaum lemah, memberantas kemiskinan, dan menegakkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. 4. Jihad Digital, yaitu menjadi garda depan dalam melawan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan menyebarkan konten positif di dunia maya. Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis identitas moral, santri hadir sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Mereka tidak hanya menjadi penghafal kitab, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang berakar kuat pada tradisi keilmuan dan keimanan. Nilai-Nilai Santri yang Tetap Abadi Sepanjang Zaman Pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sejak berabad-abad silam, pesantren telah melahirkan banyak ulama, pemimpin, serta pejuang bangsa yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki keteguhan moral dan kekuatan spiritual. Berikut beberapa nilai utama santri yang tetap relevan hingga masa kini: 1. Keikhlasan Segala aktivitas santri mulai dari belajar, beribadah, hingga bekerja selalu diniatkan untuk mencari ridha Allah. Dari keikhlasan inilah tumbuh keteguhan hati dan semangat pantang menyerah. 2. Tawadhu’ (Rendah Hati) Santri diajarkan bahwa kesombongan adalah penghalang ilmu. Karena itu, mereka senantiasa menghormati guru, menghargai pengetahuan, serta menjaga sikap rendah hati di hadapan siapa pun. 3. Disiplin dan Istiqamah Kehidupan di pesantren diatur secara tertib, mulai dari jadwal belajar, salat berjamaah, mengaji, hingga menjaga kebersihan. Kedisiplinan tersebut melahirkan karakter yang konsisten dan teguh dalam berbuat baik. 4. Cinta Ilmu dan Kemandirian Bagi santri, menuntut ilmu bukan hanya untuk mengejar pekerjaan, tetapi sebagai jalan menuju kemuliaan. Mereka dibentuk menjadi pribadi yang sederhana, mandiri, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. 5. Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan Minal Iman) Santri memandang kecintaan terhadap Indonesia sebagai bagian dari keimanan. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa menjaga tanah air sama mulianya dengan menjaga agama, karena keduanya saling melengkapi. Nilai-nilai tersebut menjadi jati diri moral para santri, menjadikannya tetap relevan dan dibutuhkan dalam setiap era, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga zaman modern yang serba digital saat ini. Santri dan Revolusi Moral Bangsa Revolusi moral berarti perubahan besar dalam cara berpikir dan bertindak yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan. Dalam konteks keindonesiaan, revolusi moral adalah upaya mengembalikan kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial di tengah krisis moral yang melanda. Santri memiliki posisi strategis dalam revolusi moral ini karena mereka dibentuk dengan prinsip akhlak sebagai fondasi kehidupan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad) Nilai akhlak inilah yang harus kembali menjadi pusat kehidupan masyarakat. Di tengah budaya instan, korupsi, dan hedonisme, santri dapat menjadi teladan kesederhanaan dan kejujuran. Revolusi moral juga berarti memperjuangkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin Islam yang menebarkan kasih sayang, bukan kebencian. Santri yang memahami hakikat Islam sejati akan berdiri di garis depan dalam menolak radikalisme dan intoleransi. Jihad Santri di Era Modern: Menjaga Nilai, Menguatkan Bangsa Momentum Hari Santri setiap tahun harus menjadi pengingat bahwa bangsa ini pernah dan akan terus ditopang oleh kekuatan moral para santri. Di tangan merekalah masa depan Indonesia dapat terus dijaga, bukan hanya dari ancaman fisik, tetapi juga dari kehancuran nilai. Dengan semangat jihad yang dimaknai secara kontekstual, para santri masa kini dan mendatang diharapkan terus menjadi pelopor revolusi moral, penegak kebenaran, dan pelindung nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Sumber: kotayogya.baznas.go.id
ARTIKEL22/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Apakah Dana Zakat Boleh Disalurkan untuk Penanggulangan Bencana?
Apakah Dana Zakat Boleh Disalurkan untuk Penanggulangan Bencana?
