Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain
03/06/2026 | Penulis: Humas BASNAZ Tulungagung
Senyumlah, Syukuri, Hidupmu...
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri.
Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain.
Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan
Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal.
Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain.
Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain
Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."
(QS. Thaha: 131).
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri.
Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari.
Syukur Adalah Kunci Ketenangan
Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.
Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup.
Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh.
Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan
Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.
Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.
Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain.
Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi
Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.
Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung.
No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung
atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”” (QS. Ibrahim: 7)
Artikel Lainnya
Ketika Fajar Menyingsing: Keajaiban Sedekah Subuh yang Membuka Pintu Langit
Indahnya Sedekah dan Zakat di Masa Rosululloh
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini
Sedekah sebagai Investasi dalam Kebaikan dan Keberkahan, Bukan Hanya Sekedar Melepas Harta
Kisah Isra Miraj dan Hikmahnya Bagi Umat muslim
Kurban Digital: Tren Baru Ibadah di Era Modern
Dari Kebaikan Sederhana Menuju Kemudahan Hidup
Keistimewaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Memakmurkan Ibadah, Menebar Kebaikan: Makna dan Keutamaan Qurban
Amalan Ringan, Pahala Besar: Sunnah yang Dianjurkan di Hari Jumat
Menuju Ramadan: Saatnya Bersih-Bersih Hati dan Perbaiki Diri
Tips Khatam Al-Qur’an ala Ramadhan Produktif
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Jelang Ramadhan 1447 H, Bagaimana Aturan Pembayaran Fidyah bagi Ibu Hamil Menurut Ulama?
Tau gak? Amalan sedekah itu kayak Memancing Datangnya Rezeki loh..

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.
Lihat Daftar Rekening →