WhatsApp Icon
Dzulhijjah: Momentum Emas Meningkatkan Keimanan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Di bulan inilah umat Islam diberikan kesempatan besar untuk meraih pahala berlimpah melalui berbagai amalan yang dicintai Allah SWT. Tidak hanya menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban, Dzulhijjah juga menghadirkan sepuluh hari pertama yang disebut sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun.

Keistimewaan tersebut menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki kualitas ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Setiap muslim yang memahami keutamaan bulan ini tentu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal saleh.

Keutamaan Dzulhijjah, Bulan yang Dimuliakan Allah

Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram."
(QS. At-Taubah: 36)

Keagungan Dzulhijjah semakin sempurna dengan hadirnya sepuluh hari pertama yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Oleh karena itu, Dzulhijjah menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat keimanan.

Memperbanyak Dzikir, Menghidupkan Hati yang Lalai

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih menjadi lantunan yang dianjurkan untuk terus mengiringi aktivitas sehari-hari.

Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sarana untuk menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketika hati senantiasa mengingat-Nya, ketenangan akan hadir dan keimanan akan semakin kuat.

Kalimat-kalimat dzikir yang dapat dibiasakan antara lain:
1. Subhanallah
2. Alhamdulillah
3. Laa ilaaha illallah
4. Allahu Akbar

Amalan sederhana ini sering kali terlihat ringan, namun memiliki dampak besar dalam menjaga hati tetap hidup dan dekat dengan Allah SWT.

Menjaga Shalat sebagai Pondasi Keimanan

Tidak ada amalan yang lebih utama setelah syahadat selain menjaga shalat. Shalat merupakan tiang agama sekaligus ukuran kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Momentum Dzulhijjah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki kedisiplinan dalam menunaikan shalat lima waktu, meningkatkan kekhusyukan, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat dhuha, rawatib, dan tahajud.

Seseorang yang menjaga shalat dengan baik akan lebih mudah menjaga dirinya dari berbagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, kelalaian terhadap shalat sering menjadi awal dari melemahnya kualitas iman.

Puasa Dzulhijjah dan Arafah, Jalan Menuju Pengampunan

Di antara amalan istimewa yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
(HR. Muslim)

Keutamaan yang luar biasa ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Selain menjadi sarana meraih ampunan, puasa juga melatih kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Sahabat Harian

Salah satu tanda meningkatnya keimanan adalah semakin dekatnya seseorang dengan Al-Qur'an. Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat dengan kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam.

Membaca Al-Qur'an setiap hari, menghafal ayat-ayat pilihan, mempelajari tafsir, atau mengikuti majelis ilmu merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan perubahan besar bagi kehidupan spiritual seseorang.

Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keteguhan hati, serta memberikan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sedekah dan Kepedulian Sosial yang Menguatkan Iman

Keimanan yang kuat selalu melahirkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Dzulhijjah juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan.

Sedekah tidak selalu harus berupa nominal besar. Memberikan makanan kepada tetangga, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, atau berkontribusi dalam program sosial dan kemanusiaan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam.

Melalui sedekah, seorang muslim belajar melepaskan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain di dalamnya.

Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS

Tidak dapat dipisahkan dari Dzulhijjah adalah kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tersebut menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan teladan tentang kepatuhan dan kesabaran yang luar biasa.

Nilai-nilai pengorbanan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari. Mengalahkan rasa malas untuk beribadah, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama, menahan amarah, dan mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadi merupakan bentuk pengorbanan yang dapat dilakukan setiap muslim saat ini.

Menjaga Akhlak sebagai Cerminan Iman

Keimanan bukan hanya tampak dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, Dzulhijjah harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan.

Menghindari ghibah, fitnah, perkataan kasar, serta perdebatan yang tidak bermanfaat merupakan bagian dari upaya menyempurnakan iman. Sebaliknya, membiasakan berkata baik, bersikap santun, dan menghormati sesama akan memperindah kualitas ibadah yang dilakukan.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Konsistensi, Kunci Keberhasilan Meningkatkan Keimanan

Semangat beribadah pada bulan Dzulhijjah tentu sangat baik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana semangat tersebut tetap terjaga setelah bulan mulia ini berlalu.

Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Karena itu, mulailah dengan target yang realistis dan mampu dijaga secara berkelanjutan, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari, menjaga shalat tepat waktu, berdzikir setelah shalat, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.

Konsistensi dalam kebaikan akan membentuk karakter seorang muslim yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Jangan Biarkan Dzulhijjah Berlalu Tanpa Perubahan

Dzulhijjah bukan sekadar bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban. Lebih dari itu, bulan ini adalah momentum terbaik untuk memperbarui keimanan, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Setiap amal saleh yang dilakukan pada hari-hari mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu tanpa makna. Mulailah dari langkah-langkah sederhana: memperbanyak dzikir, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berpuasa sunnah, bersedekah, dan memperbaiki akhlak.

Semoga Dzulhijjah menjadi titik awal lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Namun, peningkatan keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi saja. Keimanan yang kuat juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang masih hidup dalam keterbatasan.

Oleh karena itu, mari manfaatkan momentum Dzulhijjah untuk memperluas manfaat dan menebarkan kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap harta yang ditunaikan bukan hanya menjadi sarana membersihkan dan menyucikan harta, tetapi juga menjadi jembatan kebaikan yang membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Mari jadikan Dzulhijjah sebagai bulan untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat kepedulian kepada sesama.

Tunaikan kebaikan Anda secara mudah melalui layanan pembayaran online:

Klik disini -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

Semoga setiap amal yang ditunaikan menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat luas.

03/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Mengapa Hati Sulit Merasa Cukup? Jawabannya Ada pada Cara Kita Melihat Orang Lain

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Ada yang memamerkan pencapaian, kendaraan baru, rumah impian, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Tanpa disadari, semua itu sering memengaruhi cara kita memandang kehidupan sendiri.

Akibatnya, rasa syukur perlahan tergeser oleh kebiasaan membandingkan. Kita merasa kurang bukan karena Allah belum memberi cukup, tetapi karena terlalu fokus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Ketika Membandingkan Menjadi Kebiasaan

Membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu penyebab utama hilangnya rasa syukur. Selalu ada orang yang terlihat lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita. Jika kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka kita akan terus merasa tertinggal.

Padahal, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah SWT memberikan rezeki, ujian, dan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang terlihat sebagai kenikmatan pada diri seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula apa yang terlihat sederhana dalam hidup kita bisa jadi merupakan nikmat besar yang tidak dimiliki orang lain.

Al-Qur'an Mengingatkan Kita untuk Tidak Terlalu Melihat Kenikmatan Orang Lain

Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka..."
(QS. Thaha: 131).

Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam rasa iri atau silau terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk lebih fokus pada karunia yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri.

Ketika hati terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap hari.

Syukur Adalah Kunci Ketenangan

Orang yang bersyukur tidak berarti memiliki segalanya. Namun, ia mampu melihat nilai dari apa yang sudah dimilikinya. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, dan berbagai nikmat lainnya sering kali dianggap biasa karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.

Rasa syukur menghadirkan ketenangan batin. Sebaliknya, kebiasaan membandingkan hanya akan melahirkan kegelisahan yang tidak ada ujungnya. Semakin sering membandingkan, semakin sulit merasa cukup.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat mengeluh.

Wujud Syukur Tidak Hanya di Lisan

Mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bagian dari syukur, tetapi syukur yang sempurna juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang paling mulia adalah berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ia sedang mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. Berbagi juga membantu kita menyadari bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.

Dengan berbagi, fokus hidup tidak lagi tertuju pada apa yang kurang, melainkan pada bagaimana nikmat yang dimiliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain.

Menyempurnakan Syukur dengan Berbagi

Setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, mari jadikan rasa syukur tidak hanya berhenti pada ucapan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.

Sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, mari salurkan infak dan sedekah terbaik melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung.

No. Rekening BSI: 7137 892 051 a.n. BAZNAS Infaq Tulungagung

atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/sedekah

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

03/06/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Sudah Siap Berkurban? Pahami Dulu Makna, Hukum, dan Keutamaan Ibadah Ini

Makna dan Hakikat kurban 

Ibadah kurban merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha, yaitu pada hari tasyrik 10-13 Dzulhijjah. Kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.

Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin.

Keterangan tersebut dijelaaskan dalan Q.S. al-Hajj 22:28 : “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”. 

Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah (tiga hari). Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245).

Hukum Kurban

Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).

Keutamaan Kurban

Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan.

Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:"Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.

Mari jadikan ibadah kurban sebagai wujud ketakwaan dan kepedulian kepada sesama. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap kurban yang kita tunaikan menjadi amal penuh keikhlasan dan keberkahan.

Yuk, tunaikan kurban terbaikmu bersama BAZNAS Tulungagung dengan transfer ke rekening:

BSI 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> kabtulungagung.baznas.go.id/kurban

27/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Cuti Bersama Idul Adha: Momentum Menyambut Hari Raya dengan Ibadah dan Kepedulian

Cuti bersama Idul Adha sering kali dipandang hanya sebagai waktu untuk beristirahat dari aktivitas pekerjaan. Padahal, di balik itu semua terdapat kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghidupkan nilai-nilai ibadah yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha.

Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang penuh makna. Hari raya ini mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama. Karena itu, cuti bersama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah, bukan hanya sekadar menikmati waktu luang.

Memperbanyak Ibadah di Hari-Hari Mulia

Hari-hari menjelang dan saat Idul Adha termasuk waktu yang istimewa dalam Islam, terutama pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai oleh Allah SWT. Maka, cuti bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak: Salat sunnah, Membaca Al-Qur’an, Dzikir dan takbir, Puasa sunnah Dzulhijjah dan Arafah dan Sedekah kepada yang membutuhkan

Dengan waktu yang lebih longgar, umat Muslim dapat lebih fokus memperbaiki kualitas ibadah yang mungkin selama ini terhambat oleh kesibukan pekerjaan.

Menumbuhkan Semangat Berkurban

Idul Adha identik dengan ibadah kurban, sebuah syariat yang mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan dan pengorbanan. Cuti bersama menjadi momen yang tepat untuk ikut terlibat langsung dalam proses ibadah kurban, mulai dari persiapan, penyembelihan, hingga pembagian daging kepada masyarakat.

Keterlibatan ini bukan hanya soal ritual, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali saat Idul Adha tiba. Dari sinilah nilai kebersamaan dan rasa syukur semakin terasa.

Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Idul Adha juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama manusia. Momentum cuti bersama dapat dimanfaatkan untuk: Berkumpul bersama keluarga, Mengunjungi orang tua dan kerabat, Mempererat hubungan tetangga dan Berbagi makanan dan kebahagiaan

Kehangatan kebersamaan di Hari Raya menjadi pengingat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ukhuwah dan kepedulian sosial.

Menjadikan Cuti Bersama Lebih Bermakna

Tidak ada salahnya beristirahat di masa cuti bersama, namun akan jauh lebih baik jika waktu tersebut juga diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah. Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari kesenangan dunia, tetapi juga dari hati yang dekat dengan Allah dan mampu berbagi kepada sesama.

Karena itu, mari jadikan cuti bersama Idul Adha bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan.

 

Cuti bersama Idul Adha adalah momen istimewa yang dapat membawa banyak keberkahan jika dimanfaatkan dengan baik. Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, Allah memberikan kesempatan bagi umat-Nya untuk kembali mendekat, memperbaiki diri, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Semoga Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik awal untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

25/05/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jangan Sampai Salah! Ini Syarat dan Ketentuan Kurban yang Sah

Definisi dan Hukum Kurban

Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Dalam pelaksanaannya, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa amalan kurban termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Idul Adha.

Dalam hukum Islam, ibadah kurban berstatus sunnah bagi muslim yang mampu. Menurut mazhab Syafi’i, kurban menjadi sunnah ‘ain bagi seseorang yang hidup sendiri, sedangkan bagi keluarga hukumnya sunnah kifayah. Artinya, apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakan kurban, maka anggota keluarga lainnya sudah mendapatkan keutamaan syariat tersebut. Namun, hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah bernazar untuk melaksanakannya.

Syarat Hewan Kurban

Hewan yang sah digunakan untuk kurban harus berasal dari jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba. Dalam ibadah kurban, hewan jantan lebih dianjurkan karena umumnya memiliki kualitas daging yang lebih baik, meskipun hewan betina tetap diperbolehkan.

Usia hewan juga menjadi syarat penting dalam kurban. Domba diperbolehkan untuk kurban apabila sudah berusia minimal enam bulan dan telah poel, atau mencapai satu tahun. Kambing dan sapi harus berumur minimal dua tahun, sedangkan unta untuk kurban wajib mencapai usia lima tahun.

Dalam pelaksanaan kurban, satu ekor kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang. Sementara itu, satu ekor sapi, kerbau, atau unta dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban secara bersama-sama. Ketentuan ini menjadi bagian penting dalam pembagian ibadah kurban.

Selain itu, hewan kurban wajib dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang jelas. Hewan yang terlalu kurus, pincang, buta, sakit parah, atau terpotong sebagian telinga dan ekornya tidak sah dijadikan kurban. Namun, telinga yang hanya sobek atau berlubang masih diperbolehkan dalam syariat kurban.

Niat dan Doa Kurban

Dalam ibadah kurban, penyembelih harus seorang muslim dan memiliki niat yang benar. Niat kurban dapat dilakukan ketika menyembelih hewan atau saat menentukan hewan yang akan dijadikan kurban. Jika penyembelihan dilakukan oleh wakil, maka wakil tersebut tetap harus menghadirkan niat kurban atas nama orang yang berkurban.

Contoh niat kurban untuk diri sendiri adalah:

“Nawaitu ad?’a sunnatil udh-hiyyati ‘an nafs? lill?hi ta‘?l?.”

Artinya: “Saya niat melaksanakan sunnah kurban untuk diri sendiri karena Allah SWT.”

Sedangkan niat kurban untuk orang lain atau melalui wakil dapat disesuaikan dengan nama orang yang berkurban. Dalam proses penyembelihan kurban, sangat dianjurkan membaca basmalah, takbir, dan doa agar ibadah tersebut diterima Allah SWT.

Doa yang biasa dibaca ketika menyembelih kurban ialah:

“Bismill?hi, All?hu Akbar. All?humma h?dz? minka wa laka. All?humma taqabbal minn?.”

Doa kurban tersebut memiliki makna bahwa hewan yang disembelih berasal dari Allah dan dipersembahkan kembali untuk mencari ridha-Nya.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu pelaksanaan kurban dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam syariat Islam, rentang waktu tersebut dikenal sebagai hari-hari tasyrik yang menjadi waktu sah untuk menyembelih hewan kurban.

Apabila penyembelihan kurban dilakukan sebelum salat Id atau setelah berakhirnya hari tasyrik, maka ibadah tersebut tidak dihitung sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Namun khusus untuk kurban nadzar, penyembelihan yang dilakukan setelah tanggal 13 Dzulhijjah tetap dianggap sah sebagai qadha kurban.

Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, memahami syarat dan ketentuan kurban sangat penting agar ibadah yang dilaksanakan benar-benar sah dan bernilai pahala di sisi Allah.

 

22/05/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung

Artikel Terbaru

Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Di antara wujud syukur yang telah diajarkan oleh Rasulullah adalah dengan saling membantu dalam kebaikan sebagai nilai-nilai penting dalam Islam. Rasulullah memberikan banyak ajaran tentang solidaritas, tolong-menolong, dan kasih sayang antar sesama muslim. Dalam kebersamaan dan saling membantu, umat Islam dapat memperkuat tali persaudaraan dan menciptakan masyarakat yang lebih baik dan bahagia. Mari kita juga menguatkan prinsip hidup kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-Nya seperti saling berbagi rezeki dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah : 215, Yang artinya : "Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. ‎Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, ‎kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan ‎membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha ‎Mengetahuinya.’’‎ Begitu penting dan berharganya melakukan sedekah, Allah memberikan balasan ‎dengan berbagai balasan, di antaranya :‎‎ Diangkat derajat dan ditambah kemuliaan seseorang Didoakan malaikat Menjaga diri dari siksa api neraka Rasulullah bersabda: “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Berbagi akan mendatangkan keberkahan. Apa itu keberkahan? Keberkahan adalah ziyadatul khair yakni bertambahnya kebaikan. Keberkahan ini bisa terlihat dari tigal hal yakni: Pertama adalah sedikit namun manfaat dan dampaknya banyak. Contoh, makanan yang seharusnya cukup dimakan tiga orang, namun karena ada keberkahan maka manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Kedua, berkah itu memang sesuatu yang yang masih misterius dan kita baru mengetahui dan merasakan berkahnya setelah kita mengalami atau mendapatkan manfaat kebaikan darinya. Misalnya, berkah ilmu bisa dirasakan saat kita mengajarkannya kepada orang lain. Padahal dulu saat belajar ilmu tersebut, kita tidak memahaminya. Namun karena kita berbagi dengan mengajarkannya, maka Allah swt membukakan pemahaman kepada kita. Ketiga, mengalirnya kebaikan-kebaikan dalam kehidupan karena imbas kebaikan yang kita perbuat. Contoh, saat kita sedekah seribu rupiah dengan ikhlas, maka pada hakikatnya Allah sedang mengalirkan rezeki yang berlipat ganda dari sedekah tersebut. Perumpamaan sedekah yang kita lakukan adalah seperti saat kita menanam satu buah biji padi yang menumbuhkan tujuh tangkai. Di setiap tangkainya membuahkan 100 biji. Maka jika dihitung secara matematika, dengan sedekah seribu rupiah maka kita akan panen dan mendapatkan 700 ribu rupiah.
ARTIKEL24/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Sedekah merupakan salah satu amal ibadah yang besar pahalanya, keberadaannya bukan hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Sang Khaliq, namun juga merupakan sikap solidaritas kepada sesama manusia. Disebutkan dalam Al qur'an surat Al-Hajj ayat 34-35, Yang Artinya: "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami beri rezeki kepada mereka" (QS. Al-Hajj ayat 34-35). Sedekah bisa dilakukan kapan saja dan di mana pun berada serta kepada siapapun. Namun bersedekah memiliki pahala lebih besar bila dilakukan di waktu-waktu utama, di antaranya di hari Jumat. Disebutkan anjuran khusus untuk bersedekah di hari Jumat. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh al-Kassi dalam kitab al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid, yang Artinya: Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda saat beliau berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rezeki." Di dalam bab “Hal-hal yang Diperintahkan di Hari dan Malam Jumat” di kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i juga meriwayatkan sebuah hadits : Yang Artinya: "Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar’. Nabi bersabda, "Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipat gandakan" Di dalam literatur fiqih, anjuran bersedekah di hari Jumat sebagaimana waktu-waktu utama yang lain memiliki nilai keutamaan lebih besar dari pada waktu lainnya.Penekanan bersedekah di hari Jumat dan waktu-waktu utama yang lain bukan berarti anjuran untuk menunda sedekah di waktu-waktu tersebut. Namun yang dimaksud adalah bersedekah di waktu-waktu tersebut memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya.
ARTIKEL21/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Sebelum kita membahas amalan-amalan sunahnya, apakah kalian sudah tau apakah hari tasyrik itu? Hari tasyrik yaitu tiga hari setelah hari raya idul adha, tepatnya pada tanggal 11-13 Dzulhijjah. Tiga hari tersebut juga adalah batas waktu umat muslim untuk melaksanakan ibadah kurban setelah idul adha. Selain itu, hari Tasyrik juga merupakan waktu istimewa untuk melakukan ibadah lainnya, karena pada hari-hari ini merupakan waktu di mana kebanyakan orang lalai. Keutamaan hari tasyrik dijelaskan dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari. Imam Bukhari mengutip hadits keutamaan Hari Tasyrik sebagai waktu istimewa untuk ibadah yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra. yang Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari). Adapun ketentuan ibadah di Hari Tasyrik yakni dilarangnya umat Islam melaksanakan puasa dan dianjurkannya memperbanyak zikir. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits yang menerangkan hari tasyrik sebagai hari istimewa untuk makan, minum, dan untuk zikir. Artinya: “Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim). Berikut amalan- amalan sunnah dihari tasyrik : Mengumandangkan takbir Memperbanyak dzikir (Tahmid, Tahlil ) Beragam jenis amalan ibadah (lantaran Hari Tasyrik adalah waktu yang istimewa untuk ibadah. Oleh karena itu, beragam amal ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu istimewa, ganjarannya juga istimewa).
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H tepat pada hari Senin, 16 Juni 2024 M. Sebelum memasuki Hari Idul Qurban, Kita sebagai umat Islam disunnahkan untuk melakukan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah terlebih dahulu. Puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dilakukan oleh jama'ah haji yang melaksanakan ibadah di tanah suci. Puasa Tarwiyah, merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah (bertepatan Sabtu, 15 Juni 2024 M). Mengenai keistimewaan dari puasa tarwiyah, ada sebuah hadist yang diriwayatkan Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnu Najar, yang artinya “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun,” Namun, hadits tersebut juga dikatakan sebagai hadits yang dha'if (kurang kuat riwayatnya), tapi para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhaif dengan kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), selama hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum. Puasa Arafah, Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah (Minggu, 16 Juni 2024), puasa tersebut bertepatan dengan umat Islam yang menjalani wukuf di Padang Arafah. Puasa ini sangat dianjurkan kepada umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji. Keistimewaan berpuasa hari Arafah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi QotadahQotadah, yang artinya "Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat."
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Segala hal terkait dengan rezeki yang sudah didapatkan haruslah disyukuri. Dengan syukur, kita tidak akan lagi selalu menghitung-hitung jumlah harta yang kita miliki. Perlu kita sadari, rezeki, harta adalah washilah (lantaran) saja untuk kita bisa beribadah dengan istiqamah kepada Allah. Ingat, tugas utama kita hidup di dunia ini adalah beribadah menyembah Allah SWT. Sesuai firman Allah dalam surat Adz. Dzariyat :56, yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Di antara wujud kita syukur adalah dengan bersedekah dan berbagai rezeki kepada orang lain. Dalam bulan Dzulhijjah saat ini, wujud syukur dan pendekatan diri kita kepada Allah bisa kita wujudkan dalam ibadah kurban. Menyembelih hewan kurban merupakan salah satu amalan penting saat Idul Adha. Proses kurban ini memiliki makna religius yang mendalam dan merupakan bagian ajaran Islam yang telah dilakukan selama berabad-abad. Hewan kurban dalam Islam adalah hewan yang disembelih secara khusus untuk tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Hewan kurban yang disembelih meliputi domba, kambing, sapi, kerbau atau unta. Proses penyembelihan hewan kurban bisa kita lakukan pada hari raya Idul Adha (Hari Raya Kurban) yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari Tasryik. Saat menyembelih hewan kurban, penting untuk mengucapkan nama Allah SWT. Pengucapan nama Allah adalah tindakan yang membedakan antara penyembelihan yang sah secara agama dengan penyembelihan biasa (tidak sah dalam syariat islam) . Pengucapan nama Allah secara jelas dan tegas menunjukkan niat yang ikhlas dalam menjalankan ibadah kurban. Niat yang ikhlas berarti menyembelih hewan kurban semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah dan bukan untuk pamer atau mencari popularitas. Ibadah kurban harus dilakukan dengan tujuan yang murni dan tulus di dalam hati. Allah berfirman dalam Surat Al-Hajj [22] ayat 37 yang artinya : "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin."
ARTIKEL12/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
BAZNAS Tulungagung - Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriyah yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam dibanding bulan-bulan sebelumnya, hal ini karena pada bulan ini dilaksanakan ibadah haji, salah satu dari lima rukun Islam. Ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah karena pada saat itu para jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wuquf, yang merupakan puncak dari ibadah haji. Malam harinya, mereka menuju Muzdalifah untuk bermalam dan mengumpulkan batu kerikil. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Idul Adha, jamaah melaksanakan pelontaran jumrah Aqabah, penyembelihan hewan kurban, dan mencukur rambut (tahallul), serta thawaf ifadah di Ka'bah. Ibadah dilanjutkan dengan melontar jumrah selama hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) sebelum kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf wada’ sebagai thawaf perpisahan. Selama pelaksanaan haji, jamaah harus mematuhi sejumlah larangan dalam ihram, seperti tidak boleh memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, tidak boleh mencukur rambut atau memotong kuku, serta dilarang menggunakan parfum. Selain itu, perilaku seperti berhubungan suami istri, bertengkar, atau mengucapkan kata-kata kasar juga dilarang. Ibadah haji memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah pengampunan dosa-dosa sebelumnya bagi yang melaksanakan haji dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Ibadah haji mengandung banyak hikmah mendalam bagi umat Islam. Pertama, haji memberikan kesempatan untuk pengampunan dosa, sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan bahwa haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya, memberikan awal baru yang bersih bagi jamaah. Kedua, haji meningkatkan iman dan takwa, mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kepasrahan total kepada Allah SWT melalui rangkaian ritual yang penuh makna. Ketiga, haji memperkuat persatuan dan solidaritas umat Islam dari berbagai penjuru dunia, menegaskan konsep egalitarianisme di mana semua jamaah, tanpa memandang latar belakang sosial, berdiri sejajar dalam ibadah. Selain itu, haji juga menumbuhkan kedisiplinan dan ketertiban, serta mengingatkan umat Islam tentang pentingnya pengorbanan dan keikhlasan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Dengan demikian, haji tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperdalam makna hidup dan mendekatkan diri kepada Allah.
ARTIKEL06/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Menyembelih hewan kurban adalah salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam saat Idul Adha. Kegiatan penyembelihan utamanya dilakukan saat hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah). Adapun hewan kurban yang boleh disembelih adalah unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Hewan kurban tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti sehat, tidak cacat, tidak buta, tidak pincang, dan tidak kurus. Di samping itu, biasanya hewan kurban juga harus mencapai usia tertentu, yakni unta minimal 5 tahun, sapi dan kerbau minimal 2 tahun, serta kambing dan domba minimal 1 tahun. 1. Persiapan Awal Sebelum memulai pemotongan, pastikan bahwa kambing yang dipilih telah memenuhi syarat-syarat kurban, seperti usia yang memadai, tidak cacat serta sehat secara fisik. Niatkan ibadah kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan beribadah dengan ikhlas. 2. Menyebut Nama Allah Sebutlah nama Allah dengan mengucapkan "Bismillahi, Allahu Akbar" sebelum memulai pemotongan. Ini adalah bacaan yang harus diucapkan sebagai niat sekaligus doa untuk melaksanakan ibadah kurban sesuai ajaran Islam. 3. Memotong Urat Leher Gunakan pisau yang tajam untuk memotong urat leher kambing dengan cepat dan tepat. Potongan harus mengenai urat leher, arteri karotis dan vena jugularis untuk memastikan pengeluaran darah yang akurat. Pemotongan yang baik dan tepat bertujuan memastikan kambing meninggal secara cepat dan tidak menyakiti. 4. Pembersihan Setelah Pemotongan Pastikan semua darah telah keluar dari tubuh kambing sebelum melanjutkan proses berikutnya. Darah harus sepenuhnya dikeringkan dengan melakukan pembersihan sesuai praktik yang diterima dalam masyarakat. 5. Perlakuan yang Hormat pada Hewan Selama proses pemotongan, penting untuk memperlakukan hewan dengan belas kasihan dan rasa hormat. Seorang Muslim harus menghormati makhluk Allah dan menjaga agar tidak menyebabkan penderitaan yang berlebihan pada hewan. 6. Distribusi Daging Daging hasil pemotongan kambing kurban harus didistribusikan kepada mereka yang berhak menerimanya seperti fakir miskin, tetangga dan keluarga. Berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan merupakan bagian integral dari ibadah kurban.
ARTIKEL30/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
Mengetahui 5 Tips Rutin Berzakat: Meningkatkan kesadaran umat
Mengetahui 5 Tips Rutin Berzakat: Meningkatkan kesadaran umat
BAZNAS Tulungagung - Zakat merupakan salah satu rukun Islam, namun tidak ada sanksi dari pemerintah atau pihak lain yang diterapkan bagi mereka yang tidak menunaikannya. Hal ini berbeda dengan pembayaran kewajiban pajak yang ada unsur pemaksaannya. Ancaman bagi yang tidak menunaikan kewajiban zakat tersebut berupa dosa yang konsekuensinya ditanggung di akhirat nanti. Oleh karena itu, sangat penting bagi umat muslim yang memenuhi syarat untuk melaksanakan zakat dengan rutin dan ikhlas. Dan inilah beberapa tips yang bisa dipertimbangkan agar kamu bisa rutin berzakat. 1. Pahami Jenisnya Sebelum menunaikan salah satu jenis ibadah ini, kamu sebaiknya pahami terlebih dahulu jenis zakat yang akan dikeluarkan. Hal ini mengingat ada beberapa jenis zakat sesuai dengan tujuan dan waktu pelaksanaannya. Kamu bisa mempelajarinya lewat guru, pemuka agama, dan bisa juga melalui internet. Jika sudah paham, barulah kamu bisa menentukan jenis zakat apa yang ingin dilakukan. Kamu pun bisa rutin berzakat setiap kali merasa sudah waktunya. Jangan sampai kamu tak tahu jenis dan tujuan dari zakat yang dilakukan, ya! 2. Pelajari Besarnya Nilai Zakat Setiap zakat tentu memiliki nilai atau ketentuan sendiri-sendiri. Perhitungannya harus benar agar tujuan mulianya bisa terpenuhi. Ketika nilai zakat sudah dihitung dan dimengerti dengan jelas, kamu dapat dengan mudah mengeluarkannya tanpa khawatir salah atau tak sesuai kaidah Islam. 3. Perhatikan Waktu Berzakat Salah satu cara agar bisa rutin berzakat adalah dengan menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkan zakat. Ini bisa menjadi reminder dan acuan bagi seseorang agar tak sampai lupa. Kamu pun juga bisa memasukkannya pada anggaran pengeluaran rutin. Misalnya, kamu memutuskan untuk mengeluarkan zakat di bulan Ramadan minggu keempat. Kamu bisa mempersiapkannya jauh-jauh hari, sehingga saat waktunya tiba, kamu tak bingung lagi. Hal ini tentu bisa memudahkanmu untuk menunaikan ibadah yang satu ini. 4. Gabung Komunitas Berzakat Cara lain yang bisa membuat seseorang rutin berzakat adalah dengan bergabung dengan komunitas atau organisasi yang bergelut di bidang zakat. Hal ini bisa berpengaruh pada pola pikirmu dan juga bisa membentuk kebiasaan berzakat. Jika tidak ada organisasi seperti itu, maka kamu bisa membentuknya. Ajak saudara atau rekan kerja untuk berhitung agar menambah semangat untuk berzakat. Kamu juga bisa saling mengingatkan satu sama lain jika waktu berzakat tiba, sehingga tak akan terlupa. Menarik, bukan? 5. Zakat Online Di zaman serba modern seperti sekarang ini, kamu memang sudah sangat dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Jika berkumpul atau berorganisasi tidak sesuai dengan kebiasaanmu, maka inovasi bertajuk zakat online ini memang cocok untuk kamu. Dan salah satu cara mudah untuk zakat online ini bisa melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung. Bisa dengan cara lama yakni transfer atau bisa dengan cara mengakses web resmi di laman bayar zakat yang sudah terintegrasi dengan dompet digital. Tak perlu ribet, kamu hanya perlu duduk manis diam dirumah dan mengisi beberapa data yang dibutuhkan, seperti nama lengkap, nomor telepon, dan juga email, maka zakat online pun bisa dengan mudah dilakukan kapanpun dan dimanapun. Ketika pembayaran sukses mereka akan menerima bukti setor zakat yang dikirimkan oleh BAZNAS. Jadi, tak ada lagi alasan untuk tidak berzakat, kan? Sudah Siapkah untuk Rutin Berzakat? Nah, itu tadi 5 tips yang bisa dilakukan agar kamu bisa rutin berzakat. Perlu diingat bahwa zakat itu perlu dibiasakan agar tak berat untuk melakukannya. Apalagi nominal yang dikeluarkan juga tak begitu besar. Jadi, jangan lupa berzakat ya!
ARTIKEL16/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
6 Keutamaan Berzakat Sebagai Ibadah Penyempurna Agama
6 Keutamaan Berzakat Sebagai Ibadah Penyempurna Agama
BAZNAS Tulungagung - Zakat merupakan salah satu dari lima pilar utama dalam agama Islam. Zakat juga merupakan sebuah ibadah wajib bagi yang mampu dan memiliki nilai pahala tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan di dalam Al-Qur'an, Allah sering menyandingkan ibadah zakat dengan shalat, sehingga bagi menunaikan zakat akan mendapatkan pahala dan yang tidak melaksanakannya akan mendapatkan dosa. Zakat merupakan cara dalam syariat Islam untuk membersihkan harta seseorang dari sifat-sifat negatif seperti kekikiran, keserakahan, dan egoisme. Selain itu, zakat juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan pahala serta keberkahan dari-Nya. Berikut adalah beberapa keutamaan zakat yang InsyaAllah akan kita dapatkan. 1. Ibadah penyempurna agama Zakat merupakan bagian dari pondasi rukun Islam yang keempat, setelah syahadat, sholat, dan puasa. Dengan menjalankan zakat, maka akan semakin sempurna ibadah seseorang dalam menjalankan perintah agama. Hal ini tentunya merupakan suatu tujuan dari setiap muslim demi mendapatkan ridho dari Allah SWT 2. Mensucikan dan menambah harta Kata Zakat sendiri memiliki makna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Dapat diartikan dengan berzakat maka Allah SWT akan mensucikan harta dan jiwa kita dari dosa. Selain itu zakat juga bermakna An-Numuw, atau tumbuh dan berkembang. Makna ini semakin menegaskan bahwa orang yang menunaikan zakat, Insya Allah hartanya akan terus bertambah dan berkembang. Rasulullah SAW menerangkan hal ini melalui hadis, “Zakat membersihkan harta dan mengembangkannya, serta membuka pintu-pintu rezeki bagi pelakunya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Harta tidak akan berkurang karena sedekah...'” (HR. Muslim No. 2588). 3. Mendapatkan ampunan dosa Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an surat Al Maidah ayat 12, yang menyatakan Allah berjanji mengampuni dosa-dosa hambanya yang mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul. “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai...” (QS. Al Maidah: 12) 4. Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menunaikan zakat adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Zakat juga mengajarkan kita bagaimana menjadi pribadi yang pemurah, ikhlas dan tulus memberikan bantuan ke orang lain yang membutuhkan. 5. Mendatangkan keberkahan Salah satu makna zakat lainnya adalah Al-Barakatu, yang artinya berkah. Dengan membayarkan zakat atas harta yang kita miliki akan selalu dilimpahkan juga keberkahan oleh Allah SWT. keberkahan harta ini tentunya akan berpengaruh pada keberkahan kita dalam menjalani hidup, InsyaAllah. 6. Menguatkan solidaritas dan menumbuhkan kesejahteraan hidup masyarakat Melalui pembayaran zakat, umat Islam merasakan ikatan solidaritas yang kuat. Mereka merasa bahwa mereka semua adalah bagian dari satu komunitas yang saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam kesulitan. Zakat bukan hanya sekadar mengurangi kemiskinan, tetapi juga membantu dalam menumbuhkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dengan memperkuat lapisan masyarakat yang kurang mampu, zakat membantu menciptakan kondisi yang lebih stabil dan sejahtera bagi semua. _______________________ BAZNAS Kabupaten Tulungagung memfasilitasi pembayaran zakat dengan lebih mudah dan praktis melalui Zakat Online. Berikut daftar rekening untuk menunaikan zakat Anda: - Bank Jatim Syariah 7152271730 - Bank Jatim 0152540132 - BRI 0110.0103.0165.534 - BSI 7137.892.353 - BPR 01.01.004444
ARTIKEL14/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
7 Keutamaan Bersedekah, Sebagai Media Melipatgandakan Pahala
7 Keutamaan Bersedekah, Sebagai Media Melipatgandakan Pahala
BAZNAS Tulungagung - Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur'an yang berbunyi : “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271) Sedekah tidak hanya berpatok pada harta benda saja. Hal-hal non materi pun bisa saja dikatakan sebagai sedekah, seperti menolong orang lain baik dengan tenaga maupun pikiran, memberi nafkah keluarga atau istri, menyingkirkan batu, duri dan krikil-krikil kecil dari tengah jalan pun termasuk ke dalam sedekah. Hal yang paling sederhana pun, seperti murah senyum kepada orang lain adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits dikatakan, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi) Melihat ada begitu banyaknya cara untuk bersedekah. Rasanya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak melakukannya. Apalagi, setelah kita mengetahui banyaknya nikmat Allah dan keutamaan dari bersedekah. Berikut ini keutamaan sedekah sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Al-Qur'an maupun Hadits : 1. Media penghapus dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi). 2. Media untuk melipatgandakan pahala Allah SWT berjanji akan memberikan pahala yang berlipat ganda bagi orang-orang yang sedekah dengan rasa ikhlas, tulus, dan semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Al-Qur'an yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18) 3. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba' yang berbunyi : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba': 39) 4. Menjadi naungan dihari kiamat Saat kelak di Padang Mahsyar setiap manusia akan menunggu giliran untuk diadili dari timbangan amal baik dan buruknya. Bisa dibayangkan berapa lama manusia akan menunggu dan merasakan panasnya terik matahari yang sangat dekat dengan kepala. Maka, dijelaskanlah dalam hadits Rasulullah SAW bahwasannya yang menjadikan naungan umat manusia di hari kiamat nanti adalah amalan sedekahnya. “Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad). 5. Memanjangkan usia dan mencegah kematian buruk Yang dimaksud dalam memanjangkan usia disini adalah amalan kebaikan dari orang yang bersedekah ini akan terus dikenang melebihi umur hidup di dunia. Dengan sedekah seseorang dijauhkan dari kematian buruk. Hal ini seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW. “Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk, Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri.” (HR. Thabrani). 6. Sedekah dapat menjauhkan diri dari api neraka Sebagaimana sedekah bisa menghapus dosa-dosa, maka dengan sedekah pulalah kita bisa terhindar dari api neraka. Mengingat pahala berlipat ganda yang didapat serta dihapusnya dosa-dosa, maka kita pun bisa menjauhkan diri kita agar tidak masuk ke dalam neraka jahanam. Hal ini sebagai sabda Rasulullah SAW, “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (Muttafaqun ‘alaih) 7. Menjadi obat bagi orang yang sakit Sedekah dapat mengobati orang yang sakit, sebagaimana yang tercantum dalam hadits berikut: “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud) Perlu dipahami secara utuh bahwa sakit adalah bagian dari takdir Allah. Kewajiban pertama saat sakit adalah sabar menerima takdir Allah. Pada saat yang sama melakukan ikhtiar
ARTIKEL08/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
6 Keutamaan Berkurban, Mengantarkan Jalan Menuju Surga-Nya
6 Keutamaan Berkurban, Mengantarkan Jalan Menuju Surga-Nya
Seluruh ulama sepakat bahwa kurban merupakan syariat (tuntutan agama) yang hukumnya adalah sunah muakkad, atau sunah yang dikuatkan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Berkurban sejatinya adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berkurban merupakan suatu bentuk kepatuhan dan ketaatan makhluk kepada sang pencipta. Oleh karena itu, memahami keutamaan berkurban bagi umat muslim adalah satu bentuk upaya meyakinkan dan memantapkan diri untuk menunaikan ibadah sunah ini. Lalu apa saja keutamaan berkurban tersebut? 1. Amalan yang paling dicintai Allah SWT di hari raya Idul Adha Banyak hadis yang menjelaskan bahwa menyembelih kurban merupakan amalan yang paling dicintai Allah pada hari nahr (idul adha), seperti yang ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari nahar (idul adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (hewan kurban), Sesungguhnya ia datang pada hari kiamat dengan tanduk, kulit dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah itu telah sampai kepada Allah SWT sebelum darah itu tumpah ke tanah, maka hendaknya kalian senang karenanya.” (HR At-Tirmidzi) 2. Media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Barang siapa berkurban karena takwa kepada Allah, maka Allah akan menerima kurban tersebut menjadi amalan baik di sisi-Nya. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Maidah: 27) 3. Media untuk meraih ketaqwaan Apa yang ingin kita raih dalam ibadah kurban ini bukanlah persembahan daging dan darahnya, melainkan untuk mendapatkan ketakwaan. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Q.S. Al-Hajj: 37) 4. Media untuk menambah amal kebaikan Salah satu keutamaan berkurban yang lain yaitu dapat menambah amal kebaikan untuk bekal kehidupan di akhirat. Dalam keutamaannya, Allah akan memberikan pahala yang berlipat-lipat bagi setiap umat Muslim yang menggunakan sebagian hartanya untuk berkuban. Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?”, Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.”, Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?”, Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”, Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”, Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan ibn Majah) 5. Hewan kurban sebagai Saksi di Hari Kiamat Rasulullah telah bersabda dalam sambungan hadis yang diriwayatkan Aisyah: “Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim) Menurut Tirmidzi hadis tersebut hasan, sedangkan Hakim berpendapat bahwa isnadnya shahih. Sebagian ulama mengatakan isnadnya lemah. Namun karena hadis tersebut mengandung ajaran tentang keutamaan qurban, hadis tersebut tidak tercela. 6. Dimensi sosial dan kemanusiaan Ibadah kurban tidak hanya bermanfaat untuk orang yang berqurban (Mudhohi) tapi secara tidak langsung juga bisa membantu fakir miskin dari kelaparan. Islam telah mengatur bagaimana menyeimbangkan perekonomian dan aspek kemanusiaan sosial, salah satunya dengan berkurban. Daging yang dibagikan dapat menghubungkan rasa kasih sayang dan kepedulian antara fakir miskin dengan mudhohi. Dengan berkurban juga kita dapat merasakan kenikmatan rezeki dan berkah yang senantiasa diberikan Allah kepada setiap hambanya.
ARTIKEL26/04/2024 | BAZNAS Tulungagung
Pentingnya Berqurban di Hari Raya Idhul Adha
Pentingnya Berqurban di Hari Raya Idhul Adha
Baznas Tulungagung - Berkurban pada hari raya Idul Adha menjadi salah satu sunnah yang dilakukan umat Islam tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Berkurban memiliki banyak keutamaan dan hikmah tersendiri. Hukum dan dalil qurban tertulis dalam Quran surat Al Hajj ayat 34 yang artinya: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." Dikutip dari artikel baznas.go.id, kata qurban berasal dari bahasa arab "Qaraba, Yaqrabu, Qurbaanan" yang artinya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, ibadah kurban mengajarkan agar manusia senantiasa memperhatikan nasib orang kecil. Bagi yang mampu harus mengasihi orang yang lebih lemah. Konsep qurban dalam Islam didasarkan pada kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai perintah dari Allah SWT. Namun, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba, sebagai tanda rasa taqwa dan kesetiaan Ibrahim kepada-Nya. Sejak saat itu, praktik qurban dilakukan sebagai bentuk pengorbanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam agama Islam, hewan yang boleh dikurbankan adalah sapi, kambing, atau domba yang memenuhi syarat tertentu, seperti usia minimal 1 tahun untuk kambing dan domba, serta 2 tahun untuk sapi. Selain itu, hewan tersebut harus sehat, tidak cacat, dan diperoleh dengan cara halal. Penulis: Desvian
ARTIKEL26/04/2024 | BAZNAS Tulungagung
Apa Benar Zakat Mudah ?
Apa Benar Zakat Mudah ?
BAZNAS Tulungagung - Seiring berkembangnya tekhnologi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tulungagung sebagai badan resmi pemerintah yang bertugas untuk menghimpun dan menyalurkan dana zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) telah melakukan upgrade kantor berbasis digital. Hal ini guna mengoptimalkan pelayanan yang di tawarkan oleh BAZNAS kepada para muzakki dan mustahik agar secara mudah dana ZIS dapat terhimpun dan tersalurkan secara cepat dan tepat. Sekarang bayar zakat secara online melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung, bisa dengan cara lama yakni transfer atau dengan cara mengakses web resmi di laman bayar zakat yang sudah terintegrasi dengan dompet digital Untuk membayarkan zakat secara online muzakki hanya perlu mengisi data diri seperti nama lengkap, nomor telepon, dan juga email. Ketika pembayaran sukses mereka akan menerima bukti setor zakat yang dikirimkan oleh BAZNAS. Sehingga muzakki tidak perlu bersusah payah untuk datang ke kantor. Sementara ini, untuk fasilitas pembayaran zakat berbasis web secara online masih menggunakan gopay dan mandiri bill. Saat ini BAZNAS terus berusaha menambah banyak dompet digital sebagai platform media pembayaran supaya lebih mempermuda muzakki dalam membayarkan zakatnya sesuai dompet digital yang mereka punya.
ARTIKEL19/05/2023 | Humas BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →