WhatsApp Icon
Kasih Sayang Dimulai dari Kepedulian

Di tengah kehidupan yang penuh dengan tantangan, perbedaan, dan berbagai persoalan sosial, sikap saling peduli dan menyayangi sesama menjadi sesuatu yang semakin berharga. Kesibukan, persaingan, dan kepentingan pribadi sering kali membuat seseorang lupa bahwa kehidupan akan terasa lebih indah ketika diwarnai dengan kasih sayang. Padahal, dalam ajaran Islam, kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan akhlak mulia yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kasih sayang merupakan salah satu sifat mulia yang menjadi ciri ajaran Islam. Melalui kasih sayang, hubungan antarmanusia menjadi lebih erat, beban hidup terasa lebih ringan, dan berbagai persoalan dapat dihadapi bersama. Tidak heran jika Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang lembut dan peduli terhadap siapa pun, karena di balik setiap kebaikan yang diberikan terdapat rahmat Allah SWT yang begitu luas.

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang saling membutuhkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menjalani kehidupan tanpa bantuan orang lain. Karena itulah, Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa memiliki hati yang lembut, penuh empati, dan ringan tangan dalam membantu siapa pun yang membutuhkan. Kasih sayang yang kita berikan kepada sesama menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kasih sayang Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam bahwa rahmat Allah SWT akan senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang memiliki kepedulian terhadap sesama makhluk. Kasih sayang tidak hanya ditunjukkan kepada keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi juga kepada tetangga, fakir miskin, anak yatim, orang yang sedang tertimpa musibah, bahkan kepada hewan dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan.

Menyayangi sesama dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang sederhana namun bermakna. Memberikan bantuan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, menghibur orang yang sedang bersedih, memaafkan kesalahan orang lain, menjaga lisan agar tidak menyakiti hati, hingga berbagi sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari kasih sayang yang diajarkan Islam. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan menjadi amal yang dicintai Allah SWT.

Kasih sayang juga menjadi pondasi kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis. Ketika setiap individu memiliki kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya, maka akan tumbuh rasa persaudaraan, saling membantu, dan saling menguatkan. Di tengah masih banyaknya saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, masalah kesehatan, maupun berbagai persoalan kemanusiaan lainnya, kepedulian kita dapat menjadi sumber harapan yang menghadirkan semangat baru bagi mereka.

Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk kasih sayang yang diberikan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Ketika kita meringankan beban orang lain, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan pertolongan dan kemudahan dalam kehidupan kita. Kasih sayang yang kita tebarkan akan kembali kepada diri kita dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan rahmat dari Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan kasih sayang sebagai bagian dari karakter dan gaya hidup sehari-hari. Jangan pernah ragu untuk berbuat baik, membantu, dan peduli kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang mereka. Sebab, bisa jadi satu bentuk kepedulian yang kita berikan hari ini menjadi penyebab hadirnya senyum, harapan, bahkan perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Di era digital seperti sekarang, menebarkan kasih sayang dan kepedulian menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dengan mudah, aman, dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI:

Zakat
• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat Tulungagung
Infak
• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> Berbagi bersama BAZNAS

Karena setiap kasih sayang yang kita tebarkan kepada makhluk di bumi akan menjadi jalan datangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud nyata kepedulian, agar semakin banyak saudara yang terbantu dan semakin luas rahmat Allah mengalir bagi kehidupan kita semua.

21/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Jadilah Bermanfaat untuk Orang Lain

Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, banyak orang berlomba-lomba mengejar kesuksesan. Harta, jabatan, dan pencapaian sering kali dijadikan tolak ukur keberhasilan seseorang. Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang diberikan kelebihan dalam harta, ilmu, tenaga, waktu, maupun pengalaman. Semua itu sejatinya bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan sebagai amanah yang dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Sebab, hidup yang paling bermakna adalah hidup yang mampu menjadi alasan hadirnya senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi sesama.

Rasulullah SAW telah mengajarkan prinsip hidup yang begitu sederhana namun memiliki makna yang luar biasa. Beliau bersabda:

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Menolong tetangga yang sedang kesulitan, membantu biaya pendidikan seorang anak yang kesulitan untuk sekolah, menguatkan mereka yang sedang menghadapi cobaan, hingga berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan merupakan wujud nyata dari manfaat yang dapat kita berikan.

Menjadi pribadi yang bermanfaat juga berarti menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat. Sebab, masih banyak saudara-saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menggapai pendidikan yang layak, memperoleh layanan kesehatan, hingga membangun usaha demi menyambung kehidupan. Kepedulian dari banyak orang, meskipun tampak sederhana, dapat menjadi cahaya harapan bagi mereka untuk bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Islam mengajarkan bahwa berbagi tidak akan pernah mengurangi harta. Sebaliknya, setiap kebaikan yang diberikan akan dibalas dengan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Ketika kita menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain, sesungguhnya kita sedang membuka pintu kemudahan bagi kehidupan kita sendiri. Inilah indahnya berbagi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima, tetapi juga membawa ketenangan hati dan keberkahan bagi pemberinya.

Oleh karena itu, marilah kita tidak hanya menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apa pun bentuknya. Karena bisa jadi, satu bantuan kecil yang kita berikan hari ini menjadi sebab berubahnya kehidupan seseorang di masa depan.

Di era digital seperti sekarang, menebar manfaat menjadi semakin mudah. Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) denga mudah, aman dan terpercaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, setiap rupiah yang kita titipkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan kemandirian bagi mereka yang membutuhkan.

Mari bersama-sama menjadi bagian dari gerakan kebaikan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui transfer ke rekening BSI:

Zakat
• 7137 892 353 a.n. Baznas Zakat Tulungagung
Infak
• 7137 892 051 a.n. Baznas Infaq Tulungagung

Atau klik -> Berbagi kebaikan bersama BAZNAS

Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang kita tinggalkan bukanlah sebanyak apa yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita hadirkan bagi kehidupan orang lain.

16/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Bulan Safar: Memahami NIlainya dalam Kalender Hijriah

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di tengah masyarakat, bulan ini sering dikaitkan dengan berbagai anggapan, seperti bulan yang membawa kesialan, waktu yang tidak baik untuk menikah, memulai usaha, atau bepergian. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial ataupun memiliki kesialan tertentu.

Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa semua waktu yang Allah SWT ciptakan adalah baik. Musibah maupun nikmat yang diterima seseorang merupakan bagian dari takdir Allah SWT, bukan karena pengaruh suatu bulan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami Bulan Safar berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah agar tidak terpengaruh oleh mitos yang berkembang di masyarakat.

Safar dalam Kalender Hijriah

Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Nama Safar telah dikenal sejak masa Arab sebelum Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa nama tersebut berasal dari kata ?ifr yang berarti kosong, karena pada bulan ini banyak rumah ditinggalkan penduduknya untuk berdagang atau melakukan perjalanan.

Dalam Islam, Bulan Safar memiliki kedudukan yang sama seperti bulan-bulan Hijriah lainnya. Tidak terdapat ibadah khusus ataupun amalan tertentu yang hanya dikhususkan pada bulan ini sebagaimana Ramadan atau sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Namun, Bulan Safar tetap menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri.

Meluruskan Mitos tentang Bulan Safar

Salah satu kesalahpahaman yang masih berkembang hingga saat ini adalah anggapan bahwa Bulan Safar membawa kesialan. Keyakinan tersebut berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hammah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

(HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220).

Hadis ini menjadi dasar bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini adanya bulan yang membawa kesialan. Segala sesuatu yang terjadi di dunia berlangsung atas kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Hikmah Bulan Safar

Walaupun tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana beberapa bulan lainnya, Bulan Safar tetap memiliki banyak pelajaran bagi kehidupan seorang Muslim.

1. Menguatkan akidah dan tawakal

Bulan Safar mengingatkan umat Islam agar hanya bergantung kepada Allah SWT. Seorang Muslim tidak boleh mempercayai ramalan, hari sial, atau bulan sial karena semua urusan berada dalam kekuasaan Allah.

2. Menumbuhkan sikap optimis

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT (husnuzan). Oleh karena itu, tidak ada alasan menunda pernikahan, membuka usaha, pindah rumah, ataupun melakukan perjalanan hanya karena memasuki Bulan Safar.

3. Menjauhi tahayul dan khurafat

Salah satu hikmah terbesar Bulan Safar adalah menjadi pengingat agar umat Islam meninggalkan berbagai kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Seorang Muslim hendaknya mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pertimbangan yang baik, bukan karena mitos.

4. Menjadikan setiap bulan sebagai kesempatan memperbaiki diri

Datangnya Bulan Safar menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Setiap bulan merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Safar

Memang tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara khusus pada Bulan Safar. Namun, terdapat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan sebagaimana pada bulan-bulan lainnya.

1. Memperbanyak salat sunnah

Selain menjaga salat lima waktu, umat Islam dianjurkan melaksanakan salat sunnah seperti salat Duha, salat Tahajud, salat Rawatib, dan salat Witir sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

2. Membaca Al-Qur'an setiap hari

Membiasakan membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an merupakan amalan yang sangat dianjurkan kapan pun, termasuk pada Bulan Safar. Membaca Al-Qur'an akan menambah ketenangan hati dan memperkuat keimanan.

 3. Memperbanyak zikir dan doa

Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istigfar, serta memperbanyak doa menjadi amalan yang dapat dilakukan setiap hari. Rasulullah ? juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT.

4. Memperbanyak istigfar dan bertaubat

Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri atas kesalahan yang telah dilakukan. Dengan memperbanyak istigfar dan taubat yang sungguh-sungguh, seorang Muslim berharap memperoleh ampunan dan rahmat Allah SWT.

 5. Bersedekah dan membantu sesama

Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Bantuan yang diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, maupun masyarakat yang membutuhkan akan membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi ladang pahala bagi pemberinya.

Penutup

Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Islam mengajarkan bahwa semua bulan merupakan ciptaan Allah SWT dan tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya.

Oleh karena itu, umat Islam hendaknya mengisi Bulan Safar dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat akidah, menjauhi tahayul, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan pemahaman yang benar, Bulan Safar dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik.

08/07/2026 | Kontributor: Humas BASNAZ Tulungagung
Allah tidak Pernah Terlambat Memberi

Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah berada pada titik ketika doa terasa belum dijawab, harapan belum terwujud, atau impian masih jauh dari kenyataan. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum mengabulkan apa yang saya inginkan?"

Padahal, dalam kasih sayang-Nya, Allah tidak pernah terlambat. Apa yang menurut kita terlambat, sejatinya memang belum waktunya untuk diberikan. Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, kapan kita siap menerimanya, dan apa yang terbaik bagi kehidupan kita.

Allah Selalu Memberikan yang Terbaik

Sebagai manusia, kita sering menilai segala sesuatu berdasarkan waktu yang kita inginkan. Kita berharap doa segera dikabulkan, rezeki segera datang, atau masalah segera selesai. Namun, Allah memiliki rencana yang jauh lebih sempurna.

Bisa jadi sesuatu yang belum kita peroleh hari ini justru sedang dipersiapkan agar hadir pada waktu yang paling tepat. Atau mungkin Allah sedang menguatkan hati kita, memperbaiki diri kita, dan mengajarkan arti kesabaran sebelum menghadiahkan nikmat yang lebih besar.

Maka, jangan pernah menganggap keterlambatan sebagai penolakan. Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita menerima sesuatu dalam keadaan yang benar-benar siap.

Mengisi Masa Penantian dengan Kebaikan

Menunggu bukan berarti berhenti melangkah. Justru dalam masa penantian itulah Allah mengajarkan kita untuk terus berikhtiar, memperbanyak doa, bersyukur atas nikmat yang telah ada, dan tetap menebarkan manfaat kepada sesama.

Kebaikan tidak harus menunggu semua keinginan kita terkabul. Kita tetap bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain, meskipun kita sendiri masih menyimpan harapan kepada Allah. Setiap senyum yang kita hadirkan, setiap bantuan yang kita berikan, dan setiap kepedulian yang kita tunjukkan merupakan amal yang bernilai di sisi-Nya.

Zakat, Infak, dan Sedekah: Wujud Syukur dan Kepedulian

Salah satu bentuk nyata menebarkan kebaikan adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Harta yang Allah titipkan kepada kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga mengandung hak orang lain yang membutuhkan.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan, tetapi juga membersihkan harta, menumbuhkan rasa syukur, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-hamba yang gemar berbagi.

Apa pun yang sedang kita nantikan hari ini, percayalah bahwa Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk memberikannya. Sementara itu, jangan pernah berhenti menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Jadikan setiap langkah kebaikan sebagai bentuk ikhtiar dan bukti syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Mari terus berbagi kebahagiaan melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS Kabupaten Tulungagung. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan serta menghadirkan manfaat yang terus mengalir.

Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui:

Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS

"Apa yang menurut kita terlambat, memang belum waktunya untuk diberi. Karena Allah tidak pernah terlambat, Dia selalu tepat pada waktu-Nya."

02/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung
Muharram, Awal Tahun Hijriah yang Mengajarkan Makna Hijrah dan Ketakwaan

Bulan Muhharam adalah salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijiriah, Muharram bukan sekedar penanda pergantian tahun, melaikan awalan perjalanan waktu sekaligus momen emas bagi umat islam untuk memperbaiki diri dan mengingatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Keutamaan bulan ini telah dijelaskan baik dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi Muhammad SAW, sehingga umat islam sangat diajurkan untuk memperbnayak amal sholeh di dalamnya. Bagi seorang muslim, datangnya Muharram adalah kesempatan berharga untuk melakukan introspeksi (muhasabah), meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru dengan semangat yang lebih baik.

Apa Sebenarnya Arti "Muharram"?

Secara bahasa, kata Muharram berarti sesuatu yang dihormati atau diharamkan. Sejak zaman dahulu, masyarakat arab sudah menyepakati bahwa bulan ini adalah bulan yang suci. Segala bentuk konflik atau peperangan dilarang keras pada bulan ini demi menghormati kesuciannya.

Selain itu, kalender hijriah sendiri dimulai berdasarkan peristiwa Hijriahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Karena itulah, esensi utama dari bulan Muharram adalah bulan hijriah yaitu semangat untuk berpindah dari hal-hal yang negatif menuju kehidupan yang lebih positif dan sesuai dengan ajaran agama islam.

Masuk dalam 4 bukan yang dimuliakan

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menetapkan ada empat bulan yang disebut sebagai Bulan Haram (bulan yang disucikan), yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Rajab, dan Muharram.

Di bulan-bulan ini, setiap amal kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Namun sebaliknya, kita juga harus lebih berhati-hati karena perbuatan dosa di bulan ini juga memiliki timbangan yang lebih berat.

Amalan Ringan yang Bisa Kita Lakukan

Tidak perlu bingung harus mulai dari mana. Berikut adalah beberapa amalan sederhana namun berpahala besar yang bisa kita lakukan di bulan Muharram:

•  Puasa Sunnah (Tasu'a dan Asyura): Ini adalah amalan yang paling dianjurkan. Puasa dilakukan pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) dan 10 Muharram (Asyura). Keutamaannya luar biasa, salah satunya bisa menghapus dosa-dosa kecil kita di tahun yang lalu.
•  Memperbanyak Istighfar: Manfaatkan bulan ini untuk rajin beristighfar, memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan setahun ke belakang.
•  Bersedekah dan Berbagi: Memberi bantuan kepada sesama, terutama menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sangat dianjurkan di bulan ini sebagai bentuk kepedulian sosial.
•  Memperbaiki Ibadah Harian: Mulai dari hal kecil, seperti mencoba salat tepat waktu, rutin membaca Al-Qur'an walau beberapa ayat, atau menjaga lisan dari membicarakan orang lain.

5 Himah Utama Bulan Muharram

Bulan Muharram bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sekolah kehidupan yang memberikan lima pelajaran penting bagi seorang Muslim:

1.  Pengingat Waktu: Menyadari bahwa waktu terus berjalan, sehingga kita harus bergegas mengisinya dengan amal saleh.
2.  Pentingnya Perubahan: Mengajarkan kita untuk selalu berbenah dan berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
3.  Puncak Rasa Syukur: Menjadi momen untuk merenungkan dan menyukuri segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.
4.  Bekal Masa Depan: Meningkatkan semangat ibadah sebagai modal terbaik menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
5. Mempererat Persaudaraan: Mengajarkan kepedulian sesama melalui sedekah dan berbagi, sehingga hubungan antar-manusia (ukhuwah) semakin kuat.

Jadikan Muharram sebagai Awal Hijrah yang Lebih Baik

Muharram adalah momentum terbaik untuk memulai perubahan menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Mari manfaatkan bulan yang mulia ini dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui berbagai amal kebaikan.

Salah satu wujud nyata ketakwaan adalah berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, mari jadikan Muharram sebagai semangat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung

Klik disini-> Berbagi bersama BAZNAS

Semoga setiap amal yang kita lakukan menjadi pemberat timbangan kebaikan dan membawa keberkahan bagi kita semua. Aamiin.

29/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Tulungagung

Artikel Terbaru

Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu'a dan Asyura
Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1446 H. Yang merupakan awal bulan dalam kalender Hijriah. Pada bulan Muharram ini termasuk dalam bulan-bulan yang haram (asyhurul hurum). Bulan Muharram ini salah satu bulan mulia, dari bulan- bulan yang lain. Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa bersejarah, salah satunya adalah turunnya rahmat Allah untuk pertama kali yakni pada hari Asyura dan pada hari itu juga Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Allah swt. Allah swt memberikan banyak keutamaan pada bulan ini, di antaranya adalah kesunnahan puasa tanggal 9 (Tasu’a) yang digandeng dengan puasa tanggal 10 Muharram (Asyura), sebab bulan Muharram merupakan bulan mulia setelah Ramadhan untuk melakukan puasa. Rasulullah ? bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam.” (HR Muslim). Salah satu keutamaan puasa pada hari Asyura adalah dapat menghapus dosa pada tahun sebelumnya dan barang siapa yang berpuasa Asyura, maka seperti puasa setahun penuh. Sayyid Muhammad Syatho dalam kitab Ianah-nya menyebutkan tiga hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a menyertai puasa Asyura yakni, Untuk berhati-hati, sebab ada kemungkinan dalam menentukan awal bulan Muharram terjadi kesalahan. Agar tidak menyamai dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura saja. Untuk menghindari puasa hanya satu hari saja sebagaimana mengkhususkan puasa pada hari Jumat tanpa didahului hari sebelumnya dan tidak diikuti hari setelahnya. Dengan ini, jika seseorang melakukan puasa Asyura saja tanpa puasa Tasu’a maka disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal sebelas Muharram.
ARTIKEL16/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Waktu Mustajabah di Hari Jum'at
Alhamdulillah hari ini kita, khususnya umat Islam masih kembali dipertemukan dengan hari Jumat. Dan perlu diketahui bahwa setidaknya ada waktu tertentu yang hendaknya kita perhatikan sebagai waktu terkabulkannya doa atau mustajabah. Disebutkan bahwa Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya sepekan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat. Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah. Di antara hal-hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa. Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan sa’atul ijabah (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul. Disebutkan dalam hadits, Artinya :"Dari sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat: Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar." (HR Al-Bukhari) Namun, tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, dan para ulama juga berbeda-beda pendapat mengenai penentu waktu-waktu ijabah ini. Menurut mayoritas ulama madzhab Syafii, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya imam jamaah shalat Jumat. Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud. Artinya :"Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Abdullah bin Umar berkata kepadaku: Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah SAW tentang waktu ijabah? Aku menjawab: Ya. Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat." (HR Muslim dan Abi Dawud)
ARTIKEL12/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Tabungan ada zakatnya? Begini penjelasannya
Harta dalam bentuk mata uang atau tabungan, memungkinkan untuk diqiyas kan dengan emas atau perak, mengingat kedudukan nilai emas dan perak digunakan sebagai mata uang di masa silam, maka nominal uang kertas atau logam dapat di-qiyas-kan dengan emas atau perak. Namun perlu diperhatikan bahwa emas dan perak memiliki perhitungan zakat yang berbeda, dan tidak boleh digabungkan. Uang yang disimpan, entah di bawah tempat tidur atau di bank, alias tidak diputar untuk modal usaha tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nisab atau jumlah tertentu sehingga wajib zakat (senilai harga 85 gram emas murni). Zakat uang tabungan (simpanan) dikeluarkan setiap tahun, selama jumlah uang masih mencapai satu nisab, dipersamakan dengan emas dan perak yang setiap tahunnya bisa berubah nilainya. (Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M.) Hal ini didasarkan pada keterangan dalam kitab Bajuri-Fathul Qorib Juz I dan Bujairimi-Iqna’, bahwa pada benda-benda tambang yang berpotensi untuk tetap mempunyai nilai tambah seperti emas dan perak wajib dizakati selama barangnya masih ada dan mencapai satu nisab. Sementara pada biji-bijian zakatnya hanya setahun sekali saja walaupun biji-bijian tetap ada selama beberapa tahun. Tahun pertama pengeluaran zakat dihitung setelah seseorang menyimpan uangnya selama satu tahun. Tahun kedua dihitung setelah melewati satu tahun dari tahun pertama, begitu seterusnya. Besarnya zakat yang dikeluarkan tiap tahunnya adalah 2,5 persen, sama dengan zakat barang dagangan. Contoh : kita menyimpan uang pada tanggal 1 Juli 2024 sejumlah Rp50.000.000,- . Kemudian pada tahun berikutnya tanggal 1 Juli 2025 uang simpanan masih berjumlah Rp45.000.000,- (masih satu nishab) maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 % X Rp45.000.000,- = Rp1.125.000,-. Jika pada tahun berikutnya uang simpanan masih mencapai satu nishab (berdasarkan perhitungan harga emas murni waktu itu) maka tetap wajib dikeluarkan zakatnya seperti pada perhitungan di atas dan Sebagai catatan juga, seorang muslim tidak diperkenankan untuk melakukan trik tertentu agar tidak mengeluarkan zakat.
ARTIKEL10/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Mulia
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah, memiliki makna dan keutamaan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bulan ini dipandang sebagai salah satu bulan mulia dan diberkahi oleh Allah swt. Disisi lain bulan ini banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat berarti adalah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Muharram adalah salah satu dari empat bulan terhormat (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang disebutkan Al-Qur’an. Pada bulan terhormat termasuk Muharram, masyarakat Arab dilarang berbuat dholim dan menumpahkan darah. Dilansir dari nu.or.id, Empat bulan terhormat tersebut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) disebutkan dalam Surat At-Taubah : Artinya: "Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah terdiri atas dua belas bulan, dalam ketentuan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketentuan) agama yang lurus. Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". Bulan Muharram juga disebut sebagai bulannya Allah, Mengapa demikian? Padahal Muharram memiliki keutamaan yang sama atau lebih sedikit dengan bulan lainnya dibandingkan bulan Ramadhan. Menurut Syekh Jalalauddin As-Suyuthi, kelebihan bulan Muharram terletak pada namanya yang islami dibandingkan nama bulan hijriah lainnya. Nama bulan hijriah selain Muharram merupakan nama bulan yang dipakai pada masa jahiliah. Adapun bulan Muharram pada era masyarakat jahiliah dinamai bulan Shafar Awwal. Sedangkan bulan setelah Muharram disebut bulan Shafar Tsani. Ketika Islam datang, Allah menyebut Shafar Awwal dengan bulan Muharram yang dinisbahkan dengan asma-Nya.
ARTIKEL08/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Uang Simpanan, Apa Wajib Kita Zakati? 
Harus kita kita ketahui bahwasanya kewajiban zak?t m?l adalah berlaku pada harta yang tersimpan (kanzun) yang terdiri atas emas dan perak, dalam salah satu ayat sudah dijelaskan: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak kemudian ia tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan zakatnya), maka berilah kabar gembira terhadap mereka akan azab yang teramat pedih.”(QS at-Taubah :34) Ada dua jenis emas dan perak yang saat ini beredar di masyarakat, yaitu pertama berupa emas murni yang biasanya berwujud emas batangan, dan kedua berupa emas yang dicetak. Untuk emas yang dicetak umumnya disebut sebagai huliyyin mub?h, yaitu perhiasan mubah. Ada kalanya emas yang ada dalam bentuk cetak ini berupa kalung, cincin, atau berupa mata uang seperti dinar dan dirham. Nishab dari huliyyin mubah ini adalah 20 mitsq?l, setara dengan 20 dinar, atau kurang lebih 425 gram. Sementara nishab emas murni adalah setara 85 gram. Masing-masing dari emas murni dan emas yang dicetak ini wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (rub’u al-‘ushr). Untuk nishab perak dalam bentuk huliyyin mubah, adalah sama dengan 200 dirham atau setara dengan kadar 2.975 gram. Adapun bila dalam bentuk perak murni (batangan), maka nishabnya setara dengan ukuran timbangan 595 gram. Zakat yang wajib dikeluarkan dari perak ini juga sama yaitu 2,5%-nya. Catatan yang perlu kita perhatikan dari keberadaan zakat emas dan perak tadi adalah bahwa keduanya telah disimpan (kanzun) selama kurang lebih 1 tahun, baik dalam bentuk batangan murni atau dalam bentuk cetak (KH. Afifuddin Muhadjir, Fathu al-Mudj?b al-Qar?b fi hilli Alf?dhi al-Taqr?b) Lantas kalian tau gak, hubungan keberadaan emas dan perak ini dengan uang? Hubungan kuduanya sangatlah erat, karena sejarah mata uang di dunia ini erat hubungannya dengan emas dan perak. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih klasik pun juga disebutkan adanya relasi antara mata uang dengan emas dan perak. Dilansir dari nu.or.id dalam Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M juga menyamakan kedudukan uang ini sama dengan emas dan perak. Namun menilik dari tahun dihasilkannya keputusan tersebut, keputusan itu tidak bisa disalahkan karena memang pada tahun itu kedudukan uang masih memiliki simpanan berupa cadangan emas yang terletak di Bank Indonesia. Pasca dihasilkannya keputusan Muktamar NU yang ke-8 itu berlakulah hukum bahwa setiap uang yang disimpan oleh masyarakat, adalah bernilai cadangan emas dan perak. Karena ia bernilai cadangan emas, maka bila uang tersebut disimpan selama satu tahun, baik disimpan sendiri atau disimpan di bank, dengan catatan yaitu asal tidak dipergunakan sama sekali, maka dari uang ini berlaku nishab zakat.
ARTIKEL05/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Kisah singkat,  Dahsyatnya Sedekah
Dikisahkan dalam kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi. Menceritakan betapa hebatnya (dahsyatnya) sedekah yang bahkan mampu menyelamatkan seseorang dari ketentuan sebagai ahli neraka. Cerita tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, bahwa suatu saat telah membeli seorang jariyah, seorang budak perempuan. Sesaat kemudian, malaikat Jibril turun ke bumi dan berkata kepada Nabi Muhammad Saw : "Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu, karena sesungguhnya ia adalah ahli neraka." Nabi pun mengutarakan perintah malaikat Jibril ini kepada Aisyah. Lalu Aisyah dengan perasaan iba dan wajah kasihan saat melepas kepergian sang budak yang telah dimerdekaannya. Aisyah melepas kepergian sang budak dengan membekalinya beberapa kurma sebagai teman dalam perjalanan. Singkat cerita, saat dalam perjalanan tersebut sang budak pun merasa kelelahan dan memakan kurma pemberian dari Aisyah itu dengan lahap. Namun saat ia menikmati bekal kurma, datang kepadanya seorang fakir meminta-minta.Dari perawakan sang fakir sangat jelas bahwa kondisinya lebih memprihatinkan dibandingkannya dirinya. Karena itu, meskipun lapar dan sesungguhnya ia juga masih membutuhkan bekal kurma, sang budak memberikan tidak hanya sebagian, bahkan seluruh kurma yang tersisa kepada fakir tersebut. Dan benar, sang fakir tersebut sangat kelaparan dan memakan semua kurma yang diberikan oleh sang budak itu tanpa sisa satupun. Melihat hal itu, sang budak berbesar hati untuk merelakan kurma yang sebenarnya jatahnya kepada kalangan yang lebih membutuhkan, yakni fakir itu. Dan betapa dahsyat kekuatan sedekah. Tak lama kemudian setelah sang budak memberikan kurma kepada fakir tadi, malaikat Jibril kembali turun ke bumi. Kali ini mewahyukan kepada Nabi Muhammad bahwa diperintah untuk kembali membiarkan sang budak di rumahnya. Karena sungguh, lantaran sedekah sang budak, rahmat Allah turun dan ia pun batal masuk neraka.
ARTIKEL03/07/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Hari Jum'at Sebagai Sayyidul Ayyam
Apa kalian tau apa sih yang dimaksud sayyidul ayyam itu? Hari Jum'at sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari, tentu mengingatkan bahwa hari jum'at bisa menyakinkan pandangan kita dan memastikan kaum muslimin untuk menghiasi hari jum'at dengan hal-hal yang terbaik. Hari Jumat adalah hari istimewa yang dengannya Allah mengagungkan dan menghiasi Islam. Allah memuliakan umat Muhammad SAW dengan hari Jumat, yang tidak diberikan kepada umat nabi terdahulu. Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan hari Jumat. Bahkan ada beberapa ulama yang secara khusus menjadikannya dalam satu bentuk karya, seperti kitab al-Lum’ah fi Khashaish al-Jumat, karya Syekh Jalaluddin al-Suyuthi. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits: "Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat." Nahh apakah kalian tau juga, mengapa langit, bumi, batu dan benda-benda mati lainnya mengalami kekhawatiran? Padahal benda-benda tersebut merupakan makhluk yang tidak bernyawa? Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam Manahij al-Imdad menjelaskan : "Maksudnya, Allah menciptakan kepada makhuk-makhluk tidak bernyawa ini pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi pada hari Jumat tersebut. Rahasia dari kekhawatiran mereka adalah bahwa hari kiamat sebagaimana telah dijelaskan terjadi pada hari Jumat di antara waktu Subuh dan terbitnya matahari. Maka tidaklah binatang-binatang kecuali khawatir akan datangnya hari kiamat pada pagi hari Jumat ini. Saat pagi hari tiba, mereka memuji kepada Allah dan memberi ucapan selamat satu sama lain, mereka mengatakan; ini hari baik. Kiamat tidak terjadi pada pagi hari ini”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz 1, halaman 286). Ada banyak keutamaan yang dapat dilakukan pada hari jum'at seperti seorang Muslim yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dinaungi cahaya di antara dua Jumat. Nabi juga menganjurkan agar memperbanyak membaca shalawat pada hari Jumat. Dalam hadist dijelaskan : "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untuku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali."
ARTIKEL28/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Teladan Abu Thalhah: Sedekah Paling Berharga Dengan Harta Yang Kita Cintai
Bersedekah dengan harta yang kita cintai memanglah amat sangat berat. Karena sifat manusia yang sangat mencintai hartanya lalu enggan mengeluarkannya. Allah berfirman dalam QS. Al fajr:20: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya. " Anas berkata (saat turun ayat, QS. Al Imron:2) Artinya :“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. " Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998)
ARTIKEL26/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Menjemput Berkah Melalui Sedekah
Di antara wujud syukur yang telah diajarkan oleh Rasulullah adalah dengan saling membantu dalam kebaikan sebagai nilai-nilai penting dalam Islam. Rasulullah memberikan banyak ajaran tentang solidaritas, tolong-menolong, dan kasih sayang antar sesama muslim. Dalam kebersamaan dan saling membantu, umat Islam dapat memperkuat tali persaudaraan dan menciptakan masyarakat yang lebih baik dan bahagia. Mari kita juga menguatkan prinsip hidup kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-Nya seperti saling berbagi rezeki dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah : 215, Yang artinya : "Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. ‎Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, ‎kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan ‎membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha ‎Mengetahuinya.’’‎ Begitu penting dan berharganya melakukan sedekah, Allah memberikan balasan ‎dengan berbagai balasan, di antaranya :‎‎ Diangkat derajat dan ditambah kemuliaan seseorang Didoakan malaikat Menjaga diri dari siksa api neraka Rasulullah bersabda: “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Berbagi akan mendatangkan keberkahan. Apa itu keberkahan? Keberkahan adalah ziyadatul khair yakni bertambahnya kebaikan. Keberkahan ini bisa terlihat dari tigal hal yakni: Pertama adalah sedikit namun manfaat dan dampaknya banyak. Contoh, makanan yang seharusnya cukup dimakan tiga orang, namun karena ada keberkahan maka manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Kedua, berkah itu memang sesuatu yang yang masih misterius dan kita baru mengetahui dan merasakan berkahnya setelah kita mengalami atau mendapatkan manfaat kebaikan darinya. Misalnya, berkah ilmu bisa dirasakan saat kita mengajarkannya kepada orang lain. Padahal dulu saat belajar ilmu tersebut, kita tidak memahaminya. Namun karena kita berbagi dengan mengajarkannya, maka Allah swt membukakan pemahaman kepada kita. Ketiga, mengalirnya kebaikan-kebaikan dalam kehidupan karena imbas kebaikan yang kita perbuat. Contoh, saat kita sedekah seribu rupiah dengan ikhlas, maka pada hakikatnya Allah sedang mengalirkan rezeki yang berlipat ganda dari sedekah tersebut. Perumpamaan sedekah yang kita lakukan adalah seperti saat kita menanam satu buah biji padi yang menumbuhkan tujuh tangkai. Di setiap tangkainya membuahkan 100 biji. Maka jika dihitung secara matematika, dengan sedekah seribu rupiah maka kita akan panen dan mendapatkan 700 ribu rupiah.
ARTIKEL24/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Hari Jum'at: Sisihkan Harta, Gemarkan Sedekah
Sedekah merupakan salah satu amal ibadah yang besar pahalanya, keberadaannya bukan hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Sang Khaliq, namun juga merupakan sikap solidaritas kepada sesama manusia. Disebutkan dalam Al qur'an surat Al-Hajj ayat 34-35, Yang Artinya: "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami beri rezeki kepada mereka" (QS. Al-Hajj ayat 34-35). Sedekah bisa dilakukan kapan saja dan di mana pun berada serta kepada siapapun. Namun bersedekah memiliki pahala lebih besar bila dilakukan di waktu-waktu utama, di antaranya di hari Jumat. Disebutkan anjuran khusus untuk bersedekah di hari Jumat. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh al-Kassi dalam kitab al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid, yang Artinya: Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda saat beliau berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rezeki." Di dalam bab “Hal-hal yang Diperintahkan di Hari dan Malam Jumat” di kitab al-Umm, Imam al-Syafi’i juga meriwayatkan sebuah hadits : Yang Artinya: "Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar’. Nabi bersabda, "Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipat gandakan" Di dalam literatur fiqih, anjuran bersedekah di hari Jumat sebagaimana waktu-waktu utama yang lain memiliki nilai keutamaan lebih besar dari pada waktu lainnya.Penekanan bersedekah di hari Jumat dan waktu-waktu utama yang lain bukan berarti anjuran untuk menunda sedekah di waktu-waktu tersebut. Namun yang dimaksud adalah bersedekah di waktu-waktu tersebut memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya.
ARTIKEL21/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Apakah Kalian Tau, Amalan Sunnah Apa yang Dikerjakan Pada Hari Tasyrik?
Sebelum kita membahas amalan-amalan sunahnya, apakah kalian sudah tau apakah hari tasyrik itu? Hari tasyrik yaitu tiga hari setelah hari raya idul adha, tepatnya pada tanggal 11-13 Dzulhijjah. Tiga hari tersebut juga adalah batas waktu umat muslim untuk melaksanakan ibadah kurban setelah idul adha. Selain itu, hari Tasyrik juga merupakan waktu istimewa untuk melakukan ibadah lainnya, karena pada hari-hari ini merupakan waktu di mana kebanyakan orang lalai. Keutamaan hari tasyrik dijelaskan dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari. Imam Bukhari mengutip hadits keutamaan Hari Tasyrik sebagai waktu istimewa untuk ibadah yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra. yang Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra., dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini,’” (HR Bukhari). Adapun ketentuan ibadah di Hari Tasyrik yakni dilarangnya umat Islam melaksanakan puasa dan dianjurkannya memperbanyak zikir. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits yang menerangkan hari tasyrik sebagai hari istimewa untuk makan, minum, dan untuk zikir. Artinya: “Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’” (HR Muslim). Berikut amalan- amalan sunnah dihari tasyrik : Mengumandangkan takbir Memperbanyak dzikir (Tahmid, Tahlil ) Beragam jenis amalan ibadah (lantaran Hari Tasyrik adalah waktu yang istimewa untuk ibadah. Oleh karena itu, beragam amal ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu istimewa, ganjarannya juga istimewa).
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Kita akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H tepat pada hari Senin, 16 Juni 2024 M. Sebelum memasuki Hari Idul Qurban, Kita sebagai umat Islam disunnahkan untuk melakukan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah terlebih dahulu. Puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dilakukan oleh jama'ah haji yang melaksanakan ibadah di tanah suci. Puasa Tarwiyah, merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah (bertepatan Sabtu, 15 Juni 2024 M). Mengenai keistimewaan dari puasa tarwiyah, ada sebuah hadist yang diriwayatkan Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnu Najar, yang artinya “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun,” Namun, hadits tersebut juga dikatakan sebagai hadits yang dha'if (kurang kuat riwayatnya), tapi para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhaif dengan kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), selama hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum. Puasa Arafah, Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah (Minggu, 16 Juni 2024), puasa tersebut bertepatan dengan umat Islam yang menjalani wukuf di Padang Arafah. Puasa ini sangat dianjurkan kepada umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji. Keistimewaan berpuasa hari Arafah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi QotadahQotadah, yang artinya "Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat."
ARTIKEL20/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Mari Ungkapkan Syukur Kita Dengan Berkurban
Segala hal terkait dengan rezeki yang sudah didapatkan haruslah disyukuri. Dengan syukur, kita tidak akan lagi selalu menghitung-hitung jumlah harta yang kita miliki. Perlu kita sadari, rezeki, harta adalah washilah (lantaran) saja untuk kita bisa beribadah dengan istiqamah kepada Allah. Ingat, tugas utama kita hidup di dunia ini adalah beribadah menyembah Allah SWT. Sesuai firman Allah dalam surat Adz. Dzariyat :56, yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Di antara wujud kita syukur adalah dengan bersedekah dan berbagai rezeki kepada orang lain. Dalam bulan Dzulhijjah saat ini, wujud syukur dan pendekatan diri kita kepada Allah bisa kita wujudkan dalam ibadah kurban. Menyembelih hewan kurban merupakan salah satu amalan penting saat Idul Adha. Proses kurban ini memiliki makna religius yang mendalam dan merupakan bagian ajaran Islam yang telah dilakukan selama berabad-abad. Hewan kurban dalam Islam adalah hewan yang disembelih secara khusus untuk tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Hewan kurban yang disembelih meliputi domba, kambing, sapi, kerbau atau unta. Proses penyembelihan hewan kurban bisa kita lakukan pada hari raya Idul Adha (Hari Raya Kurban) yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari Tasryik. Saat menyembelih hewan kurban, penting untuk mengucapkan nama Allah SWT. Pengucapan nama Allah adalah tindakan yang membedakan antara penyembelihan yang sah secara agama dengan penyembelihan biasa (tidak sah dalam syariat islam) . Pengucapan nama Allah secara jelas dan tegas menunjukkan niat yang ikhlas dalam menjalankan ibadah kurban. Niat yang ikhlas berarti menyembelih hewan kurban semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah dan bukan untuk pamer atau mencari popularitas. Ibadah kurban harus dilakukan dengan tujuan yang murni dan tulus di dalam hati. Allah berfirman dalam Surat Al-Hajj [22] ayat 37 yang artinya : "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin."
ARTIKEL12/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
Keutamaan dan Keindahan Ibadah Haji di Bulan Dzulhijjah
BAZNAS Tulungagung - Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriyah yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam dibanding bulan-bulan sebelumnya, hal ini karena pada bulan ini dilaksanakan ibadah haji, salah satu dari lima rukun Islam. Ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai Hari Arafah karena pada saat itu para jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wuquf, yang merupakan puncak dari ibadah haji. Malam harinya, mereka menuju Muzdalifah untuk bermalam dan mengumpulkan batu kerikil. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Idul Adha, jamaah melaksanakan pelontaran jumrah Aqabah, penyembelihan hewan kurban, dan mencukur rambut (tahallul), serta thawaf ifadah di Ka'bah. Ibadah dilanjutkan dengan melontar jumrah selama hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) sebelum kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf wada’ sebagai thawaf perpisahan. Selama pelaksanaan haji, jamaah harus mematuhi sejumlah larangan dalam ihram, seperti tidak boleh memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, tidak boleh mencukur rambut atau memotong kuku, serta dilarang menggunakan parfum. Selain itu, perilaku seperti berhubungan suami istri, bertengkar, atau mengucapkan kata-kata kasar juga dilarang. Ibadah haji memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah pengampunan dosa-dosa sebelumnya bagi yang melaksanakan haji dengan ikhlas dan penuh ketulusan. Ibadah haji mengandung banyak hikmah mendalam bagi umat Islam. Pertama, haji memberikan kesempatan untuk pengampunan dosa, sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan bahwa haji yang mabrur menghapus dosa-dosa sebelumnya, memberikan awal baru yang bersih bagi jamaah. Kedua, haji meningkatkan iman dan takwa, mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kepasrahan total kepada Allah SWT melalui rangkaian ritual yang penuh makna. Ketiga, haji memperkuat persatuan dan solidaritas umat Islam dari berbagai penjuru dunia, menegaskan konsep egalitarianisme di mana semua jamaah, tanpa memandang latar belakang sosial, berdiri sejajar dalam ibadah. Selain itu, haji juga menumbuhkan kedisiplinan dan ketertiban, serta mengingatkan umat Islam tentang pentingnya pengorbanan dan keikhlasan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Dengan demikian, haji tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperdalam makna hidup dan mendekatkan diri kepada Allah.
ARTIKEL06/06/2024 | BAZNAS Tulungagung
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Cara Menyembelih Hewan Kurban dengan Benar
Menyembelih hewan kurban adalah salah satu ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam saat Idul Adha. Kegiatan penyembelihan utamanya dilakukan saat hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah). Adapun hewan kurban yang boleh disembelih adalah unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Hewan kurban tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti sehat, tidak cacat, tidak buta, tidak pincang, dan tidak kurus. Di samping itu, biasanya hewan kurban juga harus mencapai usia tertentu, yakni unta minimal 5 tahun, sapi dan kerbau minimal 2 tahun, serta kambing dan domba minimal 1 tahun. 1. Persiapan Awal Sebelum memulai pemotongan, pastikan bahwa kambing yang dipilih telah memenuhi syarat-syarat kurban, seperti usia yang memadai, tidak cacat serta sehat secara fisik. Niatkan ibadah kurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan beribadah dengan ikhlas. 2. Menyebut Nama Allah Sebutlah nama Allah dengan mengucapkan "Bismillahi, Allahu Akbar" sebelum memulai pemotongan. Ini adalah bacaan yang harus diucapkan sebagai niat sekaligus doa untuk melaksanakan ibadah kurban sesuai ajaran Islam. 3. Memotong Urat Leher Gunakan pisau yang tajam untuk memotong urat leher kambing dengan cepat dan tepat. Potongan harus mengenai urat leher, arteri karotis dan vena jugularis untuk memastikan pengeluaran darah yang akurat. Pemotongan yang baik dan tepat bertujuan memastikan kambing meninggal secara cepat dan tidak menyakiti. 4. Pembersihan Setelah Pemotongan Pastikan semua darah telah keluar dari tubuh kambing sebelum melanjutkan proses berikutnya. Darah harus sepenuhnya dikeringkan dengan melakukan pembersihan sesuai praktik yang diterima dalam masyarakat. 5. Perlakuan yang Hormat pada Hewan Selama proses pemotongan, penting untuk memperlakukan hewan dengan belas kasihan dan rasa hormat. Seorang Muslim harus menghormati makhluk Allah dan menjaga agar tidak menyebabkan penderitaan yang berlebihan pada hewan. 6. Distribusi Daging Daging hasil pemotongan kambing kurban harus didistribusikan kepada mereka yang berhak menerimanya seperti fakir miskin, tetangga dan keluarga. Berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan merupakan bagian integral dari ibadah kurban.
ARTIKEL30/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
Mengetahui 5 Tips Rutin Berzakat: Meningkatkan kesadaran umat
Mengetahui 5 Tips Rutin Berzakat: Meningkatkan kesadaran umat
BAZNAS Tulungagung - Zakat merupakan salah satu rukun Islam, namun tidak ada sanksi dari pemerintah atau pihak lain yang diterapkan bagi mereka yang tidak menunaikannya. Hal ini berbeda dengan pembayaran kewajiban pajak yang ada unsur pemaksaannya. Ancaman bagi yang tidak menunaikan kewajiban zakat tersebut berupa dosa yang konsekuensinya ditanggung di akhirat nanti. Oleh karena itu, sangat penting bagi umat muslim yang memenuhi syarat untuk melaksanakan zakat dengan rutin dan ikhlas. Dan inilah beberapa tips yang bisa dipertimbangkan agar kamu bisa rutin berzakat. 1. Pahami Jenisnya Sebelum menunaikan salah satu jenis ibadah ini, kamu sebaiknya pahami terlebih dahulu jenis zakat yang akan dikeluarkan. Hal ini mengingat ada beberapa jenis zakat sesuai dengan tujuan dan waktu pelaksanaannya. Kamu bisa mempelajarinya lewat guru, pemuka agama, dan bisa juga melalui internet. Jika sudah paham, barulah kamu bisa menentukan jenis zakat apa yang ingin dilakukan. Kamu pun bisa rutin berzakat setiap kali merasa sudah waktunya. Jangan sampai kamu tak tahu jenis dan tujuan dari zakat yang dilakukan, ya! 2. Pelajari Besarnya Nilai Zakat Setiap zakat tentu memiliki nilai atau ketentuan sendiri-sendiri. Perhitungannya harus benar agar tujuan mulianya bisa terpenuhi. Ketika nilai zakat sudah dihitung dan dimengerti dengan jelas, kamu dapat dengan mudah mengeluarkannya tanpa khawatir salah atau tak sesuai kaidah Islam. 3. Perhatikan Waktu Berzakat Salah satu cara agar bisa rutin berzakat adalah dengan menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkan zakat. Ini bisa menjadi reminder dan acuan bagi seseorang agar tak sampai lupa. Kamu pun juga bisa memasukkannya pada anggaran pengeluaran rutin. Misalnya, kamu memutuskan untuk mengeluarkan zakat di bulan Ramadan minggu keempat. Kamu bisa mempersiapkannya jauh-jauh hari, sehingga saat waktunya tiba, kamu tak bingung lagi. Hal ini tentu bisa memudahkanmu untuk menunaikan ibadah yang satu ini. 4. Gabung Komunitas Berzakat Cara lain yang bisa membuat seseorang rutin berzakat adalah dengan bergabung dengan komunitas atau organisasi yang bergelut di bidang zakat. Hal ini bisa berpengaruh pada pola pikirmu dan juga bisa membentuk kebiasaan berzakat. Jika tidak ada organisasi seperti itu, maka kamu bisa membentuknya. Ajak saudara atau rekan kerja untuk berhitung agar menambah semangat untuk berzakat. Kamu juga bisa saling mengingatkan satu sama lain jika waktu berzakat tiba, sehingga tak akan terlupa. Menarik, bukan? 5. Zakat Online Di zaman serba modern seperti sekarang ini, kamu memang sudah sangat dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Jika berkumpul atau berorganisasi tidak sesuai dengan kebiasaanmu, maka inovasi bertajuk zakat online ini memang cocok untuk kamu. Dan salah satu cara mudah untuk zakat online ini bisa melalui BAZNAS Kabupaten Tulungagung. Bisa dengan cara lama yakni transfer atau bisa dengan cara mengakses web resmi di laman bayar zakat yang sudah terintegrasi dengan dompet digital. Tak perlu ribet, kamu hanya perlu duduk manis diam dirumah dan mengisi beberapa data yang dibutuhkan, seperti nama lengkap, nomor telepon, dan juga email, maka zakat online pun bisa dengan mudah dilakukan kapanpun dan dimanapun. Ketika pembayaran sukses mereka akan menerima bukti setor zakat yang dikirimkan oleh BAZNAS. Jadi, tak ada lagi alasan untuk tidak berzakat, kan? Sudah Siapkah untuk Rutin Berzakat? Nah, itu tadi 5 tips yang bisa dilakukan agar kamu bisa rutin berzakat. Perlu diingat bahwa zakat itu perlu dibiasakan agar tak berat untuk melakukannya. Apalagi nominal yang dikeluarkan juga tak begitu besar. Jadi, jangan lupa berzakat ya!
ARTIKEL16/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
6 Keutamaan Berzakat Sebagai Ibadah Penyempurna Agama
6 Keutamaan Berzakat Sebagai Ibadah Penyempurna Agama
BAZNAS Tulungagung - Zakat merupakan salah satu dari lima pilar utama dalam agama Islam. Zakat juga merupakan sebuah ibadah wajib bagi yang mampu dan memiliki nilai pahala tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan di dalam Al-Qur'an, Allah sering menyandingkan ibadah zakat dengan shalat, sehingga bagi menunaikan zakat akan mendapatkan pahala dan yang tidak melaksanakannya akan mendapatkan dosa. Zakat merupakan cara dalam syariat Islam untuk membersihkan harta seseorang dari sifat-sifat negatif seperti kekikiran, keserakahan, dan egoisme. Selain itu, zakat juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan pahala serta keberkahan dari-Nya. Berikut adalah beberapa keutamaan zakat yang InsyaAllah akan kita dapatkan. 1. Ibadah penyempurna agama Zakat merupakan bagian dari pondasi rukun Islam yang keempat, setelah syahadat, sholat, dan puasa. Dengan menjalankan zakat, maka akan semakin sempurna ibadah seseorang dalam menjalankan perintah agama. Hal ini tentunya merupakan suatu tujuan dari setiap muslim demi mendapatkan ridho dari Allah SWT 2. Mensucikan dan menambah harta Kata Zakat sendiri memiliki makna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Dapat diartikan dengan berzakat maka Allah SWT akan mensucikan harta dan jiwa kita dari dosa. Selain itu zakat juga bermakna An-Numuw, atau tumbuh dan berkembang. Makna ini semakin menegaskan bahwa orang yang menunaikan zakat, Insya Allah hartanya akan terus bertambah dan berkembang. Rasulullah SAW menerangkan hal ini melalui hadis, “Zakat membersihkan harta dan mengembangkannya, serta membuka pintu-pintu rezeki bagi pelakunya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Harta tidak akan berkurang karena sedekah...'” (HR. Muslim No. 2588). 3. Mendapatkan ampunan dosa Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an surat Al Maidah ayat 12, yang menyatakan Allah berjanji mengampuni dosa-dosa hambanya yang mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul. “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai...” (QS. Al Maidah: 12) 4. Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menunaikan zakat adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Zakat juga mengajarkan kita bagaimana menjadi pribadi yang pemurah, ikhlas dan tulus memberikan bantuan ke orang lain yang membutuhkan. 5. Mendatangkan keberkahan Salah satu makna zakat lainnya adalah Al-Barakatu, yang artinya berkah. Dengan membayarkan zakat atas harta yang kita miliki akan selalu dilimpahkan juga keberkahan oleh Allah SWT. keberkahan harta ini tentunya akan berpengaruh pada keberkahan kita dalam menjalani hidup, InsyaAllah. 6. Menguatkan solidaritas dan menumbuhkan kesejahteraan hidup masyarakat Melalui pembayaran zakat, umat Islam merasakan ikatan solidaritas yang kuat. Mereka merasa bahwa mereka semua adalah bagian dari satu komunitas yang saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam kesulitan. Zakat bukan hanya sekadar mengurangi kemiskinan, tetapi juga membantu dalam menumbuhkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dengan memperkuat lapisan masyarakat yang kurang mampu, zakat membantu menciptakan kondisi yang lebih stabil dan sejahtera bagi semua. _______________________ BAZNAS Kabupaten Tulungagung memfasilitasi pembayaran zakat dengan lebih mudah dan praktis melalui Zakat Online. Berikut daftar rekening untuk menunaikan zakat Anda: - Bank Jatim Syariah 7152271730 - Bank Jatim 0152540132 - BRI 0110.0103.0165.534 - BSI 7137.892.353 - BPR 01.01.004444
ARTIKEL14/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
7 Keutamaan Bersedekah, Sebagai Media Melipatgandakan Pahala
7 Keutamaan Bersedekah, Sebagai Media Melipatgandakan Pahala
BAZNAS Tulungagung - Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur'an yang berbunyi : “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271) Sedekah tidak hanya berpatok pada harta benda saja. Hal-hal non materi pun bisa saja dikatakan sebagai sedekah, seperti menolong orang lain baik dengan tenaga maupun pikiran, memberi nafkah keluarga atau istri, menyingkirkan batu, duri dan krikil-krikil kecil dari tengah jalan pun termasuk ke dalam sedekah. Hal yang paling sederhana pun, seperti murah senyum kepada orang lain adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits dikatakan, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi) Melihat ada begitu banyaknya cara untuk bersedekah. Rasanya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak melakukannya. Apalagi, setelah kita mengetahui banyaknya nikmat Allah dan keutamaan dari bersedekah. Berikut ini keutamaan sedekah sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Al-Qur'an maupun Hadits : 1. Media penghapus dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi). 2. Media untuk melipatgandakan pahala Allah SWT berjanji akan memberikan pahala yang berlipat ganda bagi orang-orang yang sedekah dengan rasa ikhlas, tulus, dan semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Al-Qur'an yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18) 3. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba' yang berbunyi : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba': 39) 4. Menjadi naungan dihari kiamat Saat kelak di Padang Mahsyar setiap manusia akan menunggu giliran untuk diadili dari timbangan amal baik dan buruknya. Bisa dibayangkan berapa lama manusia akan menunggu dan merasakan panasnya terik matahari yang sangat dekat dengan kepala. Maka, dijelaskanlah dalam hadits Rasulullah SAW bahwasannya yang menjadikan naungan umat manusia di hari kiamat nanti adalah amalan sedekahnya. “Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad). 5. Memanjangkan usia dan mencegah kematian buruk Yang dimaksud dalam memanjangkan usia disini adalah amalan kebaikan dari orang yang bersedekah ini akan terus dikenang melebihi umur hidup di dunia. Dengan sedekah seseorang dijauhkan dari kematian buruk. Hal ini seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW. “Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk, Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri.” (HR. Thabrani). 6. Sedekah dapat menjauhkan diri dari api neraka Sebagaimana sedekah bisa menghapus dosa-dosa, maka dengan sedekah pulalah kita bisa terhindar dari api neraka. Mengingat pahala berlipat ganda yang didapat serta dihapusnya dosa-dosa, maka kita pun bisa menjauhkan diri kita agar tidak masuk ke dalam neraka jahanam. Hal ini sebagai sabda Rasulullah SAW, “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (Muttafaqun ‘alaih) 7. Menjadi obat bagi orang yang sakit Sedekah dapat mengobati orang yang sakit, sebagaimana yang tercantum dalam hadits berikut: “Obatilah orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Daud) Perlu dipahami secara utuh bahwa sakit adalah bagian dari takdir Allah. Kewajiban pertama saat sakit adalah sabar menerima takdir Allah. Pada saat yang sama melakukan ikhtiar
ARTIKEL08/05/2024 | BAZNAS Tulungagung
6 Keutamaan Berkurban, Mengantarkan Jalan Menuju Surga-Nya
6 Keutamaan Berkurban, Mengantarkan Jalan Menuju Surga-Nya
Seluruh ulama sepakat bahwa kurban merupakan syariat (tuntutan agama) yang hukumnya adalah sunah muakkad, atau sunah yang dikuatkan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Berkurban sejatinya adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berkurban merupakan suatu bentuk kepatuhan dan ketaatan makhluk kepada sang pencipta. Oleh karena itu, memahami keutamaan berkurban bagi umat muslim adalah satu bentuk upaya meyakinkan dan memantapkan diri untuk menunaikan ibadah sunah ini. Lalu apa saja keutamaan berkurban tersebut? 1. Amalan yang paling dicintai Allah SWT di hari raya Idul Adha Banyak hadis yang menjelaskan bahwa menyembelih kurban merupakan amalan yang paling dicintai Allah pada hari nahr (idul adha), seperti yang ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari nahar (idul adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (hewan kurban), Sesungguhnya ia datang pada hari kiamat dengan tanduk, kulit dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah itu telah sampai kepada Allah SWT sebelum darah itu tumpah ke tanah, maka hendaknya kalian senang karenanya.” (HR At-Tirmidzi) 2. Media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Barang siapa berkurban karena takwa kepada Allah, maka Allah akan menerima kurban tersebut menjadi amalan baik di sisi-Nya. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Maidah: 27) 3. Media untuk meraih ketaqwaan Apa yang ingin kita raih dalam ibadah kurban ini bukanlah persembahan daging dan darahnya, melainkan untuk mendapatkan ketakwaan. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Q.S. Al-Hajj: 37) 4. Media untuk menambah amal kebaikan Salah satu keutamaan berkurban yang lain yaitu dapat menambah amal kebaikan untuk bekal kehidupan di akhirat. Dalam keutamaannya, Allah akan memberikan pahala yang berlipat-lipat bagi setiap umat Muslim yang menggunakan sebagian hartanya untuk berkuban. Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?”, Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.”, Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?”, Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”, Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”, Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan ibn Majah) 5. Hewan kurban sebagai Saksi di Hari Kiamat Rasulullah telah bersabda dalam sambungan hadis yang diriwayatkan Aisyah: “Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim) Menurut Tirmidzi hadis tersebut hasan, sedangkan Hakim berpendapat bahwa isnadnya shahih. Sebagian ulama mengatakan isnadnya lemah. Namun karena hadis tersebut mengandung ajaran tentang keutamaan qurban, hadis tersebut tidak tercela. 6. Dimensi sosial dan kemanusiaan Ibadah kurban tidak hanya bermanfaat untuk orang yang berqurban (Mudhohi) tapi secara tidak langsung juga bisa membantu fakir miskin dari kelaparan. Islam telah mengatur bagaimana menyeimbangkan perekonomian dan aspek kemanusiaan sosial, salah satunya dengan berkurban. Daging yang dibagikan dapat menghubungkan rasa kasih sayang dan kepedulian antara fakir miskin dengan mudhohi. Dengan berkurban juga kita dapat merasakan kenikmatan rezeki dan berkah yang senantiasa diberikan Allah kepada setiap hambanya.
ARTIKEL26/04/2024 | BAZNAS Tulungagung
Pentingnya Berqurban di Hari Raya Idhul Adha
Pentingnya Berqurban di Hari Raya Idhul Adha
Baznas Tulungagung - Berkurban pada hari raya Idul Adha menjadi salah satu sunnah yang dilakukan umat Islam tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Berkurban memiliki banyak keutamaan dan hikmah tersendiri. Hukum dan dalil qurban tertulis dalam Quran surat Al Hajj ayat 34 yang artinya: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." Dikutip dari artikel baznas.go.id, kata qurban berasal dari bahasa arab "Qaraba, Yaqrabu, Qurbaanan" yang artinya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, ibadah kurban mengajarkan agar manusia senantiasa memperhatikan nasib orang kecil. Bagi yang mampu harus mengasihi orang yang lebih lemah. Konsep qurban dalam Islam didasarkan pada kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai perintah dari Allah SWT. Namun, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba, sebagai tanda rasa taqwa dan kesetiaan Ibrahim kepada-Nya. Sejak saat itu, praktik qurban dilakukan sebagai bentuk pengorbanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam agama Islam, hewan yang boleh dikurbankan adalah sapi, kambing, atau domba yang memenuhi syarat tertentu, seperti usia minimal 1 tahun untuk kambing dan domba, serta 2 tahun untuk sapi. Selain itu, hewan tersebut harus sehat, tidak cacat, dan diperoleh dengan cara halal. Penulis: Desvian
ARTIKEL26/04/2024 | BAZNAS Tulungagung
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulungagung.

Lihat Daftar Rekening →