Pertanyaan ini sering muncul setiap kali terjadi musibah. Banyak umat Muslim yang ingin menyalurkan zakat untuk membantu para korban bencana. Lalu, bagaimana hukumnya? Dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 60 ditegaskan bahwa zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan (asnaf), yaitu: fakir, miskin, amil zakat, muallaf, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang berutang), fisabilillah, dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal). Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 66 Tahun 2022 tentang Pemanfaatan Dana Zakat untuk Penanggulangan Bencana dan Dampaknya memberikan panduan lebih rinci. Fatwa tersebut menegaskan bahwa dana zakat memang dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana, dengan ketentuan sebagai berikut: Disalurkan langsung kepada mustahik yang termasuk dalam delapan asnaf zakat. Misalnya, korban bencana yang kehilangan harta benda hingga jatuh dalam kategori fakir atau miskin. Untuk kepentingan kemaslahatan umum, dana zakat boleh digunakan dengan syarat penerima manfaatnya termasuk dalam asnaf fisabilillah. Kebutuhan lain yang tidak bisa dibiayai dari zakat seperti operasional relawan, edukasi kebencanaan, pendampingan, maupun program pencegahan dapat dipenuhi melalui infaq, sedekah, atau dana sosial keagamaan lainnya. Penting dipahami, meskipun zakat bisa digunakan untuk membantu korban bencana, tidak semua program kebencanaan harus dibiayai dari zakat. Dana infak dan sedekah, justru lebih fleksibel untuk membangun infrastruktur, penyediaan logistik umum, hingga program pemulihan jangka panjang. Dengan demikian, zakat boleh digunakan untuk penanggulangan bencana asalkan benar-benar disalurkan kepada mereka yang tergolong dalam delapan asnaf zakat. Sementara itu, kebutuhan kolektif yang lebih luas sebaiknya ditopang melalui dana sosial lainnya agar penanganan bencana bisa lebih menyeluruh dan berkelanjutan. Sumber: mui.or.id
ARTIKEL03/10/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Puasa Asyura dan Amalan Sunnah yang Sayang Dilewatkan di Bulan Muharram
Dalam Islam, terdapat bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Salah satunya adalah bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah, yang juga disebut sebagai “Syahrullah” (Bulan Allah). Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk-Nya. Puncak keberkahan bulan Muharram berada pada tanggal 10, yang dikenal dengan Hari Asyura. Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk berpuasa pada hari ini. Dalam hadis disebutkan: “Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim No. 1982) Keutamaan Puasa Asyura yaitu: 1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu “Dan Nabi SAW ditanya tentang puasa pada hari Asyura, maka beliau menjawab: ‘(Puasa itu) menghapus dosa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim No. 1162) Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas berpuasa. 2. Puasa yang dikerjakan oleh nabi Musa dan Bani Israil “Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 2004 dan Muslim No. 1130) Dari hadis ini kita tahu bahwa hari Asyura juga diperingati oleh Nabi Musa AS sebagai bentuk syukur kepada Allah, dan Nabi Muhammad SAW kemudian mencontohnya sebagai ibadah. 3. Mendapat pahala karena di bulan yang mulia "Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram."(HR. Muslim No.1982). Selain fadhilah-fadhilah diatas, untuk membedakan dengan kaum yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10 muharram, maka nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk puasa pada tanggal 9 muharram yaitu yang kita sebut dengan Tasu'a, karena jika 10 muharram dapat menghapus dosa-dosa kecil kita pada satu tahun yang lalu maka nabi mengatakan dengan adanya puasa tasu'a ini dapat menghapus dosa kita pada satu tahun kedepan. Maka dianjurkan kepada kita sebagai umat muslim untuk puasa selama 2 hari pada bulan muharram ini yaitu: 9 Muharram (Tasu'a) 10 Muharram (Asyura). Amalan yang Dianjurkan di Hari Asyura: 1. Puasa Sunnah Asyura Ini adalah amalan yang paling utama pada tanggal 10 Muharram. "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim) Disunnahkan juga untuk berpuasa sehari sebelumnya (9 Muharram / Tasu’a) agar berbeda dengan kaum Yahudi. 2. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah momen yang baik untuk memperbanyak zikir, istighfar, dan doa sebagai bentuk taubat serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. 3. Bersedekah dan Berbuat Baik Anjuran bersedekah di hari Asyura dinyatakan dalam beberapa riwayat ulama salaf, meskipun derajat hadisnya diperselisihkan, namun para ulama seperti Imam Ahmad membolehkan bersedekah sebagai bentuk amal saleh yang umum dianjurkan. “Barang siapa melapangkan keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR. al-Baihaqi – sanadnya diperselisihkan, tapi diamalkan oleh ulama) 4. Membahagiakan Keluarga Sebagian ulama juga menganjurkan untuk menyediakan makanan yang lebih dari biasanya untuk keluarga di hari Asyura sebagai bentuk syukur. 5. Merenungkan Kisah Hijrah dan Karbala Hari Asyura juga menjadi hari penting dalam sejarah Islam: Nabi Musa AS diselamatkan dari Fir’aun. Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir. Kesyahidan Husain bin Ali RA di Karbala. Momen ini dapat menjadi pelajaran untuk: Menguatkan keteguhan iman. Meneladani keberanian dan pengorbanan dalam kebenaran. Menjauhi permusuhan dan kebencian. 6. Muhasabah dan Hijrah Diri Karena Muharram adalah awal tahun Hijriyah. maka sangat tepat dijadikan momen untuk bermuhasabah atau evaluasi diri dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih taat dan bermakna. Bulan Muharram adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa tasu'a dan asyura, dzikir, sedekah, serta muhasabah diri, semoga kita termasuk orang-orang yang diberi ampunan, keberkahan, dan rezeki yang lapang oleh Allah SWT.
ARTIKEL01/07/2025 | Humas BAZNAS Tulungagung
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Cahaya Zakat, Pelita di Tengah Kegelapan
Hidup sering digambarkan sebagai sebuah perjalanan, penuh liku dan warna. Ada saat-saat cerah yang dipenuhi kebahagiaan, namun tak jarang kegelapan datang menyelimuti, membawa tantangan yang berat dan mengikis harapan. Di tengah situasi sulit itu, zakat hadir bagaikan cahaya yang menerangi jalan, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan uluran kasih dan kepedulian. Zakat bukan sekadar rukun Islam yang harus ditunaikan, melainkan wujud nyata dari rasa peduli dan kasih sayang terhadap sesama "cahaya yang bersinar terang" yang membawa segala keberkahan. Meskipun tampaknya sederhana, berbagi sebagian harta zakat memberikan dampak nyata yang menerangi kehidupan orang lain dan memperbaiki keseimbangan sosial. Dengan menyisihkan sebagian kecil harta untuk mereka yang membutuhkan. Tak hanya itu, zakat juga menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Ketika zakat yang kita tunaikan membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka keberkahan dari kebaikan itu akan terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Namun, manfaat zakat tidak hanya dirasakan oleh penerimanya (Mustahik) saja bagi yang menunaikannya (Muzaki) juga. Zakat menjadi cara membersihkan harta, menguatkan keimanan, dan mendatangkan keberkahan. Allah menjanjikan bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk kebaikan akan diganti dengan berlipat ganda. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103) Sebagai umat Muslim, mari jadikan zakat sebagai pelita yang tak pernah padam. Dengan zakat, kita tidak hanya menerangi kehidupan orang lain, tetapi juga menerangi jalan kita menuju ridha Allah. Jadikan zakat sebagai cahaya harapan di tengah kegelapan dunia. Mari tunaikan zakat dan sebarkan cahaya untuk kehidupan yang lebih baik.
ARTIKEL24/01/2025 | BAZNAS Tulungagung
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah sebagai Bentuk Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Sedekah merupakan salah satu bentuk kedermawanan yang diajarkan dalam Islam, namun nilai dan manfaatnya melampaui batas agama. Lebih dari sekadar amal, sedekah adalah ekspresi solidaritas dan kepedulian sosial yang memperkuat ikatan dalam masyarakat. Melalui sedekah, kita berbagi sebagian rezeki dengan mereka yang membutuhkan, membantu meringankan beban orang lain, dan menciptakan rasa kebersamaan. Dalam konteks sosial, sedekah bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional baik bagi pemberi maupun penerima. Dengan menyisihkan sebagian harta, kita menumbuhkan rasa empati dan kepedulian, yang pada akhirnya membangun komunitas yang lebih harmonis. Selain itu, sedekah juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, memberi kesempatan bagi mereka yang kurang mampu untuk hidup lebih layak. Bahkan, orang yang ahli sedekah akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu khusus. Sama dengan yang disebut dalam hadist "Barang siapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah" (HR. Bukhari). Pada akhirnya, sedekah adalah cara untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap kesejahteraan bersama. Dengan berbagi, kita tak hanya mengamalkan perintah agama, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan solid.
ARTIKEL14/11/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Kenapa Orang Meninggal Lebih Memilih Bersedekah Jika Ia Hidup Kembali?
Sedekah yang utama adalah ketika masih hidup, sedang membutuhkan, sedang sehat, dan masih muda serasa ajal masih panjang. Dalam Alquran diterangkan bahwa sedekah merupakan perkara yang paling harus dilakukan orang yang meninggal seandainya dia dihidupkan lagi ke dunia. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al Munafiqun ayat 10) Orang yang telah sampai ajalnya akan minta tangguh agar ajalnya diundur, bahkan yang telah wafat pun minta dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh. Amal saleh dimaksud adalah sedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Mengapa justru memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Pertama, Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. “Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484). Kedua, Sedekah menjadi benteng dari azab neraka. “Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut mengabarkan keutamaan sedekah meski dengan jumlah yang sangat sedikit. Karena, sedekah itu lah justru bisa menyelematkan yang bersangkutan dari api neraka. Yang dimaksud dengan sebutir kurma merupakan kiasan tentang amal-amal ringan yang berpahala besar. Ketiga, Menolak su’ul khotimah. Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah dapat memudahkan yang bersangkutan melafalkan kalimat tauhid dan melepaskan ruh dengan khusnul khatimah. “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR. Tirmidzi) Keempat, Memadamkan murka Alloh Ta’ala di dunia terlebih di akhirat kelak. Seseorang yang bersedekah sejatinya sedang menyelamatkan diri dan keluarganya, sekalipun pada kenyataannya sedang membantu orang lain, namun hadis berikut mengabarkan bahwa sedekah yang dilakukannya dapat menyelamatkannya dari murka Alloh ta’ala. “Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah” (Shahih At-Targhib, 888) Kelima, Tolak bala yang mujarab adalah melalui sedekah. Imam Al Baihaqi dari riwayat Ali bin Abi Thalib RA, yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Segeralah bersedekah! Sungguhlah, musibah tidak dapat melangkahinya.” Maksudnya adalah bahwa sedekah itu merupakan bendungan atau tanggul yang kokoh kuat terhadap musibah (bala). Musibah tidak akan dapat menerjangnya. Keenam, Sedekah kepada sesama makhluk mendapatkan pahala setara dengan I’tikaf sebulan di masjid. “Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda kesusahan, atau meringankannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh.” (HR. Ath Thabrani) Jadi, mari kita perbanyak pahala sedekah ketika kita masih hidup didunia ini agar kita semua dapat terhindar dari panasnya api neraka. Sedekah mudah, sedekah cepat, sedekah aman hanya di BAZNAS Kabupaten Tulungagung.
ARTIKEL22/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum: Ibadah Sederhana yang Berpahala
Senyum merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak luar biasa. Dalam Islam, tersenyum kepada orang lain tidak hanya dianggap sebagai perilaku baik, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang berpahala. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa dengan tersenyum, kita tidak hanya mencerahkan hati seseorang, tetapi juga mendapatkan pahala seperti bersedekah. Senyum merupakan cara mudah untuk menyebarkan kebaikan dan menciptakan lingkungan yang positif di sekitar kita. Allah SWT juga menyukai orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195) Tersenyum adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang dapat kita lakukan setiap hari. Ini menunjukkan keramahan, empati, dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mempraktikkan ibadah ini dengan mudah: 1. Tersenyum kepada keluarga saat bertemu di pagi hari 2. Menyapa tetangga dengan senyuman 3. Tersenyum kepada rekan kerja atau teman sekolah 4. Memberikan senyuman kepada orang asing yang kita temui di jalan Dengan menjadikan senyum sebagai kebiasaan, kita tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan sosial kita, tetapi juga meraih pahala dari Allah SWT. Mari kita jadikan senyum sebagai ibadah sederhana namun berharga dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL20/08/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1446 H. Yang merupakan awal bulan dalam kalender Hijriah. Pada bulan Muharram ini termasuk dalam bulan-bulan yang haram (asyhurul hurum). Bulan Muharram ini salah satu bulan mulia, dari bulan- bulan yang lain. Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa bersejarah, salah satunya adalah turunnya rahmat Allah untuk pertama kali yakni pada hari Asyura dan pada hari itu juga Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Allah swt. Allah swt memberikan banyak keutamaan pada bulan ini, di antaranya adalah kesunnahan puasa tanggal 9 (Tasu’a) yang digandeng dengan puasa tanggal 10 Muharram (Asyura), sebab bulan Muharram merupakan bulan mulia setelah Ramadhan untuk melakukan puasa. Rasulullah ? bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam.” (HR Muslim). Salah satu keutamaan puasa pada hari Asyura adalah dapat menghapus dosa pada tahun sebelumnya dan barang siapa yang berpuasa Asyura, maka seperti puasa setahun penuh. Sayyid Muhammad Syatho dalam kitab Ianah-nya menyebutkan tiga hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a menyertai puasa Asyura yakni, Untuk berhati-hati, sebab ada kemungkinan dalam menentukan awal bulan Muharram terjadi kesalahan. Agar tidak menyamai dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura saja. Untuk menghindari puasa hanya satu hari saja sebagaimana mengkhususkan puasa pada hari Jumat tanpa didahului hari sebelumnya dan tidak diikuti hari setelahnya. Dengan ini, jika seseorang melakukan puasa Asyura saja tanpa puasa Tasu’a maka disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal sebelas Muharram.
ARTIKEL16/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Alhamdulillah hari ini kita, khususnya umat Islam masih kembali dipertemukan dengan hari Jumat. Dan perlu diketahui bahwa setidaknya ada waktu tertentu yang hendaknya kita perhatikan sebagai waktu terkabulkannya doa atau mustajabah. Disebutkan bahwa Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya sepekan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat. Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah. Di antara hal-hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa. Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan sa’atul ijabah (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul. Disebutkan dalam hadits, Artinya :"Dari sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat: Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar." (HR Al-Bukhari) Namun, tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, dan para ulama juga berbeda-beda pendapat mengenai penentu waktu-waktu ijabah ini. Menurut mayoritas ulama madzhab Syafii, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya imam jamaah shalat Jumat. Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud. Artinya :"Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah SAW tentang waktu ijabah? Aku menjawab: Ya. Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat." (HR Muslim dan Abi Dawud)
ARTIKEL12/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Harta dalam bentuk mata uang atau tabungan, memungkinkan untuk diqiyas kan dengan emas atau perak, mengingat kedudukan nilai emas dan perak digunakan sebagai mata uang di masa silam, maka nominal uang kertas atau logam dapat di-qiyas-kan dengan emas atau perak. Namun perlu diperhatikan bahwa emas dan perak memiliki perhitungan zakat yang berbeda, dan tidak boleh digabungkan. Uang yang disimpan, entah di bawah tempat tidur atau di bank, alias tidak diputar untuk modal usaha tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nisab atau jumlah tertentu sehingga wajib zakat (senilai harga 85 gram emas murni). Zakat uang tabungan (simpanan) dikeluarkan setiap tahun, selama jumlah uang masih mencapai satu nisab, dipersamakan dengan emas dan perak yang setiap tahunnya bisa berubah nilainya. (Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M.) Hal ini didasarkan pada keterangan dalam kitab Bajuri-Fathul Qorib Juz I dan Bujairimi-Iqna’, bahwa pada benda-benda tambang yang berpotensi untuk tetap mempunyai nilai tambah seperti emas dan perak wajib dizakati selama barangnya masih ada dan mencapai satu nisab. Sementara pada biji-bijian zakatnya hanya setahun sekali saja walaupun biji-bijian tetap ada selama beberapa tahun. Tahun pertama pengeluaran zakat dihitung setelah seseorang menyimpan uangnya selama satu tahun. Tahun kedua dihitung setelah melewati satu tahun dari tahun pertama, begitu seterusnya. Besarnya zakat yang dikeluarkan tiap tahunnya adalah 2,5 persen, sama dengan zakat barang dagangan. Contoh : kita menyimpan uang pada tanggal 1 Juli 2024 sejumlah Rp50.000.000,- . Kemudian pada tahun berikutnya tanggal 1 Juli 2025 uang simpanan masih berjumlah Rp45.000.000,- (masih satu nishab) maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % X Rp45.000.000,- = Rp1.125.000,-. Jika pada tahun berikutnya uang simpanan masih mencapai satu nishab (berdasarkan perhitungan harga emas murni waktu itu) maka tetap wajib dikeluarkan zakatnya seperti pada perhitungan di atas dan Sebagai catatan juga, seorang muslim tidak diperkenankan untuk melakukan trik tertentu agar tidak mengeluarkan zakat.
ARTIKEL10/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah, memiliki makna dan keutamaan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bulan ini dipandang sebagai salah satu bulan mulia dan diberkahi oleh Allah swt. Disisi lain bulan ini banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat berarti adalah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Muharram adalah salah satu dari empat bulan terhormat (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang disebutkan Al-Qur’an. Pada bulan terhormat termasuk Muharram, masyarakat Arab dilarang berbuat dholim dan menumpahkan darah. Dilansir dari nu.or.id, Empat bulan terhormat tersebut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) disebutkan dalam Surat At-Taubah : Artinya: "Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah terdiri atas dua belas bulan, dalam ketentuan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketentuan) agama yang lurus. Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". Bulan Muharram juga disebut sebagai bulannya Allah, Mengapa demikian? Padahal Muharram memiliki keutamaan yang sama atau lebih sedikit dengan bulan lainnya dibandingkan bulan Ramadhan. Menurut Syekh Jalalauddin As-Suyuthi, kelebihan bulan Muharram terletak pada namanya yang islami dibandingkan nama bulan hijriah lainnya. Nama bulan hijriah selain Muharram merupakan nama bulan yang dipakai pada masa jahiliah. Adapun bulan Muharram pada era masyarakat jahiliah dinamai bulan Shafar Awwal. Sedangkan bulan setelah Muharram disebut bulan Shafar Tsani. Ketika Islam datang, Allah menyebut Shafar Awwal dengan bulan Muharram yang dinisbahkan dengan asma-Nya.
ARTIKEL08/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat